Share

Bab 3 Nikahi Aku

Author: blazers990
Sudut Pandang Aria:

Aku berbaring di ranjang rumah sakit, menatap langit-langit putih steril sementara obat pereda nyeri perlahan menumpulkan denyut sakit di tubuhku. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kehampaan yang mencengkeram dadaku.

Elizabeth tadi sigap memanggil ambulans begitu melihatku jatuh. Saat ayahku tiba, aku sudah menangis kesakitan, gaun pengantinku kotor dan robek. Melihat aku, putri semata wayangnya, tergeletak di tanah dengan gaun pernikahan yang compang-camping, hampir membuatnya roboh.

"Sayangku ...," bisiknya, memelukku dengan hati-hati meskipun paramedis berusaha menghentikannya. Suaranya bergetar. "Ayah di sini sekarang. Semuanya bakal baik-baik saja."

Namun, semuanya tidak baik-baik saja dan tidak akan pernah baik-baik lagi.

Dokter memastikan lukaku tidak parah, hanya lecet, memar, dan sedikit keseleo yang akan pulih seiring waktu. Namun, luka di hatiku terasa seperti maut.

Waktu Keluarga Waskito mencoba menjengukku, ayahku meledak, meluapkan 12 tahun rasa frustrasi yang selama ini dia tahan.

"Anak kalian mempermalukan putriku di depan seribu orang dan meninggalkannya dalam keadaan berdarah di tanah. Sekarang kalian masih punya nyali datang ke sini?" bentaknya, menggelegar sampai dinding bergetar. "Keluar sebelum kalian kuusir sendiri!"

Aku belum pernah melihat ayahku semarah itu. William mencoba bicara, tetapi ayahku tidak mau mendengar. Dia mendorong mereka menjauh dari ambang pintu dan membantingnya begitu keras sampai ruangan ikut bergetar.

Sahabatku, Lillian, duduk di samping ranjang, menggenggam erat tanganku. Wajahnya yang biasanya ceria kini dipenuhi amarah.

"Bajingan itu," gumamnya sambil menggulir ponselnya. "Kenapa dia tega melakukan ini padamu? Dua belas tahun, Aria. Dua belas tahun!"

Aku tidak bisa menjawab. Kenyataan tentang apa yang baru saja terjadi masih sulit dipahami. Liam meninggalkanku. Tepat di hari pernikahan kami. Di depan semua orang yang kami kenal.

Ponselku bergetar menerima notifikasi. Lillian mengambilnya lebih dulu, tetapi tarikan napasnya membuatku tahu itu bukan kabar baik.

"Lil, apa itu?" bisikku.

Dia ragu. "Nggak penting. Istirahat saja."

"Lillian Maja," ucapku tegas sambil mengulurkan tangan. "Tunjukkan."

Dengan enggan, dia menyerahkan ponselku. Layarnya menampilkan sebuah berita.

[ Viral! Liam Waskito Terlihat Memasuki Apartemen Sophia Cahya Beberapa Jam Setelah Meninggalkan Acara Pernikahannya. ]

Di bawahnya, terlihat foto paparazi dari seberang jalan, foto-foto yang menembusku seperti peluru. Liam di depan rumah Sophia, tangannya bertengger nyaman di pinggangnya, kepala Sophia bersandar di pundaknya seolah-olah itu tempat yang wajar baginya.

Foto lainnya, diambil dari jendela yang menunjukkan mereka saling berpelukan dan tertawa. Tertawa, sementara aku terbaring di rumah sakit dan ayahku hampir pingsan karena sedih. Jari-jariku mati rasa. Ponsel itu terlepas, tetapi gambar itu sudah terpatri di kepalaku.

"Dia nggak pernah mencintaiku," bisikku, lebih pada diriku sendiri. "Selama ini aku cuma ... mainan. Penampung sementara sampai dia bisa bersama wanita itu."

"Jangan bilang begitu," sela Lillian dengan marah. "Kamu jauh lebih berharga dari dia, seratus kali lipat!"

Namun, bukti berkata lain. Dari insiden penembakan sampai hari pernikahan, setiap tindakannya membuktikan bahwa pada akhirnya, Sophia selalu menjadi pilihannya. Aku hidup dalam fantasi, percaya bahwa sejarah panjang kami dan kenangan bersama saja sudah cukup.

Keheningan yang panjang menyelimuti, berat dan menyesakkan, sampai suara dari lorong memecahnya.

Sebuah suara yang lemah dan terbata-bata.

Suara ayahku.

Kemudian, terdengar bunyi tubuh ambruk.

"Ayah?" panggilku, kepanikan memenuhi suaraku.

Lillian bergegas membuka pintu. "Astaga! Pak Benjamin!"

Aku memaksakan diri bangkit dari ranjang, mengabaikan rasa sakit di tubuhku. Ayahku terbaring di lantai, tak sadarkan diri, wajahnya pucat dan mengkhawatirkan.

"Tolong! Siapa pun, tolong ayahku!" teriakku sambil berlutut di sisinya. "Tolong!"

Beberapa menit berikutnya, tim medis berlarian masuk, suara-suaranya tumpang tindih memberi instruksi. Ayahku segera dinaikkan ke brankar dan dibawa pergi, meninggalkanku berdiri di lorong, gemetar ketakutan.

"Dia pasti baik-baik saja," ujar Lillian, meski suaranya terdengar gentar. "Paling hanya karena stres dari semua kejadian hari ini."

Saat kami menunggu kabar ayahku, pintu lift terbuka, tampak dua pria. Yang pertama tinggi dan berwibawa, berparas tajam dengan aura seorang pemimpin yang langsung mencuri perhatian. Yang satunya sedikit lebih pendek, tetapi sama-sama rapi dan berkelas.

Aiden Candra, nama itu langsung muncul di pikiranku. Pewaris Grup Candra sekaligus rival terbesar Liam di dunia bisnis. Aku belum pernah bertemu langsung, tetapi reputasinya mendahului dirinya.

Di usia 32 tahun, dia sudah menjadi presdir selama lima tahun dan telah mengubah Grup Candra menjadi salah satu konglomerat paling berpengaruh di dunia. Dingin, penuh perhitungan, dan kejam dalam hal bisnis. Itu yang sering terdengar tentangnya.

Apa yang dia lakukan di sini?

Mereka mendekat dan aku menyadari kalau Aiden berjalan langsung ke arahku.

"Bu Aria?" Suaranya dalam, berwibawa.

Aku mengangguk pelan, terlalu lelah secara emosional untuk mempertanyakan bagaimana dia tahu siapa aku.

"Aku Aiden Candra," katanya, mengenalkan diri. "Ini asistenku, Lucas."

"Aku tahu siapa kamu," jawabku hati-hati. "Ada perlu apa?"

Dia mengisyaratkan ke arah kamarku. "Boleh kita bicara secara pribadi?"

Biasanya aku akan menolak. Namun, hari ini bukan hari normal dan logikaku terkikis oleh duka, sakit, dan rasa cemas pada ayahku.

Begitu masuk ruangan, Aiden langsung bicara ke intinya.

"Aku adalah pengemudi mobil yang hampir menabrakmu tadi," ucapnya datar. "Aku membanting setir untuk menghindarimu dan itu membuatmu jatuh."

Aku menatapnya, mencerna kalimatnya. "Kamu ... kamu pengemudinya?"

Dia mengangguk singkat, ekspresinya sulit dibaca. "Aku mau memberi kompensasi atas cedera yang kamu alami. Sebutkan saja nominalnya."

Sikap lugasnya hampir terasa melegakan setelah hari yang gila ini. Tidak ada basa-basi, tidak ada simpati palsu, hanya pernyataan langsung.

"Itu kecelakaan," jawabku sambil menggeleng. "Aku berlari ke jalan tanpa melihat keadaan. Harusnya aku yang minta maaf karena merusak mobilmu."

Ada kilatan terkejut di wajahnya, sangat tipis, hampir tak terlihat. Sebelum dia sempat membalas, ponselku bergetar. Kali ini pesan dari nomor tak dikenal.

[ Hai Aria, ini Sophia. Aku benar-benar minta maaf untuk hari ini. Liam nggak bermaksud menyakitimu, tapi kamu tahu dia sudah mencintaiku selama bertahun-tahun. Dia hanya bertahan karena merasa ... berkewajiban. Semoga suatu hari kamu mengerti, dan bisa merasa bahagia untuk kami. (emoji senyum) ]

Kelancangannya membuat darahku mendidih. Setelah merebut pria yang kucintai, sekarang dia menghubungiku untuk meminta maaf? Agar dia bisa tidur nyenyak tanpa rasa bersalah?

Saat itu juga, sesuatu dalam diriku hancur. Dua belas tahun aku hidup dalam bayangan Liam, selalu menjadi pacar yang pengertian, selalu mengalah, selalu mengutamakan kebutuhannya. Apa balasannya? Aku terbaring di rumah sakit, gaunku rusak, ayahku pingsan karena stres, dan media memberitakan aku sebagai mantan tunangan yang putus asa.

Aku menatap Aiden, memperhatikan sosoknya yang begitu kuat. Dunia bisnis takut padanya. Liam membencinya. Ada ironi aneh di sana, pria yang paling dibenci Liam justru muncul di hari yang sama ketika Liam menghancurkan hidupku.

Sebuah ide gila mulai terbentuk di kepalaku. Ide yang manis sekaligus pahit.

"Sebenarnya," ucapku, anehnya suaraku terdengar tenang. "Ada sesuatu yang bisa kamu lakukan untukku."

Alis Aiden terangkat, menunggu.

"Nikahi aku."

Mari beri Liam pengkhianatan yang tidak akan pernah bisa dia lupakan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 50 Bekas Cupang

    Sudut Pandang Aria:Aku terbangun dengan kepala berdenyut hebat, mulutku kering seperti ampelas. Sinar matahari menyusup lewat celah tirai, menusuk mataku seperti jarum.Sambil mengerang, aku berguling mencari kegelapan yang menenangkan, lalu membeku ketika tanganku menyentuh sesuatu yang padat dan hangat.Mataku terbuka lebar meski terasa perih. Di sana, jaraknya kurang dari sejengkal, terbaring Aiden. Di ranjang yang sama. Bersamaku.Sial.Aku duduk tersentak, langsung menyesali gerakan mendadak itu ketika kepalaku berdenyut protes. Ruangan berputar-putar hingga membuatku mual, memaksaku memejamkan mata dan menarik beberapa napas dalam.Saat berani menatap lagi, dia masih di sana, tidur dengan tenang. Rambut hitamnya terbaring acak di bantal, dada telanjangnya naik turun mengikuti napasnya.Apa yang terjadi semalam? Pikiranku berpacu, berusaha menyusun potongan ingatan yang terpecah-pecah. Makan malam. Anggur ... begitu banyak anggur. Aiden menggendongku ... lalu apa?Aku melirik dir

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 49 Jangan Minum Sebanyak Itu Lagi

    Sudut Pandang Aiden:Mobil menepi dengan mulus ke pinggir jalan. Aku membantu Aria mendekat ke jendela, yang dia buka dengan tangan gemetar. Udara malam yang sejuk langsung masuk, sedikit mengusir kabut dari pikiran kami berdua.Setelah beberapa tarikan napas dalam, warna wajahnya kembali normal dan rasa mual itu tampaknya sudah mereda. Dia bersandar ke dadaku, kepalanya menempel di dadaku sambil menunjuk ke luar jendela."Aiden, mobil itu goyang banget."Aku bahkan tidak menoleh, mendorong tangannya kembali ke bawah. "Kamu cuma berhalusinasi.""Nggak, aku nggak berhalusinasi," bantahnya dengan keyakinan khas orang mabuk. "Lihat, mobil itu benaran goyang parah."Dia tiba-tiba terdiam, lalu menatapku dengan mata membelalak penuh rasa terkejut. "Goyangnya parah banget .... Menurutmu mereka lagi ... lagi berhubungan di dalam?"Aku terdiam. Di ruang mobil yang sempit, kata-katanya yang tanpa filter terdengar jelas.Situasi yang absurd ini, istriku yang biasanya pendiam dan sopan, tiba-tiba

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 48 Kamu Menusukku

    Sudut Pandang Aiden:Pendingin udara di dalam mobil menyala kencang, tetapi pipi Aria justru semakin memerah dari menit ke menit, jelas karena pengaruh alkohol.Saat mobil berhenti di lampu merah, aku menyadari kalau dia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan restoran, dan keheningan di dalam mobil terasa tidak biasa, begitu menekan.Untuk pertama kalinya, aku justru ingin mengajaknya bicara.Aku melirik ke arahnya. Dia melakukan sesuatu yang aneh, tangan kirinya menempel pada kaca jendela, jemarinya mencengkeram udara seolah-olah mencoba meraih sesuatu yang tidak kasatmata.Ketika lampu berganti hijau dan mobil kembali melaju, dia kehilangan keseimbangan sesaat, kepalanya membentur kaca.Dia meringis, tangannya terangkat ke dahi, mengusap bagian itu dengan gerakan kikuk."Biar aku lihat," kataku sambil meraih tangannya dari dahinya. Kulitnya hangat di bawah sentuhanku, terlalu hangat.Matanya, mata yang selalu menarik perhatianku, tampak sayu oleh alkohol dan sesua

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 47 Gairah di antara Kita

    Sudut Pandang Aria:Aku menyadari kalau aku sangat menikmati makan malam bersama Aiden di Restoran Akasha ini, bahkan lebih baik dari kuharapkan.Pemandangan lampu kota yang terbentang luas menciptakan suasana bak mimpi, selaras dengan hidangan lezat dan percakapan ringan di antara kami."Coba ini," saran Aiden sambil menuangkan cairan merah tua ke dalam gelasku. "Ini anggur vintage langka dari kebun kecil di Franca. Aku rasa kamu bakal menyukainya."Aku ragu, teringat toleransiku terhadap alkohol yang rendah. "Sepertinya nggak dulu deh. Aku nggak kuat minum anggur.""Cuma seteguk," kata Aiden, bersikeras dengan nada tegas yang entah kenapa membuatku ingin menurutinya. "Profil rasanya luar biasa."Satu teguk berubah menjadi beberapa gelas seiring berjalannya malam.Anggurnya memang istimewa, menghangatkanku dari dalam dan melonggarkan ketegangan yang baru kusadari selama ini bertumpuk di bahuku."Pipimu memerah," ujar Aiden, matanya terpaku di wajahku dengan intensitas yang membuat det

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 46 Sadar Telah Kehilanganmu

    Sudut Pandang Penulis:Liam terpaku saat melihat Aria berada di Restoran Akasha. Selama ini dia sengaja menghindari tempat apa pun yang berpotensi membuat mereka bertemu, tetapi takdir seakan bersikeras mempertemukan mereka."Aria!" panggilnya spontan, nama itu terlepas dari bibirnya sebelum dia sempat menahannya.Namun suaranya seakan tak terdengar, karena Aiden sudah lebih dulu menuntun Aria masuk ke dalam restoran, pintunya menutup rapat di belakang mereka.Raut wajah Liam menggelap saat dia menoleh ke pendampingnya, Madeline, putri Keluarga Rasian yang hubungan bisnisnya dengan Keluarga Waskito sudah terjalin sejak bertahun-tahun lalu."Nona Madeline, gimana kalau kita jadwalkan ulang pertemuan kita di lain malam?" usulnya, mendadak merasa enggan melanjutkan makan malam bersama ini.Namun, Madeline tidak berniat melewatkan kesempatan ini. Selama berbulan-bulan dia berusaha mengajak Liam untuk makan malam berdua. Sekarang setelah akhirnya berhasil membawanya ke sini, dia tidak akan

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 45 Nikmati Malam Ini

    Sudut Pandang Aria:Aku berdiri di depan lemari pakaian, jari-jariku memilih dengan ragu di antara beberapa deretan busana.Aiden tidak memberi detail apa pun tentang rencana makan malam kami, tetapi dari nada bicaranya, ada sesuatu yang membuatku merasa ini bukan sekadar acara bisnis biasa.Setelah menimbang beberapa saat, aku memilih gaun panjang menyentuh lantai dari bahan lembut yang jatuh, terlihat elegan tanpa berlebihan.Riasanku kubuat natural, hanya sedikit warna di bibir. Lalu, aku menghabiskan waktu hingga hampir sepuluh menit untuk mengepang rambutku menjadi kepang fishtail yang rapi.Setelah merasa puas melihat bayanganku di cermin, aku mengambil tas genggam dan turun ke bawah.Aiden sudah menunggu di ruang keluarga, sibuk menatap ponselnya. Saat mendengar langkah kakiku, dia mendongak, dan tatapan matanya yang sedikit melebar membuat merasa gugup."Kamu cantik," katanya dengan suara dalam dan rendah yang selalu membuat kakiku terasa lemas."Makasih," jawabku, merasakan pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status