Home / Romansa / Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya! / Bab 2 Pengkhianatan di Hari Pernikahan

Share

Bab 2 Pengkhianatan di Hari Pernikahan

Author: blazers990
Sudut Pandang Aria:

Di pagi hari setelah insiden penembakan itu, aku terbangun karena ponselku berdering, penuh dengan notifikasi. Dengan kepala berdenyut, aku meraihnya dan langsung terpaku melihat apa yang terjadi. Insiden itu telah viral. Media sosial dipenuhi komentar yang mengecam Liam karena memprioritaskan Sophia dibanding aku saat penembakan.

"Bayangin nikah dengan pria yang bersedia menghalangi peluru, tapi demi orang lain."

"Pria macam apa yang meninggalkan calon istrinya dalam situasi mengancam nyawa?"

"Kasihan sekali gadis dari Keluarga Japardi itu. dia pantas dapat pria yang ingat siapa tunangannya."

Membaca komentar-komentar itu membuat perutku mual.

Ponselku berdering dan nama ayahku muncul di layar.

"Aria." Suaranya tegas, penuh amarah yang ditahan. "Ayah sudah lihat beritanya. Pertunangan ini sudah berakhir, Aria. Ayah nggak akan diam saja melihat putri Ayah dibiarkan terluka sementara dia memeluk wanita lain."

"Ayah, kumohon," pintaku lirih, suaraku bergetar. "Itu bukan seperti yang Ayah kira. Liam cuma ... dia nggak berpikir jernih. Itu cuma gerakan refleks di situasi yang kacau."

Bahkan saat membelanya, ada suara kecil di kepalaku yang berbisik, 'Tapi bukannya nalurinya seharusnya melindungiku?'

"Gerakan refleks yang bisa saja merenggut nyawamu, Aria! Kamu paham itu? Kalau pelurunya nggak cuma menggores ...."

"Tapi pelurunya memang cuma menggoresku," potongku, tidak sanggup membayangkan kemungkinan lainnya. "Ayah, aku mencintainya. Kami sudah bersama selama 12 tahun. Satu kesalahan nggak bisa menghapus semuanya."

Ada keheningan yang cukup lama sebelum ayahku mengembuskan napas berat. "Kamu selalu terlalu mudah memaafkan, persis seperti ibumu. Baiklah. Tapi kalau dia sampai membahayakan kamu lagi ...."

"Dia nggak akan begitu lagi," jawabku, meski keraguan masih berputar di hatiku.

Siang itu, Liam datang bersama kedua orang tuanya, William dan Elizabeth Waskito. Ekspresi Elizabeth memperlihatkan kekhawatiran yang terasa seperti formalitas, tetapi William terlihat benar-benar menyesal.

"Aria, sayang." Elizabeth menghampiriku duluan, suara sepatu hak tingginya bergema di lantai. "Kami sangat menyesal atas apa yang terjadi. Itu pasti menakutkan sekali."

Liam melangkah maju, matanya menunjukkan penyesalan mendalam. "Aria, aku nggak bisa mengungkapkan betapa besar rasa bersalahku. Aku nggak berpikir jernih. Begitu sadar apa yang kulakukan, aku langsung merasa sangat nggak pantas. Tolong maafkan aku."

Saat menatap mata birunya, mata yang membuatku jatuh cinta di masa remaja, aku mengangguk. "Aku mengerti, Liam. Situasinya memang kacau hari itu."

Untuk meredakan keadaan di antara keluarga kami dan di mata publik, kami mengeluarkan pernyataan bersama bahwa kejadian itu hanyalah kesalahpahaman dalam kepanikan. Hiruk pikuk media mulai mereda dan hidup seolah-olah kembali normal.

Di hari-hari berikutnya, Liam menjadi sangat perhatian. Dia menemaniku ke setiap persiapan pernikahan, dari mencicipi kue hingga survei ke lokasi acara. Sikapnya membuatku percaya bahwa kejadian itu benar-benar hanya kesilapan sesaat. Setiap hari yang berlalu mengikis keraguanku, menggantinya dengan antusiasme untuk hari pernikahan kami.

Akhirnya hari itu tiba. Pernikahan antara keluarga Japardi dan Waskito menjadi pembicaraan di seluruh kota, dengan lebih dari seribu tamu memenuhi aula megah yang telah disulap menjadi dunia dongeng. Lampu kristal memancarkan sinar lembut ke mawar putih dan lili yang menghiasi setiap sudut, sementara kuartet gesek memainkan musik bertempo lembut.

Aku berdiri di belakang panggung bersama ayahku, jantungku berdebar kencang. Gaunku, dengan renda dan mutiara yang dijahit dengan detail rumit, membuatku merasa seperti putri raja.

"Gugup ya, sayang?" tanya ayahku sambil menepuk lenganku untuk menenangkanku.

Aku hendak menjawab ketika pembawa acara mengumumkan, "Dan sekarang, hadirin sekalian, mari kita sambut mempelai pria kita yang tampan, Pak Liam Waskito!"

Tepuk tangan bergemuruh, tetapi detik demi detik berlalu tanpa tanda-tanda kemunculan Liam. Tepuk tangan perlahan mereda, digantikan bisikan-bisikan bingung. Pembawa acara mencoba bersikap santai, menyebut ini "sedikit keterlambatan", tetapi seiring menit berjalan, bahkan dia pun mulai tampak khawatir.

Tiba-tiba, terjadi keributan di belakang panggung. Suara tamparan keras menggema, disusul teriakan melengking Elizabeth, "Liam Waskito, kembali ke sini sekarang juga!"

Sebelum aku bisa mencerna apa yang terjadi, Liam berlari melewatiku, wajahnya pucat dan penuh tekad. Hiasan bunga kecil pengantinnya sudah dicopot dan matanya sempat menatap mataku.

"Aria, maaf," ucapnya panik. "Sophia jatuh, dia terluka. Aku nggak bisa meninggalkannya. Kita ... kita jadwalkan ulang pernikahannya, oke? Beberapa hari saja."

Duniaku hancur seketika. Semua sukacita, semua antisipasi, semua mimpi tentang masa depan ... lenyap dalam sekejap. Tanda-tanda itu sudah ada sejak awal, sejak hari dia memilih melindungi Sophia saat penembakan. Jauh di lubuk hati, aku sudah tahu itu, tetapi aku memilih berpura-pura tidak melihatnya.

Wajah ayahku menggelap karena marah. "Liam, kamu nggak bisa pergi ...."

Namun, Liam sudah berlari menuju pintu keluar, meninggalkanku berdiri sendirian dengan gaun pengantin, dikelilingi tamu yang bingung dan mimpiku yang hancur berantakan.

Ada sesuatu di dalam diriku yang hancur. Setelah semua yang kami lalui, setelah semua persiapan, setelah aku membelanya di hadapan semua orang, dia tetap memilih Sophia. Aku tidak bisa membiarkan dia pergi begitu saja tanpa menghadapiku.

"Liam!" panggilku sambil mengangkat gaunku dan mengejarnya. Sepatu hak tinggiku menusuk kulitku, setiap langkah adalah pengingat betapa jauhnya aku berlari untuk seseorang yang tidak akan pernah melakukan hal yang sama untukku.

Ketika sampai di lobi hotel, aku melihatnya di luar, hendak menyeberang menuju mobilnya. Dengan dorongan putus asa, aku berlari keluar.

"Liam, aku mohon!" teriakku, melangkah ke jalan.

Suara rem berdecit memenuhi udara, sebuah mobil hitam berbelok tajam untuk menghindariku. Aku terpeleset saat menghindarinya dan jatuh tersungkur ke aspal. Gaunku yang putih sempurna kini penuh kotoran, sementara telapak tanganku tergores dan berdarah.

Lewat mataku yang buram karena air mata, aku melihat Liam berhenti. Hanya sedetik. Dia menoleh, matanya menatap mataku, penuh konflik dan rasa bersalah ....

Namun, dia tetap masuk ke dalam mobil.

Dia memilih Sophie.

Lagi.

Saat itu juga, sesuatu di dalam diriku pun perlahan mati.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 50 Bekas Cupang

    Sudut Pandang Aria:Aku terbangun dengan kepala berdenyut hebat, mulutku kering seperti ampelas. Sinar matahari menyusup lewat celah tirai, menusuk mataku seperti jarum.Sambil mengerang, aku berguling mencari kegelapan yang menenangkan, lalu membeku ketika tanganku menyentuh sesuatu yang padat dan hangat.Mataku terbuka lebar meski terasa perih. Di sana, jaraknya kurang dari sejengkal, terbaring Aiden. Di ranjang yang sama. Bersamaku.Sial.Aku duduk tersentak, langsung menyesali gerakan mendadak itu ketika kepalaku berdenyut protes. Ruangan berputar-putar hingga membuatku mual, memaksaku memejamkan mata dan menarik beberapa napas dalam.Saat berani menatap lagi, dia masih di sana, tidur dengan tenang. Rambut hitamnya terbaring acak di bantal, dada telanjangnya naik turun mengikuti napasnya.Apa yang terjadi semalam? Pikiranku berpacu, berusaha menyusun potongan ingatan yang terpecah-pecah. Makan malam. Anggur ... begitu banyak anggur. Aiden menggendongku ... lalu apa?Aku melirik dir

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 49 Jangan Minum Sebanyak Itu Lagi

    Sudut Pandang Aiden:Mobil menepi dengan mulus ke pinggir jalan. Aku membantu Aria mendekat ke jendela, yang dia buka dengan tangan gemetar. Udara malam yang sejuk langsung masuk, sedikit mengusir kabut dari pikiran kami berdua.Setelah beberapa tarikan napas dalam, warna wajahnya kembali normal dan rasa mual itu tampaknya sudah mereda. Dia bersandar ke dadaku, kepalanya menempel di dadaku sambil menunjuk ke luar jendela."Aiden, mobil itu goyang banget."Aku bahkan tidak menoleh, mendorong tangannya kembali ke bawah. "Kamu cuma berhalusinasi.""Nggak, aku nggak berhalusinasi," bantahnya dengan keyakinan khas orang mabuk. "Lihat, mobil itu benaran goyang parah."Dia tiba-tiba terdiam, lalu menatapku dengan mata membelalak penuh rasa terkejut. "Goyangnya parah banget .... Menurutmu mereka lagi ... lagi berhubungan di dalam?"Aku terdiam. Di ruang mobil yang sempit, kata-katanya yang tanpa filter terdengar jelas.Situasi yang absurd ini, istriku yang biasanya pendiam dan sopan, tiba-tiba

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 48 Kamu Menusukku

    Sudut Pandang Aiden:Pendingin udara di dalam mobil menyala kencang, tetapi pipi Aria justru semakin memerah dari menit ke menit, jelas karena pengaruh alkohol.Saat mobil berhenti di lampu merah, aku menyadari kalau dia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan restoran, dan keheningan di dalam mobil terasa tidak biasa, begitu menekan.Untuk pertama kalinya, aku justru ingin mengajaknya bicara.Aku melirik ke arahnya. Dia melakukan sesuatu yang aneh, tangan kirinya menempel pada kaca jendela, jemarinya mencengkeram udara seolah-olah mencoba meraih sesuatu yang tidak kasatmata.Ketika lampu berganti hijau dan mobil kembali melaju, dia kehilangan keseimbangan sesaat, kepalanya membentur kaca.Dia meringis, tangannya terangkat ke dahi, mengusap bagian itu dengan gerakan kikuk."Biar aku lihat," kataku sambil meraih tangannya dari dahinya. Kulitnya hangat di bawah sentuhanku, terlalu hangat.Matanya, mata yang selalu menarik perhatianku, tampak sayu oleh alkohol dan sesua

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 47 Gairah di antara Kita

    Sudut Pandang Aria:Aku menyadari kalau aku sangat menikmati makan malam bersama Aiden di Restoran Akasha ini, bahkan lebih baik dari kuharapkan.Pemandangan lampu kota yang terbentang luas menciptakan suasana bak mimpi, selaras dengan hidangan lezat dan percakapan ringan di antara kami."Coba ini," saran Aiden sambil menuangkan cairan merah tua ke dalam gelasku. "Ini anggur vintage langka dari kebun kecil di Franca. Aku rasa kamu bakal menyukainya."Aku ragu, teringat toleransiku terhadap alkohol yang rendah. "Sepertinya nggak dulu deh. Aku nggak kuat minum anggur.""Cuma seteguk," kata Aiden, bersikeras dengan nada tegas yang entah kenapa membuatku ingin menurutinya. "Profil rasanya luar biasa."Satu teguk berubah menjadi beberapa gelas seiring berjalannya malam.Anggurnya memang istimewa, menghangatkanku dari dalam dan melonggarkan ketegangan yang baru kusadari selama ini bertumpuk di bahuku."Pipimu memerah," ujar Aiden, matanya terpaku di wajahku dengan intensitas yang membuat det

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 46 Sadar Telah Kehilanganmu

    Sudut Pandang Penulis:Liam terpaku saat melihat Aria berada di Restoran Akasha. Selama ini dia sengaja menghindari tempat apa pun yang berpotensi membuat mereka bertemu, tetapi takdir seakan bersikeras mempertemukan mereka."Aria!" panggilnya spontan, nama itu terlepas dari bibirnya sebelum dia sempat menahannya.Namun suaranya seakan tak terdengar, karena Aiden sudah lebih dulu menuntun Aria masuk ke dalam restoran, pintunya menutup rapat di belakang mereka.Raut wajah Liam menggelap saat dia menoleh ke pendampingnya, Madeline, putri Keluarga Rasian yang hubungan bisnisnya dengan Keluarga Waskito sudah terjalin sejak bertahun-tahun lalu."Nona Madeline, gimana kalau kita jadwalkan ulang pertemuan kita di lain malam?" usulnya, mendadak merasa enggan melanjutkan makan malam bersama ini.Namun, Madeline tidak berniat melewatkan kesempatan ini. Selama berbulan-bulan dia berusaha mengajak Liam untuk makan malam berdua. Sekarang setelah akhirnya berhasil membawanya ke sini, dia tidak akan

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 45 Nikmati Malam Ini

    Sudut Pandang Aria:Aku berdiri di depan lemari pakaian, jari-jariku memilih dengan ragu di antara beberapa deretan busana.Aiden tidak memberi detail apa pun tentang rencana makan malam kami, tetapi dari nada bicaranya, ada sesuatu yang membuatku merasa ini bukan sekadar acara bisnis biasa.Setelah menimbang beberapa saat, aku memilih gaun panjang menyentuh lantai dari bahan lembut yang jatuh, terlihat elegan tanpa berlebihan.Riasanku kubuat natural, hanya sedikit warna di bibir. Lalu, aku menghabiskan waktu hingga hampir sepuluh menit untuk mengepang rambutku menjadi kepang fishtail yang rapi.Setelah merasa puas melihat bayanganku di cermin, aku mengambil tas genggam dan turun ke bawah.Aiden sudah menunggu di ruang keluarga, sibuk menatap ponselnya. Saat mendengar langkah kakiku, dia mendongak, dan tatapan matanya yang sedikit melebar membuat merasa gugup."Kamu cantik," katanya dengan suara dalam dan rendah yang selalu membuat kakiku terasa lemas."Makasih," jawabku, merasakan pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status