Share

Bab 4 Sepakat

Author: blazers990
Sudut Pandang Aiden:

Bunyi monitor detak jantung menyambutku ketika aku memasuki kamar rawat nenekku. Ketika melihatnya, wanita yang dulu begitu tangguh, kini tampak rapuh di atas seprai putih kaku selalu mengguncangku. Dialah yang membesarkanku seorang diri setelah orang tuaku meninggal, mengorbankan segalanya agar aku tak kekurangan apa pun.

"Aiden," panggilnya, suaranya lemah tetapi matanya berbinar. "Kamu datang."

"Aku datang setiap hari, Nek," jawabku sambil duduk di sisi ranjangnya. Tangannya terasa setipis kertas dalam genggamanku, urat-uratnya yang menonjol menjadi bukti kekuatan dan perjuangannya selama puluhan tahun.

Setelah berbasa-basi dan membahas akuisisi terbaru Grup Candra, dia menatapku dengan pandangan tajam yang sudah sangat kukenal.

"Dokter bilang waktuku nggak banyak lagi," ucapnya datar.

"Sudah ada tiga dokter yang bilang begitu sama Nenek," sahutku, memaksakan senyuman.

Dia tidak terhibur. "Aku ingin melihat kamu menikah sebelum aku mati, Aiden. Aku ingin memastikan bahwa kamu nggak akan sendirian."

Pembahasan ini lagi. Percakapan yang sama sejak hari pertama diagnosisnya.

"Nenek ...."

"Nggak ada alasan," potongnya cepat, genggamannya tiba-tiba menguat. "Nenek sudah terlalu lama membiarkanmu hidup sendiri. Kamu sudah 32 tahun, sukses, dan tampan. Nggak ada alasan untuk nggak menikah kecuali sifat keras kepalamu itu."

Aku menghela napas, percuma membantahnya. Nenekku ikut membangun kerajaan bisnis Grup Candra bersama kakekku, menembus dunia bisnis yang dikuasai pria dengan kegigihan yang tak tertandingi. Kalau dia sudah menginginkan sesuatu, menolaknya hanya akan membuang waktu.

"Janji pada Nenek," desaknya, tatapannya menembusku. "Janji kamu akan segera menikah. Nenek nggak mau mati sebelum melihat itu terjadi."

Ultimatum itu menggantung di antara kami. Aku mengangguk pelan, memberinya jawaban samar yang bisa menenangkannya sementara, meski dalam hati aku tahu kemungkinan menemukan pasangan yang cocok dalam waktu sesingkat itu nyaris nol mengingat standarku dan jadwalku.

"Aku janji akan mengusahakannya," jawabku pada akhirnya, cukup diplomatis untuk membuatnya puas.

Dia tampak lega, bersandar kembali pada bantalnya. Kami menghabiskan satu jam berikutnya dengan membicarakan bisnis, mengenang masa kecilku, dan menghindari topik pernikahan.

Saat aku keluar dari kamar rawatnya, Lucas Gilang, asisten sekaligus tangan kananku selama tujuh tahun terakhir sedang menunggu di lorong.

"Gimana keadaan Bu Meri?" tanyanya sambil mengimbangi langkahku.

"Keras kepala seperti biasa," jawabku. "Masih terobsesi ingin melihatku menikah."

Lucas menyeringai kecil, menahan tawa. "Ya, dia bukan satu-satunya yang berharap kamu menikah sebelum pensiun."

Aku meliriknya tajam.

Dia segera berdeham, kembali serius.

"Omong-omong, ada sesuatu yang harus Bapak tahu. Perempuan dari kecelakaan tadi, dia ada di sini. Di rumah sakit yang sama."

Aku berhenti melangkah. Tadi siang, saat mengemudi untuk menjenguk nenekku, seorang perempuan berlari ke jalan, tepat di depan mobilku. Aku membanting setir untuk menghindarinya, membuatnya terjatuh. Sopirku bilang dia tampak baik-baik saja meskipun syok, tetapi aku tetap meminta Lucas untuk mencari identitasnya dan menyiapkan kompensasi.

"Aria Japardi," lanjut Lucas, membaca dari tabletnya. "Putri Benjamin Japardi."

Nama itu langsung kukenali.

Grup Japardi bukan pesaing langsung Grup Candra, tetapi jalan kami sering bersinggungan. Terutama sejak mereka berkolaborasi dengan Grup Waskito akhir-akhir ini, ketegangan bisnis yang kecil tetapi nyata mulai terasa.

Benjamin bukan musuhku, tetapi aku juga tidak pernah membayangkan akan berutang padanya secara pribadi.

"Ada lagi," tambah Lucas dengan ragu. "Dia memakai gaun pengantin saat kecelakaan. Tampaknya tunangannya meninggalkannya di altar hari ini."

Salah satu alisku terangkat. "Kebetulan yang menarik."

"Tunangannya adalah Liam," lanjut Lucas, memperhatikanku.

Ini betul-betul tak terduga. Liam Waskito, pewaris Grup Waskito yang tidak kompeten, perusahaan yang selama bertahun-tahun menjadi duri dalam daging bagi Grup Candra, dengan taktik liciknya dan produk berkualitas rendah yang membanjiri pasar.

"Kita harus menjenguknya," ucapku. "Sampaikan permintaan maaf dan tawaran kompensasi secara langsung."

Lucas mengangguk, meski aku tahu dia heran kenapa aku ingin mengurus ini sendiri dan tidak menyerahkannya pada tim legal.

Kami menemukan wanita itu di lorong dekat kamarnya, berdiri sendirian, pucat, dan tampak terguncang. Dia masih memakai gaun pengantin.

Pemandangan itu membuatku terpaku. Gaun yang tadinya indah kini kusut dan bernoda, tepiannya kotor oleh debu dan aspal. Veil-nya menjuntai lemah di bahunya, seperti bayangan selebrasi yang berubah menjadi tragedi. Namun, wajah wanita itulah yang mencuri perhatianku.

Dia cantik, terlihat lembut dan alami. Bukan kecantikan yang dibuat-buat, tetapi sesuatu yang mentah, rapuh, dan memancarkan keanggunan yang sulit dijelaskan. Garis wajahnya lembut, hampir rapuh, seperti porselen yang retaknya disembunyikan. Matanya, sembap karena menangis, memancarkan duka, tetapi juga sesuatu yang lain. Keteguhan, martabat, dan kekuatan terkendali yang sulit diabaikan.

Bahkan dalam balutan gaun yang rusak itu, atau mungkin justru karena itu, dia tampak begitu tak terlupakan.

"Bu Aria?" Aku menghampirinya.

Dia menatapku, matanya menunjukkan kalau dia mengenaliku. "Aku tahu siapa kamu," katanya hati-hati setelah aku memperkenalkan diri. "Ada perlu apa?"

Di dalam kamarnya, aku langsung menjelaskan keterlibatanku dalam kecelakaannya tadi dan menawarkan kompensasi. Jawabannya mengejutkanku.

"Itu kecelakaan," katanya. " Aku berlari ke jalan tanpa melihat keadaan. Harusnya aku yang minta maaf karena merusak mobilmu."

Sikapnya yang anggun dalam keadaan seperti itu sangat tidak terduga. Kebanyakan orang sudah memanggil pengacara, apalagi seseorang dari kalangan selevelnya.

Sebelum aku sempat membalas, sesuatu di ponselnya tampak menghancurkannya. Ekspresinya berubah. Dari duka menjadi tekad. Kemudian, dia menatapku, penuh tujuan.

"Sebenarnya, ada sesuatu yang bisa kamu lakukan untukku."

Aku menunggu, mungkin dia ingin menumpang pulang atau meminta bantuan mengurus media.

"Nikahi aku."

Aku yakin aku salah dengar. Namun, suara tercekat Lucas menegaskan kalau aku tidak salah dengar.

"Maaf?" tanyaku, tetap tenang.

"Kamu dengar aku," balasnya mantap. "Nikahi aku. Pernikahan bisnis, nggak lebih. Aku punya sesuatu yang kamu mau, dan kamu punya sesuatu yang aku mau."

Rasa ingin tahuku bangkit. "Dan menurutmu apa yang kuinginkan, Bu Aria?"

"Tanah di tepi sungai yang diberikan ayahku di ulang tahunku yang ke-21," jawabnya. "Aku tahu Grup Candra berusaha membelinya untuk proyek pengembangan baru."

Dia benar. Tanah itu bagian krusial dari proyek tepi sungai kami, real estat bernilai tinggi yang sudah setahun berusaha kami akuisisi. Benjamin menolak karena tanah itu bukan miliknya lagi.

"Lalu, apa yang kamu butuhkan dariku?" tanyaku.

"Pembalasan dendam." Tatapannya tidak goyah. "Liam Waskito meninggalkan aku, mempermalukan aku. Media sedang berpesta. Tapi bayangkan reaksi mereka kalau tahu aku sudah move-on ... dengan rival bisnisnya sendiri."

Aku harus mengakui, strateginya brilian. Berani, mengejutkan, dan menguntungkan kedua belah pihak. Tanah itu sendiri bernilai puluhan miliar, fondasi proyek kami. Melihat wajah Liam ketika tahu mantan tunangannya menikah denganku setidaknya pasti akan sangat memuaskan.

Tiba-tiba, suara nenekku terngiang-ngiang di kepalaku. 'Janji kamu akan segera menikah. Aku nggak mau mati sebelum melihatmu menikah.'

Rencana ini bisa menyelesaikan dua masalah sekaligus. Nenekku mendapat harapan, bahkan mungkin bisa membantu melawan penyakitnya, dan aku mendapatkan tanah itu tanpa negosiasi panjang.

"Aku akan mempertimbangkannya," kataku pada akhirnya. "Tapi aku punya satu syarat."

Dia menunggu, wajahnya berada di antara berharap dan cemas.

"Pernikahan ini harus tampak nyata," tegasku. "Nggak ada pengakuan publik bahwa ini hubungan bisnis. Kita tampil sebagai pasangan yang jatuh cinta dengan cepat. Pernikahan bertahan minimal satu tahun, kemudian kita bisa bercerai secara damai."

Pernikahan ini harus meyakinkan. Untuk nenekku, untuk publik, dan untuk efektivitas rencananya.

Dia hanya ragu sepersekian detik sebelum mengangguk. "Setuju. Tapi aku juga punya syarat. Walaupun ini pernikahan bisnis, aku ingin rasa hormat dan kesetiaan. Dan aku ingin dukunganmu untuk membangun hidup yang mandiri, mungkin posisi di Grup Candra."

Ucapannya itu mengatakan banyak hal tentang dirinya. Ini bukan sekadar balas dendam.

"Kita sepakat, Bu Aria," ujarku sambil mengulurkan tangan. "Dokumennya akan segera kubuat."

Saat kami berjabat tangan, aku melihat kilatan kemenangan di matanya. Liam jelas salah menilai wanita ini. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

"Panggil aku Aria," katanya dengan senyum samar. "Kalau kita akan menikah, setidaknya panggil namaku secara langsung."

"Aria," ulangku dengan anggukan. "Selamat datang di Keluarga Candra."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 50 Bekas Cupang

    Sudut Pandang Aria:Aku terbangun dengan kepala berdenyut hebat, mulutku kering seperti ampelas. Sinar matahari menyusup lewat celah tirai, menusuk mataku seperti jarum.Sambil mengerang, aku berguling mencari kegelapan yang menenangkan, lalu membeku ketika tanganku menyentuh sesuatu yang padat dan hangat.Mataku terbuka lebar meski terasa perih. Di sana, jaraknya kurang dari sejengkal, terbaring Aiden. Di ranjang yang sama. Bersamaku.Sial.Aku duduk tersentak, langsung menyesali gerakan mendadak itu ketika kepalaku berdenyut protes. Ruangan berputar-putar hingga membuatku mual, memaksaku memejamkan mata dan menarik beberapa napas dalam.Saat berani menatap lagi, dia masih di sana, tidur dengan tenang. Rambut hitamnya terbaring acak di bantal, dada telanjangnya naik turun mengikuti napasnya.Apa yang terjadi semalam? Pikiranku berpacu, berusaha menyusun potongan ingatan yang terpecah-pecah. Makan malam. Anggur ... begitu banyak anggur. Aiden menggendongku ... lalu apa?Aku melirik dir

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 49 Jangan Minum Sebanyak Itu Lagi

    Sudut Pandang Aiden:Mobil menepi dengan mulus ke pinggir jalan. Aku membantu Aria mendekat ke jendela, yang dia buka dengan tangan gemetar. Udara malam yang sejuk langsung masuk, sedikit mengusir kabut dari pikiran kami berdua.Setelah beberapa tarikan napas dalam, warna wajahnya kembali normal dan rasa mual itu tampaknya sudah mereda. Dia bersandar ke dadaku, kepalanya menempel di dadaku sambil menunjuk ke luar jendela."Aiden, mobil itu goyang banget."Aku bahkan tidak menoleh, mendorong tangannya kembali ke bawah. "Kamu cuma berhalusinasi.""Nggak, aku nggak berhalusinasi," bantahnya dengan keyakinan khas orang mabuk. "Lihat, mobil itu benaran goyang parah."Dia tiba-tiba terdiam, lalu menatapku dengan mata membelalak penuh rasa terkejut. "Goyangnya parah banget .... Menurutmu mereka lagi ... lagi berhubungan di dalam?"Aku terdiam. Di ruang mobil yang sempit, kata-katanya yang tanpa filter terdengar jelas.Situasi yang absurd ini, istriku yang biasanya pendiam dan sopan, tiba-tiba

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 48 Kamu Menusukku

    Sudut Pandang Aiden:Pendingin udara di dalam mobil menyala kencang, tetapi pipi Aria justru semakin memerah dari menit ke menit, jelas karena pengaruh alkohol.Saat mobil berhenti di lampu merah, aku menyadari kalau dia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan restoran, dan keheningan di dalam mobil terasa tidak biasa, begitu menekan.Untuk pertama kalinya, aku justru ingin mengajaknya bicara.Aku melirik ke arahnya. Dia melakukan sesuatu yang aneh, tangan kirinya menempel pada kaca jendela, jemarinya mencengkeram udara seolah-olah mencoba meraih sesuatu yang tidak kasatmata.Ketika lampu berganti hijau dan mobil kembali melaju, dia kehilangan keseimbangan sesaat, kepalanya membentur kaca.Dia meringis, tangannya terangkat ke dahi, mengusap bagian itu dengan gerakan kikuk."Biar aku lihat," kataku sambil meraih tangannya dari dahinya. Kulitnya hangat di bawah sentuhanku, terlalu hangat.Matanya, mata yang selalu menarik perhatianku, tampak sayu oleh alkohol dan sesua

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 47 Gairah di antara Kita

    Sudut Pandang Aria:Aku menyadari kalau aku sangat menikmati makan malam bersama Aiden di Restoran Akasha ini, bahkan lebih baik dari kuharapkan.Pemandangan lampu kota yang terbentang luas menciptakan suasana bak mimpi, selaras dengan hidangan lezat dan percakapan ringan di antara kami."Coba ini," saran Aiden sambil menuangkan cairan merah tua ke dalam gelasku. "Ini anggur vintage langka dari kebun kecil di Franca. Aku rasa kamu bakal menyukainya."Aku ragu, teringat toleransiku terhadap alkohol yang rendah. "Sepertinya nggak dulu deh. Aku nggak kuat minum anggur.""Cuma seteguk," kata Aiden, bersikeras dengan nada tegas yang entah kenapa membuatku ingin menurutinya. "Profil rasanya luar biasa."Satu teguk berubah menjadi beberapa gelas seiring berjalannya malam.Anggurnya memang istimewa, menghangatkanku dari dalam dan melonggarkan ketegangan yang baru kusadari selama ini bertumpuk di bahuku."Pipimu memerah," ujar Aiden, matanya terpaku di wajahku dengan intensitas yang membuat det

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 46 Sadar Telah Kehilanganmu

    Sudut Pandang Penulis:Liam terpaku saat melihat Aria berada di Restoran Akasha. Selama ini dia sengaja menghindari tempat apa pun yang berpotensi membuat mereka bertemu, tetapi takdir seakan bersikeras mempertemukan mereka."Aria!" panggilnya spontan, nama itu terlepas dari bibirnya sebelum dia sempat menahannya.Namun suaranya seakan tak terdengar, karena Aiden sudah lebih dulu menuntun Aria masuk ke dalam restoran, pintunya menutup rapat di belakang mereka.Raut wajah Liam menggelap saat dia menoleh ke pendampingnya, Madeline, putri Keluarga Rasian yang hubungan bisnisnya dengan Keluarga Waskito sudah terjalin sejak bertahun-tahun lalu."Nona Madeline, gimana kalau kita jadwalkan ulang pertemuan kita di lain malam?" usulnya, mendadak merasa enggan melanjutkan makan malam bersama ini.Namun, Madeline tidak berniat melewatkan kesempatan ini. Selama berbulan-bulan dia berusaha mengajak Liam untuk makan malam berdua. Sekarang setelah akhirnya berhasil membawanya ke sini, dia tidak akan

  • Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!   Bab 45 Nikmati Malam Ini

    Sudut Pandang Aria:Aku berdiri di depan lemari pakaian, jari-jariku memilih dengan ragu di antara beberapa deretan busana.Aiden tidak memberi detail apa pun tentang rencana makan malam kami, tetapi dari nada bicaranya, ada sesuatu yang membuatku merasa ini bukan sekadar acara bisnis biasa.Setelah menimbang beberapa saat, aku memilih gaun panjang menyentuh lantai dari bahan lembut yang jatuh, terlihat elegan tanpa berlebihan.Riasanku kubuat natural, hanya sedikit warna di bibir. Lalu, aku menghabiskan waktu hingga hampir sepuluh menit untuk mengepang rambutku menjadi kepang fishtail yang rapi.Setelah merasa puas melihat bayanganku di cermin, aku mengambil tas genggam dan turun ke bawah.Aiden sudah menunggu di ruang keluarga, sibuk menatap ponselnya. Saat mendengar langkah kakiku, dia mendongak, dan tatapan matanya yang sedikit melebar membuat merasa gugup."Kamu cantik," katanya dengan suara dalam dan rendah yang selalu membuat kakiku terasa lemas."Makasih," jawabku, merasakan pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status