Share

Bab 4 : Tidak Seburuk Itu

Author: Maufy Izha
last update publish date: 2026-07-17 17:51:01

Mendengar jawaban Sinta, sorot mata Lula langsung berkobar. Dengan penuh semangat, gadis berambut keriting itu berkata, “Jangan khawatir, serahkan padaku. Aku punya satu gaun masterpiece yang akan sangat cocok untukmu.”

“Aku percaya padamu, Lula.”

Lula mengangguk mantap, kemudian menggandeng tangan Sinta menuju ke tempat gaun spesial yang telah lama ia rancang untuk koleksi pribadi dan tidak ingin diperjualbelikan. Namun, demi teman baiknya, Lula sangat bersedia menghadiahkan gaun tersebut.

Setengah jam kemudian, Sinta kembali ke toko kue. Namun, ia malah bertemu dengan dua orang yang paling tidak ingin ia temui.

“Mbak Sinta? Kamu ke sini juga? Kebetulan sekali...” Rashta menyambutnya dengan ceria. Ia berdiri di samping Abimanyu sembari menggandeng lengan pria itu.

Tanpa menjawab, Sinta mengalihkan pandangannya dengan dingin ke arah suaminya. Tadi pagi, pria itu bilang tidak bisa pergi dengannya karena ada banyak pertemuan penting.

Sinta menarik pandangannya, kemudian menatap pelayan toko pastry yang berdiri di belakang Rashta dan Abimanyu.

“Aku mau ambil kue pesananku, apa sudah siap?” ucap Sinta dengan tenang.

“Y-ya, Nyonya, semuanya sudah siap,” sahut pelayan itu dengan gagap merasakan ketegangan di antara pelanggannya.

Sinta tidak menyadari tatapan tajam Abimanyu yang terus mengikutinya. Ekspresi pria itu tampak bertanya-tanya, kenapa Sinta tidak marah atau mengamuk seperti biasanya saat mengetahui dirinya telah dibohongi.

Lain halnya dengan Abimanyu yang hanya diam, Rashta justru menggunakan kesempatan ini untuk kembali menyulut emosi Sinta.

“Mbak Sinta pesan kue itu untuk acara nanti malam, ya? Aku dan Mas Bima sudah pesan banyak, lho. Kalau Mbak Sinta bawa kue yang sama juga, nanti tidak kemakan, malah mubazir,” ucapnya dengan wajah polos seperti biasa.

“Jadi, maksudmu kue-kue ini dibuang saja?” tanya Sinta sembari tersenyum.

“Rashta benar. Kami sudah pesan banyak, lebih baik batalkan pesananmu. Aku yang akan bayar kerugiannya pada toko ini,” sahut Abimanyu tiba-tiba.

Sinta mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sekarang ia baru menyadari, setiap kali Abimanyu sedang menentangnya di depan orang lain, pria itu melakukannya demi membela Rashta.

“Maaf, tapi aku sudah memesannya. Kamu tetap bisa bawa kue pesananmu, aku akan membawa pesananku,” balas Sinta tenang.

Sinta tidak peduli jika nantinya kue-kue ini akan dimakan atau dibagikan kepada para pelayan, ia tidak mau datang dengan tangan kosong.

“Mbak, tolong berikan pesananku,” potong Sinta dengan cepat. Pelayan itu mengangguk dengan gugup.

“B-baik, Nyonya, ini.”

“Bayar dengan kartu, ya,” lanjut Sinta sembari menyerahkan kartu debitnya.

“Sinta, aku tidak akan mengulangi ucapanku dua kali.” Abimanyu berbicara dengan nada rendah, itu artinya ia sedang sangat marah.

Sinta tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa takut, namun harga dirinya menolak untuk menurut. Pelayan itu tampak ragu untuk melanjutkan pembayaran setelah melihat betapa mengerikannya ekspresi Abimanyu saat itu.

Melihat ekspresi wajah Abimanyu yang menggelap, Rashta menggunakan kesempatan ini, gadis itu berkata dengan lembut, “Mas Bima, tolong jangan marah pada Mbak Sinta. Mbak Sinta hanya ingin menyenangkan hati Mama, sama seperti kita, jadi jangan terlalu keras padanya.”

Sinta mengerutkan keningnya mendengar ucapan Rashta. Gadis itu dengan jelas menyindirnya karena tahu ibu Abimanyu tidak pernah menyukainya dan selalu bersikap dingin padanya.

Namun Sinta sudah tidak memiliki energi untuk berdebat. Sinta kembali menatap pelayan toko kue itu, dan menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia meminta pelayan itu tetap memproses transaksi. Pada akhirnya, pelayan itu menggesek kartu milik Sinta dengan gemetaran.

Setelah selesai, Sinta segera berbalik, ingin pergi meninggalkan ruangan itu secepat mungkin.

Namun tiba-tiba, Rashta mencekal lengannya, “Mbak, Tunggu!”

Pegangan tangan Sinta pada paper bag itu terlepas. Box kue yang ada di dalam paper bag terlempar keluar, membuat kue di dalamnya tampak berantakan.

Sinta mengernyit dalam, kemudian menatap Rashta dengan tajam. Namun, gadis itu sudah lebih dulu gemetar dan berkata dengan suara bergetar, “Mbak, Maaf, aku tidak sengaja.”

Sinta mengabaikan permintaan maaf Rashta sepenuhnya. Dia memandangi kue-kue yang terjatuh di lantai dengan murung karena kue itu jadi terbuang sia-sia dan rusak.

Sinta dengan susah payah berjongkok, kemudian memunguti box-box kue yang terjatuh di lantai. Pemandangan itu cukup mengundang perhatian. Seorang wanita yang hamil besar memunguti kue dilantai, di hadapan sepasang pria dan wanita dengan pakaian mewah di depannya.

Abimanyu tidak tahan, pria itu ikut berjongkok kemudian menarik pergelangan tangan Sinta yang tengah memunguti kue itu dengan keras sambil menatap istrinya dengan tajam.

“Sudah cukup, Sinta. Jangan membuat kesabaranku habis. Kamu pikir bersikap seperti ini membuatmu terlihat hebat? Tidak, kamu terlihat menyedihkan sekaligus memalukan. Bangun.”

Abimanyu menarik tangan Sinta dan memaksanya berdiri, tidak peduli tarikannya yang keras membuatnya meringis kesakitan.

Keduanya saling menatap dengan tatapan dingin, sebelum akhirnya Sinta menepis tangan Abimanyu dan pergi melangkah meninggalkan mereka.

Sinta kembali ke rumah dengan perasaan kacau. Kemarahan di hatinya tidak juga mereda meskipun telah berendam di bathtub selama hampir satu jam.

Selesai berendam, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Sinta harus segera bersiap untuk menghadiri acara jamuan makan keluarga mertuanya. Gaun yang dijanjikan oleh Lula juga sudah diantar ke rumah. Sinta sangat puas dengan desain gaunnya yang begitu menawan.

Setelah memoles makeup soft glam yang membuatnya tampak sangat berbeda, Sinta menatap bayangan wajahnya sendiri di cermin.

“Ternyata penampilanku tidak seburuk itu. Seharusnya aku melakukan hal seperti ini sejak dulu,” gumamnya pada diri sendiri.

Sinta berdiri, bersiap keluar dari rumah. Saat akan meraih clutch bag miliknya di atas meja, Sinta menerima sebuah pesan masuk.

Dari Rashta.

Sinta sudah bisa menebak isi pesannya. Pasti gadis itu ingin pamer padanya, menunjukkan foto kemesraannya dengan Abimanyu. Benar saja, Abimanyu dan Rashta memakai baju pasangan berwarna maroon, tampak menyerupai pasangan pengantin baru.

Tapi tidak ada rasa cemburu. Sejak tahu bahwa Abimanyu melakukan hal memalukan di ruang kerjanya, Sinta merasa perasaannya pada pria itu mulai layu, didominasi oleh rasa jijik.

Sinta kemudian menyimpan tangkapan layar pesan-pesan yang dikirim oleh Rashta sebelum gadis itu menarik pesannya seperti biasa untuk menghilangkan bukti.

“Aku bisa menjadikan ini bukti kuat saat menggugat cerai nanti,” gumamnya sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah ini, menuju ke rumah mertuanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Eliyen Author
Aku suka Sinta
goodnovel comment avatar
Sweety
mantappp kak Sinta, pokoknya bermain dengan elegan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 118 : Arjuna yang Misterius

    Sebelum jam pulang kerja, Lula berencana mengadakan pesta kecil di butik. Selain karena mendapatkan orderan tidak terduga dari Rashta, Lula juga ingin merayakan undangan dari Pandawa Group. Acara itu merupakan acara bergengsi. Seperti kata Sinta dan dua stafnya, Lula bisa mencari klien baru yang potensial di sana, yang akan sangat membantu perkembangan butiknya yang sedang naik daun berkat Fairytale. Desain topeng Fairytale yang unik ternyata mencuri perhatian banyak orang hingga Lula tidak menyangka akan mendapatkan orderan dalam jumlah yang fantastis. Namun, karena materialnya memang sulit didapat, Lula membuka pre-order khusus dengan jumlah yang terbatas. Berkat itu, ia juga bisa menerapkan harga yang cukup tinggi. Sementara Sinta, saat ini ia sudah secara terbuka membagikan aktivitasnya sebagai penulis dan tidak lagi memerlukan topeng. Meski beberapa kali berita miring menyerangnya, ternyata tidak banyak penggemar tulisan Sinta yang terpengaruh. Alasan mereka, pertama, karena m

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 117 : Bukan Urusan Nona

    Lula dan Sinta secara refleks menoleh ke arah undangan yang tergeletak di atas meja. Begitu juga dengan Abimanyu, Orion, dan Jupiter. Kedua pria yang berdiri di samping Rashta itu sampai mengerutkan kening melihat undangan tersebut."Ya, kami juga diundang, Nona," jawab Lula dengan lugas.Rashta tersenyum, namun sorot matanya justru tampak meremehkan. "Setahuku acara gala Pandawa Group hanya mengundang pengusaha dan keluarga kelas atas. Maksudku, aku tahu butik ini cukup populer, tapi..." Rashta sengaja tidak melanjutkan ucapannya.Namun, maksud gadis itu tersirat jelas. Lula baru mendirikan butik ini setelah lulus kuliah, dan baru berkembang pesat selama setahun terakhir berkat kiprahnya di ajang fashion week di beberapa negara. Namun, bisa dikatakan bahwa butik Lula masih cukup jauh jika harus disandingkan dengan pengusaha-pengusaha kalangan atas yang biasanya menghadiri acara gala Pandawa Group. Apalagi di acara itu, Tuan Prabu yang hampir tidak pernah muncul akan menjamu para tamu

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 116 : Cuek dan Dingin

    Sinta mengukur lingkar dada, lengan, dan pinggang Abimanyu dengan sangat cekatan. Sepanjang proses itu, Abimanyu tidak melepaskan tatapannya pada sang mantan istri. Diam-diam, pria itu mengepalkan tangannya karena sikap Sinta yang begitu cuek dan dingin.Sinta bergerak dengan ketepatan yang mekanis—melingkarkan pita ukur di bahu dan dada pria itu tanpa sedikit pun menyentuh kulit atau mengizinkan pandangan mereka bertabrakan. Abimanyu yang sempat ingin membuka suara terpaksa menelan kembali kata-katanya saat Sinta mundur satu langkah dan berucap dingin, "Selesai. Selanjutnya?"Abimanyu tertegun sejenak sebelum akhirnya kembali ke tempatnya dengan perasaan yang tertekan. Ada rasa berdenyut nyeri di dadanya melihat betapa acuh tak acuhnya Sinta—seolah merekah tidak saling mengenal, seolah mereka tidak pernah terikat dalam pernikahan selama tiga tahun.Orion menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan provokasi saat melangkah menuju podium pengukuran. Pria itu berdiri tegap, menatap Sint

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 115 : Hanya Pura-pura

    Sinta dan Lula keluar dari ruang kerja menuju ke ruang pameran di mana gaun dan baju hasil rancangan Lula dipajang.Begitu melihat Lula masuk, diikuti oleh Sinta yang memegang sebuah buku di tangannya, Rashta, Abimanyu, serta Jupiter dan Orion langsung menoleh ke arah mereka.Lain halnya dengan Sinta yang tampak santai dengan tatapan asing seolah-olah sedang berhadapan dengan orang yang tidak dikenal, Lula memasang wajah kusut tanpa keramahan sedikit pun."Mbak Sinta, lama tidak bertemu." Rashta tersenyum manis, seperti biasa, ia menonjolkan kemesraannya dengan sang kakak, Abimanyu.Pria itu menatap Sinta dengan tatapan yang rumit. Terakhir mereka bertemu di apartemen Sinta beberapa waktu lalu, dan sekarang mantan istrinya itu tampak sangat berbeda.Sinta memakai setelan kerja semiformal dengan paduan rok hitam sepanjang lutut, kemeja krem dengan hiasan renda di bagian tengah, dan juga blazer berwarna hitam. Rambut hitamnya yang bergelombang dibiarkan terurai dengan hiasan pita berwar

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 114 : Keluarga Penuh Teka-teki

    Mendengar nama Pandawa Group, Sinta, Laura, dan Cindy pun dengan cepat mendekat. "Tapi... ada dua undangan di sini," ucap Cindy saat melihat masih ada satu undangan yang belum dibuka. Lula dan Sinta juga mengalihkan pandangannya pada undangan itu. Dengan gerakan cepat, Lula membuka segel lilin merah berlogo garuda berwarna emas yang merupakan logo Pandawa Group. "Ya Tuhan, ini adalah acara gala Pandawa Group, dan butik kita dapat dua undangan VVIP?" "VVIP?" Sinta dan yang lainnya juga sama-sama terkejut. Melihat nama Lula dan Sinta yang tertera dalam undangan itu membuat Cindy dan Laura berdecak kagum. Mereka juga ingin datang ke sana, tetapi mereka sadar bahwa acara itu bukan pesta yang bisa dihadiri oleh sembarang orang. Hanya pengusaha-pengusaha ternama dan keluarga konglomerat yang memiliki koneksi dengan Pandawa Group-lah yang akan diundang. Lula sudah menjadi desainer pribadi Tuan Muda Pandawa Group yang misterius itu, sementara Sinta baru-baru ini diumumkan sebagai 'orang

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 113 : Klarifikasi II

    "Kedua, mengenai foto-foto yang tersebar luas itu. Dia adalah kenalan sekaligus teman baikku, dan dia ada di sini bersamaku, Lula, dan juga keluarga nenekku. Kami baru saling mengenal setelah aku dalam proses perceraian dengan Mas Abimanyu. Jadi, dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan perceraianku. Aku memutuskan untuk bercerai setelah aku kehilangan bayiku dalam sebuah kecelakaan." Sinta tidak bisa mengatakan bahwa dalam kecelakaan ini dia didorong dari tangga oleh Rashta karena dia tidak memiliki buktinya. Keheningan melingkupi ruang tamu, sementara di dunia maya pengakuan Sinta meledak seperti bom waktu. "Dan yang terakhir, aku ingin membuat satu pengumuman penting." Sinta menatap layar dengan saksama, senyum tipis terbit dari bibirnya. Sinta mengangkat selembar dokumen resmi bersampul hukum yang telah disiapkan atas bantuan Jay. "Melalui siaran langsung ini dan disaksikan oleh seluruh publik, aku, Sinta, secara resmi menyatakan memutus seluruh hubungan keluarga dan hu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status