Share

Bab 64 : Terpesona

Penulis: Maufy Izha
last update Tanggal publikasi: 2026-08-21 13:38:36

"I-Iya, Nek, tapi kami hanya teman kok," cicit Sinta dengan gugup.

Nenek Gayatri mengulum senyum, sementara sang paman mengangkat kedua alisnya sambil melirik ke arah istrinya dengan senyuman penuh arti.

Namun, karena takut membuat Sinta malu, akhirnya mereka hanya menganggukkan kepala tanpa berkata apa-apa.

Satu jam kemudian, ponsel Sinta kembali berdering. Ternyata Arjuna salah jalan dan rumah neneknya terlewat cukup jauh.

"Sekarang kamu di mana? Aku akan keluar dan menunggu di halaman. A
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 147 : Dengan Satu Syarat

    Pria itu menghentikan langkahnya tepat di tengah pintu. Namun, ekspresi Abimanyu sama sekali tidak terlihat terkejut. Pria itu menatap Sinta dengan tenang, tatapannya begitu dalam hingga mampu membuat Sinta merinding."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Sinta dengan ekspresi tidak senang."Menurutmu, apa yang aku lakukan di sini?"Belum sempat Sinta menjawab, anak dari pemilik tanah yang lama muncul dari belakang tubuh Abimanyu. Sapaannya yang ramah memecah ketegangan yang menguar di antara Sinta dan Abimanyu."Pak Bima, kenapa berdiri di tengah pintu?""Maaf, Pak Roger, saya hanya terkejut melihat orang yang akan membeli tanah saya," ucap Abimanyu seraya tersenyum tipis.Mendengar jawaban itu, tubuh Sinta semakin membeku dan terasa kaku.Jadi, tanah itu...Sinta menelan ludahnya dengan susah payah. Sebagian otaknya memerintahkan untuk keluar dari ruangan itu sekarang juga. Namun, sebagian lainnya menyuruh untuk tetap tinggal karena perjanjiannya dengan Ruslan tidak boleh gagal."N

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 146 : Pemilik Tanah yang Misterius II

    Napas Sinta tertahan sejenak sebelum akhirnya tersenyum cerah."Be-benarkah? Di mana saya harus menemui beliau?""Saya akan memberikan alamatnya lewat SMS, ya, Nona Sinta.""Baik, baik. Sekali lagi, terima kasih atas bantuannya, Pak.""Sama-sama. Sampai bertemu nanti.""Ya, Pak, sampai bertemu nanti."Panggilan ditutup. Sinta seketika bangkit dari kursi kerjanya, ia nyaris melompat kegirangan. Di saat itu, Marylin baru saja masuk ke dalam ruangan dan melihat Sinta tampak begitu senang."Ada apa, Nona Sinta? Anda terlihat sangat senang.""Kak Marylin!" Sinta berjalan mendekat ke arah sang sekretaris. "Barusan anak dari pemilik tanah lama menghubungiku. Beliau bilang pemilik baru tanah itu bersedia untuk bertemu denganku dan membahas penawaran harganya."Mendengar kabar itu, Marylin tersenyum lebar."Nona Sinta, Anda luar biasa. Berkat kegigihan dan kerja keras Anda, akhirnya pemilik tanah misterius itu bersedia menemui Anda."Sinta mengangguk cepat, namun sejurus kemudian wajah wanita

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 145 : Pemilik Tanah yang Misterius

    Mendengar jawaban Sinta yang terdengar begitu meyakinkan dan tanpa keraguan sedikit pun, Ruslan tampak terkejut. Namun, tak lama kemudian, terdengar suara tawa dari ujung meja yang sarat akan ejekan."Sinta... Sinta... Aku tahu kamu didukung oleh Tuan Muda keluarga Pandawa, tetapi bukan berarti kamu bisa melakukan segalanya. Pemilik tanah itu tidak akan menjual tanah tersebut. Bahkan, sekelas Tuan Hendra Kusuma saja tidak bisa mendapatkan tanah itu, apalagi anak bau kencur sepertimu. Percaya diri juga ada batasnya," ucap Ambar dengan penuh keangkuhan.Setelah itu, Krisna juga berkata, "Yang dikatakan istriku benar adanya. Sinta, jangan nekat! Alih-alih mendapatkan tanah itu, kamu malah akan mempermalukan nama baik keluarga Pandawa."Sinta mengepalkan tangannya kuat-kuat. Saat itu, Arjuna juga tidak mengatakan apa pun karena kenyataannya keluarga Pandawa memang mengincar tanah tersebut. Namun, pemilik tanah itu sangat misterius dan tidak pernah muncul ke publik. Saat mencari tahu nama

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 144 : Terima atau Tinggalkan

    Suara jernih Sinta yang bergema di ruang rapat seketika terhenti. Ruangan mendadak hening.Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama karena Krisna dan Ambar tiba-tiba berteriak tidak terima."Sinta?! Apa-apaan ini!" Ambar menjerit hingga suaranya terdengar serak, wajahnya yang sejak tadi tampak pucat seketika berubah warna."Sinta! Hentikan omong kosong ini!" sambung Krisna dengan suara tertahan. Urat-urat di lehernya tampak menonjol. Pria paruh baya itu menunjuk ke arah Sinta dengan jari telunjuknya yang gemetar.Krisna tampak sangat murka melihat keberadaan Sinta, apalagi Sinta datang ke sini sebagai Direktur Utama yang baru yang akan menggantikan posisinya.Krisna mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia baru menyadari bahwa semua ini sudah direncanakan oleh mereka berdua—Sinta dan Arjuna—dan dia dengan bodohnya masuk ke dalam jebakan yang sudah mereka pasang."Arjuna, kamu memang sengaja melakukannya! Kamu menjebakku!" Krisna hendak merangsek ke arah

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 143 : Direktur Utama yang Baru II

    Semua orang di ruang rapat itu berdiri, kemudian menjawab sapaan Arjuna dengan penuh rasa hormat."Silakan duduk, kita mulai rapatnya sekarang," lanjut Arjuna dengan tegas.Arjuna melangkah mantap menuju kursi utama di ujung meja panjang. Di samping kanannya, Marylin bergerak sigap menyiapkan mikrofon dan berkas-berkas penting, sementara di samping kirinya, ada Jay yang berdiri tegak layaknya seorang pelindung.Arjuna mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, memperhatikan wajah-wajah para peserta rapat yang ada di hadapannya dengan tatapan tajam. Hingga netra hitamnya bertubrukan dengan tatapan tajam penuh kemarahan dari Krisna dan Ambar yang duduk di kursi paling ujung. Sudut bibirnya sedikit terangkat, menampilkan senyuman tipis nan sinis ke arah dua orang itu."Silakan dimulai, Tuan Muda."Suara Marylin menarik Arjuna kembali pada titik fokusnya. Pemuda itu berkata, "Jadi, sebelum saya mulai, tentunya Bapak dan Ibu sekalian sudah tahu apa tujuan rapat kali ini, bukan?"Mereka s

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 142 : Direktur Utama yang Baru

    Pelayan berusia 40-an itu menggeleng pelan."Tidak pernah, Nona...""Bi Lita, jangan membuat Sinta takut.""Maaf, Tuan Besar, saya hanya...""Hm, aku mengerti. Lanjutkan saja pekerjaanmu, ya?""Baik, Tuan."Sinta tidak menyangka Tuan Prabu yang terkenal sebagai pebisnis berdarah dingin itu bisa bersikap lembut terhadap pelayan rumah.Sangat berbeda dengan ayahnya, Krisna Jayadi, yang akan melontarkan berbagai macam makian hingga mengabsen nama-nama binatang kepada pelayan rumah jika mereka melakukan kesalahan, meskipun hanya kesalahan sepele.Setelah Bi Lita pergi, meja makan pun kembali hening.Saat itu, Sinta baru memperhatikan gelagat dua orang di hadapannya yang terasa begitu kaku dan canggung."Kalian berdua memang sekaku ini, ya, saat makan bersama?"Arjuna dan Tuan Prabu sama-sama mendongak saat mendengar pertanyaan itu."Tidak, kok. Biasanya kami mengobrol. Iya, kan, Ayah?""Ya, biasanya kami mengobrol... sedikit."Pengakuan kedua pria itu malah membuat Sinta tertawa renyah ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status