Share

Bab 7

Author: Vya Kim
last update Last Updated: 2025-01-03 18:00:06

Ruangan itu terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun sinar matahari menembus tirai yang terbuka.

Rey berdiri tegap di dekat meja kerjanya, tak menjawab pertanyaan sang kakek.

Sementara kakeknya duduk dengan tenang, tapi sorot matanya penuh tuntutan.

Di balik ketenangan itu, ada ambisi besar yang tersirat.

Kakeknya, pria yang membangun Astroha Entertainment dari nol, tahu usianya tidak lagi muda. Masa kejayaan sudah berlalu, dan kini dia mengandalkan Rey untuk menjaga warisan itu tetap hidup.

Bagi sang kakek, pernikahan Rey adalah langkah strategis, lebih dari sekadar urusan keluarga. Kerja sama dengan keluarga pengusaha lain akan memperkuat perusahaan mereka, memastikan Astroha tetap berada di puncak.

Namun, Rey, dengan status lajangnya, dianggap kurang stabil di mata mitra bisnis yang mereka targetkan.

Kakek Rey menghela napas panjang, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan. Dia bersandar di kursi dengan tongkat di pangkuannya, lalu menatap cucunya dengan ekspresi serius.

“Rey, usiaku terbatas,” ujarnya perlahan, nadanya penuh tekanan. “Jika kau masih ingin melihat keberadaanku, segeralah menikah. Bangun keluarga. Apa kau pikir dengan statusmu yang lajang itu kau bisa menopang perusahaan ini seorang diri?”

Rey tetap diam, ekspresinya datar. Tapi dalam hatinya, ada badai kecil yang bergolak. Dia tahu kakeknya tidak akan berhenti menekan.

Pernyataan itu bukan hanya tuntutan, melainkan juga pengingat tentang tanggung jawab besar yang ada di pundaknya.

Namun, Rey memilih untuk tidak menjawab. Dia hanya menggeser pandangannya ke jendela, membiarkan keheningan menjawab semuanya.

Kakeknya bangkit perlahan dari kursinya, membenarkan setelan jasnya yang rapi. Dengan langkah pasti, dia menuju pintu. Sebelum pergi, dia menoleh sekali lagi ke arah Rey.

“Pikirkan ini baik-baik, Rey. Waktu tidak akan menunggumu.”

Rey tetap tak berkata apa-apa, hanya berdiri tegap hingga suara pintu tertutup pelan. Setelah kakeknya pergi, Rey menghela napas panjang, ia berjalan ke arah meja kerjanya.

Kursi kulit itu berderit pelan saat dia menjatuhkan tubuhnya ke sana. Sejenak, dia hanya duduk diam, matanya tertuju pada berkas-berkas di mejanya, tetapi pikirannya melayang jauh.

Rey mengangkat kedua tangannya, memijat pelan dahinya dengan ujung jari, mencoba meredakan ketegangan yang menumpuk.

Matanya terpejam rapat, seolah itu bisa mengusir beban yang terus menghantuinya.

“Kenapa semua orang selalu ingin mengatur hidupku?” gumamnya lirih, hampir seperti bisikan yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.

Akhirnya, dengan napas berat, Rey menurunkan tangannya, menatap kosong ke arah meja. Wajahnya yang biasanya tegas kini memancarkan kelelahan, meski hanya sesaat sebelum dia kembali memulihkan ekspresinya yang dingin dan terkendali.

Setelah kakeknya keluar dari ruangan Rey, langkahnya yang tegas menggema di koridor. Tak jauh dari sana, deretan meja kerja para karyawan agensi terlihat. Suasana yang semula dipenuhi suara percakapan ringan kini mendadak sunyi.

Semua karyawan yang melihat kehadiran sang kakek dengan sigap berdiri dari kursi masing-masing dan membungkuk hormat, termasuk Hana yang duduk di salah satu meja paling ujung. Meskipun ia belum tahu siapa pria tua berwibawa itu, intuisi dan pengamatannya menyadarkan bahwa sosok itu bukan orang sembarangan.

Sang kakek melangkah mendekat ke arah meja Hana. Tatapan tajam dan penuh wibawa miliknya membuat setiap orang di ruangan itu semakin menahan napas.

Ketika jaraknya hanya beberapa langkah lagi dari Hana, pemimpin tim kreatif agensi, Rocky, segera melangkah ke samping Hana dengan gerakan sigap. Wajahnya tampak sedikit tegang, namun tetap tersenyum sopan.

“Selamat siang, Tuan Noh! Senang melihat Anda berkunjung,” ujar Rocky sambil membungkuk sekali lagi dengan sangat hormat.

Tuan Noh mengangguk kecil, pandangannya sekilas menyapu ke arah meja Hana sebelum berhenti tepat pada dirinya.

“Ya, senang melihat kalian semua bersemangat,” ujarnya dengan suara rendah tapi penuh kekuatan.

Pandangannya kini tertuju langsung pada Hana. “Lalu, siapa dirimu, Nona?”

“Oh, dia karyawan baru, Tuan,” jelas Rocky cepat, membantu mempekenalkan diri bawahanannya.

Rocky segera menoleh ke arah Hana, memberi isyarat dengan tatapan tegas agar dia segera memperkenalkan diri.

Dengan sedikit gugup, Hana melangkah setengah maju. Ia menundukkan kepalanya sedikit sebelum berbicara.

“Saya Hana Varelly, Tuan. Penulis baru di agensi ini. Senang bisa diterima di sini. Saya akan berusaha sebaik mungkin.” Ucapannya jelas, namun ia tak bisa menyembunyikan nada gugup di balik kata-katanya.

Tuan Noh mengangguk perlahan, senyum tipis menghiasi wajahnya. Namun, senyum itu terasa seperti membawa beban makna yang lebih besar.

“Ya, berusahalah sebaik mungkin,” jawabnya, nada suaranya memberi penekanan yang sulit ditebak.

Hana membungkuk sekali lagi dengan sopan. Setelah itu, Tuan Noh berbalik tanpa menambahkan apa pun. Langkahnya tetap tegas, diikuti oleh dua bodyguard berjas hitam yang sejak tadi berjaga di belakangnya.

Saat sosok Tuan Noh hilang dari pandangan, suasana perlahan kembali hidup, meskipun bisikan-bisikan kecil mulai terdengar di antara para karyawan.

Hana hanya berdiri di tempatnya, masih berusaha memahami pertemuan singkat itu.

‘Rupanya dia Owner agensi ini...,’ batin Hana sambil kembali duduk ke mejanya.

Rocky menepuk pundaknya pelan. “Kau beruntung dia tidak bertanya lebih banyak,” katanya dengan nada setengah berbisik, sebelum melanjutkan langkah ke meja lain.

Tuan Noh melangkah keluar dari gedung agensi dengan tenang, meskipun auranya tetap memancarkan wibawa yang sulit diabaikan.

Di depan pintu utama, sebuah Rolls-Royce Phantom hitam mengkilap sudah menunggu, dengan supir berdiri di samping pintu belakang, siap melayani.

Tuan Noh masuk ke dalam mobil. Interior mobil itu memancarkan kemewahan kulit premium berwarna krem, ornamen kayu mengilap, dan wangi khas yang menyiratkan keanggunan tanpa cela.

Ia bersandar dengan nyaman di kursi belakang, matanya menyipit sedikit, seakan memikirkan sesuatu. Setelah beberapa detik hening, ia menoleh ke pria yang duduk di depannya asisten pribadinya yang selalu sigap.

“Cari tahu siapa Hana Varelly,” perintahnya pendek namun tajam.

Asistennya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. “Akan saya urus, Tuan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 94. Ending

    Hari-hari Hana berlalu dalam kesunyian yang sibuk. Ia tenggelam dalam tumpukan pekerjaan yang sengaja ia cari-cari, seolah sibuk adalah pelarian terbaik dari kenyataan yang terus membayanginya.Meski tubuhnya mulai terasa mudah lelah, ia tetap memaksa diri untuk aktif, menyibukkan tangan dan pikirannya, agar tak terlalu larut dalam rasa sepi.Dalam sela-sela rutinitasnya, saat malam tiba atau waktu istirahat siang, Hana punya satu hiburan kecil yang setia menemani, game restoran favoritnya. Ia memainkan game itu bukan sekadar untuk kesenangan, tapi juga sebagai tempat di mana ia merasa bebas, bebas dari penilaian, dari kenyataan, dan dari rasa sesak di dada. Ia pun mulai aktif di grup chat dalam game, sesekali ikut dalam obrolan ringan yang membuatnya tertawa kecil.Waktu berlalu, dan sedikit demi sedikit Hana membuka diri. Ia menulis dengan hati-hati, seolah masih ragu, namun merasa ada kehangatan dari komunitas kecil itu."Aku sedang mengandung," tulisnya di salah satu obrolan grup

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 93. Jangan Murung

    Juna menatap tajam ke arah Rey, tidak gentar sedikit pun dengan emosi yang membara di mata pria itu. Dengan satu gerakan tegas, ia menepis tangan Rey yang masih mencengkeram kerah bajunya."Sebaiknya kau yang menjauhi Hana! Bukan aku!" desis Juna, suaranya rendah namun penuh tekanan. Ia sadar ini adalah koridor rumah sakit, dan pertengkaran terbuka hanya akan menarik perhatian yang tidak diinginkan.Rey terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, wajahnya menegang dalam campuran emosi yang sulit dijelaskan. Perlahan, ia mengendurkan cengkeramannya, melangkah mundur selangkah demi selangkah, tapi sorot matanya masih tertuju ke pintu ruangan dokter.Hana masih di dalam sana.Ia ingin masuk, ingin bertanya langsung kepada wanita itu, ingin mendapatkan kepastian dari bibirnya sendiri. Tapi sebelum ia sempat bergerak lagi, Juna mendorongnya. Bukan dorongan kasar, melainkan gerakan halus, namun bagi Rey, dorongan itu terasa seperti hantaman yang mengguncang hatinya."Pergi," bisik Juna, nada suara

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 92. Benarkah?

    Sudah hampir sebulan sejak Hana mulai bekerja sebagai owner PT. First Food. Waktu berlalu begitu cepat, dan meskipun ia masih menyesuaikan diri dengan peran barunya, ia mulai terbiasa dengan ritme pekerjaannya.Namun, di balik kesibukannya, ada sesuatu yang lebih penting yang harus ia perhatikan, kehamilannya. Hari ini adalah jadwal kontrolnya, dan tanpa bisa dihindari, seseorang menawarkan diri untuk mengantarnya.Juna.Pria itu masih saja muncul dalam hidupnya, berusaha mengambil celah sekecil apa pun untuk mendekat lagi. Meski Hana berusaha menjaga jarak, Juna selalu menemukan alasan agar tetap ada di sekitarnya.Dan sekarang, di dalam mobil yang melaju menuju rumah sakit, suasana terasa canggung.“Apa masih sering mual?” tanya Juna sambil menyetir.Hana yang sejak tadi hanya menatap keluar jendela, menghela napas. “Udah mulai berkuran, nggak separah pertama kali.”Juna meliriknya sekilas. “Aku masih sering kepikiran. Kalau aja aku dulu lebih—”“Jangan bahas masa lalu, Juna.” Suara

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 91. Stalker

    Malam semakin larut, dan Hana yang awalnya hanya berniat merebahkan diri di kasur akhirnya tertidur dengan tenang. Rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya perlahan memudar seiring napasnya yang semakin teratur.Keesokan paginya, sinar matahari yang menerobos melalui celah tirai membangunkannya. Hana menggeliat pelan sebelum meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Saat layar menyala, sebuah notifikasi dari game yang biasa ia mainkan menarik perhatiannya.Notifikasi dari akun bernama Reys_toran muncul di layar:[Hi, apa kau mau masuk grup?]Hana tersenyum kecil, lalu mengetik balasannya dengan ringan.[Ya, tentu]Setelah itu, ia meletakkan kembali ponselnya dan bangkit dari tempat tidur. Hari ini adalah hari penting, ia harus bersiap-siap untuk pergi ke kantor PT. First Food sebagai owner baru. Meskipun pagi harinya masih dihiasi rasa mual seperti biasa, kali ini tidak separah sebelumnya. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan perutnya sebelum beranjak ke kamar mandi.Se

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 90. Benang Merah yang Tak Terputus

    Malam itu, Hana kembali duduk di kursi makan dengan wajah pucat. Tangannya menggenggam sendok, tetapi setiap kali ia hendak menyendok makanan, rasa mual kembali menghantam.Aroma makanan yang dulu ia sukai, kini terasa begitu menyiksa. Bahkan sekadar mencium bau kopi yang diseduh ibunya pagi tadi saja sudah cukup membuat perutnya bergejolak.Bu Lauren yang sudah mengamati putrinya sejak tadi, akhirnya meletakkan semangkuk sup hangat di hadapan Hana."Ibu buat yang ringan saja. Setidaknya sup ini bisa kamu terima di perutmu," ucapnya lembut, duduk di seberang meja.Hana menatap sup yang mengepul itu. Aroma kaldu yang ringan sedikit menenangkannya, dan tanpa banyak kata, ia mulai menyendok sup tersebut pelan-pelan.Setelah beberapa suap, tubuhnya mulai terasa sedikit lebih baik. Ia meletakkan sendok, lalu menghela napas panjang.Hening menyelimuti mereka sejenak sebelum tiba-tiba Hana terisak.Tanpa peringatan, ia bangkit dari tempat duduknya dan memeluk ibunya erat. Bahunya terguncang

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 89. Permintaan Kakek

    Siang itu, Rey melewati meja kerja Hana, dan di sana telah kosong.Tak ada lagi tumpukan naskah atau secangkir kopi yang biasa menemani wanita itu bekerja. Tak ada jejaknya di sini. Hanya ruang hampa yang tersisa, sama seperti hatinya yang kini terasa kosong tanpa kehadiran Hana.Dulu, ia mungkin tidak menyadari betapa terbiasanya melihat wanita itu di sekelilingnya. Tapi sekarang, setiap sudut gedung ini mengingatkannya pada sosoknya, suara lembutnya saat mendiskusikan naskah, ekspresi seriusnya saat mengetik, bahkan aroma parfumnya yang samar.Rey mendesah pelan, tak bisa berdiam diri lebih lama di sini. Pikirannya kacau. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah keluar dari gedung agensinya, membiarkan udara siang yang terik menerpa wajahnya.Langkahnya cepat menuruni anak tangga menuju pelataran parkir, hingga suara seseorang mengejar dari belakang."Tuan! Anda mau ke mana?"Rey menoleh sekilas. Itu Bastian, sekretarisnya, yang kini sedikit terengah mencoba menyusul.Tatapan Rey tajam,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status