Rachel tidak sempat bereaksi dan wajahnya langsung dibasahi jus.
Melihat ini, para pembantu bergegas membantu Rachel membersihkan diri.
"Maverick!" seru Joshua dengan marah.
Maverick yang ketakutan pun berlari ke lantai atas. Tepat ketika Joshua hendak mengejarnya, Anisa dengan cepat berdiri dan menghentikannya. "Josh, dia masih kecil. Kamu nggak boleh mendisiplinkannya dengan pakai kekerasan. Aku akan memeriksanya."
Seusai berbicara, Anisa melirik Rachel yang sedang menyeka tubuhnya. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya tetap diam.
Kemudian, Joshua baru buru-buru mengalihkan perhatiannya kembali pada Rachel. "Kamu baik-baik saja? Biar kulihat."
Rachel telah selesai membersihkan dirinya ketika tangan pria itu terulur dan mencoba menyentuh wajahnya.
"Kotor, jangan sentuh aku!" seru Rachel secara keceplosan.
Namun, Joshua tidak mengerti maksud Rachel. Dia menyahut, "Mana mungkin aku keberatan? Aku cuma akan merasa sakit hati. Kalau tahu Verick begitu nakal, aku nggak akan biarkan kamu mengurusnya secara pribadi."
Rachel tersenyum tipis dan berkata dengan nada mengejek, "Iya, akan jauh lebih baik kalau ibu kandungnya yang mengurusnya. Sayangnya, ibu kandungnya sudah meninggal. Sebagai ibu angkatnya, aku benar-benar nggak tahu gimana cara mengurus anak."
Joshua tertegun sejenak dan wajahnya menegang. "Apa yang kamu katakan? Verick itu anak yang kita adopsi. Kamu itu satu-satunya ibunya yang baik."
Seusai berbicara, Joshua mengelus rambut Rachel dengan lembut. Rachel yang tidak sempat menghindar langsung merasa kesal.
Begitu kembali ke kamar, Rachel segera mandi.
Joshua segera menyusul Rachel. Tujuan utamanya adalah untuk mendiskusikan masalah Anisa yang akan tinggal bersama mereka dengan Rachel. Meskipun disebut diskusi, Rachel tahu dia sebenarnya tidak memiliki hak mengambil keputusan. Mereka adalah pasangan sungguhan, sedangkan dia hanya memiliki status palsu.
"Perusahaan lagi berada di tahap penting mau go public, Verick nggak bisa ditinggal sendirian, sedangkan perusahaan juga butuh kamu. Sekarang, Bu Anisa adalah ahli pendidikan. Kamu juga sudah lihat Verick sangat patuh sama dia ...."
"Oke, begitu saja."
Rachel tidak ingin mendengarkan ocehan pria ini. Makin mendengarnya, dia merasa makin mual.
"Rere, sudah kutahu kamu yang paling pengertian. Kamu pasti paham sama niat baikku."
Melihat bahwa urusannya sudah beres, mata gelap Joshua melembut. Dia berdiri untuk merangkul pinggang ramping Rachel. Namun, Rachel segera berbalik dan mengangkat ponselnya ke hadapan mereka.
Layar ponsel menampilkan sebuah rumah dengan pemandangan sungai. Dilihat dari lokasinya, rumah itu berada di distrik keuangan. Itu adalah pusat bisnis yang juga terletak di lokasi paling strategis Kota Stravon. Rumah di kawasan itu bahkan lebih mahal daripada vila Joshua saat ini.
"Joshua, gimana menurutmu dengan rumah ini?"
"Rumah ini tentu saja bagus. Lokasinya termasuk kawasan dengan nilai tanah tertinggi," jawab Joshua. Dia tidak sepenuhnya mengerti maksud Rachel.
"Ulang tahunku bulan depan. Aku lumayan suka sama rumah ini. Bisa nggak kamu memberikannya kepadaku sebagai hadiah ulang tahun?"
Rachel tersenyum. Suaranya juga dibuat semanis dan selembut mungkin. Joshua telah berbohong padanya selama dua tahun. Dalam dua tahun itu, dia bukan hanya kehilangan waktu, tetapi juga kariernya.
Untuk membantu Joshua menyelamatkan perusahaannya, Rachel melepaskan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan tawaran dari perusahaan besar, lalu bergabung dengan perusahaan kecil keluarga Joshua.
Hanya dalam waktu dua tahun, Rachel telah membantu membalikkan keadaan perusahaan Joshua. Beberapa bulan lagi, perusahaan Joshua akan go public dan asetnya bisa meroket hingga trilunan.
Sementara itu, Rachel tidak memiliki apa-apa, malah akan dicampakkan setelah dieksploitasi. Dia tentu saja tidak akan mengabulkan keinginan Joshua dan Anisa. Dia juga tidak akan mengampuni mereka.
Dulu, Joshua selalu berjanji dengan penuh kasih sayang bahwa dia akan mengabulkan setiap keinginan Rachel yang berada dalam batas kemampuannya. Rachel bukanlah orang yang materialistis dan tidak pernah benar-benar mengajukan tuntutan apa pun.
Joshua ragu sejenak. "Kenapa kamu tiba-tiba mau beli rumah? Bukannya rumah kita sekarang sudah cukup bagus?"
"Rumah kita sekarang memang bagus, tapi nilai investasinya nggak cukup tinggi. Rumah ini beda. Kelak, harganya berpotensi meroket. Lagian, perusahaanmu akan segera go public. Kalau bisa adakan pesta dan menjamu tamu di rumah baru, itu bukan cuma nyaman, tapi juga akan buat kamu terlihat bergengsi."
Ucapan Rachel semuanya seputar kepentingan Joshua. Dia segera menghilangkan keraguan yang muncul di hati pria itu.
Sesuai dugaan Joshua, Rachel masih tidak tega untuk benar-benar menghabiskan uangnya. Yang dipikirkan Rachel sepenuhnya terfokus pada masa depannya. Untuk sejenak, Joshua merasa sedikit bersalah, bahkan sedikit sakit hati untuk Rachel.
"Punya kamu saja sudah cukup untuk buat aku bangga. Aku nggak butuh apa pun lagi."
Joshua mengulurkan tangan untuk lanjut memeluknya, tetapi Rachel menarik diri sekali lagi.
"Sudah kubilang ini hadiah ulang tahunku. Anggap saja kamu membelinya untukku. Kamu nggak akan begitu pelit, 'kan?" Rachel mengucapkan kalimat terakhir dengan nada bercanda.
Rachel terlihat berbeda hari ini. Joshua merasakan hasrat aneh saat menghadapinya. Tanpa banyak berpikir, dia bertanya, "Berapa harga rumah ini?"
"Nggak mahal, cuma 140 miliar," jawab Rachel sambil tersenyum.
Wajah Joshua langsung membeku sesaat. Dia tidak ingin pelit pada Rachel, tetapi harganya terlalu mahal. Namun, mengingat perusahaan yang akan segera go public, dia tidak ingin mengecewakan Rachel pada saat yang krusial ini. Jadi, dia mengangguk.
"Oke. Kalau kamu suka, suamimu akan membelikannya untukmu."
Begitu selesai berbicara, Joshua langsung menelepon departemen keuangan di depan Rachel. Malam itu juga, 140 miliar tiba di rekening pribadi Rachel. Sesuai permintaan Rachel, Joshua bahkan menambahkan catatan khusus pada keterangan transfer tersebut.
[ Uang beli rumah buat Rere. Selamat ulang tahun. ]
Saldo di rekening Rachel naik dari 300 juta menjadi 140,3 miliar.
Sejak "pernikahan" mereka, Rachel menyerahkan keuangan keluarga kepada Joshua. Semua uang di rekeningnya adalah hasil tabungannya dari pekerjaan paruh waktu saat kuliah. Selama dua tahun, dia bahkan tidak pernah mengambil sepeser gaji pun.
Keesokan pagi saat keluar dari kamar, Rachel melihat Joshua yang mengenakan celemek sedang mengobrol gembira dengan Anisa di ruang makan lantai bawah. Maverick mengikuti mereka seperti bayangan kecil. Kepatuhannya bahkan membuat Rachel mengubah pandangannya terhadap bocah itu.
Namun, keharmonisan sekeluarga beranggotakan tiga orang itu tiba-tiba berakhir saat Rachel turun dari lantai atas. Anisa segera melepaskan tangannya dari bahu pria itu, sedangkan Joshua berjalan menghampiri Rachel.
"Sudah bangun? Aku buat sarapan sendiri hari ini. Ayo cicip."
Rachel langsung memperhatikan sarapan mewah di atas meja. Ada pembantu yang memasak di rumah. Sementara itu, Joshua juga tidak memiliki kebiasaan untuk sarapan dan tidak pernah tertarik untuk memasak.
Lagi pula, sarapan mereka biasanya bergaya tradisional. Namun, sarapan hari ini semuanya bergaya Barat, juga begitu banyak jenis. Sangat jelas untuk siapa sebenarnya sarapan itu.
Meskipun tahu, Rachel tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya tersenyum dan bertanya kepada Anisa, "Apa ini semua makanan favoritmu?"
"Iya. Josh sangat ramah dan khawatir aku nggak biasa makan makanan lainnya. Pria seperhatian dia sudah langka. Rere, kamu beruntung banget punya suami sebaik dia," jawab Anisa dengan santai. Sedikit rasa superioritas terpancar di matanya saat bertemu pandang dengan Rachel.
"Benar, Joshua selalu sangat perhatian. Bukan cuma terhadapku. Dia juga bersikap lembut dan sopan kepada semua wanita."
"Jangan dengarkan omong kosong Rere, aku nggak begitu," bantah Joshua dengan terburu-buru.
Meskipun kata-kata Rachel menyiratkan maksud lain, dia mengucapkannya dengan santai dan hampir seperti godaan. Namun, senyum Anisa langsung sirna.
Maverick menyadari ketidaksenangan Anisa. Saat Rachel meraih telur goreng terakhir, dia langsung menumpahkan kecap ke atas telur. Gerakannya dengan begitu kasar hingga sebagian kecap itu mengenai tangan Rachel.
"Verick, apa-apaan kamu!"
Wajah Joshua langsung menjadi muram.
Anisa segera memberikan tisu kepada Rachel, lalu dengan cepat berbisik kepada Maverick, "Verick, meski sudah kenyang, kamu nggak boleh buang-buang makanan. Lihat, kamu sudah nggak sengaja kotori tangan ibumu. Cepat minta maaf."
Maverick diam-diam memutar matanya ke arah Rachel, lalu mengucapkan "maaf" dengan enggan.
Rachel menyeka tangannya, lalu melirik ibu dan anak itu. Maverick meminta maaf dengan dagu terangkat tinggi, sementara kata-kata Anisa sama sekali tidak terdengar seperti teguran dan juga mengaburkan inti permasalahan.
"Sudah. Kalau kamu sudah selesai makan, kembalilah ke kamarmu."
Maverick memang sudah meminta maaf. Namun, sebelum Rachel sempat menjawab, Anisa malah sudah bersuara terlebih dahulu.
"Tunggu." Tepat saat Maverick hendak pergi, Rachel berdiri, lalu menariknya dan menyeretnya ke depan dinding. "Berdiri yang baik di sini."
"Dasar wanita busuk! Lepaskan aku!"
Maverick meronta sekuat tenaga, tetapi Rachel sudah terbiasa menghadapinya. Dia memutar lengan Maverick dengan kuat dan menekannya ke dinding. Kemudian, dia mengambil rotan tipis dari vas di samping dan mulai memukul pantat Maverick dengan kuat.
"Huwahhh ...."
Maverick yang merasa kesakitan dan ketakutan pun menangis tersedu-sedu.
"Rachel, apa yang kamu lakukan? Verick sudah minta maaf. Memangnya kamu benar-benar harus mendisiplinkannya dengan pakai kekerasan?"
Anisa pun panik dan mencoba menghentikan Rachel.
"Bu Anisa, Maverick itu putraku. Sebagai ibunya, sudah kewajibanku untuk mendisiplinkannya. Kenapa kamu begitu cemas dan berusaha bela dia? Macam dia itu ... anak kandungmu?" balas Rachel tanpa menghentikan gerakannya. Saat dia berbicara, pantat Maverick menerima beberapa pukulan lagi.
Wajah Anisa seketika memucat. Ujung jarinya menusuk telapak tangannya. Dia menyahut dengan suara tercekat, "A ... aku cuma merasa dia masih kecil. Lagian, Verick juga bukannya melakukan kesalahan besar ...."
"Kalau kesalahan kecil nggak diperbaiki, itu akan menyebabkannya melakukan kesalahan besar setelah dewasa. Aku nggak sepintar Bu Anisa dalam mendidik anak. Kalau bukan pakai cara pukul, aku akan kesulitan mendidiknya."
Kata-kata Rachel membuat Anisa terdiam. Dalam situasi ini, jika Rachel bersikeras berbuat begitu, dia tidak berhak untuk menghentikan Rachel.
Joshua juga sangat terkejut. Biasanya, tidak peduli setegas apa pun sikap Rachel, dia hanya akan menegur dan tidak pernah benar-benar memukul Maverick. Meskipun Maverick memang sudah keterlaluan, dia tidak tahan dengan tatapan Anisa. Dia akhirnya melangkah maju dan menahan tangan Rachel.
"Sudah, sudah. Kamu sudah memukulnya, itu sudah cukup."
Rachel memang telah memukul Maverick beberapa kali. Amarah yang selama ini ditahannya juga sudah sedikit reda. Dia pun melempar rotan itu ke lantai.
Maverick buru-buru bersembunyi di belakang Anisa. Dia menangis tak terkendali dan tak lagi sempat menunjukkan permusuhannya terhadap Rachel.
Anisa mengerutkan kening dan hanya bisa menahan amarahnya. Dia menepuk-nepuk punggung Maverick dalam diam.
"Maverick, ingat baik-baik. Selama aku masih ibumu, kamu harus hormati aku. Kalau kamu masih nggak tahu cara menghormati orang yang lebih tua, rotan itu bukan sekadar pajangan," ucap Rachel dengan nada yang sangat mengintimidasi.
Bahkan Maverick juga tidak berani menangis lagi, padahal Rachel mengucapkannya sambil tersenyum. Joshua juga tercengang.
Seusai berbicara, Rachel meninggalkan ruang makan.
Tanpa berpikir panjang, Joshua hendak mengejar Rachel, tetapi Anisa segera meraih tangannya. "Joshua ...."
Mata Anisa dipenuhi kesedihan. Dia benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Dia tahu Joshua telah mencintainya selama bertahun-tahun dan perasaan mereka sangat mendalam. Jadi, dia merasa sangat aman, juga bersedia bersikap lembut dan murah hati. Namun .... Rachel sudah terlalu menghinanya!
Dulu, kakeknya Joshua bersikeras memisahkan Joshua dan Anisa. Joshua masih kuliah dan tidak berdaya untuk melawan. Sementara itu, Anisa hampir kehilangan pekerjaannya. Pada akhirnya, dia juga tidak bisa lanjut bekerja sebagai dosen wali dan beralih menjadi guru anak.
Dalam keputusasaan, Joshua baru menggunakan Rachel sebagai tameng.
Anisa pernah bertanya kepada Joshua kenapa dia memilih Rachel. Joshua mengatakan bahwa awalnya dia tertarik pada penampilan Rachel. Dia merasa bahwa dengan memperkenalkan Rachel kepada keluarganya, mereka baru akan merasa itu masuk akal.
Kemudian, Joshua menyelidiki informasi Rachel. Dia menemukan bahwa Rachel adalah seorang yatim piatu yang tidak memiliki sandaran, juga merupakan salah satu mahasiswi paling berbakat di jurusan keuangan. Ada banyak perusahaan bergengsi yang bersaing untuk mempekerjakannya. Berpacaran dengan Rachel juga dapat membantu kariernya.
Namun, untuk menenangkan Anisa, Joshua diam-diam mendaftarkan pernikahannya dengan Anisa ketika baru berpacaran dengan Rachel. Dengan cara ini, meskipun Joshua dan Rachel bersama, Anisa akan mendapat bagian dari semua aset pernikahan.
Joshua juga berjanji bahwa begitu dirinya mewarisi bisnis keluarga dan memiliki kekuasaan di keluarganya, dia akan mengumumkan hubungan mereka kepada publik. Dalam hubungan mereka, Rachel tidak lebih dari sekadar pion.
Namun, pion itu berani menginjak-injaknya? Anisa tidak bisa menerimanya!
Joshua tentu saja merasa kasihan pada Anisa, tetapi juga tidak mampu memutuskan hubungan dengan Rachel saat ini. Dia hanya bisa memeluk wanita itu erat-erat untuk sesaat, lalu mengerutkan kening dan mengejar Rachel.