Melihat Rachel hendak masuk ke mobil, Joshua segera menenangkan diri dan mengikutinya. Pada jam seperti ini, mereka berdua selalu pergi ke perusahaan bersama.
"Sebaiknya kamu suruh asistenmu untuk antar kamu. Aku ada janji dengan agen properti untuk melihat-lihat rumah hari ini."
Joshua terkejut sesaat, lalu menyahut, "Tapi, ada rapat penting di perusahaan hari ini ...."
"Rumah itu sangat diminati. Kalau aku nggak pergi hari ini, rumahnya mungkin sudah terjual." Rachel langsung menyela, "Bukannya kamu selalu bilang bahwa kerjaan nggak ada habisnya dan aku harus belajar untuk menyenangkan diri?"
Nada Rachel terdengar tenang dan tanpa emosi. Mata dan bibirnya juga mengandung senyuman. Namun, entah kenapa, Joshua merasa merinding. Dia segera membalas senyum itu dan menjawab, "Oke. Kalau begitu, aku juga nggak akan pergi ke perusahaan hari ini. Aku akan temani kamu lihat-lihat rumah."
"Nggak usah." Senyum Rachel makin lebar. Dia berbalik dan dengan lembut mencolek dada pria itu. "Aku pengen pilih sendiri. Kalau sudah pilih, aku akan ajak kamu pergi melihatnya."
Rachel tentu saja mengetahui pemikiran Joshua. Joshua bukan ingin menemaninya, melainkan ingin mengawasinya. Dengan mengikuti rencana Joshua, mendaftarkan rumah atas nama suami istri berarti rumah itu hanya akan menjadi milik Joshua dan Anisa.
Nada Rachel sedikit menggoda dan itu tiba-tiba menimbulkan gejolak di hati Joshua. Dia pun meraih pergelangan tangan Rachel dan bertanya, "Apa itu kejutan untukku?"
"Iya." Bibir Rachel menegang sejenak, lalu dia segera menarik tangannya.
"Oke. Kalau begitu, aku akan turuti keinginanmu," kata Joshua dengan suara berat. Dia memeluk Rachel dengan lembut.
Berhubung tidak dapat menghindar, Rachel hanya bisa memaksakan diri untuk menahan rasa jijiknya dan membiarkan Joshua memeluknya.
Setelah wanita itu melaju pergi, senyum Joshua sepenuhnya lenyap. Apakah itu hanya imajinasinya? Dia merasa Rachel sepertinya sudah sedikit berubah. Apakah wanita memang terlahir lebih peka dan Rachel sedang cemburu pada hubungannya dengan Anisa?
Joshua melonggarkan dasinya. Dia merasa kesal tanpa alasan yang jelas. Dia tidak seharusnya merasa terganggu karena Rachel. Sebab, sebaik apa pun Rachel, setulus apa pun perasaan Rachel terhadapnya ... dia hanya memiliki satu istri, dan itu adalah Anisa.
Satu jam kemudian, Rachel berdiri di depan dinding kaca sambil menatap pemandangan seluruh distrik keuangan. Apartemen eksklusif yang dia incar ini dilengkapi dengan fitur berteknologi tinggi, bergaya minimalis namun mewah. Perabotan dan dekorasinya sangat berkelas, sedangkan luasnya lebih dari 300 meter persegi.
Meskipun apartemen ini bukan yang terluas, lokasinya adalah yang terbaik di seluruh distrik keuangan. Rachel sudah bisa membayangkan betapa indahnya apartemen ini ketika lampu-lampu kota menyala di malam hari.
"Aku mau yang ini. Tolong urus prosedurnya dan daftarkan atas namaku saja," kata Rachel kepada manajer penjualan dengan puas.
Apartemen ini bisa langsung ditempati. Itu artinya dia bisa meninggalkan "rumah" yang pengap dan menjijikkan itu kapan saja.
"Baik." Manajer penjualan itu sangat gembira. Dia awalnya mengira Rachel hanya sekadar melihat-lihat.
Pelayanan yang diterima Rachel langsung menjadi sangat baik. Manajer itu mengantar Rachel ke area tunggu VIP di lobi, lalu menyuruh orang untuk menyajikan minuman dan makanan ringan. Dia secara pribadi pergi mengambil kontrak properti.
Rachel hanya perlu menggesek kartunya dan menandatangani kontrak. Ada orang yang akan mengurus prosedur selanjutnya.
Saat Rachel menunggu kontrak disiapkan, tiba-tiba terdengar suara wanita yang manja dan arogan bertanya, "Kamu yang coba rebut apartemen yang kuinginkan?"
Rachel mendongak, lalu melihat seorang wanita muda yang mengenakan setelan desainer dan berdandan cantik sedang berjalan dengan tampang galak ke arahnya. Di belakangnya, ada dua pengawal dan seorang manajer penjualan wanita.
"Kamu lagi ngomong sama aku?" tanya Rachel setelah terkejut selama beberapa detik.
"Siapa lagi kalau bukan? Aku yang duluan incar apartemen di Gedung A itu. Aku mau beli yang itu!"
Wanita itu melepas kacamata hitamnya. Mata tajam dan indah itu menatap Rachel dengan marah. Sikapnya arogan.
"Tadi, manajernya nggak bilang apartemen itu sudah dipesan. Kamu juga belum bayar uang muka, 'kan? Aku yang duluan bayar, jadi itu milikku," ujar Rachel dengan dingin. Dia tidak ingin berdebat dengan orang yang tidak masuk akal dan bangkit untuk pergi.
Wanita itu pun murka. Sebelum selesai berbicara, dia sudah mengentakkan kakinya dengan kesal. "Pokoknya, aku datang juga bukan untuk kasih tahu kamu. Aku punya hak untuk diprioritaskan. Suka atau nggak, kamu harus mengalah!"
Rachel berbalik dan bertanya dengan agak bingung, "Hak untuk diprioritaskan?"
Manajer penjualan wanita di samping wanita itu juga berujar dengan tenang, "Kami harus verifikasi aset klien dulu. Kami jual rumah bukan berdasarkan siapa yang duluan bayar, tapi berdasarkan aset klien."
Manajer penjualan wanita itu bahkan tidak menatap Rachel ketika berbicara. Dia benar-benar memandang rendah orang.
"Aturan ini benar-benar ... nggak masuk akal." Rachel sedikit mengernyit.
Tepat pada saat ini, manajer yang tadinya pergi mengambil kontrak kembali dengan ekspresi meminta maaf. Melihat wanita yang menyilangkan dada di samping Rachel, manajer itu berbisik kepada Rachel, "Maaf, dia bernama Hana Herdianto. Perusahaan mainan paling terkenal di dalam negeri milik keluarganya."
Rachel sudah ingat. Yang dimaksud manajer itu adalah Herdianto Toys Corporation. Setelah mewarisi harta ayahnya, dia sekaligus memeriksa informasi keluarganya. Dia pernah melihat nama Grup Herdianto di peringkat kelima dalam daftar peringkat bisnis Kota Stravon. Jika begitu, Hana memang punya alasan untuk bersikap arogan.
Manajer penjualan wanita itu menambahkan, "Aku tahu kamu merasa nggak nyaman. Tapi maaf, aturan adalah aturan."
"Sebenarnya, aku nggak perlu merasa nggak nyaman kok. Aku hanya merasa itu kurang adil. Tapi menurut aturan kalian, aku seharusnya lebih diprioritaskan daripada dia. Aku akan ambil rumah itu."
Rachel menghela napas lega, lalu lanjut memberi instruksi kepada manajer di sebelahnya, "Tolong proses secepat mungkin. Aku sedang terburu-buru."
Implikasi Rachel adalah, aset yang dimilikinya lebih tinggi daripada aset Grup Herdianto yang berada di peringkat kelima Kota Stravon.
Mendengar ini, Hana dan manajer wanita itu pun terkejut.
"Apa katanya? Dia seharusnya diprioritaskan?" Hana segera menatap manajer wanita itu. Dia mengira dirinya salah dengar.
Manajer wanita itu segera memeriksa informasi reservasi di tangannya. Ini mustahil. Jika klien yang lebih kaya dari Hana datang ke tempat ini, mereka pasti akan diberi tahu terlebih dahulu. Setidaknya, manajer umum mereka yang akan diatur untuk melayani klien itu.
Manajer wanita itu merasa pakaian dan penampilan Rachel biasa-biasa saja. Dia paling-paling adalah orang kaya baru. Bagaimana mungkin asetnya melebihi Hana?
"Nona, apa kamu tuli? Kami jual rumah berdasarkan aset ...."
"Verifikasi saja asetku."
Rachel tidak ingin omong kosong dan menyerahkan kartu identitasnya lagi. Dia tidak terlalu marah. Bagaimanapun juga, dia sudah pernah bertemu dengan orang yang begitu menjijikkan. Orang-orang yang pandang status ini masih bukan apa-apa.
Manajer pria di sebelah Rachel agak skeptis, tetapi tetap menjalankan semuanya sesuai prosedur.
Pada saat ini, tirai tipis di area VIP lantai dua bergerak. Sosok tinggi dan tegap di balik tirai bangkit dan meninggalkan tempat duduknya.
Orang di sebelahnya segera mengerti dan memberi instruksi kepada bawahan di sebelahnya, "Pergilah. Pak Sean sudah angkat bicara. Beri tahu mereka bahwa mereka nggak perlu verifikasi aset nona itu. Dia putri Keluarga Zavian."
Hanya ada satu Keluarga Zavian di Kota Stravon, yaitu orang terkaya di Kota Stravon. Namun, tidak ada yang pernah mendengar bahwa Keluarga Zavian memiliki seorang putri.
Rachel duduk kembali di sofa.
Melihat ini, manajer wanita itu kehilangan kesabarannya. "Nona, tolong jangan begitu nggak tahu diri. Kami sudah bilang bahwa orang yang mau beli rumah di sini butuh verifikasi aset. Kamu mungkin cukup kaya, tapi membeli satu rumah di sini sudah batasmu. Tolong jangan buang waktu Nona Hana lagi. Kalau nggak, aku akan minta satpam untuk mengantarmu keluar."
Kali ini, Hana bersikap tenang. Dia mencibir, lalu mendorong manajer wanita itu ke samping. "Nggak apa-apa, aku akan tunggu. Aku mau tahu apa dia benar-benar diprioritaskan. Tapi, biar kuperjelas dulu. Kalau kamu sebenarnya nggak diprioritaskan, tapi berani membuang waktuku, kamu harus berlutut dan minta maaf padaku. Kalau nggak, jangan salahkan aku bersikap kasar."
Wanita itu terlihat sedikit lebih muda dari Rachel, mungkin baru berusia awal dua puluhan. Dia benar-benar adalah tipikal wanita muda yang sangat dimanjakan.
Rachel tersenyum tipis dan menyahut, "Oke. Tapi, gimana kalau aku memang diprioritaskan? Apa kamu juga akan berlutut dan minta maaf padaku?"
"Kamu ...."
Tepat ketika keduanya sedang berbicara, seorang pria berjas berlari ke arah Rachel sambil menyeka keringat di dahinya.
"Nona, maaf. No ... Nona memang diprioritaskan! Maafkan kami atas ketidaknyamanan ini. Maaf sebesar-besarnya!"
Manajer pria yang melayani Rachel sebelumnya langsung terkejut. Baru saja dia hendak memverifikasi aset Rachel, dia menerima pemberitahuan bahwa wanita yang sedang dia tangani memiliki aset senilai ratusan triliun. Selain itu, wanita itu adalah putri Keluarga Zavian yang baru saja ditemukan!
Manajer wanita itu masih bingung dan hendak mempertanyakannya. Namun, seseorang menariknya ke samping dan memberitahunya sesuatu. Kakinya seketika lemas, dan dia berlutut di lantai.
Ketika tersadar, manajer wanita itu langsung mulai meminta maaf tanpa berdiri, "Ma ... maaf, Nona Rachel. Aku yang buta dan nggak tahu Nona itu putri Keluarga Zavian. Maaf sudah menyinggung Nona tadi. Aku harap Nona jangan salahkan aku ...."
Hana benar-benar tidak percaya. Keluarga Zavian? Mungkinkah itu Keluarga Zavian yang dia ketahui? Di Kota Stravon, ada Keluarga Zavian yang dapat mengguncang seluruh industri keuangan semudah mengentakkan kaki. Apa maksudnya Keluarga Zavian itu?
"Cepat selesaikan prosedurnya. Aku masih ada urusan lain."
Rachel tidak tertarik untuk mendebatkan hal ini, tetapi dia merasa proses verifikasi mereka terlalu cepat.
Manajer itu segera kembali dengan membawa kontraknya. Setelah menandatanganinya, Rachel langsung meminta seseorang untuk memproses dokumennya.
"Kamu putri Keluarga Zavian? Kenapa aku nggak pernah melihatmu sebelumnya?"
Hana mengamati Rachel, tetapi sama sekali tidak memiliki kesan terhadap Rachel. Dia mengenal semua anggota Keluarga Zavian yang segenerasi dengannya, tetapi ... dia belum pernah berinteraksi dengan wanita ini sebelumnya!
"Keluarga Zavian apa? Aku rasa kamu cuma lagi nipu orang!"
Hana makin curiga dan percaya bahwa orang-orang ini bersekongkol untuk menipunya. Dengan satu lirikan, pengawalnya pun hendak bertindak secara paksa.
Namun, sebelum karyawan perusahaan properti sempat mencegahnya, sekelompok pria berpakaian hitam lainnya bergegas masuk ke lobi dan menghalangi kelompok Hana.
Pria paruh baya yang berjalan di paling depan berbicara dengan lantang, "Nona Hana, kita pernah bertemu sebelumnya. Aku Lutfi, kepala pelayan utama Keluarga Zavian."
Mendengar ini, bukan hanya Hana, bahkan Rachel juga terkejut. Kenapa ada orang dari Keluarga Zavian yang tiba-tiba datang ke tempat ini?
Rachel menatap pria paruh baya berjas rapi dan memiliki rambut yang sudah beruban. Dia mengenakan kacamata berbingkai emas dan sarung tangan putih. Sikapnya sangat sopan dan berkelas, tetapi dia memiliki aura yang mengintimidasi.
Begitu melihat Lutfi, kearoganan Hana langsung lenyap.
"Paman Lutfi, dia ... dia benar-benar adalah putri Keluarga Zavian?"
Hana masih menolak untuk percaya. Sejauh yang dia tahu, istri Vino mandul dan mereka hanya mengadopsi satu anak. Bagaimana mungkin putri kandung Vino tiba-tiba muncul begitu dia meninggal? Apakah wanita ini ... putri haram Vino?
"Benar, orang di hadapanmu adalah putri kandung Pak Vino, satu-satunya pewaris Keluarga Zavian."
Seusai berbicara, tatapan Lutfi melewati Hana dan berhenti pada Rachel.
Rachel merasa tidak nyaman di bawah tatapannya. Pada detik berikutnya, Lutfi membungkuk dalam-dalam hingga membentuk sudut sembilan puluh derajat. "Senang bertemu denganmu, Nona Rachel."
Begitu Lutfi selesai berbicara, para pria berbaju hitam yang mengikutinya juga ikut membungkuk dan menyapanya. "Nona Rachel."
Hal ini seketika mengejutkan Rachel dan hampir membuat Hana kehilangan keseimbangan. Dia mencengkeram tasnya erat-erat, lalu hendak langsung pergi. Namun, para pria berbaju hitam itu menghalangi jalannya.
"Nona, dengar-dengar, ada sedikit konflik antara Nona dan Nona Hana. Apa konflik itu perlu diselesaikan sekarang juga?" tanya Lutfi pada Rachel. Dia bahkan tidak menoleh dan hanya tersenyum tipis.
Hana pun murka. Ketika teringat pada percakapannya dengan Rachel tadi, apakah dia benar-benar harus berlutut dan meminta maaf? Jika dia benar-benar berlutut, bagaimana dia bisa lanjut bersosialisasi di kalangan elite? Itu sungguh memalukan!
Meskipun mengetahui bahwa Keluarga Zavian menempati posisi yang luar biasa di kalangan keluarga terpandang, Rachel belum pernah menghadapi situasi seperti ini. Dia ragu selama beberapa detik, lalu menyahut, "Sudahlah, aku juga nggak mengalami kerugian apa pun."
"Kalau begitu, harap Nona Hana minta maaf pada nona kami. Dengan begitu, hubungan kedua keluarga juga akan tetap terjaga ke depannya," ucap Lutfi sambil menegakkan tubuhnya. Rachel tidak mempermasalahkannya, tetapi dia tidak akan membiarkan siapa pun menyinggung Keluarga Zavian.
Lutfi memang tersenyum, tetapi Hana merasa sangat terintimidasi. Dia menelan ludah dan hanya bisa meminta maaf kepada Rachel di depan umum, "Ma ... maaf."
Begitu Hana selesai berbicara, para pria berbaju hitam itu pun menyingkir. Dia tersipu malu dan segera membawa rombongannya pergi sambil menutupi wajahnya.
Setelah Hana pergi, Lutfi memberi isyarat mata dan manajer penjualan wanita itu juga dibawa pergi.
Sebelum Rachel sempat mengatakan apa-apa, Lutfi melangkah maju lagi dan merentangkan sebelah tangannya. "Kami akan tangani urusan di sini. Mobil sudah menunggu di luar. Nona, silakan naik ke mobil dulu."
Rachel menatap Lutfi. Kewaspadaannya yang semula sudah hilang dan digantikan oleh ketenangan. Dia tidak langsung bergerak, tetapi bertanya dengan tenang, "Naik ke mobil? Mau ke mana?"
"Tentu saja kembali ke Kediaman Keluarga Zavian." Senyum Lutfi lembut, tetapi nadanya mengandung ketegasan yang tak terbantahkan.