Pada tahun kedua menikah, Rachel Jovanka tanpa sengaja merobek akta nikahnya saat merapikan laci. Ketika dia bergegas ke Kantor Catatan Sipil untuk mengurus ulang akta nikahnya, petugas di loket bertanya dengan ragu, "Bu, di sistem kami nggak tercatat pendaftaran pernikahanmu."
"Nggak mungkin, aku sudah menikah selama dua tahun," jawab Rachel sambil menyerahkan akta nikah yang telah robek itu.
Petugas itu dengan sabar memeriksa tiga kali sebelum akhirnya membalikkan layar ke arah Rachel. "Benar-benar nggak tercatat informasi kamu sudah menikah. Selain itu, stempel pada aktamu juga bengkok .... Ini seharusnya palsu."
Ketika sedang berjalan keluar dari Kantor Catatan Sipil dengan sedih, ponsel Rachel tiba-tiba berdering.
"Bu Rachel, halo, aku pengacara ayahmu. Apa kamu bisa datang ke Firma Hukum Novalex untuk tandatangani surat keterangan ahli waris?"
'Penipu dari mana ini?' pikir Rachel dalam hati. Ketika dia hendak menutup telepon, si penelepon tiba-tiba berkata, "Bu Rachel, nama ibumu Sarah Jovanka. Dua puluh tahun yang lalu, dia tinggalkan kamu di gerbang Panti Asuhan Pratama. Setelah dikonfirmasi, kamu satu-satunya anak kandung almarhum Vino Zavian, orang terkaya di Kota Stravon."
Rachel pun membeku di tempat untuk beberapa saat, lalu segera pergi ke firma hukum. Di sana, pengacara memberitahunya hal paling mengejutkan yang pernah didengarnya.
Ayah kandung Rachel, Vino Zavian, adalah seorang konglomerat dari keluarga terpandang. Dia telah meninggal bulan lalu. Total aset yang ditinggalkannya bernilai ratusan triliun, juga mencakup saham, properti, dan perusahaan. Selain itu, Rachel adalah satu-satunya anak yang memiliki hubungan darah dengan Vino.
Saat kepala Rachel terasa berdengung, pengacara itu tiba-tiba bertanya, "Bagaimana status perkawinan dan anak Bu Rachel?"
Wajah suaminya terlintas di benak Rachel. Ketika teringat akta nikah palsu yang robek di tasnya, dia menggenggam pena dan menjawab, "Tunggu aku selama dua jam. Aku perlu mencari tahu sesuatu dulu."
Setelah meninggalkan firma hukum, Rachel langsung pergi ke perusahaan suaminya.
Pintu kantor Joshua Hartono sedikit terbuka. Tepat saat Rachel hendak membukanya, terdengar suara wanita yang dewasa dan memikat.
"Joshua, kita sudah menikah selama lima tahun. Kapan kita baru bisa umumkan hubungan kita?"
Rachel seketika membeku. Suara itu sangatlah familier. Itu adalah suara Anisa Halim, dosen wali mereka.
Anisa enam tahun lebih tua dari Joshua. Namun, selain usianya yang lebih tua, dia memiliki paras dan tubuh yang luar biasa. Ketika mereka masih berkuliah, Anisa juga sangat populer di kampus dan menarik perhatian baik laki-laki maupun perempuan. Dia bahkan dipuji sebagai dosen wali perempuan terbaik di seluruh kampus.
Rachel menahan napas. Pada detik berikutnya, dia mendengar suara suaminya yang biasanya lembut dan sangat memikat.
"Perusahaan ini akan segera go public dan ada banyak aspek yang butuh kontribusinya. Selain itu, Kakek sudah meninggalkan wasiat yang melarangmu nikah sama aku. Kalau kita umumkan hubungan kita sekarang, aku khawatir nenekku akan mempersulitmu. Itu akan membuatku sedih ...."
Rachel merasa telinganya berdengung, bagaikan baru saja mendengar suara ledakan. Dia segera mengangkat tangan dan menutup mulutnya rapat-rapat untuk mencegah dirinya mengeluarkan isakan.
Sebelumnya, Rachel bahkan dengan hati-hati menyusun kembali akta nikah palsu yang robek itu dan menyimpannya dalam tas bagaikan harta karun. Namun, sejak awal, dia ternyata hanyalah orang bodoh yang tidak mengetahui apa-apa.
Rachel bergegas keluar dari perusahaan, lalu segera menelepon seseorang. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berbicara dengan suara yang begitu tenang dan berbeda dari orang yang baru saja menahan tangis.
"Pak Jusman, aku akan tandatangani surat keterangan ahli waris sekarang juga. Selain itu, aku masih belum menikah dan nggak punya anak. Aku akan mewarisi seluruh harta itu sendiri."
Setelah menyelesaikan semua prosedur, Rachel mengemudi pulang. Dia melamun sepanjang perjalanan sehingga mengalami cedera kepala ringan saat ditabrak dari belakang.
Setelah mendapat perawatan di ruang gawat darurat, Rachel tiba-tiba teringat sesuatu dan pergi mencari dokter kandungan. Ketika menerima hasil tesnya, hatinya sepenuhnya hancur.
"Maksudmu ... rahimku baik-baik saja?"
"Ya. Menurut laporan itu, kamu sangat sehat."
"Aku bisa hamil?"
"Tentu saja."
"Itu juga nggak berpengaruh pada aktivitas seksual?"
Pada titik ini, bahkan dokter paruh baya itu juga merasa agak canggung. "Apa itu masih perlu ditanyakan?"
Namun, saat melakukan pemeriksaan pranikah, Joshua memegang laporan hasil pemeriksaan Rachel dan mengatakan bahwa rahimnya memiliki kelainan serius. Dia bukan hanya tidak bisa hamil, bahkan aktivitas seksual normal pun akan menyebabkan kerusakan permanen pada tubuhnya.
"Meski begitu, aku akan tetap menikahimu." Pada saat itu, Joshua menggenggam tangan Rachel dan berujar dengan mata dipenuhi kelembutan yang tak tergoyahkan, "Di kehidupan ini, aku sudah putuskan untuk memilihmu."
Demi janji ini, Rachel dan Joshua bahkan harus melewati badai kritik dari para senior Keluarga Hartono.
Rachel menyaksikan ayah mertuanya menghancurkan cangkir teh karena marah sambil berseru, "Kamu mau putuskan garis keturunan keluarga ini dengan nikahi wanita mandul?"
Rachel juga pernah mendengar ibu mertuanya menangis di pertemuan keluarga dan mengeluh kepada kerabat, "Joshua pasti sudah disantet."
Namun, setiap kali, Joshua akan tersenyum dan berkata, "Jangan dengarkan mereka. Ada aku di sini."
Selama dua tahun, ibu mertua Rachel selalu melontarkan tuduhan secara terang-terangan maupun terselubung, seperti "dia macam ayam yang nggak bisa bertelur", "apa gunanya menikahi seseorang yang bahkan nggak bisa punya anak".
Kata-kata itu menghantui Rachel seperti penyakit yang tak kunjung sembuh, juga membuatnya melewati malam-malam tanpa tidur yang tak terhitung jumlahnya.
...
Setelah mendengar bahwa Rachel mengalami kecelakaan mobil, Joshua segera pergi ke rumah sakit untuk menjemputnya. Pria itu mengenakan kemeja putih, memiliki tinggi lebih dari 180 sentimeter, dan bertubuh tegap.
Ketika melihat Joshua menghampirinya dengan tampang khawatir, pikiran Rachel melayang pada enam tahun kebersamaan mereka sejak saling mengenal.
Mereka berdua pertama kali bertemu di kantor Anisa. Rachel menggantikan seorang teman sekelas untuk mengantar materi, sedangkan Joshua dan Anisa sedang mendiskusikan sesuatu. Ketika mendongak, tatapan Joshua bertemu dengan tatapan Rachel. Pria itu mengangguk sopan, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Selanjutnya, Joshua pun meluncurkan empat tahun pengejaran tanpa henti.
Joshua adalah idola kampus yang diakui orang-orang. Selain sangat tampan, dia juga memiliki prestasi akademis yang unggul dan berasal dari keluarga yang sangat kaya. Ditambah dengan cara mengejarnya yang agresif dan sifatnya yang lembut, hampir tidak ada gadis yang mampu menolaknya.
Rachel juga tidak terkecuali. Dia adalah seorang yatim piatu dengan kepribadian yang dingin dan suka menyendiri. Namun, dia tetap luluh oleh pengejaran Joshua yang intens.
Joshua sudah berbicara begitu lama pada Rachel, tetapi tidak mendapatkan tanggapan apa pun. Dia mengira Rachel masih dalam keadaan syok dan segera menariknya ke dalam pelukan. Namun, Rachel secara refleks mendorongnya menjauh dan berdiri.
"Ayo pergi," kata Rachel dengan tergesa-gesa. Kemudian, dia berjalan melewati Joshua. Pelukan yang dulunya terasa hangat dan menenangkan, kini malah membuatnya merasa sangat jijik.
Setelah naik ke mobil, Joshua masih khawatir dengan keadaan Rachel. "Apa yang terjadi? Kamu selalu hati-hati waktu mengemudi. Ada apa denganmu hari ini?"
Rachel tidak menjawab. Pandangannya tertuju pada telapak tangannya. Cincin berlian yang berkilauan itu terlihat menusuk mata.
Meskipun Rachel mengabaikannya, Joshua juga tidak keberatan. Dia secara alami mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Rachel. Namun, Rachel menghindar lagi.
"Kenapa kamu marah padaku? Ya sudah, kalau kamu nggak mau bicara, aku nggak akan paksa. Hari ini, kita kedatangan tamu penting. Aku sudah minta sama kepala pelayan untuk siapkan banyak makanan favoritmu. Semoga kamu terhibur."
Joshua terlalu lembut. Makin dia seperti ini, makin ingin tertawa pula Rachel.
"Yang gembira dikit, dong. Jangan marah lagi. Aku pasti akan habiskan lebih banyak waktu bersamamu setelah masa sibuk ini. Perusahaan lagi persiapkan untuk go public, makanya aku sibuk banget."
Joshua mengira Rachel sudah tenang dan ikut tersenyum.
"Iya, aku lumayan gembira kok. Aku merasa hidupku penuh pengalaman dan menarik."
Kata-kata Rachel memiliki makna tersembunyi, tetapi Joshua tidak memahaminya.
Vila Keluarga Hartono terletak di kawasan taman tepi sungai yang merupakan area termahal di kota. Vila itu memiliki luas lebih dari 500 meter persegi. Namun, ini adalah hasil pengorbanan Rachel. Setelah lulus kuliah, dia mengorbankan kariernya sendiri untuk membantu membangun perusahaan Joshua.
Begitu tiba di rumah, Rachel mendengar tawa dan obrolan riang dari lantai atas. Ada suara anak laki-laki dan suara perempuan yang lembut nan manis.
Anak laki-laki itu diadopsi Rachel dan Joshua tak lama setelah pernikahan mereka. Dia bernama Maverick Hartono dan sudah berusia lima tahun sekarang.
Rachel mendongak. Seperti yang diduga, dia melihat Anisa yang sudah lima tahun tidak dia temui.
Anisa mengenakan gaun rajut biru muda dan rambut panjangnya dibuat bergelombang. Meskipun sudah berusia lebih dari 30 tahun, wajahnya masih mulus, seperti orang awal usia 20 tahun. Setiap gerakannya memancarkan pesona yang lebih anggun lagi.
"Rere, coba lihat siapa yang datang!"
Suara Joshua terdengar dari samping Rachel. Suaranya yang berat dan rendah tak mampu menyembunyikan antusiasnya.
Ini adalah pertama kalinya Rachel merasakan emosi yang begitu kuat pada Joshua. Tidak peduli seberapa baik atau lembutnya Joshua padanya, Joshua tidak pernah menunjukkan antusias seperti ini. Itu adalah luapan cinta yang lahir dari lubuk hati dan dorongan naluriah seorang pria yang tak dapat ditahan.
"Bu Anisa?" Rachel mengerutkan kening dan berpura-pura terkejut. Namun, rasa jijik dalam hatinya telah mencapai puncaknya. Anisa yang berdiri di hadapannya terlihat tenang dan elegan, sangat kontras dengan tampangnya yang genit di kantor Joshua.
"Rachel, lama nggak jumpa."
Anisa segera menggandeng Maverick dan turun ke lantai bawah. Dia menyapa Rachel dengan hangat.
Pandangan Rachel kembali tertuju pada Maverick. Tidak lama setelah pernikahan mereka, Joshua berdiskusi dengannya tentang mengadopsi seorang anak laki-laki dari panti asuhan tempat Rachel pernah tinggal dan memberinya nama Maverick.
Joshua mengklaim bahwa mengadopsi anak ini akan membantu mereka menenangkan senior Keluarga Hartono, juga mencegah orang tuanya mendesak Rachel untuk memiliki anak.
Rachel mengira Joshua peduli padanya dan menyetujui usul itu. Namun, dia tidak menyangka bahwa dirinya akan hidup begitu menderita selama dua tahun membesarkan Maverick.
Anak laki-laki ini memiliki temperamen yang buruk. Ketika tidak senang, Maverick akan melempar barang ke arah Rachel, seolah-olah menyimpan permusuhan yang mendalam terhadapnya. Suatu kali, Maverick bahkan menuntut Joshua untuk mengembalikan ibu kandungnya di depan Rachel.
Rachel yang murka juga pernah mempertimbangkan untuk menyerahkan hak asuh Maverick, tetapi Joshua selalu membujuknya untuk berubah pikiran. Dia mengatakan bahwa Maverick yang tidak memiliki ibu sangat kasihan. Dia juga meminta Rachel untuk lebih menoleransi Maverick dan mengingatkan Rachel tentang dirinya yang juga ditelantarkan orang tua ketika masih kecil.
Melihat Maverick yang menggenggam erat tangan Anisa, lalu menghubungkannya dengan sikap Joshua terhadapnya selama ini, Rachel tiba-tiba memahami semuanya.
Joshua dan Anisa telah menikah selama lima tahun, sedangkan Maverick juga berusia lima tahun. Keluarga Hartono tidak menyetujui Anisa menikah dengan Joshua. Jadi ... Joshua menggunakan Rachel sebagai dalih, juga menipunya untuk menjadi pekerja rodi dan tameng mereka?
Selama makan, Joshua dan Maverick terus-menerus mengambilkan makanan untuk Anisa. Mereka bertiga mengobrol dan tertawa akrab, sehingga membuat Rachel yang makan dalam diam terlihat seperti orang asing.
"Rere, akhir-akhir ini, Bu Anisa lagi menulis buku tentang pengasuhan anak dan mau cari lingkungan yang tenang. Selain itu, aku dan kamu juga lumayan sibuk di perusahaan. Aku berencana ...."
Melihat kesempatannya sudah tiba, Joshua meletakkan sumpitnya dan berkata lembut kepada Rachel, "Aku berencana minta Bu Anisa tinggal bersama kita untuk sementara waktu. Dia bisa bantu kamu mendisiplinkan Verick. Verick sepertinya juga cukup menyukai Bu Anisa."
Heh. Setelah menikah lima tahun, mereka sudah bosan melakukan segala sesuatu secara diam-diam. Sekarang, mereka ingin tinggal bersama secara terang-terangan?
Rachel lanjut makan dengan pelan, seolah-olah tidak mendengar ucapan Joshua.
Suasana langsung membeku.
Joshua merasa sedikit canggung dan berbisik untuk mengingatkan, "Rere, aku lagi bicara sama kamu."
Dengan bunyi "tak", Rachel meletakkan sendoknya.
Sebelum Rachel sempat berbicara, Anisa buru-buru berujar, "Maaf, ini semua salahku. Aku sudah mempersulit kalian. Rachel, Josh cuma kasih usul. Dia khawatir kamu kecapekan karena harus bekerja, urus rumah tangga, dan merawat Verick. Makanya dia mau aku bantuin kamu ...."
"Nggak! Aku mau Bibi Anisa tinggal di sini!"
Mendengar ini, Maverick yang duduk di sebelah Anisa langsung protes. Sebelum Anisa selesai berbicara, Maverick mulai membanting sendok dan memukul meja.
"Verick, jangan begitu ...."
"Verick, itu nggak sopan!"
Anisa segera mencoba menghentikan Maverick. Suaranya bercampur dengan teguran refleks Rachel.
Maverick memelototi Rachel dengan marah. Dia mengambil gelas dan menyiramkannya ke arah Rachel.