LOGINSetelah duduk sembari menunggu dalam waktu lama, Howard juga tidak memiliki kesabaran untuk menyaksikan pertunjukan lagi.Howard menghela napas ringan. Tatapannya dipenuhi dengan rasa menyindir. “Jangan buru-buru. Sebentar lagi juga datang.” Rachel melihat jam sekilas, lalu membalas dengan datar.Baru saja Rachel selesai berbicara, pintu ruangan rapat pun didorong seseorang.Howard yang tadinya merasa santai menjadi tegang dalam seketika.Pemegang saham inti perusahaan beranggotakan tujuh orang. Ada Howard, Mindy, dan Rachel. Sementara, empat lainnya adalah pendukung Mindy. Mereka tidak mungkin akan menampakkan diri. Namun, orang yang membuka pintu adalah dua di antara empat pemegang saham itu.Pria yang sudah berusia paruh baya itu mengenakan pakaian formal. Langkah kaki mereka begitu buru-buru. Setelah memasuki ruangan, mereka bahkan tidak berani melirik Howard sama sekali, melainkan duduk di samping dengan putus asa. Mereka duduk di samping Rachel.…Napas Howard menjadi berat. Sep
“Pak Sean ….” Rachel baru saja ingin menjelaskan masalah Joshua.Sean malah berkata, “Aku nggak akan banyak tanya soal masalah pribadimu, apalagi ikut campur. Tapi ada ikatan perjanjian pernikahan di diri kita, aku percaya kamu bisa menyelesaikan masa lalumu dengan baik.”Sean tidak bertanya dan tidak memberi permintaan, alhasil Rachel yang mendengar itu pun merasa sedikit bersalah.Tadinya Rachel berpikir, dengan identitas Sean, mungkin Sean akan peduli dengan masa lalunya, bahkan bertanya dengan detail, tetapi dia tidak menyangka ternyata Sean tidak bertanya apa-apa.“Aku … aku akan segera mengatasinya. Percaya padaku!”Saat ini, Rachel malah tiba-tiba menyadari orang di depan mata benar-benar menganggap penting masalah perjanjian pernikahan, dia bahkan memperlakukan Rachel dengan hormat.Sean membalas dengan mengangguk, tetapi malah muncul sedikit rasa peduli di hatinya. Dia tidak menyelidiki Rachel. Hubungan selama enam tahun bukanlah hubungan yang singkat. Apa dia masih belum mele
Rachel mengangguk. Seingatnya, Sean tidak suka makan yang manis-manis. Dia pun bertanya apakah Sean bisa makan yang pedas-pedas.Ketika melihat pria itu tertegun sejenak, Rachel pun berkata lagi, “Oke, aku sudah mengingatnya, Pak Sean nggak suka makan yang manis dan juga nggak bisa makan pedas.”“Makan sedikit juga nggak masalah,” kata Sean.Sean tidak terlalu banyak larangan saat makan. Hanya saja, dia memang tidak begitu makan masakan dengan rasa yang terlalu berat.Rachel juga tidak berbicara panjang lebar lagi. Dia mengenakan celemek, lalu mulai memasak.Dapur didesain dengan model setengah terbuka. Bayangan tubuh wanita yang sibuk itu mulai terlukis di dalamnya. Tatapan Sean juga sama sekali tidak berpaling dari diri Rachel.Tiba-tiba, Sean sepertinya memahami maksud kakek dan neneknya dalam masalah pernikahannya.Dalam keluarga besar, perasaan selalu berada di bawah kepentingan. Orang tua Sean sudah berpisah bahkan sebelum dia dilahirkan.Di keluarga Januardi, hanya kakek dan nen
Ketika Rachel berbicara, dia melihat pelayan yang menjaga Lona tadi sedang mengintip mereka dari sebelah. Dia pun memberi isyarat mata kepada Sean. Sean memiringkan sedikit matanya. Hanya saja, tanpa perlu melihat, Sean juga bisa menebaknya.“Dua orang tua di rumahku memang seperti ini. Yang penting kamu terbiasa. Kalau lain kali kamu nggak ada waktu, kamu bisa langsung menolak mereka.”Rachel menggeleng. “Sebenarnya hari ini aku juga ingin bertemu dengan Pak Sean. Aku sudah berhasil mendapatkan proyek dari Grup Zavian. Semua ini berkat bantuan Pak Sean. Tadinya aku ingin berterima kasih kepadamu.”Sean membalas dengan suara ringan, “Hanya masalah sepele. Kamu nggak usah sungkan.”“Bukan sungkan. Aku benar-benar ingin melakukan sesuatu untuk Pak Sean. Biar aku pikir dulu bagaimana cara berterima kasih kepada Pak Sean?” gumam Rachel sendiri.Sean tidak kekurangan apa pun. Jadi, Rachel juga tidak kepikiran bagaimana cara berterima kasih kepadanya.“Berterima kasih?” Sean tidak menyangka
Rachel tidak menyangka Sean akan pulang dengan begitu mendadak. Wajahnya seketika merona. “Pak Sean, kenapa kamu kembali ….”Jelas-jelas Lona mengatakan Sean akan bekerja sampai larut malam hari ini.“Bukannya luka Nenek sangat serius? Apa Nenek sudah merasa baikan sekarang?” Nada bicara Sean memang kedengaran dingin, tapi dia sedang memperhatikan kondisi Lona. Dia segera berjalan ke hadapan Lona untuk melihat kondisinya.Lona segera melepaskan tangan Rachel. Wajah Lona kelihatan sangat berkilauan, tidak seperti ketika di telepon tadi, yang mana mengatakan dirinya tidak bisa bertahan lagi, juga tidak mau ke rumah sakit, bersikeras ingin Sean segera pulang.“Memang … tadi memang sedikit serius. Tapi setelah ditemani Rachel seharian, aku jadi merasa lebih nyaman.”Lona berdeham. Dia melirik Rachel dengan tatapan malu. “Cucu patuhku, kamu mesti bantu Nenek untuk berterima kasih kepada Rachel. Tadinya dia masih ada pekerjaan, dia malah membatalkannya khusus untuk menemaniku.”Sean pun terd
“Aku dengar-dengar acara pernikahannya diadakan dengan sangat bagus. Seharusnya Pak Sean sangat puas dengan kamu, ‘kan?”Howard sedang menyindir halus Rachel.Kebetulan, ada satu investasi dalam proyek itu yang memang berasal dari anak perusahaan Grup Januardi.Ucapan tadi jelas menyiratkan bahwa Rachel sedang mengandalkan Sean. Bukan mengandalkan Grup Januardi, melainkan mengandalkan Sean. Meskipun tidak melanggar perjanjian taruhan, hanya saja jika kabar itu sampai tersebar, tetap saja sulit untuk meyakinkan publik. Siapa yang tahu apakah Sean hanya membantu satu investasi saja atau justru membantunya dari awal sampai akhir?“Howard, aku itu orang yang memimpin tim dan membantumu untuk mengatasi masalahmu. Aku nggak menerima ucapan terima kasih darimu, tapi kemampuanku malah diragukan. Aku sungguh merasa sedih. Lebih baik kamu telepon untuk tanya Pak Sean, bagaimana menurutnya terhadap proyekku ini? Coba lihat dia lagi menaruh investasi ke proyek atau ke aku?” Rachel langsung memperm
"Aku sudah begitu tua, tapi masih harus ditegur sama menantu! Malu-maluin saja! Dia pikir dia itu siapa! Kalau bukan karena kamu bersikeras mau bersamanya, memangnya dia pantas jadi bagian dari Keluarga Hartono?" Melihat ketidakpedulian Joshua, Nadia berbalik dan mulai memukul dadanya dengan frustr
Namun, Nadia memiliki temperamen buruk, sedangkan Clara juga suka membuat masalah. Meminta mereka untuk meminta maaf kepada Rachel berkemungkinan akan menyebabkan keributan besar di rumah."Rere, kamu tahu watak Ibu. Kalau suruh dia minta maaf ...."Joshua menggertakkan giginya, lalu memutuskan meng
Sebelum gambar selesai dimuat, sebuah panggilan telepon masuk. Yang menelepon adalah Anisa. Begitu Joshua menjawab, isak tangis seorang wanita memenuhi telinganya."Ada apa? Apa yang terjadi?" Jantung Joshua berdebar kencang, suaranya dipenuhi kecemasan. Namun, tak peduli bagaimana pun Joshua berta
Rachel tidak membalas pesan untuk beberapa saat sehingga Joshua berasumsi dia belum selesai. Dia pun bersandar di kursinya dan menunggu dalam diam. Hari ini, dia sangat kelelahan karena menghabiskan waktu bersama Anisa sambil menangani banyak pekerjaan dari luar perusahaan. Berhubung masih harus men







