Share

Bab 4

Author: Sari Madu
"Kediaman Keluarga Zavian?" Rachel mengulangi kata-kata itu.

"Benar, Kediaman Keluarga Zavian. Mulai sekarang, itu akan menjadi rumah Nona," jawab Lutfi.

Rachel terdiam beberapa detik. Vino adalah ayah kandungnya dan warisan ratusan triliun itu sudah menjadi miliknya. Kembali ke Kediaman Keluarga Zavian hanyalah masalah waktu. Dia tidak bisa menghindarinya, juga tidak perlu menghindar.

Rachel mengangguk. "Bagus juga. Berhubung itu rumahku, aku harus pergi melihatnya sendiri."

Apa yang ditakdirkan terjadi tetap harus dihadapi.

Selama perjalanan, Lutfi menjelaskan secara singkat mengenai situasi terkini Keluarga Zavian kepada Rachel. Bisnis Keluarga Zavian sangatlah besar. Sebagian besar asetnya ada di tangan Vino, sedangkan sebagian kecilnya ada di tangan ayah dan kakak laki-laki Vino.

Sekarang, seluruh warisan Vino telah jatuh ke tangan Rachel. Itu berarti, dia telah menjadi pemegang saham terbesar Grup Zavian.

Saat ini, ayah Vino yang bernama Farhan Zavian sedang memulihkan diri di luar negeri. Urusan Keluarga Zavian pun ditangani oleh istri Vino, Mindy Kusuma. Sementara itu, perusahaan dikelola oleh putra angkat mereka, Howard Zavian.

Satu jam kemudian, sebuah Rolls-Royce Extended melaju masuk ke Kediaman Keluarga Zavian.

Vila yang luasnya lebih dari 1.000 meter persegi itu sangat megah dan mengesankan. Perjalanan dari halaman ke vila utama dengan mengendarai mobil bahkan memakan waktu hampir sepuluh menit. Gaya arsitektur vila Keluarga Zavian juga lebih megah dan mewah daripada vila biasa, seolah-olah setiap batu bata di bawah pijakan mereka juga tak ternilai harganya.

Ini adalah pertama kalinya Rachel datang ke tempat semewah ini. Dia tidak mungkin tidak gugup, tetapi dia berusaha sebaik mungkin untuk tetap tenang.

Lutfi membawa Rachel ke ruang penerimaan tamu di bangunan utama. Seorang pembantu menarik buka pintu yang berat. Di depan dinding kaca, muncul sosok seseorang yang anggun dan elegan. Di samping wanita itu, berdiri dua pelayan. Terlihat juga seorang pria muda berjas yang sedang duduk di sofa.

Saat Rachel masuk, wanita itu hanya mengamatinya selama beberapa detik sebelum berjalan mendekat.

Lutfi dengan tenang memperkenalkan wanita itu kepada Rachel. Dia adalah istri Vino, Mindy. Pria yang duduk di sofa adalah Howard, putra angkat Vino dan Mindy, juga kakak laki-laki Rachel.

Dengan satu lirikan dari Mindy, Lutfi memimpin semua orang pergi. Dalam sekejap, hanya tersisa Rachel, Mindy, dan Howard di ruang tamu yang luas.

"Namamu Rachel?"

Rachel mengangguk. Meskipun wanita itu tersenyum, Rachel bisa merasakan sikapnya yang tidak ramah.

"Duduklah. Kamu juga sudah pulang. Nggak perlu terlalu formal."

Setelah Mindy selesai berbicara, Howard juga menyapa Rachel. Suaranya sopan, tetapi juga terkesan menjaga jarak.

Rachel menatap kedua orang itu dan duduk di sudut sofa di seberang mereka. "Bibi Mindy, kamu memanggilku kemari karena ...."

"Jujur saja, aku panggil kamu kemari untuk minta kamu melepaskan sebagian hak warismu," sela Mindy secara langsung. Dia menatap Howard, lalu Howard langsung meletakkan surat pernyataan yang telah disiapkan mereka di depan Rachel.

"Bu Rachel, ayahku meninggal dunia secara mendadak. Kamu mewarisi semua asetnya, tapi aku nggak bisa serahkan hak pengelolaan perusahaan kepadamu. Mohon pengertiannya. Sebagai kompensasi, kami akan beri kamu uang tunai sebesar 200 miliar."

Suara Howard terdengar acuh tak acuh, seolah-olah itu adalah pernyataan dan bukanlah diskusi.

Rachel tertegun sejenak, lalu dengan santai mengambil dokumen itu dan membacanya.

"Secara sukarela melepaskan semua saham Grup Zavian, hak pengelolaan perusahaan, dan semua properti atas nama Keluarga Zavian ...."

Mindy dengan santai mengambil secangkir teh dan menyesapnya.

"Aku sudah cari tahu latar belakangmu. Ibumu dan Vino pernah menjalin hubungan singkat, lalu hamil di luar dugaan. Kamu sudah ditelantarkan di panti asuhan saat berusia tiga tahun. Selama ini, hidupmu pasti juga menderita. Bagimu, 200 miliar nggak termasuk jumlah yang kecil. Tapi, seorang putri haram yang dibesarkan di luar nggak bisa jadi pewaris Keluarga Zavian. Kuharap kamu sadar diri."

"Tapi, kamu tetap adalah putri Vino, juga garis keturunan Keluarga Zavian. Mulai sekarang, kamu akan tetap menyandang status putri Keluarga Zavian. Kalau kamu butuh sesuatu, katakan saja padaku."

Wanita itu berbicara dengan tenang, seolah yakin bahwa Rachel tidak akan berani menolak.

Rachel dengan tenang meletakkan dokumen itu dan menatap Mindy. Wanita itu memiliki paras yang cantik, juga merawat diri dengan sangat baik sehingga terlihat jauh lebih muda dari usianya.

"Bu Rachel, kalau nggak ada masalah, tolong tandatangani dokumen itu." Howard mendorong pena di atas meja ke arah Rachel lagi.

Rachel sudah menduga bahwa Keluarga Zavian tidak akan menerima seorang "putri haram" sepertinya dengan mudah. Apa yang disebut negosiasi hanyalah upaya pemaksaan untuk merebut kekuasaan.

Rachel terdiam beberapa detik, lalu mengucapkan dua patah kata dengan tenang, "Aku menolak."

Rachel melanjutkan dengan suara rendah, "Bibi Mindy bilang aku ini 'putri haram', tapi hukum hanya mengakui ikatan darah. Lagian, Ayah yang berinisiatif tinggalkan wasiat itu dan secara pribadi menyewa pengacara untuk menyuruhku menandatangani surat keterangan ahli waris. Wasiat ayahku dan laporan hasil tes DNA sudah cukup untuk buktikan bahwa aku adalah ahli waris yang sah."

Dalam seketika, wajah Mindy menjadi muram. Dia mengamati Rachel dari atas ke bawah lagi, seolah-olah telah menemukan sesuatu yang baru dan menarik. Dia tidak menyangka Rachel akan menolak.

"Rachel, kamu seharusnya tahu bahwa kamu cuma seorang putri haram. Meski aset Keluarga Zavian diberikan kepadamu, kamu nggak akan mampu mewarisinya," ucap Mindy sambil tersenyum sinis.

Howard juga agak terkejut. Perlu diketahui bahwa di seluruh Kota Stravon, tak pernah ada seorang pun yang berani menolak permintaan ibunya.

"Bu Rachel, kamu mungkin salah paham. Ini bukan diskusi. Keluarga Zavian adalah keluarga besar. Keadaannya jauh lebih kompleks daripada keluarga biasa yang kamu pahami. Keputusanmu akan memengaruhi seluruh keluarga. Tentu saja, kamu sendiri juga nggak akan bisa melawan seluruh Keluarga Zavian."

Kata-kata Howard sangat blak-blakan karena takut Rachel tidak mengerti.

Namun, Rachel tahu jelas bahwa kedua orang ini sedang menekannya. Keluarga-keluarga terkemuka dan berkuasa ini sudah terbiasa menindas orang lain. Sudah wajar mereka memandang rendah dirinya, juga yakin bahwa 200 miliar akan cukup untuk menyingkirkannya.

Namun, Rachel adalah tipe pemberontak. Makin ditekan, dia akan makin melawan.

"Pak Howard bilang, ini bukan diskusi, melainkan pemberitahuan? Sayangnya, hak waris yang sah nggak bisa dibatalkan cuma dengan sepatah kata siapa pun," ujar Rachel.

"Aku sudah pelajari struktur aset dan struktur kepemilikan saham Grup Zavian selama beberapa hari terakhir. Aset intinya saja bernilai ratusan triliun, sedangkan pendapatan konsisten tahunan perusahaan mencapai lebih dari 160 triliun."

"Kamu mau pakai 200 miliar sebagai 'kompensasi' untukku? Kalau dikonversi, itu cuma cukup untuk beli hak kepemilikan sebuah toko komersial yang berada di bawah naungan perusahaan. Aku masih bisa bedakan dengan jelas antara 200 miliar dan ratusan triliun. Ini bukan kompensasi, melainkan perampokan secara terang-terangan."

Rachel tersenyum tipis, lalu menutup dokumen itu dan mengembalikannya kepada Howard.

Mindy dan Howard pun terdiam. Mereka saling bertukar pandang dan merasa agak terkejut.

"Kalau nggak ada hal lain lagi, aku pamit dulu. Kalian boleh melakukannya sesuai hukum, atau kita bisa membahasnya sesuai aturan. Pak Howard, kamu itu anak angkat ayahku. Di mata hukum, urutan hak warismu pada dasarnya ada di belakangku. Memangnya Keluarga Zavian akan biarkan seorang anak angkat tanpa hubungan darah untuk mewarisi harta ayahku?"

Seusai berbicara, Rachel pun berbalik untuk pergi. Sampai dia membuka pintu, Mindy baru memberi isyarat mata pada Howard.

Howard langsung berkata dengan suara berat, "Berhenti."

Dua baris pengawal sudah menunggu di luar ruang penerimaan tamu. Rachel melirik mereka dan tahu bahwa dirinya tidak akan bisa meninggalkan tempat ini dengan mudah.

Rachel tidak bergerak, hanya menatap Mindy. "Apa Bibi Mindy mau pakai kekerasan untuk buat aku menyerah?"

Mindy tersenyum sinis. Nadanya masih terdengar ringan dan meremehkan. "Rachel, kamu mungkin masih belum tahu temperamenku. Aku sarankan sebaiknya kamu berunding dengan baik waktu aku masih sabar."

Howard berdiri dan berjalan mendekat. Sosoknya yang tinggi dan tegap juga memancarkan aura mengintimidasi. Dia menyeringai dan berujar, "Bu Rachel, kalau kamu nggak puas, silakan sebutkan nominalnya."

Rachel membalas tatapannya tanpa mundur selangkah pun. Dia menjawab dengan suara tegas, "Kalian nggak akan mampu beri aku nominal yang kumau. Aku nggak akan berikan kalian sepeser pun warisan yang diberikan ayahku."

"Kalau begitu, kami cuma bisa pakai cara lain." Howard mengerutkan keningnya. Matanya berkilat dengan niat membunuh.

Baru saja Howard selesai berbicara, para pengawal di belakang Rachel sudah bersiap untuk melangkah maju dengan tampang garang.

Mindy berbalik dan berjalan menuju dinding kaca. Pintu ruang penerimaan tamu perlahan-lahan menutup.

Rachel berdiri tegak. Tatapan dinginnya tertuju pada sosok-sosok yang mendekat.

Tepat pada saat ini, derap langkah kaki tergesa-gesa bergema di koridor. Belasan pria berjas hitam berjalan masuk dengan diikuti oleh Lutfi.

Howard pun terkejut. Akan tetapi, setelah melihat penampilan orang-orang yang datang itu, sorot matanya langsung bergetar. Dia segera menatap Mindy.

"Nyonya." Lutfi juga berjalan cepat ke sisi Mindy dan membisikkan sesuatu.

Ekspresi wanita itu langsung berubah. "Apa katamu?"

"Pak Farhan baru saja menelepon dan aku sudah mengonfirmasinya. Keluarga Januardi sudah memilih Nona Rachel."

Begitu Lutfi selesai berbicara, seorang pria juga berjalan mendekati Rachel. "Halo, kamu pasti Bu Rachel, 'kan?"

Rachel masih agak terguncang. Meskipun tidak memahami situasinya, dia mengangguk.

"Bosku sangat berharap bisa makan malam denganmu besok malam. Ini kartu namanya."

Pria itu menyerahkan kartu nama hitam dengan tulisan emas kepada Rachel dengan kedua tangannya.

Baru saja Rachel menerimanya dan sebelum dia sempat berbicara, pria itu dan rombongannya telah pergi. Dia melirik kartu itu lagi. Kartu elegan itu hanya memuat satu nama dan sebuah nomor ponsel.

Sean Januardi.

Setelah pria berjas itu pergi, pengawal di depan Rachel juga menatap Howard untuk meminta instruksi.

Howard ragu sejenak, lalu melihat Mindy memberi isyarat tangan kepadanya. Setelah itu, dia baru mengangguk dan membiarkan Rachel pergi.

Meskipun tidak yakin apa sebenarnya yang sudah terjadi, Rachel tidak tinggal berlama-lama dan segera pergi.

Begitu Rachel pergi, Howard kembali ke sisi Mindy. "Ibu, kamu mau biarkan dia pergi begitu saja?"

"Kalau nggak? Kamu sendiri juga sudah lihat, mereka itu Keluarga Januardi," jawab Mindy dengan suara muram. Jarinya menekan telapak tangannya dengan kuat.

Rachel bergegas keluar dari gerbang vila dan melihat konvoi mobil itu perlahan-lahan menjauh. Beberapa mobil hitam mewah itu memiliki nomor pelat yang cantik dan menyiratkan status elite.

Melalui jendela mobil yang gelap, Rachel merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya, seolah-olah ada seseorang yang sedang mengawasinya.

"Rachel."

Rachel menoleh dan melihat sebuah Bentley putih berhenti di sampingnya. Jendela mobil diturunkan dan seorang pria paruh baya dengan pakaian olahraga kasual menyapanya.

"Kenalkan, aku pamanmu, Taufan Zavian. Masuklah, aku akan mengantarmu."

Rachel mengamati orang itu dengan seksama. Fitur wajah pria itu memang sedikit mirip dengannya. Namun, mengingat pertemuannya barusan, dia menyahut dengan tenang, "Terima kasih, tapi aku bisa pulang sendiri."

"Jangan takut, aku berbeda dari orang-orang di dalam sana. Aku secara khusus datang untuk membantumu."

Rachel tidak menghentikan langkahnya dan Taufan mengemudi perlahan mengikutinya.

Melihat Rachel masih tidak memercayainya, pria itu melanjutkan, "Kamu yang punya status putri haram tiba-tiba mewarisi aset ratusan triliun. Siapa pun dari keluarga ini nggak mungkin biarkan kamu lolos."

"Tapi kamu beruntung karena dapat perhatian dari Keluarga Januardi. Selama aliansi pernikahan kalian berhasil, posisimu di Keluarga Zavian nggak akan tergoyahkan. Mindy dan yang lainnya juga nggak akan bisa menyentuhmu."

Kata-kata Taufan itu akhirnya membangkitkan minat Rachel. "Aliansi pernikahan apa?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ditipu dengan Akta Nikah Palsu, Aku Menikahi Pria Berkuasa   Bab 100

    Setelah duduk sembari menunggu dalam waktu lama, Howard juga tidak memiliki kesabaran untuk menyaksikan pertunjukan lagi.Howard menghela napas ringan. Tatapannya dipenuhi dengan rasa menyindir. “Jangan buru-buru. Sebentar lagi juga datang.” Rachel melihat jam sekilas, lalu membalas dengan datar.Baru saja Rachel selesai berbicara, pintu ruangan rapat pun didorong seseorang.Howard yang tadinya merasa santai menjadi tegang dalam seketika.Pemegang saham inti perusahaan beranggotakan tujuh orang. Ada Howard, Mindy, dan Rachel. Sementara, empat lainnya adalah pendukung Mindy. Mereka tidak mungkin akan menampakkan diri. Namun, orang yang membuka pintu adalah dua di antara empat pemegang saham itu.Pria yang sudah berusia paruh baya itu mengenakan pakaian formal. Langkah kaki mereka begitu buru-buru. Setelah memasuki ruangan, mereka bahkan tidak berani melirik Howard sama sekali, melainkan duduk di samping dengan putus asa. Mereka duduk di samping Rachel.…Napas Howard menjadi berat. Sep

  • Ditipu dengan Akta Nikah Palsu, Aku Menikahi Pria Berkuasa   Bab 99

    “Pak Sean ….” Rachel baru saja ingin menjelaskan masalah Joshua.Sean malah berkata, “Aku nggak akan banyak tanya soal masalah pribadimu, apalagi ikut campur. Tapi ada ikatan perjanjian pernikahan di diri kita, aku percaya kamu bisa menyelesaikan masa lalumu dengan baik.”Sean tidak bertanya dan tidak memberi permintaan, alhasil Rachel yang mendengar itu pun merasa sedikit bersalah.Tadinya Rachel berpikir, dengan identitas Sean, mungkin Sean akan peduli dengan masa lalunya, bahkan bertanya dengan detail, tetapi dia tidak menyangka ternyata Sean tidak bertanya apa-apa.“Aku … aku akan segera mengatasinya. Percaya padaku!”Saat ini, Rachel malah tiba-tiba menyadari orang di depan mata benar-benar menganggap penting masalah perjanjian pernikahan, dia bahkan memperlakukan Rachel dengan hormat.Sean membalas dengan mengangguk, tetapi malah muncul sedikit rasa peduli di hatinya. Dia tidak menyelidiki Rachel. Hubungan selama enam tahun bukanlah hubungan yang singkat. Apa dia masih belum mele

  • Ditipu dengan Akta Nikah Palsu, Aku Menikahi Pria Berkuasa   Bab 98

    Rachel mengangguk. Seingatnya, Sean tidak suka makan yang manis-manis. Dia pun bertanya apakah Sean bisa makan yang pedas-pedas.Ketika melihat pria itu tertegun sejenak, Rachel pun berkata lagi, “Oke, aku sudah mengingatnya, Pak Sean nggak suka makan yang manis dan juga nggak bisa makan pedas.”“Makan sedikit juga nggak masalah,” kata Sean.Sean tidak terlalu banyak larangan saat makan. Hanya saja, dia memang tidak begitu makan masakan dengan rasa yang terlalu berat.Rachel juga tidak berbicara panjang lebar lagi. Dia mengenakan celemek, lalu mulai memasak.Dapur didesain dengan model setengah terbuka. Bayangan tubuh wanita yang sibuk itu mulai terlukis di dalamnya. Tatapan Sean juga sama sekali tidak berpaling dari diri Rachel.Tiba-tiba, Sean sepertinya memahami maksud kakek dan neneknya dalam masalah pernikahannya.Dalam keluarga besar, perasaan selalu berada di bawah kepentingan. Orang tua Sean sudah berpisah bahkan sebelum dia dilahirkan.Di keluarga Januardi, hanya kakek dan nen

  • Ditipu dengan Akta Nikah Palsu, Aku Menikahi Pria Berkuasa   Bab 97

    Ketika Rachel berbicara, dia melihat pelayan yang menjaga Lona tadi sedang mengintip mereka dari sebelah. Dia pun memberi isyarat mata kepada Sean. Sean memiringkan sedikit matanya. Hanya saja, tanpa perlu melihat, Sean juga bisa menebaknya.“Dua orang tua di rumahku memang seperti ini. Yang penting kamu terbiasa. Kalau lain kali kamu nggak ada waktu, kamu bisa langsung menolak mereka.”Rachel menggeleng. “Sebenarnya hari ini aku juga ingin bertemu dengan Pak Sean. Aku sudah berhasil mendapatkan proyek dari Grup Zavian. Semua ini berkat bantuan Pak Sean. Tadinya aku ingin berterima kasih kepadamu.”Sean membalas dengan suara ringan, “Hanya masalah sepele. Kamu nggak usah sungkan.”“Bukan sungkan. Aku benar-benar ingin melakukan sesuatu untuk Pak Sean. Biar aku pikir dulu bagaimana cara berterima kasih kepada Pak Sean?” gumam Rachel sendiri.Sean tidak kekurangan apa pun. Jadi, Rachel juga tidak kepikiran bagaimana cara berterima kasih kepadanya.“Berterima kasih?” Sean tidak menyangka

  • Ditipu dengan Akta Nikah Palsu, Aku Menikahi Pria Berkuasa   Bab 96

    Rachel tidak menyangka Sean akan pulang dengan begitu mendadak. Wajahnya seketika merona. “Pak Sean, kenapa kamu kembali ….”Jelas-jelas Lona mengatakan Sean akan bekerja sampai larut malam hari ini.“Bukannya luka Nenek sangat serius? Apa Nenek sudah merasa baikan sekarang?” Nada bicara Sean memang kedengaran dingin, tapi dia sedang memperhatikan kondisi Lona. Dia segera berjalan ke hadapan Lona untuk melihat kondisinya.Lona segera melepaskan tangan Rachel. Wajah Lona kelihatan sangat berkilauan, tidak seperti ketika di telepon tadi, yang mana mengatakan dirinya tidak bisa bertahan lagi, juga tidak mau ke rumah sakit, bersikeras ingin Sean segera pulang.“Memang … tadi memang sedikit serius. Tapi setelah ditemani Rachel seharian, aku jadi merasa lebih nyaman.”Lona berdeham. Dia melirik Rachel dengan tatapan malu. “Cucu patuhku, kamu mesti bantu Nenek untuk berterima kasih kepada Rachel. Tadinya dia masih ada pekerjaan, dia malah membatalkannya khusus untuk menemaniku.”Sean pun terd

  • Ditipu dengan Akta Nikah Palsu, Aku Menikahi Pria Berkuasa   Bab 95

    “Aku dengar-dengar acara pernikahannya diadakan dengan sangat bagus. Seharusnya Pak Sean sangat puas dengan kamu, ‘kan?”Howard sedang menyindir halus Rachel.Kebetulan, ada satu investasi dalam proyek itu yang memang berasal dari anak perusahaan Grup Januardi.Ucapan tadi jelas menyiratkan bahwa Rachel sedang mengandalkan Sean. Bukan mengandalkan Grup Januardi, melainkan mengandalkan Sean. Meskipun tidak melanggar perjanjian taruhan, hanya saja jika kabar itu sampai tersebar, tetap saja sulit untuk meyakinkan publik. Siapa yang tahu apakah Sean hanya membantu satu investasi saja atau justru membantunya dari awal sampai akhir?“Howard, aku itu orang yang memimpin tim dan membantumu untuk mengatasi masalahmu. Aku nggak menerima ucapan terima kasih darimu, tapi kemampuanku malah diragukan. Aku sungguh merasa sedih. Lebih baik kamu telepon untuk tanya Pak Sean, bagaimana menurutnya terhadap proyekku ini? Coba lihat dia lagi menaruh investasi ke proyek atau ke aku?” Rachel langsung memperm

  • Ditipu dengan Akta Nikah Palsu, Aku Menikahi Pria Berkuasa   Bab 11

    "Aku sudah begitu tua, tapi masih harus ditegur sama menantu! Malu-maluin saja! Dia pikir dia itu siapa! Kalau bukan karena kamu bersikeras mau bersamanya, memangnya dia pantas jadi bagian dari Keluarga Hartono?" Melihat ketidakpedulian Joshua, Nadia berbalik dan mulai memukul dadanya dengan frustr

  • Ditipu dengan Akta Nikah Palsu, Aku Menikahi Pria Berkuasa   Bab 14

    Namun, Nadia memiliki temperamen buruk, sedangkan Clara juga suka membuat masalah. Meminta mereka untuk meminta maaf kepada Rachel berkemungkinan akan menyebabkan keributan besar di rumah."Rere, kamu tahu watak Ibu. Kalau suruh dia minta maaf ...."Joshua menggertakkan giginya, lalu memutuskan meng

  • Ditipu dengan Akta Nikah Palsu, Aku Menikahi Pria Berkuasa   Bab 17

    Sebelum gambar selesai dimuat, sebuah panggilan telepon masuk. Yang menelepon adalah Anisa. Begitu Joshua menjawab, isak tangis seorang wanita memenuhi telinganya."Ada apa? Apa yang terjadi?" Jantung Joshua berdebar kencang, suaranya dipenuhi kecemasan. Namun, tak peduli bagaimana pun Joshua berta

  • Ditipu dengan Akta Nikah Palsu, Aku Menikahi Pria Berkuasa   Bab 12 

    Rachel tidak membalas pesan untuk beberapa saat sehingga Joshua berasumsi dia belum selesai. Dia pun bersandar di kursinya dan menunggu dalam diam. Hari ini, dia sangat kelelahan karena menghabiskan waktu bersama Anisa sambil menangani banyak pekerjaan dari luar perusahaan. Berhubung masih harus men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status