"Kediaman Keluarga Zavian?" Rachel mengulangi kata-kata itu.
"Benar, Kediaman Keluarga Zavian. Mulai sekarang, itu akan menjadi rumah Nona," jawab Lutfi.
Rachel terdiam beberapa detik. Vino adalah ayah kandungnya dan warisan ratusan triliun itu sudah menjadi miliknya. Kembali ke Kediaman Keluarga Zavian hanyalah masalah waktu. Dia tidak bisa menghindarinya, juga tidak perlu menghindar.
Rachel mengangguk. "Bagus juga. Berhubung itu rumahku, aku harus pergi melihatnya sendiri."
Apa yang ditakdirkan terjadi tetap harus dihadapi.
Selama perjalanan, Lutfi menjelaskan secara singkat mengenai situasi terkini Keluarga Zavian kepada Rachel. Bisnis Keluarga Zavian sangatlah besar. Sebagian besar asetnya ada di tangan Vino, sedangkan sebagian kecilnya ada di tangan ayah dan kakak laki-laki Vino.
Sekarang, seluruh warisan Vino telah jatuh ke tangan Rachel. Itu berarti, dia telah menjadi pemegang saham terbesar Grup Zavian.
Saat ini, ayah Vino yang bernama Farhan Zavian sedang memulihkan diri di luar negeri. Urusan Keluarga Zavian pun ditangani oleh istri Vino, Mindy Kusuma. Sementara itu, perusahaan dikelola oleh putra angkat mereka, Howard Zavian.
Satu jam kemudian, sebuah Rolls-Royce Extended melaju masuk ke Kediaman Keluarga Zavian.
Vila yang luasnya lebih dari 1.000 meter persegi itu sangat megah dan mengesankan. Perjalanan dari halaman ke vila utama dengan mengendarai mobil bahkan memakan waktu hampir sepuluh menit. Gaya arsitektur vila Keluarga Zavian juga lebih megah dan mewah daripada vila biasa, seolah-olah setiap batu bata di bawah pijakan mereka juga tak ternilai harganya.
Ini adalah pertama kalinya Rachel datang ke tempat semewah ini. Dia tidak mungkin tidak gugup, tetapi dia berusaha sebaik mungkin untuk tetap tenang.
Lutfi membawa Rachel ke ruang penerimaan tamu di bangunan utama. Seorang pembantu menarik buka pintu yang berat. Di depan dinding kaca, muncul sosok seseorang yang anggun dan elegan. Di samping wanita itu, berdiri dua pelayan. Terlihat juga seorang pria muda berjas yang sedang duduk di sofa.
Saat Rachel masuk, wanita itu hanya mengamatinya selama beberapa detik sebelum berjalan mendekat.
Lutfi dengan tenang memperkenalkan wanita itu kepada Rachel. Dia adalah istri Vino, Mindy. Pria yang duduk di sofa adalah Howard, putra angkat Vino dan Mindy, juga kakak laki-laki Rachel.
Dengan satu lirikan dari Mindy, Lutfi memimpin semua orang pergi. Dalam sekejap, hanya tersisa Rachel, Mindy, dan Howard di ruang tamu yang luas.
"Namamu Rachel?"
Rachel mengangguk. Meskipun wanita itu tersenyum, Rachel bisa merasakan sikapnya yang tidak ramah.
"Duduklah. Kamu juga sudah pulang. Nggak perlu terlalu formal."
Setelah Mindy selesai berbicara, Howard juga menyapa Rachel. Suaranya sopan, tetapi juga terkesan menjaga jarak.
Rachel menatap kedua orang itu dan duduk di sudut sofa di seberang mereka. "Bibi Mindy, kamu memanggilku kemari karena ...."
"Jujur saja, aku panggil kamu kemari untuk minta kamu melepaskan sebagian hak warismu," sela Mindy secara langsung. Dia menatap Howard, lalu Howard langsung meletakkan surat pernyataan yang telah disiapkan mereka di depan Rachel.
"Bu Rachel, ayahku meninggal dunia secara mendadak. Kamu mewarisi semua asetnya, tapi aku nggak bisa serahkan hak pengelolaan perusahaan kepadamu. Mohon pengertiannya. Sebagai kompensasi, kami akan beri kamu uang tunai sebesar 200 miliar."
Suara Howard terdengar acuh tak acuh, seolah-olah itu adalah pernyataan dan bukanlah diskusi.
Rachel tertegun sejenak, lalu dengan santai mengambil dokumen itu dan membacanya.
"Secara sukarela melepaskan semua saham Grup Zavian, hak pengelolaan perusahaan, dan semua properti atas nama Keluarga Zavian ...."
Mindy dengan santai mengambil secangkir teh dan menyesapnya.
"Aku sudah cari tahu latar belakangmu. Ibumu dan Vino pernah menjalin hubungan singkat, lalu hamil di luar dugaan. Kamu sudah ditelantarkan di panti asuhan saat berusia tiga tahun. Selama ini, hidupmu pasti juga menderita. Bagimu, 200 miliar nggak termasuk jumlah yang kecil. Tapi, seorang putri haram yang dibesarkan di luar nggak bisa jadi pewaris Keluarga Zavian. Kuharap kamu sadar diri."
"Tapi, kamu tetap adalah putri Vino, juga garis keturunan Keluarga Zavian. Mulai sekarang, kamu akan tetap menyandang status putri Keluarga Zavian. Kalau kamu butuh sesuatu, katakan saja padaku."
Wanita itu berbicara dengan tenang, seolah yakin bahwa Rachel tidak akan berani menolak.
Rachel dengan tenang meletakkan dokumen itu dan menatap Mindy. Wanita itu memiliki paras yang cantik, juga merawat diri dengan sangat baik sehingga terlihat jauh lebih muda dari usianya.
"Bu Rachel, kalau nggak ada masalah, tolong tandatangani dokumen itu." Howard mendorong pena di atas meja ke arah Rachel lagi.
Rachel sudah menduga bahwa Keluarga Zavian tidak akan menerima seorang "putri haram" sepertinya dengan mudah. Apa yang disebut negosiasi hanyalah upaya pemaksaan untuk merebut kekuasaan.
Rachel terdiam beberapa detik, lalu mengucapkan dua patah kata dengan tenang, "Aku menolak."
Rachel melanjutkan dengan suara rendah, "Bibi Mindy bilang aku ini 'putri haram', tapi hukum hanya mengakui ikatan darah. Lagian, Ayah yang berinisiatif tinggalkan wasiat itu dan secara pribadi menyewa pengacara untuk menyuruhku menandatangani surat keterangan ahli waris. Wasiat ayahku dan laporan hasil tes DNA sudah cukup untuk buktikan bahwa aku adalah ahli waris yang sah."
Dalam seketika, wajah Mindy menjadi muram. Dia mengamati Rachel dari atas ke bawah lagi, seolah-olah telah menemukan sesuatu yang baru dan menarik. Dia tidak menyangka Rachel akan menolak.
"Rachel, kamu seharusnya tahu bahwa kamu cuma seorang putri haram. Meski aset Keluarga Zavian diberikan kepadamu, kamu nggak akan mampu mewarisinya," ucap Mindy sambil tersenyum sinis.
Howard juga agak terkejut. Perlu diketahui bahwa di seluruh Kota Stravon, tak pernah ada seorang pun yang berani menolak permintaan ibunya.
"Bu Rachel, kamu mungkin salah paham. Ini bukan diskusi. Keluarga Zavian adalah keluarga besar. Keadaannya jauh lebih kompleks daripada keluarga biasa yang kamu pahami. Keputusanmu akan memengaruhi seluruh keluarga. Tentu saja, kamu sendiri juga nggak akan bisa melawan seluruh Keluarga Zavian."
Kata-kata Howard sangat blak-blakan karena takut Rachel tidak mengerti.
Namun, Rachel tahu jelas bahwa kedua orang ini sedang menekannya. Keluarga-keluarga terkemuka dan berkuasa ini sudah terbiasa menindas orang lain. Sudah wajar mereka memandang rendah dirinya, juga yakin bahwa 200 miliar akan cukup untuk menyingkirkannya.
Namun, Rachel adalah tipe pemberontak. Makin ditekan, dia akan makin melawan.
"Pak Howard bilang, ini bukan diskusi, melainkan pemberitahuan? Sayangnya, hak waris yang sah nggak bisa dibatalkan cuma dengan sepatah kata siapa pun," ujar Rachel.
"Aku sudah pelajari struktur aset dan struktur kepemilikan saham Grup Zavian selama beberapa hari terakhir. Aset intinya saja bernilai ratusan triliun, sedangkan pendapatan konsisten tahunan perusahaan mencapai lebih dari 160 triliun."
"Kamu mau pakai 200 miliar sebagai 'kompensasi' untukku? Kalau dikonversi, itu cuma cukup untuk beli hak kepemilikan sebuah toko komersial yang berada di bawah naungan perusahaan. Aku masih bisa bedakan dengan jelas antara 200 miliar dan ratusan triliun. Ini bukan kompensasi, melainkan perampokan secara terang-terangan."
Rachel tersenyum tipis, lalu menutup dokumen itu dan mengembalikannya kepada Howard.
Mindy dan Howard pun terdiam. Mereka saling bertukar pandang dan merasa agak terkejut.
"Kalau nggak ada hal lain lagi, aku pamit dulu. Kalian boleh melakukannya sesuai hukum, atau kita bisa membahasnya sesuai aturan. Pak Howard, kamu itu anak angkat ayahku. Di mata hukum, urutan hak warismu pada dasarnya ada di belakangku. Memangnya Keluarga Zavian akan biarkan seorang anak angkat tanpa hubungan darah untuk mewarisi harta ayahku?"
Seusai berbicara, Rachel pun berbalik untuk pergi. Sampai dia membuka pintu, Mindy baru memberi isyarat mata pada Howard.
Howard langsung berkata dengan suara berat, "Berhenti."
Dua baris pengawal sudah menunggu di luar ruang penerimaan tamu. Rachel melirik mereka dan tahu bahwa dirinya tidak akan bisa meninggalkan tempat ini dengan mudah.
Rachel tidak bergerak, hanya menatap Mindy. "Apa Bibi Mindy mau pakai kekerasan untuk buat aku menyerah?"
Mindy tersenyum sinis. Nadanya masih terdengar ringan dan meremehkan. "Rachel, kamu mungkin masih belum tahu temperamenku. Aku sarankan sebaiknya kamu berunding dengan baik waktu aku masih sabar."
Howard berdiri dan berjalan mendekat. Sosoknya yang tinggi dan tegap juga memancarkan aura mengintimidasi. Dia menyeringai dan berujar, "Bu Rachel, kalau kamu nggak puas, silakan sebutkan nominalnya."
Rachel membalas tatapannya tanpa mundur selangkah pun. Dia menjawab dengan suara tegas, "Kalian nggak akan mampu beri aku nominal yang kumau. Aku nggak akan berikan kalian sepeser pun warisan yang diberikan ayahku."
"Kalau begitu, kami cuma bisa pakai cara lain." Howard mengerutkan keningnya. Matanya berkilat dengan niat membunuh.
Baru saja Howard selesai berbicara, para pengawal di belakang Rachel sudah bersiap untuk melangkah maju dengan tampang garang.
Mindy berbalik dan berjalan menuju dinding kaca. Pintu ruang penerimaan tamu perlahan-lahan menutup.
Rachel berdiri tegak. Tatapan dinginnya tertuju pada sosok-sosok yang mendekat.
Tepat pada saat ini, derap langkah kaki tergesa-gesa bergema di koridor. Belasan pria berjas hitam berjalan masuk dengan diikuti oleh Lutfi.
Howard pun terkejut. Akan tetapi, setelah melihat penampilan orang-orang yang datang itu, sorot matanya langsung bergetar. Dia segera menatap Mindy.
"Nyonya." Lutfi juga berjalan cepat ke sisi Mindy dan membisikkan sesuatu.
Ekspresi wanita itu langsung berubah. "Apa katamu?"
"Pak Farhan baru saja menelepon dan aku sudah mengonfirmasinya. Keluarga Januardi sudah memilih Nona Rachel."
Begitu Lutfi selesai berbicara, seorang pria juga berjalan mendekati Rachel. "Halo, kamu pasti Bu Rachel, 'kan?"
Rachel masih agak terguncang. Meskipun tidak memahami situasinya, dia mengangguk.
"Bosku sangat berharap bisa makan malam denganmu besok malam. Ini kartu namanya."
Pria itu menyerahkan kartu nama hitam dengan tulisan emas kepada Rachel dengan kedua tangannya.
Baru saja Rachel menerimanya dan sebelum dia sempat berbicara, pria itu dan rombongannya telah pergi. Dia melirik kartu itu lagi. Kartu elegan itu hanya memuat satu nama dan sebuah nomor ponsel.
Sean Januardi.
Setelah pria berjas itu pergi, pengawal di depan Rachel juga menatap Howard untuk meminta instruksi.
Howard ragu sejenak, lalu melihat Mindy memberi isyarat tangan kepadanya. Setelah itu, dia baru mengangguk dan membiarkan Rachel pergi.
Meskipun tidak yakin apa sebenarnya yang sudah terjadi, Rachel tidak tinggal berlama-lama dan segera pergi.
Begitu Rachel pergi, Howard kembali ke sisi Mindy. "Ibu, kamu mau biarkan dia pergi begitu saja?"
"Kalau nggak? Kamu sendiri juga sudah lihat, mereka itu Keluarga Januardi," jawab Mindy dengan suara muram. Jarinya menekan telapak tangannya dengan kuat.
Rachel bergegas keluar dari gerbang vila dan melihat konvoi mobil itu perlahan-lahan menjauh. Beberapa mobil hitam mewah itu memiliki nomor pelat yang cantik dan menyiratkan status elite.
Melalui jendela mobil yang gelap, Rachel merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya, seolah-olah ada seseorang yang sedang mengawasinya.
"Rachel."
Rachel menoleh dan melihat sebuah Bentley putih berhenti di sampingnya. Jendela mobil diturunkan dan seorang pria paruh baya dengan pakaian olahraga kasual menyapanya.
"Kenalkan, aku pamanmu, Taufan Zavian. Masuklah, aku akan mengantarmu."
Rachel mengamati orang itu dengan seksama. Fitur wajah pria itu memang sedikit mirip dengannya. Namun, mengingat pertemuannya barusan, dia menyahut dengan tenang, "Terima kasih, tapi aku bisa pulang sendiri."
"Jangan takut, aku berbeda dari orang-orang di dalam sana. Aku secara khusus datang untuk membantumu."
Rachel tidak menghentikan langkahnya dan Taufan mengemudi perlahan mengikutinya.
Melihat Rachel masih tidak memercayainya, pria itu melanjutkan, "Kamu yang punya status putri haram tiba-tiba mewarisi aset ratusan triliun. Siapa pun dari keluarga ini nggak mungkin biarkan kamu lolos."
"Tapi kamu beruntung karena dapat perhatian dari Keluarga Januardi. Selama aliansi pernikahan kalian berhasil, posisimu di Keluarga Zavian nggak akan tergoyahkan. Mindy dan yang lainnya juga nggak akan bisa menyentuhmu."
Kata-kata Taufan itu akhirnya membangkitkan minat Rachel. "Aliansi pernikahan apa?"