INICIAR SESIÓN“Iya, Bu. Emang Abang ngadu apa?” Arka mengusap rambut sambil menempelkan ponsel di telinga. Ibunya menelepon lagi setelah ia selesai mandi. Sedangkan Kinara duduk sambil memperhatikan Arka. Ia bawa makan di tas kerja. Jadi begitu bengong, langsung saja ngemil. Yang diucapkan oleh Ibunya Arka, Kinara tidak dengar. Tapi sahutan lelaki itu jelas sekali. Kinara hanya bisa menebak, kira-kira apa yang diucapkan. “Ibu kan, tahu sendiri Abang gimana,” ujar Arka sambil berbalik. Ia menatap Kinara yang sedang ngemil. “Ibu mau ngomong nggak sama pacar aku?” Kinara yang baru menunduk menatap ponsel, langsung mendelik. Ia menatap Arka tajam. Malah lelaki itu tersenyum simpul. “Kinara? Pacar kamu yang dulu sering diceritain Abang?” Senyum Arka semakin lebar mendengar kalimat ibunya. “Iya.” “Beneran kamu jadian sama Kinara? Pantes abangmu ngamuk, Dek.” “Lah, jangan salahin aku, dong. Salah Abang sendiri,” ujar Arka sambil menggantung handuk di belakang pintu. Lalu ia duduk di samping Kinara
“Arka pindah kos sama lo?” “Hah?” Kinara menatap lelaki di depannya tak percaya. “Maksudnya?” “Lo pindah kos, terus Arka juga pindah. Kalian kos bareng sekarang?” Satria menatap Kinara lekat. Dan gadis itu jelas kaget. “Ngaco!” ujar Kinara tegas. “Sembarangan lo kalo ngomong!” Ia melirik kanan dan kiri. Satria bicara cukup lantang, dan meja admin Produksi sedang ramai. Hampir semua orang di sana menoleh. “Bukannya kalian pacaran?” tanya Satria sambil tertawa miris. Kinara melirik sinis. Sudah malas meladeni. “Lo mabok kecubung?!” sindirnya tegas. “Serius, deh, Kin. Lo polos banget kalo sampe jadian sama Arka. Dia pacarnya banyak.” Lagi-lagi Kinara melirik saja. Beberapa leader sudah ingin menimpali, tapi sepertinya mereka menahan diri. Kinara juga malas menanggapi Satria. “Kin, Arka masih bocah! Dia masih pengen main terus!” Satria bicara lagi. Sebenarnya, ia hanya tak terima Kinara jadian dengan orang lain. Apalagi adiknya sendiri. Satria merasa lebih baik. Usianya lebih mat
“Yang ini?” Arka menunjukkan foto pada unggahan kakaknya. Ia sendiri tak punya foto tersebut. Tak sempat pegang ponsel saat sedang ada acara. “Hmm.” Kinara bergumam pelan. Ia sebenarnya berdebar tak karuan. Padahal mereka tak ada hubungan, tapi ia menuntut seperti seorang pacar yang posesif. “Emang sepupu gue ini. Ibunya dia, adeknya bokap,” ujar Arka sambil tersenyum. “Seumuran sama gue, sekolah juga bareng, jadi emang akrab.” “Eemhh.” Kinara manggut-manggut. Sedikit lega. Tapi dadanya masih berdebar. Arka menatap sambil tersenyum samar. “Kenapa? Gue nggak boleh deket sama sepupu gitu?” “Ya, terserah lo aja.”Senyum Arka malah tambah lebar. “Kalo gitu, besok gue jaga jarak. Nggak nempel-nempel lagi.” Kinara melirik. “Terserah lo kata gue, kan!?” ujarnya dengan suara yang agak ditekan. “Iya. Gue denger, kok.” Arka menimpali dengan lembut. Ia masih duduk bersila di kamar kos Kinara. Makanan sudah habis, tinggal minumnya yang masih sedikit. Kinara sendiri jadi salah tingkah. Ia t
Tin!Kinara menoleh dengan cepat saat terdengar klakson di belakang. Ternyata Lulu yang menyengir lebar. "Beneran nggak bareng, Kin?" Gadis itu sudah duduk di atas motor maticnya. Pakai jaket dan helm, siap melakukan perjalanan pulang. "Nggak, deh. Katanya lo mau mampir ke kosan adek lo dulu." Kinara menggeleng pelan. "Ya, nggak apa. Bentaran doang. Paling habis Magrib pulang." "Tetap nggak." Kali ini Kinara menyengir lebar. "Sorry ya, Lu." "Santai. Gue ajak, siapa tahu lo pengen jalan-jalan dulu. Kalo masih capek, ya, istirahat aja." Lulu menutup kaca helmnya. "Duluan, ya." "Tiati!" seru Kinara sambil melambai. Ia berjalan melintasi gerbang yang terbuka lebar karena memang jam pulang kerja. "Kin!?" Baru Kinara membuka aplikasi ojek online, namanya sudah dipanggil. Ia langsung mengerjap saat melihat Arka melambai dengan senyum lebar."Heh, malah bengong!" ujar lelaki muda itu sambil berhenti di depan Kinara. "Yuk. Untung gue nggak telat." Ia meraih helm, lalu diberikan pada Ki
“Dia ngilang kemana, sih?” Kinara sibuk dengan ponsel sepanjang Minggu. Sampai sore, ia masih rebahan di kamar baru. Hanya ada Lulu yang tadi pagi mengajak sarapan bersama. Selebihnya, tak ada siapapun yang berinteraksi dengan Kinara. Gadis itu sampai bosan bermain ponsel. “Arka kecapean kali, ya. Makanya tidur seharian.” Kinara melempar ponsel ke kasur sebelahnya. Ia sendiri bangun karena sudah sore. “Mandi, deh. Ajakin Lulu makan bakso.” Hanya butuh 15 menit, Kinara sudah rapi. Badan wangi sabun bercampur parfum yang disemprotkan sedikit di sekitar leher. Gadis itu hanya pakai kaus santai, jeans panjang dan sandal jepit. “Lulu,” panggil Kinara sambil melongok ke dalam kamar kos temannya yang terbuka lebar. “Eh, ada orang. Maaf, Mas.” Kinara meringis malu. Karena di dalam kamar Lulu ada lelaki yang tak ia kenal. “Lulunya ada, Mas?” “Lagi beli es ke depan. Tunggu aja.” “Aku susulin aja, deh. Mari.” Kinara mengangguk sedikit, lalu melenggang dengan cepat. “Cowoknya Lulu kali, ya?
“Jadi pindah, Kin?” Jane berdiri di pintu kamar Kinara yang terbuka sambil mengikat rambut. Ia dengar berisik di kamar samping, jadi langsung keluar. Padahal akhir pekan niatnya mau tidur saja. “Jadi. Nggak betah gue kalo ada Lampir terus.” Kinara sambil menutup kardus besar yang isinya perlengkapan dapur. “Oh.” Jane hanya menatap sejenak. “Mana yang perlu gue bantu? Bajunya masukin koper?” “Baju udah gue bawa. Tinggal dikit yang masih tinggal.” Kinara berdiri, tangannya di pinggang. Dipandangi barang-barang yang sudah dipak itu. “Bantu gotongin ke bawah mau?” Jane meringis. “Panggilin penghuni laki aja kalo itu. Kardus paling kecil aja itu berat. Lo mau bikin tangan gue patah?!”Kinara menyengir lebar. “Bantuin gue minta minum aja kalo gitu.” “Hah? Minta minum di mana?” “Di kamar lo. Galon gue kosong. Sengaja nggak diisi kemarin. Kulkas juga kosong.” Jane mengangguk pelan. Tidak mengatakan apapun, tapi ia langsung keluar dari kamar Kinara. Tak lama kembali dengan botol air di







