เข้าสู่ระบบBeberapa bulan telah berlalu dengan cepat. Sampai tiba saatnya hari ini, rumah sakit terlihat lebih ramai dari biasanya. Zack sudah mondar-mandir sejak satu jam lalu di depan ruang pemeriksaan kandungan.“Duduk dulu, Tuan. Anda membuat saya ikut pusing,” tegur Leticia yang sejak tadi memperhatikan tingkah atasannya.“Duduk? Yang benar saja. Mana Aku bisa tenang?” ujar Zack yang sudah kebakaran jenggot saat ditegur oleh Leticia.“Ini hanya pemeriksaan rutin.” Tegas Leti lagi.“Justru itu,” jawab Zack cepat. “Kalau ada apa-apa bagaimana?” Leticia menyerah. Tidak ada gunanya berdebat dengan laki-laki yang sedang panik karena istrinya hamil.Di dalam ruang pemeriksaan, Aku justru terlihat santai sambil berbincang dengan dokter kandungan.“Jadi akhir-akhir ini mualnya masih sering?” tanya dokter sambil melihat hasil pemeriksaan sebelumnya. Aku mengangguk kecil.“Lumayan sering, Dok. Tapi, masih bisa ditahan.” Dokter tersenyum lalu mulai mengoleskan gel di perutku untuk pemeriksaan USG.
Zack bangun lebih pagi, dia mengatur ulang kondisi kediamannya. Banyak perintah yang dia keluarkan hanya untuk menjaga diriku.Tentu saja seperti yang dia katakan, bukan hanya Leticia atau Jimmy yang berjaga. Dia menambahkan beberapa pengawal untuk menjagaku. Hmm, lebih tepatnya bulan menjaga, itu adalah bagian dari sikap overprotektif nya.Aku sampai nggak habis pikir, baru saja pikiranku melayang sambil menggeleng kepala melihat Zack yang memerintah kesana-kemari.Kalau dibilang, itu seperti suasana pasar tradisional yang tiba-tiba pindah di kediaman mewah Zack.“Awas pelan-pelan, Sayang! Hati-hati!” aku terkejut saat mendengar suara panik Zack seperti kebakaran jenggot.Aku baru mengambil minuman kaleng dari lemari pendingin. Saking kesalnya, aku malah mendengus dan mendecakkan lidah.“Nggak usah lebay deh! Aku itu cuma ngambil minuman kaleng dari lemari pendingin, bukan angkat lemari pendinginnya!” Kakiku menghentak lagi di lantai.“Aduh-aduh, hey, pelan-pelan, hati-hati, jangan
“Kamu lucu banget Mas Yuda. Aku benar-benar nggak ngerti jalan pikiranmu!” Aku gak menggubris ucapan.Dulu hal yang aku inginkan adalah kepercayaan Mas Yuda. Mau aku menjelaskan semua tuduhan malam itu, Mas Yuda tetap saja nggak mempercayaiku. Jadi, seharusnya saat ini aku nggak dibilang sedang bersikap kejam kan? Aku hanya ingin membalas semua rasa sakitku. Aku nggak membalas mereka, tapi Tuhan memang benar-benar adil. Tanpa diminta dia akan melakukan pembalasan sesuai dengan jalannya. Dan aku, layaknya sebagai penonton, kali ini hanya bisa menatap. Aku pergi meninggalkan mereka. Tidak ingin lagi merasa terbebani oleh permintaan maaf Mas Yuda. Anggap saja semua itu memang karma mereka. Kalau aku bisa melewatinya, harusnya Mas Yuda sebagai laki-laki, bisa melewati semuanya.Aku nggak menoleh lagi, mungkin saja saat itu Mas Yuda sedang melihat punggung kepergianku bersama dengan seorang laki-laki dan tentu saja orang-orang yang disiapkan oleh Zack untuk melindungiku. Zack bisa dibi
“Kalian sudah selesai?” Zack terkejut saat dia membuka pintu, Jimmy dan Adolf sudah di hadapannya. Tak lupa Donna yang dijemput Leticia juga sudah dihadapannya.“Sedang apa kalian disini? Kalian sedang menguping!?” dengus Zack.“Seharusnya ini tidak dibilang menguping. Kau saja yang tidak tahu malu. Itu ruangan pribadiku, sekarang menjadi tercemar karena ulahmu!” Jimmy gak peduli lagi kalau Zack akan memarahinya.“Apa kau bilang?” Zack malah membulatkan matanya dengan lebar.“Sudahlah. Aku tidak bilang apapun. Anggap saja kau salah mendengar!” dengus Jimmy lagi.Aku menepuk punggungnya Zack supaya dia memberikan aku jalan, ‘Maaf sayang, ini semua karena ulahnya. Dia mengomel!” Zack seperti anak kecil yang mengadu.Adolf pura-pura nggak mendengar. Akhirnya Jimmy hanya bisa meremas rambutnya yang tidak gatal.Aku melihat Donna, “Donna!” teriakku. Mendorong pelan tubuh Zack dan memeluk Donna.Donna sedikit melirik Zack, dia juga takut kalau-kalau Zack marah dan menembaknya hanya karena a
“Kamu benar-benar tega sekali, Amel? Bahkan pada penolongmu ini?” Tentu saja Kenzo nggak puas mendengar ucapanku. “Maaf, aku nggak akan lupa untuk balas budi karena kamu sudah menolongku. Tapi, selain permintaan yang gak masuk akal, aku nggak akan menurutinya!”Aku jelas sudah merasakan dan nggak mungkin bodoh sampai nggak mengerti Kalau Kenzo memperhatikanku bukan hanya ingin berteman saja.“Mana mungkin permintaan aku nggak masuk akal! Kamu bahkan belum mendengar permintaanku,” Kenzo memberikan tekanan padaku. “Kau! Jangan main-main lagi dan pergilah. Aku tidak butuh kau di sini karena aku sudah bisa menjaga istri dan anakku dengan sangat baik. Kau tidak bodoh kan?” Satu sudut bibir Zack terangkat seolah Dia mengejek Kenzo.“Meski kau menolong dan membawanya ke rumah sakit, tapi istriku sampai bisa terluka seperti ini itu karena ulahmu. Anggap saja itu sudah impas. Bukankah begitu lebih mudah untuk menghitung balas jasa yang kamu ingin!”Zack menyerangnya lagi. Dia benar-benar ng
“Kau lihat? Apa itu masih iblis pembunuh itu?” Lexi menyikut lagi Kenzo yang melihat Zack bersikap lembut dan manis saat berkata padaku.Dia berbicara berbisik agar gak terdengar.“Diam dan tutup mulutmu!” decak Kenzo.“CK, CK, kau ini sudah seperti ini saja masih terlihat seperti laki-laki gila yang mengharapkan sesuatu hal yang tidak mungkin!” dengus Lexi, dia sebenarnya kesal, tapi gak bisa berbuat banyak pada temannya.“Kau yakin menghabiskan semuanya? Atau bagaimana kalau kau coba minum jus buah,” Zack sedang memberikan saran.Aku berpikir sejenak, “Eum … itu juga terdengar sangat enak, Zack. Atau … kita pergi sekarang saja, ya? Aku ingin membelinya sendiri!” aku yang tiba-tiba menjadi bersemangat dan ingin menurunkan kaki dari ranjang.“Tolong jangan kau lakukan itu, Kakak Ipar. Itu sama saja dengan membunuhku,” Jimmy yang panik dan mencegah bersama dengan Zack juga Kenzo yang ingin mendekat. Mereka semua ingin melarangku turun ranjang.“Kau tahu sendiri, suami gilamu itu akan
Zack terlihat puas dengan kejadian tadi. Dia bahkan gak menyangka kalau aku bersikap manja seperti tadi.“Kamu masih marah, Zack?” aku meliriknya karena ekspresi sekarang sedikit berbeda.“Kau ingin aku marah?” aku menggeleng, “kamu benar-benar mengenal orang tadi?” aku malah bertanya balik.“Kau t
Zack menarik pinggangku agar lebih mendekat.“Aku ingin sendiri!” kataku sedikit menolak tangannya yang menarik pinggang.Zack hanya mendengus kecil dan melonggarkan tangannya, tapi tetap tangannya ada di pinggang.“Tuan, obat nyonya Amel!” kata Adolf saat sampai di kediamannya. Dia benar-benar gak
“Kamu gak mau coba ini?” aku baru saja menggigit salah satu camilan yang aku beli, tapi Zack terus menatapku. Jadi, aku mengarahkan cemilan tadi ke dekat mulutnya.Adolf melirik dari spion, dia tahu tuannya gak akan suka makanan manis dan bekas gigitan orang lain. Dia hanya ingin memastikan apakah
“Em, belum sih, cuma mas Yuda bilang, dia besok mau urus surat-surat pernikahan kita. Aku pengen banget mas Yuda merayakan pernikahan kami dengan megah,” kata Rania.Jose manggut-manggut, “Jadi, kita mau benerin yang mana dulu?” tanya Jose, dia harus segera menyelesaikan tugas-tugas utama dahulu se







