Mag-log inKado pernikahan harusnya bahagia, namun tidak terjadi untuk seorang Amel yang memergoki suaminya, Yuda sedang beradegan panas dengan anak dari sahabat ibu mertuanya, Rania. Sebuah penghianatan, tapi anehnya Amel-lah yang dituduh berselingkuh karena Yuda mendapatkan fotonya bersama dengan seorang laki-laki. Kemudian Amel dinyatakan mandul lalu diusir dari rumah dan diceraikan tanpa dia bisa menjelaskan apapun. Demi bertahan hidup, Amel menerima pekerjaan seorang pelayan pribadi Zack Lee—laki-laki muda yang sukses dengan bisnisnya, namun memiliki hobi aneh—senang sekali menyusu dan harus menemaninya tidur.
view moreSore ini aku berdandan nggak seperti biasanya. Ada hal yang harus aku lakukan untuk merayakan dua tahun pernikahanku.
“Ahh, Mas hmm enak Mas ahh terus Mas … disitu enak banget, Mas!” Suara desahan dari seorang wanita, dia sedang menikmati luapan emosi saat seorang laki-laki membuka kakinya lebar dan kepalanya sedang mengaduk-aduk belahan bibir bawahnya yang sudah merekah, basah, ber len dir juga licin. “Ah Rania, kenapa ini begitu enak, kamu benar-benar yang paling hot dan terbaik,” puja puji laki-laki itu diberikan agar gelora mereka semakin tinggi dan membara. “Umm Ah Mas juga sangat pintar memanjakan aku, ah Mas … aku udah nggak tahan, masukin sekarang aja Mas,” suara wanita itu semakin manja— benar-benar membuat buluk kuduk meremang, siapapun yang mendengarnya. “Dasar wanita penggoda suami orang, kamu benar-benar nakal,” si laki-laki juga sepertinya sudah terlena dan sudah nggak akan mundur lagi dengan tindakannya. “Emm ahh ahh siapa suruh pedang kamu begitu enak Mas, aku sekali coba malah ketagihan pengen berkali-kali, ahh umm, Mbak Amel pasti sangat seneng banget setiap hari mendapatkan ini dari kamu ya Mas, ah umm, Mas lebih kencang Mas ahh aku pengen lebih kencang dan dalam lagi, Mas …,” suara wanita itu makin serak dengan semua gelora berbahaya, dia benar-benar menikmati pedang pusaka milik suami orang. “Itu kamu juga enak banget Rania aagh si Amel mana bisa kasih service seperti kamu, dia mah lewat nggak ada apa-apa nya. Pokoknya, aku lebih berselera bersama dengan kamu ketimbang dia. Apalagi setelah aku tahu kenyataan itu, huh ahh sia-sia saja selama ini aku usaha, ternyata dia wanita yang nggak ada isinya,” keluh laki-laki itu sambil dia membalikkan tubuh wanita itu lalu memompanya makin kencang dari belakang. “Ah ah Mas bisa aja ngerayu aku ump Maaas Ah terus Mas ahh aku mau keluar Mas UMM ahhh!” wanita tadi makin menggeliat saat pedang pusaka laki-laki itu dipercepat dan sama–sama ingin mengeluarkan cairan mereka. “Ahh Rania kamu memang sangat hebat ah umm kamu benar benar bisa memuaskan aku aah aku juga mau keluar, Ran,” laki-laki itu makin memompa lebih dalam hingga mereka benar benar sudah berada pada titik langit ke tujuh. Surga dunia yang nggak mungkin ditolak siapapun. Titik kenikmatan yang nggak mungkin mereka ragukan dan hindari. Mereka benar benar mengeluarkan suara-suara yang bergelora. Kamar itu seolah menjadi saksi kenikmatan gairah mereka. Tanpa mereka sadari, sepasang mata membeku menatap adegan panas tersebut. Bukan hanya wajahnya yang panas, hatinya pun ikutan terbakar. Aku baru saja pulang dari membeli kue. Aku ingat, hari ini adalah hari perayaan pernikahan kami yang kedua. Mas Yuda memintaku keluar rumah dan jangan pulang ke rumah sebelum jam 9 malam. Aku nggak tahu apa yang Mas Yuda rencanakan, tapi pastinya aku memang mengharapkan sesuatu yang bahagia juga spesial untuk perayaan pernikahan kami. Di Luar cuaca sedang tak bersahabat. Bahkan sejak sore tadi langit sudah mulai gelap dan rintikan air hujan mulai membasahi bumi. Aku tetap keluar rumah sejak sore karena Mas Yuda yang meminta dan berpesan seperti itu. Aku yakin, Mas Yuda sedang mempersiapkan kejutan untukku. Kejutan yang benar-benar aku harapkan, nggak lain dan bukan adalah hari dimana yang selalu aku tunggu ketika Mas Yuda lebih memanjakan diriku. Mas Yuda belakang ini sering sekali sibuk dan keluar rumah padahal itu hari liburnya bekerja. Aku nggak punya alasan menahan Mas Yuda karena setiap kali aku tanya dia selalu bilang ada urusan kantor yang mendesak. Tentu saja aku percaya, karena dia adalah suamiku yang nggak pernah berbohong. Meski dingin menyapu seluruh kulitku dan rintikan hujan sampai membuat bajuku basah, aku tetap nggak peduli karena aku membayangkan saat pulang nanti Mas Yuda akan memeluk tubuhku dengan erat. Harapan itu adalah pemicu agar aku bisa menghilangkan rasa dingin yang menjalar di seluruh tubuhku. Aku nggak percaya dengan apa yang aku lihat. Mas Yuda sepertinya baru saja selesai dengan adegan panas mereka dan tubuhnya masih terlihat penuh dengan keringat. Wajahnya bahkan biasa saja saat melihatku di hadapannya. Hingga kue yang ada di kedua tanganku, yang sudah dibuka dari boxnya begitu saja terjatuh di lantai. “Oh, rupanya kamu sudah pulang, Amel!” kata Mas Yuda, wajahnya bahkan nggak menunjukkan rasa bersalah padaku. Sepertinya, itu memang benar-benar sudah direncanakan. “Apa maksudnya ini, Mas? Ke-–Kenapa kamu dengan Rania ada di ranjang kita?” tentu saja aku mengenal siapa wanita yang sedang bertelanjang bulat di samping tubuh suamiku dan duduk di tepi ranjang sambil membenahi rambutnya yang masih basah karena keringat pertempuran nya tadi. Mungkin itu adalah pertanyaan bodoh, jelas sekali aku tahu kalau suamiku sedang ena ena dengan anak dari teman ibu mertuaku. Aku mengenal Rania, dia pernah datang pada arisan keluarga beberapa bulan lalu. Aku nggak pernah menyangka kalau hari seperti ini akan terjadi pada diriku. Layaknya seperti sinetron unggulan televisi yang tayang istri yang teraniaya oleh anak arisan teman ibu mertuaku. Mas Yuda tiba-tiba saja mendekat dan satu tamparan keras langsung menyapa pipiku. Aku nggak tahu kenapa Mas Yuda menamparku. “A–ada apa Mas? Apa salahku?” suaraku bergetar dan leherku tercekik saking kagetnya. Harusnya aku yang marah, kenapa ini malah Mas Yuda. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ini kejutan yang mas Yuda rencanakan untukku? “Pikir saja pakai otakmu, Amel? Apa yang kamu lakukan? Hah! Kamu benar-benar menikmati waktu yang aku berikan dengan laki-laki itu kan?” tudung mas Yuda membuat tubuhku bergetar. Aku bingung dengan apa yang diucapkan Mas Yuda. Kenapa dia mengatakan hal seperti itu? “Aku? Aku kenapa, Mas? Memangnya aku kenapa?” Mas Yuda nggak menjawab, dia hanya berjalan ke dekat ranjang kami dan kembali dia melemparkan sesuatu ke wajahku. Aku semakin bingung? Aku merasa nggak melakukan satu kesalahan dan aku yakin pagi tadi kami masih baik baik saja. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku melihat beberapa lembar foto yang berserakan dekat kakiku. Aku berjongkok dan memungutnya. Melihat apa yang berada dalam foto tersebut. Mataku membulat nggak percaya dengan apa yang ada di dalam foto tersebut. Aku berada di dalam foto tersebut dalam kondisi nggak mengenakan pakaian dan dalam dekapan seorang laki-laki. Aku sendiri bahkan nggak sadar kalau pernah ada kejadian seperti itu. “Seharusnya kamu sudah tahu dong kenapa aku bersikap seperti ini. Ibarat kata, mata dibayar dengan mata dan kamu selingkuh dengan laki-laki lain, aku nggak salah dong kalau aku juga bersama dengan wanita lain. Toh, kamu itu juga nggak bisa memberikan yang aku mau,” suara Mas Yuda lantang penuh dengan kemarahan. Sepertinya, dia benar-benar serius dengan ucapannya.Beberapa bulan telah berlalu dengan cepat. Sampai tiba saatnya hari ini, rumah sakit terlihat lebih ramai dari biasanya. Zack sudah mondar-mandir sejak satu jam lalu di depan ruang pemeriksaan kandungan.“Duduk dulu, Tuan. Anda membuat saya ikut pusing,” tegur Leticia yang sejak tadi memperhatikan tingkah atasannya.“Duduk? Yang benar saja. Mana Aku bisa tenang?” ujar Zack yang sudah kebakaran jenggot saat ditegur oleh Leticia.“Ini hanya pemeriksaan rutin.” Tegas Leti lagi.“Justru itu,” jawab Zack cepat. “Kalau ada apa-apa bagaimana?” Leticia menyerah. Tidak ada gunanya berdebat dengan laki-laki yang sedang panik karena istrinya hamil.Di dalam ruang pemeriksaan, Aku justru terlihat santai sambil berbincang dengan dokter kandungan.“Jadi akhir-akhir ini mualnya masih sering?” tanya dokter sambil melihat hasil pemeriksaan sebelumnya. Aku mengangguk kecil.“Lumayan sering, Dok. Tapi, masih bisa ditahan.” Dokter tersenyum lalu mulai mengoleskan gel di perutku untuk pemeriksaan USG.
Zack bangun lebih pagi, dia mengatur ulang kondisi kediamannya. Banyak perintah yang dia keluarkan hanya untuk menjaga diriku.Tentu saja seperti yang dia katakan, bukan hanya Leticia atau Jimmy yang berjaga. Dia menambahkan beberapa pengawal untuk menjagaku. Hmm, lebih tepatnya bulan menjaga, itu adalah bagian dari sikap overprotektif nya.Aku sampai nggak habis pikir, baru saja pikiranku melayang sambil menggeleng kepala melihat Zack yang memerintah kesana-kemari.Kalau dibilang, itu seperti suasana pasar tradisional yang tiba-tiba pindah di kediaman mewah Zack.“Awas pelan-pelan, Sayang! Hati-hati!” aku terkejut saat mendengar suara panik Zack seperti kebakaran jenggot.Aku baru mengambil minuman kaleng dari lemari pendingin. Saking kesalnya, aku malah mendengus dan mendecakkan lidah.“Nggak usah lebay deh! Aku itu cuma ngambil minuman kaleng dari lemari pendingin, bukan angkat lemari pendinginnya!” Kakiku menghentak lagi di lantai.“Aduh-aduh, hey, pelan-pelan, hati-hati, jangan
“Kamu lucu banget Mas Yuda. Aku benar-benar nggak ngerti jalan pikiranmu!” Aku gak menggubris ucapan.Dulu hal yang aku inginkan adalah kepercayaan Mas Yuda. Mau aku menjelaskan semua tuduhan malam itu, Mas Yuda tetap saja nggak mempercayaiku. Jadi, seharusnya saat ini aku nggak dibilang sedang bersikap kejam kan? Aku hanya ingin membalas semua rasa sakitku. Aku nggak membalas mereka, tapi Tuhan memang benar-benar adil. Tanpa diminta dia akan melakukan pembalasan sesuai dengan jalannya. Dan aku, layaknya sebagai penonton, kali ini hanya bisa menatap. Aku pergi meninggalkan mereka. Tidak ingin lagi merasa terbebani oleh permintaan maaf Mas Yuda. Anggap saja semua itu memang karma mereka. Kalau aku bisa melewatinya, harusnya Mas Yuda sebagai laki-laki, bisa melewati semuanya.Aku nggak menoleh lagi, mungkin saja saat itu Mas Yuda sedang melihat punggung kepergianku bersama dengan seorang laki-laki dan tentu saja orang-orang yang disiapkan oleh Zack untuk melindungiku. Zack bisa dibi
“Kalian sudah selesai?” Zack terkejut saat dia membuka pintu, Jimmy dan Adolf sudah di hadapannya. Tak lupa Donna yang dijemput Leticia juga sudah dihadapannya.“Sedang apa kalian disini? Kalian sedang menguping!?” dengus Zack.“Seharusnya ini tidak dibilang menguping. Kau saja yang tidak tahu malu. Itu ruangan pribadiku, sekarang menjadi tercemar karena ulahmu!” Jimmy gak peduli lagi kalau Zack akan memarahinya.“Apa kau bilang?” Zack malah membulatkan matanya dengan lebar.“Sudahlah. Aku tidak bilang apapun. Anggap saja kau salah mendengar!” dengus Jimmy lagi.Aku menepuk punggungnya Zack supaya dia memberikan aku jalan, ‘Maaf sayang, ini semua karena ulahnya. Dia mengomel!” Zack seperti anak kecil yang mengadu.Adolf pura-pura nggak mendengar. Akhirnya Jimmy hanya bisa meremas rambutnya yang tidak gatal.Aku melihat Donna, “Donna!” teriakku. Mendorong pelan tubuh Zack dan memeluk Donna.Donna sedikit melirik Zack, dia juga takut kalau-kalau Zack marah dan menembaknya hanya karena a
Zack terlihat puas dengan kejadian tadi. Dia bahkan gak menyangka kalau aku bersikap manja seperti tadi.“Kamu masih marah, Zack?” aku meliriknya karena ekspresi sekarang sedikit berbeda.“Kau ingin aku marah?” aku menggeleng, “kamu benar-benar mengenal orang tadi?” aku malah bertanya balik.“Kau t
Zack menarik pinggangku agar lebih mendekat.“Aku ingin sendiri!” kataku sedikit menolak tangannya yang menarik pinggang.Zack hanya mendengus kecil dan melonggarkan tangannya, tapi tetap tangannya ada di pinggang.“Tuan, obat nyonya Amel!” kata Adolf saat sampai di kediamannya. Dia benar-benar gak
“Kamu gak mau coba ini?” aku baru saja menggigit salah satu camilan yang aku beli, tapi Zack terus menatapku. Jadi, aku mengarahkan cemilan tadi ke dekat mulutnya.Adolf melirik dari spion, dia tahu tuannya gak akan suka makanan manis dan bekas gigitan orang lain. Dia hanya ingin memastikan apakah
“Em, belum sih, cuma mas Yuda bilang, dia besok mau urus surat-surat pernikahan kita. Aku pengen banget mas Yuda merayakan pernikahan kami dengan megah,” kata Rania.Jose manggut-manggut, “Jadi, kita mau benerin yang mana dulu?” tanya Jose, dia harus segera menyelesaikan tugas-tugas utama dahulu se
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.