Share

11. Diperdaya Jihan

Amin menutup kios bengkelnya, setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Ia mau bersiap-siap mandi, lalu melaksanakan sholat magrib berjama'ah di masjid. Untung saja, saat akan tutup memang belum ada kustomer lagi. Paling akhir tadi diisi oleh Mbak Nengsih yang minta dibenarkan rem motornya yang macet. 

Sebelum menurunkan rolling door, Amin kembali menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada kustomer yang mampir lagi. Benar saja, jalanan ramai lalu lalang kendaraan, tetapi sepertinya memang tak ada pelanggan lagi. 

Ggrree

Suara rolling door diturunkan, tak lupa Amin mengunci pintu kiosnya. Halaman depan kios memang tak terlalu banyak sampah, sehingga Amin tak perlu menyapu halaman, cukup memunguti sampah daun dan bungkus makanan yang berserakan tidak terlalu banyak.

"Bang Amin," suara merdu seorang wanita yang ia cintai, tiba-tiba saja terdengar begitu dekat di telinganya. Amin menoleh, lalu memberikan senyum terbaiknya pada Jihan.

"Ada apa, Dek Jihan? Maaf, Abang gak balas pesan Dek Jihan, karena memang belum isi pulsa," terang Amin jujur, agar Jihan tak merasa kecewa pada dirinya.

"Gak papa, Bang. Saya cuma lagi sedih saja." Raut wajahnya ia buat sekusut mungkin agar Amin iba.

"Sabar, Dek. Wanita yang baik, hanya untuk lelaki yang baik. Bisa saja, Mas Edo memang tidak baik, untung Tuhan menunjukkannya sekarang, bagaimana nanti kalau sudah menikah, lebih susah lagi. Sabar ya, Dek Jihan." Amin memang merasa iba, apalagi tiba-tiba Jihan meringis, seperti memaksakan sesuatu. 

"Ada apa, Dek? Apa yang sakit?" tanya Amin khawatir. 

"Sial! Mana sih nih air mata, gue ampe ngeden-ngeden gini, gak keluar juga." Jihan bermonolog. Wajahya menunduk, sambil berusaha memaksakan air mata untuk keluar.

"Sudah, sabar ya. Ada Abang di sini yang akan senang mengibur Jihan. Mm ... kalau Jihan mau, Abang juga bisa menjadi pengganti Edo. Bagaimana?" tanya Amin, entah dari mana berasal keberaniannya. Jihan yang tadinya menunduk, kini perlahan menganggkat wajahnya, menatap wajah Amin dengan sendu, padahal di dalam hatinya, begitu malas melihat wajah Amin seperti ini, ditambah rambut klimis Amin yang membuatnya ingin muntah saja.

"Benar Bang Amin mau jadi pacar saya?" tanya Jihan berpura-pura malu.

"I-iya, Dek. Abang janji, akan memberikan yang terbaik untuk Jihan dan gak akan selingkuh," ujar Amin mantap sambil mengulas senyum penuh rasa bahagia.

"Ya udah, Jihan pikirkan dulu ya, Bang, karena Jihan masih sedih. Malam minggu depan, Jihan kasih jawabannya," sahut Jihan kembali berpura-pura kebingungan.

"Alhamdulillah, semoga jawabannya iya," timpal Amin sungguh tak sabar.

"Abang udah mau pulang ya?"

"Iya, Dek. Mau sholat magrib di masjid."

"Nanti malam, kalau Jihan WA berarti Bang Amin gak bisa balas dong." Wanita itu kini cemberut.

"Eh, iya ya. Ya sudah, nanti Abang isi pulsa."

"Sini uangnya! Biar saya yang belikan Abang pulsa," kata Jihan sambil menengadahkan tangannya. Amin tentu saja mengangguk, lalu mengeluarkan uang lima puluh ribu untuk Jihan.

"Paketan smart****d yang sepuluh GB saja, Dek. Kembalian lima ribu buat Jihan saja nanti."

"Oke, Bang. Jihan ke tukang pulsa dulu ya." Tanpa menunggu Amin menjawab, Jihan sudah ngacir berlari meninggalkan Amin yang memekik senang dalam hati. Sungguh ia harus sujud sukur, begitu ia jadian dengan Jihan.

Semangatnya menggebu, melangkah pulang dengan hati penuh rasa gembira. Akhirnya, setelah hidup selama dua puluh tujuh tahun, ia akhirnya sebentar lagi, ia memiliki pacar perawan.

"Pulang Bang Amin," tegur Mbak Katini, saat Amin melewati depan kontrakan Mbak Katini.

"Eh, iya Mbak. Mari," sahut Amin sambil mengulas senyum manis.

"Eh, tunggu Bang!"

Langkah Amin terhenti, nampak Mbak Katini tergopoh masuk ke dalam rumahnya, lalu tak lama keluar lagi dengan membawa piring berisikan pisang goreng.

"Buat ngemil nanti malam, Bang," katanya sambil menyodorkan piring itu pada Amin.

"Ya Allah, jadi merepotkan Mbak. Makasih banyak ya," kata Amin yang tentu saja merasa senang, karena lagi-lagi hari ini ia tidak perlu membeli makanan. Hasil yang didapatnya hari ini utuh, empat ratus ribu rupiah, dikurangi tadi lima puluh ribu untuk membeli pulsa.

"Gak repot kok, Bang. Dimakan ya, Bang. Pasti enak. Saya jagonya mengolah pisang loh," ujar Mbak Katini dengan wajah bersemu merah.

"Baik, Mbak. Makasih ya, saya pamit dulu. Sudah mau magrib." Amin berjalan dengan membawa piring Mbak Katini. Masih seratus meter lagi berjalan lurus, lalu belok kiri, setelah itu sampai di rumah kontrakannya.

Begitu sampai di rumah, tempat yang pertama kali ia masuki adalah kamar mandi. Tubuhnya serasa segar setelah mandi dan keramas. Tak lupa ia pun berwudhu untuk bersiap sholat magrib.

Baju koko putih, sarung kotak-kotak coklat, serta peci hitam, menjadi pilihannya untuk ke masjid sore ini. Sekilas ia melirik ponselnya, mengecek apakah pulsa yang dititip belikan oleh Jihan sudah masuk, ternyata belum, padahal sudah setengah jam yang lalu. Amin mengulas senyum, bisa saja tidak langsung masuk memang, dia pun saat membeli pulsa seperti itu. Tidak langsung masuk.

Suara adzan pun berkumandang, Amin bergegas keluar rumah, saat akan mengunci pintu rumah, ia melirik sekilas ke rumah Pak RW, tak ada tanda-tanda Jihan sudah pulang, karena sandal yang tadi Jihan pakai, tidak ada di sana.

Amin pun berjalan ke masjid yang letaknya persis di depan jalan masuk Gang Mawar. Untunglah ia tidak tertinggal sholat. Amin dapat melaksanakan sholat dengan khusuk.

Selesai sholat, Amin pun hendak langsung pulang. Ia bersiap untuk saling berbalas pesan dengan Jihan, sambil menikmati pisang goreng buatan Mbak Katini. 

Sesampainya di depan rumah, Amin kembali menoleh ke rumah Jihan, hanya ada Bu RW di sana, sedang berbincang dengan Bu Abdul.

"Permisi, Bu.Jihannya ada gak, Bu?" tanya Amin pada Bu RW.

"Gak ada, belum pulang dari sore. Katanya makan bakso sama Edo," jawab Bu RW, lalu menyambung kembali obrolannya dengan Bu Abdul.

"Oh, makasih Bu."

Perasaan Amin menjadi tak enak. Kenapa masih makan bakso dengan Edo? Amin bermonolog.  Ia masuk ke dalam rumah, lalu mengganti pakaian. Berkali-kali, ia membuka ponselnya, menunggu pulsa yang akan dibelikan oleh Jihan. Namun, tak kunjung juga ada pesan tanda pulsa sudah diisi.

Amin pun memencet tombol informasi pulsa. Benar saja, pulsa internetnya 0 GB, sedangkan pulsa teleponnya 0 rupiah. 

"Aduh, masa sih Jihan tega mengerjaiku lagi," gumam Amin sambil meremas rambutnya dengan kasar. 

Bolak-balik ia masuk ke dalam rumah, lalu keluar rumah, duduk di teras. Sungguh malam yang tak tenang, karena Jihan belum juga menampakkan batang hidungnya. Pisang goreng di atas piring buatan Mbak Katini, kini tak lagi selera untuk disantap, karena hatinya yang benar-benar gundah.

Beep

Beep

["Bang Amin, maafin Jihan. Voucher pulsa internet Bang Amin jatuh, saat saya mampir beli gorengan tadi. Gimana dong, Bang? Maaf ya, besok minta saja sama Mama Jihan."]

Bahu Amin melorot, "ya Allah, ada-ada saja. Kenapa selalu berakhir tidak beres seperti ini sih?" gumamnya lagi dengan kesal. Dihentakkannya tubuhnya kasar di atas kasur busa single miliknya, memandang langit-pangit kamar yang kini seakan mengejek kesialannya yang terus menerus.

Beep

Beep

["Bang Amin, coba cek pulsa. Saya salah nomor, saat isi pulsa. Malah ke nomor Abang, tapi gak papa, itu tandanya rezeki Abang. Gak usah diganti."]

["Ririn."]

0857899XXXX.

Dengan gemetar, Amin memencet tombol pengecekan pulsa. Amin merasa begitu gembira, saat melihat saldo pulsanya ada lima puluh ribu. Lekas ia membalas pesan dari Ririn.

["Terimakasih banyak, Bu. Besok mampir ke bengkel ya, saya traktir soto."]

Amin mendekap ponselnya, sambil mengulum senyum senang.

*****

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Winda Oktaviani
kesal aku sama di jihan cuman manfaatin si Amin doang mudahan dapat karmanya deh ditinggal sama si Edo 😡😡😡
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status