Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 107 Tanpa Masa Lalu 

Share

Bab 107 Tanpa Masa Lalu 

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-08-22 17:27:41

"Kamu masih di situ?" tanya Hendra, memecah keheningan setelah Malik tidak langsung merespons.

Malik menghela napas panjang, melangkah keluar dari kamar tidur menuju balkon agar suaranya tidak terdengar sampai ke telinga Nindy. "Hendra, aku mau minta sesuatu."

"Minta apa?" tanya Hendra penasaran.

"Tahan dulu," ucap Malik pelan, suaranya berat mengucapkan kalimat itu. "Jangan dibuka isinya, jangan dikirim apa pun ke aku sampai hari Senin."

Hendra terdiam sejenak di ujung telepon, jelas terkejut
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 209 Nggak Sabar

    "Pelan," ucap Malik, kedua tangannya mengeras di punggung istrinya."Iya, pelan. Gini, tarik napas dulu, ikutin aku," jawab Nindy, lalu bergerak naik sedikit dan turun lagi, tempo yang sama berulang-ulang, sampai bahu Malik yang tegang mengendur di bawah dahinya.Malik menciumi leher istrinya sambil sesekali menggumamkan namanya."Hangat banget," bisik Malik di kulit lehernya."Sstt, rasain aja," balas Nindy, menempelkan pipinya di rambut Malik dan menggerakkan pinggulnya dengan lingkaran kecil yang lebih lambat dari sebelumnya."Di situ," bisik Malik."Di sini?" tanya Nindy."Iya, jangan diganti," jawab Malik, jarinya mengeratkan pegangan di pinggang istrinya.Napas Nindy mulai putus di tengah gerakannya. Satu tangannya naik ke belakang kepala Malik, menahan, sementara tangan lain bertumpu di bahu suaminya, dan dia bergerak sampai paha kirinya bergetar. Ketika tubuhnya mengejang pelan, dia menggigit bibir bawahnya dan menempelkan wajahnya ke bahu Malik, dan Malik menyusul beberapa ge

  • Dok, Please Cukup!   Bab 208 Biar Aku

    "Kenapa diem?" tanya Nindy."Soalnya Om Bram tahu empat belas minggu, dan aku nggak tahu dia tahu dari siapa. Aku jawab sehat, cuma itu," jawab Malik.Gelas air di depan Malik dia putar setengah putaran, lalu dia putar lagi. Kemudian, tanpa mengangkat mata dari gelas itu, dia melanjutkan, "Skorsing itu udah lewat, aku nggak takut lagi sama itu. Yang bikin aku takut, orang itu tahu persis kapan harus nyerang, dan tahu persis apa yang paling gampang diambil dari aku."Nindy membalik struk belanja pasar yang terselip di bawah toples gula, mengambil pulpen dari dekat buku resep, lalu menarik kursinya lebih dekat ke meja."Aku nggak mau denger yang kamu takutin lagi. Sekarang sebutin yang masih aman, satu-satu," ucap Nindy, ujung pulpennya sudah menempel di kertas."Surat penolakan direktur," jawab Malik, menunjuk map di bawah tangan istrinya.Nindy menulis satu baris dan mengangkat dagu. "Terus?""Kunci gembok, di lemari Ratih, dan kunci lemarinya dikalungin Ratih sendiri," ucap Malik, ka

  • Dok, Please Cukup!   Bab 207 Cuma Nasi

    Nindy mengambil ponselnya, lalu mengelilingi meja untuk memotret kotak-kotak itu dari atas, dari samping, dan dari ujung meja dengan badan merendah. Hampir lima menit dia habiskan begitu, bahkan sempat menggeser dua kotak supaya cahaya lampu dapur jatuh pas di ayamnya."Itu cuma nasi, Bu, difoto lima menit juga rasanya sama," ucap Bi Inah, menertawakannya sampai bahunya naik turun di depan bak cuci."Buat portofolio, Bi. Siapa tahu ada yang mau pesen lagi," jawab Nindy, menunduk lagi ke layar.Bi Inah masih terkekeh ketika menggosok wajan terakhir dan menaruhnya di rak. Sesudah itu dia mengelap tangan, mengambil dua sendok dari laci, dan menarik kursi di seberang Nindy.Panci ayam bumbu rujak yang tersisa di tengah meja masih mengepul tipis. Satu sendok dia sodorkan ke Nindy, lalu mereka sama-sama menyendok kuah dan sisa ayam dari dasar panci.Dapur itu masih berantakan. Kulit bawang tercecer di lantai, tiga panci berminyak menumpuk di sebelah bak cuci, dan taplak meja penuh bercak bu

  • Dok, Please Cukup!   Bab 206 Masak

    "Itu pegangnya salah, Bu. Pisau dipegang dari pangkal bilah, jempol sama telunjuk njepit, jangan di ujung gagang kayak megang pensil. Kalau gitu terus, tangan Ibu capek sebelum bawangnya habis," ucap Bi Inah, menggeser jari-jari Nindy satu per satu.Nindy mengikuti arahan itu dan irisannya langsung jadi lebih rata. Bawangnya dia tumpuk di piring, sambil sesekali melirik ke belakang untuk memastikan Bi Inah sudah puas.Ponsel di dekat gelas bergetar sekali, dan Nindy menyambarnya sebelum getarannya berhenti. Layarnya cuma menampilkan pengumuman dari grup kelas prenatal, jadi dia membalik ponsel itu menghadap meja."Dari tadi dilirik terus, Bu. Nanti irisannya miring semua," ucap Bi Inah."Lagi nunggu kabar dari Malik, Bi. Siang tadi dia dipanggil direktur rumah sakit," jawab Nindy, mengambil bawang berikutnya.Bi Inah mengangkat ayam dari panci dengan penjepit dan menaruhnya di piring besar. "Pak Malik itu kalau ada kabar pasti ngabarin, Bu. Dari kecil udah gitu, kabar baik atau jelek

  • Dok, Please Cukup!   Bab 205 Diserang Jalur Donor

    Malik menghabiskan tehnya sampai tinggal ampas di dasar cangkir, lalu menaruhnya di sebelah map. Di dinding belakang, jarum jam menunjuk lewat sedikit dari setengah dua."Salinan itu boleh saya teruskan ke pengacara saya, Pak?" tanya Malik, menarik map itu sedikit mendekat."Silakan, itu hak kamu. Suruh dia simpan baik-baik, soalnya kalau ada yang mau mengklaim perkara ini nggak pernah ditolak, kamu punya buktinya," jawab Handoko.Handoko membetulkan letak kacamatanya. "Istrimu sehat?"Malik menjawab setelah jeda yang cukup untuk membuat Handoko mengangkat alis. "Sehat, Pak.""Syukurlah. Satu hal lagi sebelum kamu keluar. Kamu lagi berurusan sama keluargamu sendiri?" tanya Handoko, kali ini memandang Malik tanpa berkedip."Iya, Pak," jawab Malik, menatap lurus ke meja.Handoko mengangguk sekali, lalu menggeser cangkirnya ke pinggir meja tanpa bertanya apa pun lagi.Map cokelat itu ditarik ke depannya. Dari saku kemeja, Handoko mengeluarkan pulpen hitam, membuka salinan surat di dalamn

  • Dok, Please Cukup!   Bab 204 Peringatan

    Surel dari kesekretariatan direksi dibalas Malik dengan satu kata, bersedia, sesudah Hendra pamit ke notaris. Sisa waktunya dia habiskan di ruang praktik 302, membaca ulang catatan pasien kontrol sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangan. Pukul satu kurang lima, Malik keluar dari lift di lantai lima dan menyusuri koridor berkarpet abu-abu.Meja sekretaris di depan pintu paling ujung kosong, hanya ada kotak makan siang yang tutupnya sudah dibuka separuh. Malik berdiri di depan pintu itu sebentar, merapikan kerah kemejanya, lalu mengetuk.Suara laki-laki yang berat dari dalam menyuruhnya masuk.Ruang direktur itu jauh lebih sederhana daripada bayangan Malik. Isinya cuma meja kayu dengan tumpukan map yang tertata rapi, dua lemari berkas di dinding kiri, dan satu foto angkatan dokter yang sudah menguning di dinding belakang. Direktur rumah sakit itu berdiri dari kursinya, menjabat tangan Malik, lalu menunjuk kursi di seberang meja.Selagi Malik duduk, Handoko berjalan ke sudut rua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status