Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 108 Berkas Berinisial

Share

Bab 108 Berkas Berinisial

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-08-22 17:28:24

Setelah dinding selesai dicat, Malik beralih ke rak buku kecil yang perlu dipasang di sudut ruangan. "Ini gampang, aku bisa pasang sendiri," ucapnya percaya diri, meraih obeng dari kotak perkakas.

Nindy memperhatikan dengan geli, menyaksikan Malik berjuang memasang rak itu selama hampir dua jam, dengan hasil akhir yang miring beberapa derajat dari seharusnya.

"Malik, itu miring," tunjuk Nindy sambil menahan tawa.

Malik memiringkan kepalanya, mencoba melihat dari sudut lain seolah itu bisa mengu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 108 Berkas Berinisial

    Setelah dinding selesai dicat, Malik beralih ke rak buku kecil yang perlu dipasang di sudut ruangan. "Ini gampang, aku bisa pasang sendiri," ucapnya percaya diri, meraih obeng dari kotak perkakas.Nindy memperhatikan dengan geli, menyaksikan Malik berjuang memasang rak itu selama hampir dua jam, dengan hasil akhir yang miring beberapa derajat dari seharusnya."Malik, itu miring," tunjuk Nindy sambil menahan tawa.Malik memiringkan kepalanya, mencoba melihat dari sudut lain seolah itu bisa mengubah kenyataan bahwa rak itu memang tidak lurus. "Ini... ini gaya artistik.""Panggil tukang aja, Malik," saran Nindy sambil tertawa lepas, tidak bisa lagi menahan geli melihat usaha suaminya yang gagal total.Malik akhirnya menyerah, menelepon tukang langganan gedung untuk membetulkan pemasangan rak tersebut, sambil terus merengut kesal mendengar tawa Nindy yang tidak berhenti menggodanya.Setelah itu, mereka pun menjalankan aktivitas harian hingga sore, sampai akhirnya bel berbunyi dua kali dal

  • Dok, Please Cukup!   Bab 107 Tanpa Masa Lalu 

    "Kamu masih di situ?" tanya Hendra, memecah keheningan setelah Malik tidak langsung merespons.Malik menghela napas panjang, melangkah keluar dari kamar tidur menuju balkon agar suaranya tidak terdengar sampai ke telinga Nindy. "Hendra, aku mau minta sesuatu.""Minta apa?" tanya Hendra penasaran."Tahan dulu," ucap Malik pelan, suaranya berat mengucapkan kalimat itu. "Jangan dibuka isinya, jangan dikirim apa pun ke aku sampai hari Senin."Hendra terdiam sejenak di ujung telepon, jelas terkejut dengan permintaan itu. "Malik, kamu yakin? Ini informasi yang kamu tunggu-tunggu.""Aku yakin," jawab Malik tegas, meski hatinya sendiri bergejolak mengucapkan kalimat itu. "Nindy baru aja kambuh subuh tadi, Dokter Ratna udah kasih peringatan keras. Aku nggak mau bawa info baru sebelum kami berdua siap.""Oke, Malik. Saya tahan dulu sesuai permintaan kamu," jawab Hendra akhirnya, menghormati keputusan itu meski jelas tidak sepenuhnya setuju.Setelah menutup telepon, Malik berdiri sendirian di ba

  • Dok, Please Cukup!   Bab 106 Pencarian Berhenti

    Malik mengikuti Dokter Ratna masuk ke ruang periksa, mendapati Nindy sudah duduk di ranjang periksa dengan wajah yang masih pucat tapi sudah lebih tenang dari sebelumnya. Dokter Ratna duduk di kursinya, menatap keduanya bergantian dengan raut yang tegas."Saya mau ngomong terus terang," ucap Dokter Ratna, suaranya lugas tanpa basa-basi. "Ini kedua kalinya dalam dua minggu terakhir Nindy kambuh gara-gara stres. Kalian berdua harus sadar, ini bukan main-main."Nindy menunduk, merasa bersalah mendengar teguran itu. Malik berdiri di samping ranjang, rahangnya mengeras menahan rasa bersalah yang sama besarnya."Saya nggak mau nakut-nakutin kalian," lanjut Dokter Ratna, "tapi saya juga nggak mau basa-basi. Gejolak emosi berturut-turut kayak yang kalian alamin seminggu terakhir ini punya risiko nyata buat trimester pertama. Bisa micu kontraksi dini, bisa juga ganggu perkembangan janin kalau dibiarin terus.""Kami ngerti, Dokter," jawab Malik pelan, suaranya menyimpan penyesalan yang dalam."

  • Dok, Please Cukup!   Bab 105 Dia Masih Hidup 

    Nindy mengernyit, mencoba mencerna kalimat itu. "Maksudnya gimana? Kalau dia ayah biologisku, harusnya dia tahu.""Itu keputusan saya sendiri, Nindy," jawab Rania, suaranya mulai bergetar. "Bukan keputusan Wisnu, bukan juga keputusan Suryani. Saya yang mutusin dia nggak pernah tahu."Malik yang sejak tadi diam akhirnya bertanya, suaranya penuh rasa ingin tahu yang sama besarnya dengan Nindy. "Kenapa kamu ambil keputusan sebesar itu sendirian?"Rania menatap kedua tangannya, meremas ujung kebayanya perlahan. "Itu bagian dari cerita yang belum bisa saya sampaikan sekarang."Nindy menghela napas frustrasi, tapi mencoba mengingat pesan ayahnya di surat pertama—jangan benci siapa pun sebelum ceritanya utuh. "Terus siapa namanya?"Rania menggeleng pelan, tetap menolak. "Saya belum bisa kasih tahu namanya, Nindy."Kekecewaan itu terasa nyata, tapi kali ini Nindy tidak meledak seperti sebelumnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan diri dengan susah payah."Kalau gitu," ucap Nindy pelan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 104 Penderitaan Lain

    Rania melangkah masuk perlahan, matanya menyapu ruang tengah apartemen yang rapi dan hangat. Ia duduk di kursi yang ditawarkan, tapi belum sempat ia benar-benar nyaman di posisinya, tangannya sudah bergerak membuka tas kecil itu.Ia mengeluarkan sebuah amplop, tulisan tangan yang berbeda dari yang sebelumnya tertera di permukaannya. Rania meletakkan amplop itu di meja, mendorongnya perlahan ke arah Nindy."Ini surat dari Bapak kamu," ucap Rania pelan. "Wisnu nitipin ini ke saya, dengan satu syarat. Cuma boleh saya kasih kalau kamu sendiri yang manggil saya dateng."Nindy menatap amplop itu, tulisan tangan ayahnya yang begitu ia kenali membuat dadanya terasa sesak seketika.Bi Inah masuk sejenak membawakan teh, meletakkannya di meja tanpa banyak bicara, lalu Malik memintanya pulang lebih awal hari itu dengan gaji penuh. Begitu pintu tertutup di belakang Bi Inah, Malik mengunci pintu utama dari dalam, lalu menyenyapkan ponselnya sendiri."Kenapa dikunci, Malik?" tanya Nindy, matanya mas

  • Dok, Please Cukup!   Bab 103 Aku Yang Gerak

    Maka, saat Rabu pagi tiba, Eleanor sudah pulang semalam setelah menjelaskan sejauh yang dia ingat—waktu Bahar menyodorkan berkas tekanan untuk Wisnu, ada satu map yang Eleanor tolak baca karena isinya bukan urusannya, dan yang tersisa di ingatannya cuma dua huruf di judul map itu. Dia tidak tahu isinya, tidak tahu siapa orangnya.Nindy duduk di meja makan, menatap Malik yang baru saja meletakkan ponselnya setelah menelepon Hendra dengan pengeras suara menyala. "Jadi Hendra bilang apa?""Semua dokumen Bahar udah disita sebagai barang bukti," jawab Malik, mengulang penjelasan Hendra barusan. "Akses ke salinannya butuh izin penyidik. Prosesnya beberapa hari, nggak bisa dipercepat."Nindy menghela napas, mengaduk kopinya tanpa benar-benar meminumnya. "Beberapa hari itu lama banget, Malik. Aku udah nggak sabar.""Aku ngerti kamu pengin cepat," ucap Malik pelan, menggenggam tangan istrinya di atas meja. "Tapi kita juga harus mikirin risiko kesehatan kamu. Setiap kali ada info baru, kamu lan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status