Startseite / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 173 Cerita Bi Inah

Teilen

Bab 173 Cerita Bi Inah

last update Veröffentlichungsdatum: 25.09.2026 00:43:33

Nindy menegakkan punggungnya dan menjawab, "Besok pagi aku yang nanya. Di dapur, sambil bantuin dia ngupas bawang kayak biasa. Nggak ada Hendra, nggak ada laptop. Aku juga nggak mau nyiapin kalimat apa-apa malam ini."

"Kalau dia nangis?" tanya Malik.

"Aku ambilin tisu," jawab Nindy.

Malik tertawa pendek lewat hidung, lalu mengangguk. Dia mengangkat laptopnya dari meja, membawanya ke rak buku di ruang tengah, dan menyelipkannya di samping kotak kayu berukir.

Sekembalinya ke dapur, Malik langsung
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Dok, Please Cukup!   Bab 175 Bungkusan Titipan

    Nindy meletakkan tangannya di atas punggung tangan Malik yang terkepal di meja."Maaf, Bi. Beneran," ucap Malik, suaranya turun.Bi Inah mengibaskan tangan kanannya di depan wajah, dua kali, gerakan yang sama seperti waktu dia mengusir lalat dari atas cucian piring."Udah, Pak, udah. Wajar Bapak mikir gitu, orang Pak Bahar itu bikin susah keluarga Bapak. Saya juga nggak pernah cerita apa-apa, salah saya juga."Hidung Bi Inah kemudian bergerak mengendus udara. Dia menoleh ke arah dapur, dan keningnya berkerut."Itu supnya matiin dulu, Pak. Airnya udah mau abis, nanti pancinya gosong. Itu panci kesayangan Ibu Eleanor," ucap Bi Inah.Malik berdiri cepat, hampir menyenggol kursinya sendiri, lalu berjalan ke dapur dan mematikan kompor. Dia mengangkat tutup panci. Kuahnya tinggal setengah, dan dasar panci mulai kelihatan di pinggirnya.Nindy tertawa pelan dari kursinya. Bi Inah ikut tersenyum, lalu mendorong bungkusan kain itu sejengkal ke arah Nindy."Ibu yang nanya duluan tadi, jadi ini b

  • Dok, Please Cukup!   Bab 174 Salah Paham

    "Udah, Pak. Saya yang gendong Bapak pertama kali pulang dari rumah sakit, soalnya Ibu masih lemes di mobil," jawab Bi Inah.Nindy melirik suaminya. Telinga Malik mulai memerah.Bi Inah mengusap ujung taplak plastik dengan jarinya, merapikan lipatan yang sebenarnya sudah rapi. Senyumnya muncul pelan di sudut bibir."Dulu Bapak itu anaknya pinter ngumpet. Tiap Selasa sore, guru les pianonya dateng, Bapak langsung ilang. Satu rumah nyariin. Taunya Bapak meringkuk di bawah meja makan, ketutup taplak yang panjang sampai lantai."Nindy menutup mulut dengan punggung tangan. Bahunya bergetar menahan tawa."Itu cuma sekali dua kali," ucap Malik, menggaruk belakang lehernya.Mendengar itu, Bi Inah langsung menggeleng dan menjawab, "Hampir dua tahun, Pak. Sampai Ibu nyerah terus gurunya diberhentiin."Tawa Nindy akhirnya keluar. Dia menepuk lengan suaminya dua kali, dan Malik menatap langit-langit sambil menghembuskan napas lewat mulut."Terus apa lagi, Bi?" tanya Nindy, menyeka sudut matanya."

  • Dok, Please Cukup!   Bab 173 Cerita Bi Inah

    Nindy menegakkan punggungnya dan menjawab, "Besok pagi aku yang nanya. Di dapur, sambil bantuin dia ngupas bawang kayak biasa. Nggak ada Hendra, nggak ada laptop. Aku juga nggak mau nyiapin kalimat apa-apa malam ini.""Kalau dia nangis?" tanya Malik."Aku ambilin tisu," jawab Nindy.Malik tertawa pendek lewat hidung, lalu mengangguk. Dia mengangkat laptopnya dari meja, membawanya ke rak buku di ruang tengah, dan menyelipkannya di samping kotak kayu berukir.Sekembalinya ke dapur, Malik langsung membuka handuk di sekeliling panci dan mengangkat tutupnya. Supnya sudah dingin, lapisan minyak tipis mengapung di permukaan."Aku panasin ulang," ucap Malik, menyalakan kompor.Nindy menarik kursi makan lebih dekat ke dapur dan duduk menghadap suaminya. Malik mengaduk sup pelan, mencicipinya dari sendok, lalu mengambil toples garam dari rak."Jangan ditambah garam, Bi Inah udah pas masaknya," ucap Nindy."Udah dingin, rasanya jadi hambar," balas Malik, sudah menjumput sedikit garam di antara j

  • Dok, Please Cukup!   Bab 172 Maunya Gimana?

    Malik menepuk pahanya sendiri dua kali, kebiasaan yang selalu muncul kalau dia butuh pegangan sebelum bicara. Tangan kanannya kemudian pindah ke atas persneling dengan telapak terbuka."Pegang tangan aku," pinta Malik.Nindy menaruh botol di kantong pintu lalu menautkan jarinya di sela jari Malik. Tiap kali Malik memindahkan gigi, tangan Nindy ikut bergerak karena tidak dia lepas.Di dalam tol, papan hijau lewat satu per satu. Sedan Hendra masih di jalur yang sama, dua mobil di belakang mereka.Hampir setengah jam berlalu tanpa percakapan. Tangan mereka tetap bertaut di atas persneling sampai telapak Nindy mulai berkeringat.Papan gerbang tol keluar mulai kelihatan. Malik pindah ke lajur kiri, menurunkan kecepatan, lalu duduk lebih tegak."Siapa aja yang tiap hari masuk ke dalam unit kita?" tanya Malik.Nindy melepas tangannya dan menaruhnya di pangkuan. Dia menghitung pelan sambil menekuk jari satu per satu: tukang parkir basemen, petugas kebersihan lorong, resepsionis lobi. Mereka s

  • Dok, Please Cukup!   Bab 171 Makasih

    Setengah jam sebelum waktu kunjungan habis, Malik sudah berdiri di samping mobil. Punggungnya bersandar ke pintu kemudi, kedua tangannya terlipat di dada.Area parkir itu hampir kosong. Selain mobil mereka dan sedan hitam Hendra, cuma ada dua motor dan satu angkot yang sopirnya tidur di kursi depan dengan topi menutup muka. Pohon ketapang di dekat pos satpam memberi teduh, tapi Malik tetap berdiri di bawah matahari karena dari situ gerbang besi kelihatan paling jelas.Jam tangannya dia lirik setiap beberapa menit. Tiap kali gerbang terbuka dan yang keluar orang lain, dia menurunkan tangannya dari dada, menggosok tengkuk, lalu melipat tangannya lagi. Kemeja birunya sudah basah di bagian punggung.Satpam di pos sempat keluar sekali untuk menawarinya duduk di bangku kayu. Malik menolak dengan anggukan sopan, lalu kembali menatap gerbang.Jam sebelas lewat lima, gerbang itu terbuka lagi. Nindy keluar lebih dulu, tas kecilnya sudah kembali tersampir di bahu, dan Hendra menyusul beberapa la

  • Dok, Please Cukup!   Bab 170 Nggak Ada yang Curiga

    "Siapa yang minta dibuat?" tanya Hendra, matanya tidak berpindah dari wajah Bahar."Suami Eleanor sendiri," jawab Bahar. "Mendiang."Nindy menegang mendengar itu, tangannya tetap diam di pangkuan, tapi napasnya sedikit tertahan, karena nama itu keluar begitu ringan dari mulut laki-laki di depannya, seolah dia sedang menyebut nama tetangga biasa."Dia minta apa?" lanjut Hendra."Cari anaknya," jawab Bahar, "cuma itu. Nggak ada permintaan lain. Dia dateng sendirian, nggak ngasih tahu istrinya."Hendra menulis cepat, jarinya menggores kertas dalam garis-garis singkat, dan Bahar melanjutkan tanpa perlu didesak lagi, seolah pintu yang sudah terbuka sejak jawaban pertamanya tidak lagi bisa dia tutup sendiri."Pencariannya jalan tiga bulan," ucap Bahar, "terus dihentiin mendadak. Sama orang yang minta di awal.""Kenapa dihentiin?" tanya Hendra."Waktu itu aku sempet ngira soal biaya," jawab Bahar, "pencarian kayak gitu emang mahal, aku pikir dia keberatan bayar."Bahar berhenti sejenak, mena

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status