Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 182 Buku Registrasi

Share

Bab 182 Buku Registrasi

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-09-27 16:34:14

Deretan rak besi berjajar rapat, lorong di antaranya cuma cukup untuk satu orang lewat, dan label bernomor tertempel di tiap ujung rak dengan kertas yang sudah menguning, beberapa hurufnya sudah luntur sampai sulit dibaca.

Seorang laki-laki tua berdiri di balik meja panjang dekat pintu masuk, memakai kemeja seragam biru pudar dengan nama Sardi disulam di dada kirinya. Rambutnya sudah putih semua, dan menurut papan jadwal kecil yang ditempel di dinding belakangnya, tinggal dua tahun lagi sebelum
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 187 Foto Kenangan

    Tutup kardus dia angkat. Bau kertas lama dan kapur barus langsung naik dari dalamnya.Isinya foto-foto cetak studio yang ditumpuk rapi, ukurannya macam-macam, beberapa masih di dalam sampul plastik bening dari studionya. Foto paling atas memperlihatkan seorang anak perempuan berumur sekitar tiga tahun yang duduk di pangkuan Wisnu, sedangkan Suryani berdiri di belakang mereka dengan satu tangan di bahu suaminya. Latar belakangnya kain biru bergambar awan, dan anak perempuan itu menatap kamera sambil menggigit ujung jarinya sendiri.Nindy menutup mulutnya dengan punggung tangan.Malik turun dari sofa, duduk bersila di atas karpet di sebelah kaki istrinya, lalu mengambil foto kedua dari tumpukan tanpa izin. Pipit menaruh piring kuenya di meja dan ikut mencondongkan badan."Ini kamu?" tanya Malik, mengangkat foto itu ke dekat wajah Nindy. "Ponimu kok kayak dipotong pakai gergaji?"Tangan Nindy turun dari mulutnya, dan dia menepuk kepala Malik pakai foto yang lain. "Itu Ibu yang motong, pa

  • Dok, Please Cukup!   Bab 186 Barangnya

    Malik mengisi kolom jam keluar di buku tamu dekat pintu, dan Nindy menunggu di sebelahnya sambil menyampirkan tas di bahu. Mereka sudah berbalik ke arah pintu ketika Pak Sardi berdeham."Dok, ada satu hal. Tadi saya bilang jarang ada yang nanya buku registrasi, terakhir mahasiswa skripsi. Itu yang dateng baik-baik. Sebenernya setahun lalu ada juga yang nanya, cuma saya nggak ngitung, soalnya nggak saya kasih."Malik berhenti dengan satu tangan di gagang pintu. Nindy menoleh."Siapa, Pak?" tanya Malik.Sambil membetulkan letak map merah di sudut mejanya, Pak Sardi menjawab, "Katanya dari kantor pengelola sebuah yayasan. Dia nanya buku registrasi bangsal tahun-tahun itu, persis tahun yang tadi Dokter buka. Saya tanya suratnya mana, dia bilang suratnya nyusul. Ya udah, saya bilang dateng lagi kalau suratnya udah ada."Mendengar itu, Nindy bertanya, "Terus dia dateng lagi, Pak?""Nggak pernah, Bu. Sampai hari ini," jawab Pak Sardi.Malik melepas gagang pintu. Dia mengeluarkan ponselnya la

  • Dok, Please Cukup!   Bab 185 Salinan Digital

    Setelah jeda sebentar, Pak Sardi menambahkan dengan suara lebih rendah, "Kalau map resmi, lain cerita. Map resmi itu yang biasanya disesuaikan, Dok, kalau ada permintaan dari keluarga."Nindy teringat dua lubang kecil di sudut kiri lembar tunggal tadi, serat kertas yang sobek kasar di sekelilingnya. Dia melirik Malik, dan dari cara rahang suaminya bergerak, dia tahu Malik sedang mengingat lubang yang sama.Pak Sardi menatap mereka berdua bergantian, lalu berbalik tanpa berkata apa-apa. Langkahnya menuju meja panjang dekat pintu, dan dari sana terdengar bunyi laci ditarik, disusul bunyi tutup termos yang diputar.Laki-laki itu kembali membawa termos biru bergambar bunga yang catnya sudah mengelupas di bagian pegangan, dan dua gelas kaca yang bentuknya tidak sama. Gelas pertama tinggi dan ramping, ada sisa stiker harga di dasarnya, sedangkan gelas kedua pendek dan tebal, bekas wadah selai yang labelnya sudah dikerok tapi masih meninggalkan bekas lem di satu sisi."Teh manis, Dok, Bu. Bi

  • Dok, Please Cukup!   Bab 184 Kemungkinan Salah Tulis

    Kedua telapak tangan Malik menahan halaman tujuh puluh dua supaya tetap rata di atas meja, sedangkan matanya kembali ke awal baris itu dan membacanya lagi dari kolom nama. Sampai di kata pindah, dia berhenti, menarik napas lewat hidung, lalu mengulang dari kolom pertama. Ketiga kalinya, bibirnya ikut bergerak tanpa suara.Di sebelahnya, Nindy memiringkan kepala ke kanan. Di sisi paling kanan halaman, melewati kolom ket., masih ada satu kolom lagi yang lebih sempit, garisnya ditarik dengan penggaris yang agak miring dan judulnya ditulis dengan huruf kecil sekali, tuj. Isinya cuma tiga huruf kapital yang dipisah titik, disusul dua huruf kecil di belakangnya."Malik, masih ada satu kolom lagi," ucap Nindy, menunjuk ujung baris itu dengan kuku telunjuknya tanpa menyentuh tinta.Malik menggeser kedua tangannya ke kanan, menunduk sampai wajahnya hampir menempel ke kertas, lalu mengeja tiga huruf itu satu per satu dengan suara pelan. Dia mengeja sekali lagi, kemudian menegakkan punggungnya.

  • Dok, Please Cukup!   Bab 183 Pindah

    "Kebetulan Dokter nanya, soalnya jarang ada yang inget buku itu masih ada, apalagi orang dari luar arsip. Terakhir ada yang nanya itu belasan tahun lalu, mahasiswa skripsi."Pak Sardi membuka pintu lemari itu dengan sedikit dipaksa, engselnya berderit keras, dan menunjuk deretan buku tebal berjilid kulit yang tersusun tidak rapi di dalamnya, beberapa punggungnya sudah retak."Buku ini disimpen terpisah dari map perorangan," ucap Pak Sardi, menarik satu buku dari rak kedua sekadar contoh, debu tipis beterbangan begitu dia mengibaskannya. "Nggak pernah ikut dipindahin waktu rumah sakit ganti sistem komputer, tiga puluh tahun lalu. Sistem baru cuma masukin data dari map perorangan doang, buku-buku kayak gini ditinggal aja di sini, saya sendiri yang mindahin ke lemari ini dulu waktu masih pegawai baru.""Isinya apa, Pak?" tanya Nindy, mendekat, memperhatikan buku di tangan Pak Sardi."Catatan tangan perawat jaga, tiap pergantian sif," jawab Pak Sardi, mengembalikan buku itu ke tempatnya.

  • Dok, Please Cukup!   Bab 182 Buku Registrasi

    Deretan rak besi berjajar rapat, lorong di antaranya cuma cukup untuk satu orang lewat, dan label bernomor tertempel di tiap ujung rak dengan kertas yang sudah menguning, beberapa hurufnya sudah luntur sampai sulit dibaca.Seorang laki-laki tua berdiri di balik meja panjang dekat pintu masuk, memakai kemeja seragam biru pudar dengan nama Sardi disulam di dada kirinya. Rambutnya sudah putih semua, dan menurut papan jadwal kecil yang ditempel di dinding belakangnya, tinggal dua tahun lagi sebelum dia pensiun."Dokter Malik," ucap Pak Sardi, berdiri tegak begitu melihat Malik masuk, tanpa perlu diperkenalkan siapa pun. "Saya sering liat Dokter di lorong lantai tiga, biasanya pagi-pagi, jam tujuh kurang."Malik mengangguk, mengeluarkan selembar kertas dari map yang dia bawa. "Ini surat persetujuan dari Ibu saya, Pak. Buat akses rekam medis kelahiran saya sendiri."Pak Sardi menerima kertas itu, membacanya pelan-pelan lewat kacamata baca yang menggantung di lehernya, mencocokkan tanda tang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status