INICIAR SESIÓNLuna yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya terpaksa harus tinggal bersama sahabat Ibunya yang merupakan keluarga konglomerat. Namun, kehadirannya di sana tak diterima dengan mudah oleh si putra sulung, Leon. Luna yang salah masuk ke dalam kamar Leon justru memicu ketertarikan satu sama lain yang tidak seharusnya terjadi. Walau berusaha mengelak, tanpa sadar keduanya sudah terpikat dengan pesona masing-masing.
Ver más“Mulai sekarang rumah ini akan menjadi rumahmu, Luna.”
Luna hanya diam tanpa ekspresi. Wajahnya terlihat pucat, matanya masih sembab dengan lingkaran menghitam yang mengelilinginya. Belum lama ini kedua orang tua Luna meninggal dunia. Sebuah truk mengalami rem blong dan menabrak rumah kontrakan yang ditinggalinya. Kedua orang tuanya yang sedang berjaga warung di depan rumah tewas di tempat. Beruntung saat itu Luna sedang di kampus sehingga nyawanya tidak ikut melayang. Kedua orang tuanya anak tunggal dan yatim piatu, membuat Luna tidak punya wali. Namun, tampaknya Luna masih dikasihi. Begitu Luna selesai mengurus pemakaman orang tuanya, Bu Sekar, sahabat sang ibu, menawarkan Luna untuk tinggal bersamanya. Bahkan bersedia mengangkat Luna sebagai putrinya. Karenanya, di sinilah dia sekarang. “Ayo, sini masuk, Luna! Jangan sungkan! Anggap aja ini rumahmu sendiri,” ujar Sekar dengan nada lembut keibuan. Luna melangkah masuk ke dalam rumah Bu Sekar dengan ragu. Rumah itu bergaya arsitektur klasik-modern yang tampak begitu megah. Di bagian depan terdapat taman luas dengan rumput hijau yang terawat sempurna. Beberapa mobil mewah terparkir di garasi yang mampu menampung beberapa kendaraan sekaligus. Luna menatap Bu Sekar dengan ragu. “Saya beneran boleh tinggal di rumah ini, Bu?” Luna tahu sahabat ibunya itu memang orang kaya, tetapi ia tidak tahu kalau Bu Sekar sekaya itu sampai tinggal di sebuah tempat yang menyerupai istana seperti ini. “Ibu kan sudah bilang, mulai sekarang kamu tinggal sama Ibu,” jawab Bu Sekar dengan santai. “Jangan sungkan ya, Sayang.” Luna masih tampak ragu, hingga kemudian Bu Sekar melanjutkan. “Luna, dulu saat Ibu masih susah, orang tuamu membantu Ibu tanpa peduli apakah Ibu bisa membalas budi mereka.” Bu Sekar menghela napas. “Ibu sudah kehilangan kesempatan itu sekarang. Namun, paling tidak, Ibu bisa merawat kamu, putri tunggal mereka. Boleh?” Luna menggigit bibirnya, menahan tangis. “Terima kasih, Bu.” Bu Sekar pun memeluk Luna dan mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Ia melepaskan pelukannya lalu mengusap pipi Luna dengan lembut. “Sudah, jangan sedih-sedih lagi. Ayo, sekarang kita masuk ke dalam! Ibu ajak kamu keliling dulu.” Sekar membawa Luna masuk ke dalam rumahnya. Mereka menghabiskan waktu yang cukup lama mengelilingi rumah yang besar itu, bahkan saking luasnya sampai masih banyak sudut rumah yang belum mereka kunjungi. Saat mereka duduk di ruang keluarga setelah lelah berkeliling, perhatian Luna tertuju pada pemandangan bingkai foto berukuran besar yang menempel pada dinding. Sesosok lelaki tampan yang mengenakan jas berwarna hitam tampak gagah di tengah foto tersebut. Wajahnya tanpa senyum dan memberikan kesan tegas, postur tubuhnya tampak tegap, dan sorot mata yang menatap tajam ke arah kamera. Sekar yang menyadari arah pandangan Luna pun langsung menjelaskan. “Ini foto keluarga Ibu. Itu mendiang suami Ibu sama anak-anak Ibu. Yang sebelah kanan itu Sakala anak kedua Ibu. Dia setahun lebih tua dari kamu, sekarang Saka lagi kuliah di luar negeri.” “Kalau yang di sebelah kiri?” Bibir Luna seperti terbuka otomatis, penasaran dengan sosok yang mencuri perhatiannya. Wajahnya terlihat lebih tua darinya, namun tidak menutupi ketampanannya sama sekali. “Kalau yang di sebelah kiri itu anak sulung Ibu, namanya Leon.” Bu Sekar menoleh pada Luna. “Kamu masih ingat dengan Leon nggak? Dulu itu kamu suka digendong Leon loh.” Luna mengernyitkan kening sambil berusaha mengingat-ingat, lalu ia menggeleng. “Maaf, nggak ingat, Bu.” “Oh ya gapapa, kamu masih kecil sekali waktu itu. Kalian juga udah lama nggak ketemu, jadi wajar kalau kamu lupa. Nanti Ibu kenalkan lagi sama Leon, anak itu sekarang pasti masih sibuk kerja. Sekarang dia jadi Presdir di perusahaan, menggantikan mendiang suami Ibu.” Luna hanya mengangguk-angguk saja. Kemudian Sekar kembali menceritakan keluarganya dengan semangat. Membahas kelakuan kedua putranya yang memiliki sifat sangat berbeda. Luna hanya diam mendengarkan, sambil sesekali melirik ke arah bingkai foto yang terus mencuri perhatiannya. Saat waktu makan malam tiba, Sekar mengajak Luna untuk makan malam. Mereka menyantap makanan sambil mengobrol ringan. Sekar yang lebih banyak bicara, sementara Luna hanya sesekali bicara saat ditanya. “Kenapa makanannya nggak dihabisin? Nggak enak ya, Lun?” “Enak kok, Bu. Saya cuma udah kenyang aja.” “Udah kenyang gimana? Itu makananmu masih banyak loh. Tadi siang di restoran kamu juga makannya sedikit.” “Iya, lagi nggak nafsu makan aja, Bu.” Sekar menghela napas panjang. “Yaudah, kalau begitu kamu langsung istirahat aja, Lun. Mukamu udah kelelahan banget itu.” Luna mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Tangannya bergerak hendak merapikan piring bekas makannya. Tetapi, langsung dicegah oleh Sekar. “Nggak usah diberesin, Lun. Nanti ada Mbak yang beresin.” “Jangan, Bu. Saya aja yang beresin. Saya kan numpang di sini, jadi saya mau bantu-bantu juga.” “Eh, nggak usah. Kamu ini di sini udah kayak keluarga Ibu sendiri, bukan ART. Lagian Ibu udah punya lima ART buat bantu-bantu, jadi kamu nggak perlu ikutan. Cukup tinggal di sini temenin Ibu aja, ya?” “Saya nggak enak kalau nggak bantu-bantu di sini, Bu.” “Sudah, gapapa. Kamu langsung istirahat di kamar aja. Ibu udah siapkan kamar tamu di lantai dua, paling ujung lorong di sebelah kanan. Sekarang kamu istirahat, biar besok kita siap-siap belanja keperluanmu.” “Belanja?” Mata Luna melebar mendengarnya. “Nggak usah, Bu. Saya nggak perlu apa-apa kok.” “Kamu kan baru pindah ke sini, Lun. Pasti ada banyak barang-barang yang harus dibeli buat melengkapi kamar kamu nantinya. Jadi, besok kita belanja bareng ya.” “Nggak usah, Bu. Beneran deh. Saya nggak mau merepotkan.” “Sama sekali nggak merepotkan, Luna.” “Tapi, Bu–” “Udah, jangan melawan, Luna. Nggak boleh loh melawan orang tua.” Luna yang sudah lelah dan tak bisa berdebat lagi akhirnya hanya bisa pasrah. “Baik, terima kasih, Bu. Kalau begitu saya pamit duluan ya, Bu.” Setelah itu, Luna meninggalkan ruang makan. Langkahnya gontai menuju lantai dua. dan menelusuri lorong yang dikatakan Bu Sekar tadi. Setibanya di depan kamar, Luna langsung membuka pintu kamar yang tidak dikunci itu. Suasana kamar itu gelap, semua lampu dimatikan. Luna yang sudah kelelahan tidak ambil pusing untuk menyalakan lampu. Tubuhnya sudah sangat lelah dan tak sabar untuk tidur. Akhirnya, Luna langsung naik ke atas ranjang, masuk ke dalam selimut dan memejamkan matanya dengan rapat. Rasa lelah yang luar biasa membuat Luna tertidur pulas sekali. Tahu-tahu sinar matahari sudah menyelusup masuk ke dalam kamar. Cahayanya membuat Luna sedikit terganggu dari tidurnya. Lantas Luna menenggelamkan wajahnya pada guling yang sedang dipeluknya. Tunggu. Sepertinya ada yang aneh. Kenapa gulingnya terasa keras? Tangan Luna meraba permukaan guling yang sedang dipeluknya. Tetapi, permukaannya terasa keras sekali, seperti bukan guling. Lantas dengan berat hati Luna membuka mata. Pemandangan pertama yang Luna jumpai membuat matanya terbelalak. Rasa kantuknya hilang seketika saat menyadari bukan guling yang sedang dipeluknya, tetapi seorang lelaki! “Aaa!” Luna berteriak dan bangun dari posisi tidurnya. Ia beringsut menjauh sambil mengambil selimut. “Siapa kamu?!” Suara teriakan Luna pun membuat mata lelaki itu terbuka. Sorot matanya tajam, mengingatkan Luna pada bingkai foto yang mencuri perhatiannya kemarin. Kini mata itu menatapnya langsung dengan tatapan tajam dan membuat jantung Luna berdebar lebih kencang. “Seharusnya saya yang bertanya.” Suara lelaki itu terdengar berat dan sedikit serak. “Kamu siapa?” ***Rencana Luna untuk menghindari Leon benar-benar berantakan. Sekeras apa pun Luna berusaha menghindar, Leon selalu mempunyai seribu satu cara untuk mendekatinya. Seperti yang terjadi pagi ini, Luna sedang sibuk memasak di dapur, tetapi Leon malah menontonnya memasak di dapur. “Kamu hebat sekali bisa memasak, Luna,” komentar Leon. Ia duduk di kursi tinggi sambil menopang dagunya di atas kitchen island. “Hebat apanya? Ini sih kemampuan dasar perempuan,” balas Luna dengan suara yang sedikit ketus. “Tapi tidak semua perempuan bisa memasak, dan kamu satu di antaranya yang bisa memasak. Itu hebat,” ucap Leon. Luna hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Leon. “Mas Leon, tumben banget mau nontonin kita masak,” kata Mbak Narti dengan suara menggoda. “Siapa bilang saya ingin menonton kalian memasak?” Leon pun mendengkus. “Saya ingin menonton Luna memasak.”Sontak saja Luna yang mendengarnya terkejut karena Leon dengan tidak malunya mengucapkan hal itu di depan para asisten rumah tangg
Suara Bu Sekar pun membuat ciuman Luna dan Leon pun terlepas. Mata Luna terbelalak panik takut ketahuan oleh ibu angkatnya, ia mendorong tubuh Leon menjauh. Sementara itu, Leon tampak lebih tenang. “Aduh, gimana ini?” Luna bergumam pelan, kedua tangannya menutup mulutnya sendiri sambil memandangi pintu kamarnya yang masih tertutup. Lalu ia menoleh pada Leon yang memasang wajah tanpa dosa. “Ini semua gara-gara, Mas!”Leon menaikkan sebelah alisnya dan membalas dengan suara yang pelan juga. “Kok jadi gara-gara saya?”“Ya iyalah. Gara-gara Mas mendobrak pintu, Mama jadi samperin ke kamarku!” sahut Luna jengkel. “Semua itu tidak akan terjadi kalau kamu langsung membuka pintunya,” balas Leon dengan santai. “Terus sekarang gimana ini? Ada Mama di depan. Kalau Mama tau Mas Leon ada di kamarku gimana?” tanya Luna dengan panik. “Luna? Kamu di dalam, kan?”Mata Luna semakin terbelalak saat suara Bu Sekar yang kembali terdengar. Apalagi saat melihat gagang pintu yang mulai bergerak, ia baru
Keesokan harinya Leon keluar dari kamarnya, ia menoleh ke arah kamar Luna yang tertutup rapat. Kemudian Leon melanjutkan langkahnya turun ke lantai satu. Ia langsung menuju ruang makan dan dapur, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Kamu cari Luna?” Bu Sekar seolah dapat membaca pikiran Leon. “Luna udah berangkat pergi tadi pagi-pagi banget.”Kening Leon pun berkerut mendengarnya. “Pergi ke mana, Ma?”Bu Sekar mengangkat kedua bahunya dan menjawab, “Katanya mau cari referensi buat skripsinya.”Leon menundukkan kepala dan mengembuskan napas kasar. Pasti Luna sengaja pergi pagi-pagi sekali untuk menghindarinya. Ini sudah kesekian kalinya Luna menghindarinya, seharusnya Leon sudah menduga hal ini akan terjadi.Sial, padahal sebelumnya mereka baik-baik saja. Ini semua karena ciuman itu!“Apa semua baik-baik saja, Leon?” Bu Sekar menatap Leon dengan curiga. Ekspresi wajah putra sulungnya itu tampak aneh, begitu juga dengan sikap Luna tadi pagi. “Kalian nggak berantem, kan?”“Ngga
Ciuman itu berlangsung cukup lama. Leon baru melepaskan ciumannya usai merasakan dorongan kecil dari Luna yang kehabisan napas karenanya. Leon menempelkan dahinya pada dahi Luna, matanya memperhatikan wajah Luna yang sudah memerah seperti kepiting rebus dengan napas yang terengah-engah.Luna yang menyadari sedang diperhatikan pun mendongak dan menatap mata Leon. Pipinya semakin bersemu kemerahan saat tatapannya jatuh pada bibir Leon yang baru saja menciumnya. Seketika itu juga Luna tersadar dan segera bangun dari posisinya. Luna berpindah duduk di tempatnya semula dan langsung membuang muka ke arah lain. Leon berdeham. “Luna, soal tadi–”Sebelum Leon menyelesaikan ucapannya, Luna langsung memotong ucapannya dengan cepat sambil menunjuk kaca jendela. “Eh, lihat deh itu wahana arung jeram kelihatan dari sini. Seru banget kayaknya.”Leon pun mengurungkan niatnya untuk membicarakan ciuman tadi. Luna terus saja bicara tanpa henti, seolah tidak membiarkan Leon membicarakan apa yang baru sa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas