Inicio / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 231 Kenal Muka

Compartir

Bab 231 Kenal Muka

Autor: NFLusica
last update Fecha de publicación: 2026-10-18 18:56:19

Malik menarik napas panjang dan menghembuskannya lewat mulut, sesuai ajaran Mbak Vira di kelas prenatal.

Sekretaris direktur mengetuk pintu, lalu mempersilakan mereka masuk. Handoko sudah duduk di balik meja kayunya dengan kacamata di ujung hidung.

"Pagi. Saya kira kamu datang sendiri," ucap Handoko, memandangi Nindy dari atas kacamatanya.

"Ini istri saya, Pak. Dia saksinya," jawab Malik.

Handoko berdiri, menyalami Nindy, lalu menarik kursi di seberang meja dan menyuruhnya duduk lebih dulu. Ses
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dok, Please Cukup!   Bab 231 Kenal Muka

    Malik menarik napas panjang dan menghembuskannya lewat mulut, sesuai ajaran Mbak Vira di kelas prenatal.Sekretaris direktur mengetuk pintu, lalu mempersilakan mereka masuk. Handoko sudah duduk di balik meja kayunya dengan kacamata di ujung hidung."Pagi. Saya kira kamu datang sendiri," ucap Handoko, memandangi Nindy dari atas kacamatanya."Ini istri saya, Pak. Dia saksinya," jawab Malik.Handoko berdiri, menyalami Nindy, lalu menarik kursi di seberang meja dan menyuruhnya duduk lebih dulu. Sesudahnya dia berjalan ke sudut ruangan, memutar tutup termos hijaunya, dan menuang teh ke tiga cangkir."Ibu hamil duduk duluan, itu aturan di ruangan ini," ucap Handoko sambil menaruh cangkir di depan Nindy."Makasih, Pak," jawab Nindy, menerima cangkir itu dengan dua tangan.Malik tetap berdiri sampai Handoko kembali ke kursinya. Map biru itu dia letakkan di atas meja, lalu dia dorong pelan ke depan direktur."Pak, saya mau lapor satu hal sebelum ada orang lain yang lapor duluan," ucap Malik.H

  • Dok, Please Cukup!   Bab 230 Orang Jujur

    Darsono menelan ludah. "Yang itu saya nanya sendiri, Bu. Ibu dulu satu-satunya orang di rumah itu yang nyuruh saya duduk.""Iya. Dari dulu kamu cuma disuruh," jawab Eleanor.Nindy menahan napas. Wajah Darsono memucat, dan jakunnya naik turun dua kali.Darsono melangkah ke kursi tunggu di dekat lift. Kotak nastar dan amplop cokelat itu dia letakkan di atas dudukannya, berdampingan, dengan dua tangan."Saya permisi, Bu. Semoga sehat terus," ucap Darsono, membungkuk sekali lagi.Eleanor membiarkan salam itu lewat tanpa jawaban. Darsono berjalan keluar lewat pintu kaca, dan Nindy memandanginya sampai punggung batik cokelat itu hilang di belokan halaman.Begitu pintu kaca tertutup, napas Eleanor keluar panjang lewat hidung. Bahunya turun beberapa senti, dan Nindy menggandeng lengannya tanpa bicara."Ibu nggak apa-apa?" tanya Nindy."Ibu baru sadar, bertahun-tahun Ibu nyuguhin teh ke orang itu," jawab Eleanor, memandangi pintu kaca yang masih bergoyang sedikit."Ibu tadi hebat. Aku aja dari

  • Dok, Please Cukup!   Bab 229 Cuma Suruhan

    Malik membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia mengambil pisaunya kembali dan melanjutkan mengupas bawang tanpa membantah.Eleanor memandangi mereka berdua bergantian. "Pencarian apa yang kamu tunda?"Nindy mematikan api kompor. Aturan di rumah itu sekarang tidak membolehkan apa pun disimpan sendiri, dan mertuanya sudah duduk di meja ini mengakui hal yang jauh lebih berat sore tadi.Dalam beberapa kalimat, dia menceritakan perjalanan ke kota lama pagi tadi. Pintu lipat besi, jam-jam dinding yang waktunya berbeda, laki-laki tua dengan kaca pembesar di mata kanan, dan jam tangan ayahnya yang sekarang tertinggal di sana.Eleanor mendengarkan tanpa menyela. Sesudah Nindy selesai, dia meletakkan pisaunya di talenan."Tangannya gemetar nggak, waktu dia megang jam bapakmu?" tanya Eleanor.Nindy mengingat tangan di atas kain hijau itu. Ibu jari yang diam lama di tutup belakang jam, dan tangan dingin yang dia salami sebelum pulang."Nggak gemetar, Bu. Tapi dia megangnya lama, lama banget," jaw

  • Dok, Please Cukup!   Bab 228  Aksesnya Sah

    Hendra yang lebih dulu bergerak. Buku catatan yang baru dia tutup itu dia buka lagi, pulpennya dia ambil dari pinggir map, lalu dia mengetuk meja dua kali supaya Malik menoleh ke arahnya."Duduk dulu. Akses kamu itu sah," ucap Hendra.Malik tetap berdiri dengan satu tangan di sandaran kursi yang tadi terdorong. "Sah gimana? Aku dokter yang buka rekam medis ibuku sendiri.""Kamu buka catatan kelahiran kamu sendiri, pakai surat persetujuan tertulis dari pasiennya, dan yang nyocokin tanda tangannya kepala arsip. Di atas kertas itu bersih," jawab Hendra.Mendengar itu, Nindy menarik kursi suaminya kembali ke tempatnya. Malik akhirnya duduk, tetapi punggungnya tidak menyentuh sandaran.Hendra memutar pulpen di jarinya, lalu melanjutkan, "Masalahnya ada di cara orang lain bacanya nanti. Kalau yang buka berkas itu orangnya Bram, kalimat yang keluar bakal dokter kandungan ngintip catatan ibunya sendiri tiga hari sebelum keluarganya ribut soal warisan."Eleanor yang sejak tadi diam memandangi

  • Dok, Please Cukup!   Bab 227 Permintaan Akses Rekam Medis

    Nindy memandangi mertuanya. Perempuan itu duduk tegak di kursi makan dengan rantang pepes masih tergeletak di meja dapur di belakangnya, dan dia tidak sekali pun menurunkan suaranya.Uap tipis masih keluar dari celah tutup rantang itu. Nindy melepas tangannya dari bahu Malik, berjalan ke dapur, lalu membuka kulkas yang rak tengahnya sudah penuh ayam setengah diungkep dan kentang yang belum dikupas.Dia menggeser dua wadah bumbu ke rak bawah, lalu memasukkan rantang itu ke rak tengah sesudah tutupnya dia rapatkan. Jam di atas kulkas menunjuk setengah empat lewat, dan dua belas kotak arisan besok belum satu pun terisi.Nindy kembali ke belakang kursi suaminya tanpa berkata apa-apa. Kedua tangannya dia letakkan lagi di bahu Malik."Jadi semua yang Bram tulis memang benar. Selama tiga puluh empat tahun, Ibu memang nggak waras soal satu hal itu. Soal anak itu, soal kamar itu, Ibu nggak waras," ucap Eleanor, memandangi Malik lurus."Bu, udah, nggak usah diterusin," ucap Malik pelan."Ibu ng

  • Dok, Please Cukup!   Bab 226 Cuma Kamu Yang Ada

    Ruang makan itu sunyi. Dari dapur terdengar dengung kulkas, dan di pintunya, struk belanja bertuliskan empat baris masih tertempel dengan magnet stroberi.Nindy akhirnya duduk lagi, pelan. Malik meraih tangan istrinya di atas meja dan menggenggamnya tanpa berkata apa-apa."Dia lampirin bukti apa?" tanya Malik.Hendra membalik halaman permohonan itu ke bagian lampiran. Dia menyebutkannya satu per satu sambil menunjuk tiap nomor dengan pulpen."Lampiran satu, keterangan soal kamar di lantai atas rumah besar yang dirawat tiga puluh empat tahun buat orang yang nggak ada. Seprai diganti tiap minggu, lampu nyala tiap malem, pintunya dikunci, kuncinya cuma dipegang Ibu," ucap Hendra.Malik menunduk. Nindy merasakan genggaman suaminya mengencang di tangannya."Lampiran dua, catatan panggilan telepon dini hari yang berulang ke pihak keluarga besar. Jam dua pagi, jam setengah tiga, ke nomor yang sama," lanjut Hendra."Marni," ucap Nindy pelan."Di sini ditulisnya pihak keluarga mantan suami men

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status