Se connecterMalik akhirnya bicara lagi, untuk pertama kalinya sejak Bram mulai bicara. Pertanyaannya cuma satu."Amplop buat Bima tiap tahun itu, Om. Kenapa harus dikirim terus?" tanya Malik.Bram menatap keponakannya lama. Jari-jarinya meremas pinggir meja."Om takut. Kalau anak itu muncul, semua orang bakal tahu apa yang Om lakuin waktu Om umur dua puluh enam. Ibumu, kamu, Sekar, cucu-cucu Om," jawab Bram."Sekarang semua orang udah tahu, Om," ucap Malik.Bram mengangguk sekali. Dia mendorong kursinya ke belakang, lalu berdiri sambil berpegangan pada pinggir meja."Om ambil obat dulu. Dada Om dari tadi nggak enak," ucap Bram, berjalan pelan ke lemari kayu di belakang kursinya.Tangannya sudah memegang gagang pintu lemari ketika tubuhnya tiba-tiba kaku. Tangan kirinya mencengkeram dada di balik kemeja batik itu, wajahnya memucat dalam satu tarikan napas, dan dia jatuh ke lantai menyenggol meja rapat sampai cangkir kopinya terguling.Sekar menjerit memanggil ayahnya. Malik sudah melompat dari kur
Di ujung meja yang lain, seorang perempuan berumur tiga puluhan duduk dengan buku catatan terbuka dan pulpen di tangan. Rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya mirip Bram di bagian dagu."Ini Sekar, anak Om. Dia yang ngurus administrasi kantor sekarang. Biar dia yang nyatet, supaya semua tertulis," ucap Bram.Sekar mengangguk sopan ke arah Malik. Malik membalas anggukan itu, dan untuk sesaat dia sadar sepupunya sendiri adalah orang yang belum pernah dia ajak bicara lebih dari lima menit seumur hidupnya.Hendra duduk di sebelah Malik dan membuka mapnya tanpa terburu-buru. Dia mengeluarkan lembar pertama dan meletakkannya di tengah meja, menghadap Bram."Ini catatan akses sistem rekam medis rumah sakit, ditandatangani direkturnya sendiri. Akun staf bernama Yogi buka rekam pemeriksaan kandungan istri Dokter Malik, buka berkas dewan etiknya, dan buka riwayat perawatan Ibu Eleanor dua puluh tahun lalu," ucap Hendra.Bram memandangi kertas itu tanpa menyentuhnya. "Saya nggak kenal yang naman
Bu Ratmi kembali dari ruangan belakang membawa sebuah buku besar bersampul kain hijau yang sudah lusuh. Buku induk panti itu dia buka di atas meja, di halaman yang sudah ditandai dengan secarik kertas."Ini catatan Bima, Bu. Masuk umur sembilan belas hari, diantar mobil hitam, nggak ada surat apa-apa kecuali satu lembar dari rumah sakit," ucap Bu Ratmi, menunjuk satu baris dengan jarinya yang keriput.Dia membalik ke halaman berikutnya dan menunjuk catatan lain. Operasi jantung di umur tiga tahun, dibayar lunas oleh donatur yang menolak namanya ditulis, dan cuma meninggalkan inisial yang tintanya sudah luntur di kolom keterangan.Malik membaca inisial itu dua kali, lalu menoleh ke ibunya. Eleanor yang ikut membaca menggeleng pelan."Ibu kenal inisial ini?" tanya Malik."Hurufnya udah nggak kebaca, cuma tinggal satu huruf S di belakang. Nama keluarga ayahmu pakai S," jawab Eleanor, mengusap huruf-huruf itu dengan ujung jari."Uangnya dateng lewat wesel, Bu, dari kota sebelah. Tiap tahu
Eleanor memakai blus biru muda, warna yang sama dengan seprai kamar di lantai atas rumah besar. Mesin mobil sudah dimatikan sopirnya, tetapi Eleanor tetap duduk di kursi belakang dengan tas tangan di pangkuan."Ibu mau turun sekarang?" tanya Malik dari kursi depan."Sebentar. Ibu mau liat dulu dari sini," jawab Eleanor.Nindy duduk di sebelah mertuanya dan memegang tangan perempuan itu tanpa bicara. Dari balik kaca, mereka bisa melihat halaman panti yang tanahnya disapu bersih, ayunan besi yang catnya mengelupas, dan jemuran panjang berisi seragam sekolah anak-anak dalam berbagai ukuran.Sepuluh menit berlalu begitu. Seorang anak laki-laki kecil berlari melintasi halaman mengejar bola plastik, lalu berhenti dan memandangi mobil hitam itu dengan mulut terbuka."Bima dulu main di halaman itu juga, ya," ucap Eleanor, nyaris ke dirinya sendiri."Kata Bima di telepon semalem, dia yang paling sering jatuh dari ayunan itu," jawab Malik pelan.Eleanor membuka pintu mobil. Nindy dan Malik turu
"Saya nggak pernah berniat ngambil apa pun dari Dokter. Itu yang pertama mau saya bilang, dari dua belas tahun lalu," ucap Bima.Malik mengangguk pelan. Kedua tangannya masih di saku jas putih, dan Nindy melihat kain di saku itu bergerak karena jari-jari di dalamnya mengepal."Kamu tahu dari kapan, aku adikmu?" tanya Malik."Dari umur dua puluh dua. Saya masih jadi pengasuh anak-anak kecil di panti waktu itu. Ada bapak tua pakai jas dateng ke kantor panti, nanya nama saya, terus duduk di depan saya dua jam tanpa ngomong apa-apa," jawab Bima."Ayah," ucap Malik pelan."Abis dua jam, dia bilang dia ayah saya. Terus dia nangis. Saya nggak pernah liat orang tua nangis sampai bahunya naik turun kayak gitu," lanjut Bima.Nindy memandangi tangan Bima yang terlipat di dada. Jari-jarinya panjang, kukunya dipotong pendek dan rata, dan ruas jari tengahnya sedikit lebih besar dari ruas yang lain, sama persis dengan tangan Malik yang setiap malam menggenggam tangannya.Tanpa sadar, Bima menyentuh
Hendra mengangkat wajah dari buku catatannya. "Kamu tahu dia nambal pakai dana abadi dari mana?""Dari laporan tahunan yang dia kirim ke saya buat diperiksa, dulu, sebelum saya dipecat. Angkanya nggak cocok sejak tahun kedua," jawab Bahar.Malik memandangi laki-laki di depannya. Tiga pertanyaan dijawab tanpa satu pun kalimat yang diputar, dan dia tidak tahu apakah itu membuatnya lega atau malah lebih marah.Kipas angin di langit-langit berderit setiap kali putarannya sampai di titik yang sama. Di luar jendela berteralis, terdengar suara petugas memanggil nama-nama tahanan untuk apel siang, satu per satu.Hendra menutup bukunya dan meletakkan pulpen di atasnya. "Kerja sama kamu saya ajuin ke penyidik dengan satu syarat. Semua yang barusan kamu bilang dibikin tertulis, kamu tanda tangan, terus diserahkan ke Inspektur Rudi.""Kertasnya Bapak bawa?" tanya Bahar.Hendra mengeluarkan dua lembar kertas kosong dan satu pulpen dari mapnya, lalu menyodorkannya lewat petugas. Petugas itu memerik







