Inicio / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 243 Nama Ibu

Compartir

Bab 243 Nama Ibu

Autor: NFLusica
last update Fecha de publicación: 2026-10-22 22:22:36

Malik memandangi dua orang itu dari belakang. Nindy merasakan suaminya menarik napas panjang, lalu melepaskannya pelan-pelan sampai bahunya turun beberapa senti.

"Kamu lega?" tanya Nindy.

"Lega. Tapi kakiku masih gemeter," jawab Malik, dan Nindy menggandeng lengannya sampai mereka melewati pintu keluar.

Mereka keluar dari gedung pengadilan menjelang jam sebelas. Matahari sudah tinggi, dan anak-anak tangga di depan gedung itu panas sampai menembus sol sandal Nindy.

Sopir Eleanor sudah menunggu d
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dok, Please Cukup!   Bab 243 Nama Ibu

    Malik memandangi dua orang itu dari belakang. Nindy merasakan suaminya menarik napas panjang, lalu melepaskannya pelan-pelan sampai bahunya turun beberapa senti."Kamu lega?" tanya Nindy."Lega. Tapi kakiku masih gemeter," jawab Malik, dan Nindy menggandeng lengannya sampai mereka melewati pintu keluar.Mereka keluar dari gedung pengadilan menjelang jam sebelas. Matahari sudah tinggi, dan anak-anak tangga di depan gedung itu panas sampai menembus sol sandal Nindy.Sopir Eleanor sudah menunggu di bawah dengan pintu mobil terbuka, dan Bima pamit lebih dulu untuk kembali ke rumah sakit dengan motornya. Di anak tangga ketiga, ponsel Nindy bergetar di dalam tas. Dia mengeluarkannya, dan nama yang muncul di layar membuat langkahnya berhenti.Pengirimnya Rania, padahal perempuan itu sudah hampir dua minggu tidak menghubunginya sejak telepon soal uang muka. Isinya pendek, bahwa dia sudah dengar urusan Malik selesai hari ini, kandungan Nindy sebentar lagi masuk bulan kelima, dan dia akan menep

  • Dok, Please Cukup!   Bab 242 Sidang

    Hakim tunggal masuk tepat jam sembilan. Semua orang berdiri, lalu duduk lagi, dan panitera membacakan nomor perkara dengan suara datar.Kuasa hukum Bram berdiri lebih dulu. Dia menyampaikan bahwa pemohon mencabut permohonannya karena alasan kesehatan dan alasan pribadi, lalu menyerahkan surat pencabutan itu ke meja panitera."Termohon atau kuasanya ada yang mau menyampaikan sesuatu sebelum pencabutan ini saya tetapkan?" tanya hakim, memandangi bangku depan.Hendra berdiri. "Ada, Yang Mulia. Termohon sendiri mohon diberi waktu bicara."Hakim mengangguk dan mempersilakan. Eleanor berdiri dari bangku, merapikan blusnya, lalu berjalan ke depan dan berdiri tegak di hadapan meja hakim."Yang Mulia, saya Eleanor Sastrowardoyo. Fakta-fakta di lampiran permohonan itu benar semua. Saya merawat satu kamar kosong selama tiga puluh empat tahun, saya menelepon orang jam dua pagi, saya pernah dirawat karena gangguan tidur," ucap Eleanor.Ruang sidang itu sunyi. Nindy menggenggam tangan suaminya di a

  • Dok, Please Cukup!   Bab 241 Mau Ikutt

    Sekar menutup mulutnya dengan dua tangan dan merosot duduk di kursi lorong. Buku catatan kantor yang sejak tadi dia peluk jatuh ke lantai, dan halaman-halamannya terbuka di bagian yang tadi pagi masih dia isi dengan notulen rapat. Eleanor duduk di sebelahnya dan merangkul bahunya, sedangkan Malik berdiri diam sampai dokter itu masuk lagi ke ruangannya.Istri Bram datang tidak lama kemudian, seorang perempuan kurus berkerudung abu-abu yang langsung memeluk Sekar. Dia menyalami Eleanor dengan canggung, menunduk lama di depan Malik, lalu duduk di samping anaknya tanpa banyak bicara.Menjelang jam tiga, seorang perawat keluar dan mengabarkan bahwa Bram sudah sadar. Pasien minta bertemu Eleanor lebih dulu, sendirian.Eleanor berdiri dari kursi lorong. Dia merapikan blusnya, menarik napas panjang, lalu masuk ke ruang perawatan itu tanpa menoleh ke siapa pun.Lima menit kemudian pintu itu terbuka lagi. Eleanor berdiri di ambangnya, wajahnya pucat, dan dia memandang langsung ke anaknya."Mali

  • Dok, Please Cukup!   Bab 240 Udah Tahu Semuanya

    Malik akhirnya bicara lagi, untuk pertama kalinya sejak Bram mulai bicara. Pertanyaannya cuma satu."Amplop buat Bima tiap tahun itu, Om. Kenapa harus dikirim terus?" tanya Malik.Bram menatap keponakannya lama. Jari-jarinya meremas pinggir meja."Om takut. Kalau anak itu muncul, semua orang bakal tahu apa yang Om lakuin waktu Om umur dua puluh enam. Ibumu, kamu, Sekar, cucu-cucu Om," jawab Bram."Sekarang semua orang udah tahu, Om," ucap Malik.Bram mengangguk sekali. Dia mendorong kursinya ke belakang, lalu berdiri sambil berpegangan pada pinggir meja."Om ambil obat dulu. Dada Om dari tadi nggak enak," ucap Bram, berjalan pelan ke lemari kayu di belakang kursinya.Tangannya sudah memegang gagang pintu lemari ketika tubuhnya tiba-tiba kaku. Tangan kirinya mencengkeram dada di balik kemeja batik itu, wajahnya memucat dalam satu tarikan napas, dan dia jatuh ke lantai menyenggol meja rapat sampai cangkir kopinya terguling.Sekar menjerit memanggil ayahnya. Malik sudah melompat dari kur

  • Dok, Please Cukup!   Bab 239 Uang

    Di ujung meja yang lain, seorang perempuan berumur tiga puluhan duduk dengan buku catatan terbuka dan pulpen di tangan. Rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya mirip Bram di bagian dagu."Ini Sekar, anak Om. Dia yang ngurus administrasi kantor sekarang. Biar dia yang nyatet, supaya semua tertulis," ucap Bram.Sekar mengangguk sopan ke arah Malik. Malik membalas anggukan itu, dan untuk sesaat dia sadar sepupunya sendiri adalah orang yang belum pernah dia ajak bicara lebih dari lima menit seumur hidupnya.Hendra duduk di sebelah Malik dan membuka mapnya tanpa terburu-buru. Dia mengeluarkan lembar pertama dan meletakkannya di tengah meja, menghadap Bram."Ini catatan akses sistem rekam medis rumah sakit, ditandatangani direkturnya sendiri. Akun staf bernama Yogi buka rekam pemeriksaan kandungan istri Dokter Malik, buka berkas dewan etiknya, dan buka riwayat perawatan Ibu Eleanor dua puluh tahun lalu," ucap Hendra.Bram memandangi kertas itu tanpa menyentuhnya. "Saya nggak kenal yang naman

  • Dok, Please Cukup!   Bab 238 Lihat Kamar

    Bu Ratmi kembali dari ruangan belakang membawa sebuah buku besar bersampul kain hijau yang sudah lusuh. Buku induk panti itu dia buka di atas meja, di halaman yang sudah ditandai dengan secarik kertas."Ini catatan Bima, Bu. Masuk umur sembilan belas hari, diantar mobil hitam, nggak ada surat apa-apa kecuali satu lembar dari rumah sakit," ucap Bu Ratmi, menunjuk satu baris dengan jarinya yang keriput.Dia membalik ke halaman berikutnya dan menunjuk catatan lain. Operasi jantung di umur tiga tahun, dibayar lunas oleh donatur yang menolak namanya ditulis, dan cuma meninggalkan inisial yang tintanya sudah luntur di kolom keterangan.Malik membaca inisial itu dua kali, lalu menoleh ke ibunya. Eleanor yang ikut membaca menggeleng pelan."Ibu kenal inisial ini?" tanya Malik."Hurufnya udah nggak kebaca, cuma tinggal satu huruf S di belakang. Nama keluarga ayahmu pakai S," jawab Eleanor, mengusap huruf-huruf itu dengan ujung jari."Uangnya dateng lewat wesel, Bu, dari kota sebelah. Tiap tahu

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status