Beranda / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 84 Nama Anak

Share

Bab 84 Nama Anak

Penulis: NFLusica
last update Tanggal publikasi: 2026-08-15 15:52:53

Malam harinya, ketika mereka berbaring di ranjang, Malik masih sesekali menempelkan tangannya ke perut Nindy, berharap bisa merasakan gerakan kecil itu lagi.

"Kamu masih semangat banget," canda Nindy sambil tertawa kecil melihat antusiasme suaminya.

"Gimana nggak semangat, tadi itu momen paling luar biasa," balas Malik sambil tersenyum lebar. "Eh, ngomong-ngomong soal itu, aku jadi kepikiran sesuatu."

"Kepikiran apa?" tanya Nindy penasaran.

"Nama anak kita," jawab Malik sambil menatap mata Nind
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dok, Please Cukup!   Bab 89 Jenis Kelamin

    Pesan dari Ratih itu masih terngiang di kepala Nindy sepanjang malam, tapi ia memilih tidak menceritakannya dulu ke Malik. Ia tidak mau menambah beban pikiran suaminya menjelang jadwal kontrol kandungan pagi ini."Nindy, roti gandumnya udah mau dingin," ucap Malik dari meja makan, menyodorkan piring sarapan ke arah istrinya.Nindy duduk, menggigit roti itu pelan sambil merengek kecil. "Malik, aku pengin banget bubur kacang hijau dari abang langganan di komplek lama. Boleh nggak kita mampir ke sana dulu?"Malik mengernyit, melirik jam tangannya. "Jaraknya empat puluh menit dari sini, Nindy. Kita bisa telat kontrol kalau mampir dulu.""Yaaah," gumam Nindy kecewa, tapi akhirnya mengalah dan melanjutkan sarapan rotinya.Malik menyesap kopinya, lalu tersenyum jahil menatap istrinya. "Ngomong-ngomong soal nama, aku masih mikir 'Sastro' harus tetep ada di nama depan anak kita.""Udah aku bilang, Malik, aku maunya nama tengahnya yang bawa unsur Suryani," balas Nindy sambil meletakkan rotinya,

  • Dok, Please Cukup!   Bab 88 Kayla Anakku 

    Malik terdiam sejenak, mencoba menyusun kata-kata yang tepat. "Dulu, waktu kita belum nikah, aku bisa nyentuh kamu dengan kepala dingin. Posisiku jelas waktu itu, aku tenaga medis yang lagi nanganin pasien.""Terus sekarang?" desak Nindy pelan."Sekarang posisiku udah beda, Nindy. Aku suamimu," jawab Malik, suaranya mulai bergetar. "Dan itu bikin aku takut. Takut kehilangan objektivitas sebagai dokter, takut salah ambil keputusan medis gara-gara emosi aku ikut campur."Nindy meraih tangan Malik, menggenggamnya erat. "Malik, itu wajar. Kamu nggak perlu ngerasa bersalah soal itu.""Tapi itu bahaya, Nindy," balas Malik, menatap mata istrinya dengan sungguh-sungguh. "Kalau aku ragu ambil keputusan medis gara-gara takut nyakitin kamu, itu bisa bahayain kamu sama anak kita."Nindy terdiam, mencoba mencerna kekhawatiran suaminya itu. "Jadi selama ini, kondisiku emang beneran nggak sepenuhnya sembuh, Malik? Aku pengin penjelasan yang jujur."Malik menghela napas panjang, akhirnya memutuskan u

  • Dok, Please Cukup!   Bab 87 Napas Pelan Pelan 

    Nindy menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia melirik kembali benda-benda yang masih tergeletak di meja—foto lama yang belum sempat ia buka, dan tanda terima penitipan kotak deposit yang masih menyimpan misteri.Malik meraih tanda terima itu, memeriksa detail yang tertera di sana dengan saksama. Ia mengambil ponselnya, memotret dokumen tersebut, lalu mengetik pesan cepat ke Hendra."Hendra, tolong cek nomor kotak deposit ini. Gabungin ke agenda pertemuan notaris hari Senin sekalian, ya."Setelah mengirim pesan itu, Malik meletakkan ponselnya kembali ke meja, menatap Nindy yang masih terlihat lelah secara emosional. Ia sengaja tidak menyinggung soal foto yang belum dibuka, membiarkan Nindy memilih sendiri kapan ia siap melihatnya."Kamu udah makan apa-apa dari tadi sore?" tanya Malik, sengaja mengalihkan suasana.Nindy menggeleng pelan. "Belum. Nggak nafsu makan.""Ayo ke dapur," ajak Malik sambil berdiri, menarik tangan Nindy lembut. "Aku bikinin sesuatu yang enak."Nindy

  • Dok, Please Cukup!   Bab 86 Buka Di Sini Aja

    Nindy berdiri mematung memegang amplop itu, matanya tidak berkedip menatap tulisan tangan ayahnya sendiri. Tangannya mulai gemetar, membuat amplop kecil itu bergoyang pelan di antara jarinya."Nindy? Kok lama banget beresinnya?" suara Malik terdengar dari luar kamar, disusul langkah kaki mendekat.Malik muncul di ambang pintu, langsung menghentikan langkahnya begitu melihat raut wajah Nindy yang pucat pasi. "Nindy? Kamu kenapa? Ada apa?"Nindy tidak menjawab, hanya mengangkat amplop itu perlahan, menunjukkannya ke arah Malik dengan tangan yang masih gemetar. Malik mendekat cepat, membaca tulisan di permukaan amplop tersebut, matanya ikut melebar."Ini dari mana, Nindy?" tanya Malik pelan, suaranya berubah waspada."Jatuh dari kardus paling bawah," jawab Nindy lirih, suaranya nyaris tidak terdengar. "Kardus yang belum pernah aku buka dari waktu pindah dulu."Melihat jari-jari Nindy mulai mencoba merobek segel amplop itu dengan gerakan tergesa, Malik langsung menahan tangan istrinya. "T

  • Dok, Please Cukup!   Bab 85 Surat Dari Bapak

    "Iya, Nindy. Aku bawa ke tukang perak minggu lalu, minta diperbaiki," jawab Malik sambil mengangkat kalung itu dari bantalan beludru. "Aku pengin kasih ke kamu dalam kondisi yang lebih pantas."Mata Nindy tiba-tiba membelalak, teringat sesuatu. Ia bangkit cepat, hampir berlari kecil menuju kamar tambahan tempat kardus-kardus lamanya masih tersimpan. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa sebuah kotak perhiasan kecil, usang dan sedikit berdebu."Aku juga masih nyimpen punyaku, Malik," ucap Nindy sambil duduk kembali, membuka kotak itu dengan tangan gemetar.Di dalamnya, tergeletak separuh hati yang satunya—jauh lebih kusam, warnanya sudah memudar dimakan waktu, tapi bentuknya masih utuh.Malik meraih liontin miliknya, menempelkannya perlahan ke liontin milik Nindy di atas meja kaca. Dua patahan itu bertemu, menyatu sempurna seperti tidak pernah terpisah selama tujuh tahun."Masih pas," bisik Nindy, suaranya bergetar menahan haru. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya."Kok

  • Dok, Please Cukup!   Bab 84 Nama Anak

    Malam harinya, ketika mereka berbaring di ranjang, Malik masih sesekali menempelkan tangannya ke perut Nindy, berharap bisa merasakan gerakan kecil itu lagi."Kamu masih semangat banget," canda Nindy sambil tertawa kecil melihat antusiasme suaminya."Gimana nggak semangat, tadi itu momen paling luar biasa," balas Malik sambil tersenyum lebar. "Eh, ngomong-ngomong soal itu, aku jadi kepikiran sesuatu.""Kepikiran apa?" tanya Nindy penasaran."Nama anak kita," jawab Malik sambil menatap mata Nindy serius. "Kita belum pernah bahas ini secara khusus, kan? Aku pengin kita mulai mikirin dari sekarang."Nindy mengangguk setuju, duduk lebih tegak di ranjang. "Kamu ada ide nama?""Aku pengin nama yang ada unsur 'Sastro' di dalamnya, biar identitas keluarga besar kita kebawa," jawab Malik penuh pertimbangan. "Kayak Sastro Wicaksono kalau laki-laki, atau Sastri Ayunda kalau perempuan."Nindy mengernyitkan dahi, kurang sreg dengan usulan itu. "Kedengerannya berat banget, Malik. Aku lebih suka nam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status