로그인Kecerobohan satu malam nyaris menghancurkan karier Bella sebagai perawat. Namun, Daren—dokter spesialis dingin dan perfeksionis justru memberinya tawaran yang tak bisa ditolak. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dan bebas dari suaminya yang toksik, Bella setuju berpura-pura menjadi calon tunangan Daren. Dalam permainan sandiwara berisiko tinggi ini, batas antara kepatuhan profesional dan ketertarikan nyata perlahan mulai kabur.
더 보기“Cuma segini?” bentak Dimas yang sedang berdiri di ambang pintu, sembari menatap Bella dengan mata merah yang liar.
Garis-garis wajahnya mengeras oleh emosi dan kecanduan judi daring yang makin parah.
“Kamu itu perawat rumah sakit besar, Bella! Masa cuma ada uang tiga ratus ribu di dompetmu?”
Sudut bibir Bella pecah, mengeluarkan darah segar yang asin saat lidahnya mengusap luka itu secara refleks.
Rasa panas menjalar di pipi kirinya akibat hantaman telapak tangan Dimas, sang suami.
Di atas lantai keramik kontrakan yang dingin, tas kerjanya tergeletak terbuka dengan isi yang berantakan.
Isi dompetnya telah dikuras habis, beberapa lembar uang ratusan ribu hasil sisa gaji dan uang lembur minggu lalu kini berpindah tangan.
“Itu uang sisa untuk makan minggu ini, Dimas,” bisik Bella.
“Ibu butuh obat ICU, adiku butuh biaya sekolah, dan sementara kamu ambil semuanya untuk judi?”
“Jangan sok menasihati aku! Kamu itu istriku. Tugasmu cari uang dan nurut sama suami!” Dimas menyambar kerah seragam perawat Bella dan menarik tubuh wanita itu hingga berdiri terpaku menatapnya.
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Dimas mendorong Bella hingga punggungnya terantuk keras ke bingkai pintu, lalu berbalik melangkah pergi membanting pintu kayu hingga bergetar keras.
Bella merosot di lantai. Pandangannya mengabur oleh air mata yang tak sanggup ia tahan lagi.
Memar di lengannya, sudut bibirnya yang robek, serta utang ratusan juta yang ditinggalkan Dimas atas namanya, semuanya terasa membelit lehernya perlahan.
Namun, ia tidak punya waktu untuk meratapi nasib.
Sebab jam dinding sudah menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit.
Sepuluh menit lagi ia harus menyuntikkan obat anestesi dan membantu persiapan operasi darurat di Rumah Sakit Arkanata Utama.
Dengan jemari gemetar, Bella mengusap air matanya, merapikan seragamnya yang kusut, lalu menutupi memar di pipinya dengan bedak tebal.
Ia memaksakan kakinya melangkah keluar dari tempat yang seharusnya menjadi rumah, tetapi hanya terasa seperti neraka.
Setelah tiba di rumah sakit, Bella berdiri di samping troli obat, kepala dan dadanya berdenyut hebat.
Dengung di telinganya belum juga hilang sejak pertengkaran hebat tadi pagi.
Pikirannya melayang pada deretan tagihan ICU ibunya yang menunggak dan ancaman penagih utang yang terus menteror ponselnya.
“Suster Bella, obat penenang dan agen blok neuromuskular sudah disiapkan?” suara datar Dokter Daren memecah fokusnya.
Bella tersentak. “S-sudah, Dokter Daren,” jawabnya dengan suara parau di balik masker medis.
Ia pun menyuntikkan cairan dari spuit ke jalur intravena pasien.
Tangannya gemetar samar, matanya yang kabur oleh kelelahan ekstrem salah membaca konsentrasi obat pada vial yang tersusun di meja.
Ia mengambil botol dengan label yang salah, dosis yang ia berikan tiga kali lipat dari batas aman untuk kondisi jantung pasien saat ini.
Beberapa menit setelah pisau bedah pertama menyentuh kulit pasien, monitor tanda vital mendadak berbunyi nyaring. Suara bip yang cepat dan konstan seketika memotong ketenangan ruang operasi.
“Tekanan darah drop! Detak jantung turun drastis ke angka tiga puluh!” seru perawat instrumen.
Kepanikan menjalar di ruangan itu. Bella langsung membeku di tempatnya. Matanya menatap grafik di monitor yang terus merosot turun.
Tubuhnya kaku, seolah seluruh darah di tubuhnya mendadak membeku. Pasien mengalami henti jantung sekunder akibat overdosis obat penenang.
“Atropin satu miligram, sekarang!” perintah Daren.
Tangannya bergerak cepat, tenang, dan sangat presisi melakukan resusitasi jantung. Pria itu tidak berteriak, tetapi setiap gerakan jemarinya memancarkan efisiensi yang dingin.
Selama sepuluh menit yang terasa seperti neraka, Daren bertarung ditarik-ulur oleh maut hingga akhirnya grafik monitor kembali stabil secara perlahan. Pasien berhasil diselamatkan dari krisis mortalitas.
“Jahit penutup,” ucap Daren singkat pada asisten bedahnya.
Pria itu kemudian melepas sarung tangan latex-nya, melemparnya ke tempat sampah medis, lalu menatap Bella yang berdiri mematung di sudut ruangan.
“Suster Bella. Ke ruang kerjaku sekarang.”
Setibanya di sana, Bella berdiri di hadapan meja tersebut. Tangannya tertaut rapat di depan tubuh, menahan gemetar yang tak kunjung reda.
“Kamu menyuntikkan Pavulon dengan dosis tiga kali lipat,” ucap Daren pelan. “Kamu hampir membunuh pasien di atas meja operasiku, Bella.”
“M-maaf, Dokter, saya tidak fokus, saya kelelahan—”
“Kelelahan bukan variabel yang diterima di meja operasi,” potong Daren. “Pasien tidak membayar rumah sakit ini untuk disuntik mati oleh perawat yang pikirannya tidak berada di tempat kerja.”
Bella menunduk dalam-dalam. “Saya mengaku salah, Dokter Daren. Saya juga menerima konsekuensi yang harus saya terima, potong gaji saya atau apa pun itu asalkan—"
“Memotong gajimu tidak akan mengembalikan nyawa pasien jika tadi dialat tersebut tidak berhasil menyelamatkannya,” potong Daren dengan intonasi yang begitu datar. “Dan rumah sakit ini bukan tempat penampungan sosial untuk masalah pribadimu.”
Daren kemudian mengambil sebuah pena berlogo rumah sakit, memutarnya sekali di antara jemarinya yang panjang, lalu menarik selembar formulir keputusan dari dalam laci.
“Kesalahanmu adalah pelanggaran berat tingkat satu. Kecerobohanmu membahayakan reputasi rumah sakit dan integritas tim medis saya,” Daren menandatangani formulir tersebut dengan gerakan mantap dan elegan.
Ia lalu menegakkan pandangannya menatap Bella lurus-lurus. “Mulai detik ini, Suster Bella, izin praktikmu di Rumah Sakit Arkanata Utama resmi ditangguhkan. Kamu dipecat.”
Aroma parfum mahal dan denting halus gelas kristal menyambut langkah Bella saat ia melewati pintu ganda aula makan kediaman utama keluarga Arkanata.Gaun malam berlengan panjang berwarna biru gelap pilihan tim Daren melekat pas di tubuhnya, menutupi memar di lengan yang mulai memudar.Namun, balutan kemewahan itu tak mampu mengikis rasa canggung yang merayap di dada.Di sampingnya, Daren berjalan dengan postur tegap.Pria itu mengenakan setelan jas hitam kaku.Saat memasuki ruangan, Daren melingkarkan jemarinya di pinggang Bella, sentuhan yang terukur dan dingin, persis seperti yang tertulis dalam pasal sandiwara profesional mereka.Bella sempat tersentak, tetapi memaksakan diri untuk tetap tenang. Wajah Daren di sampingnya tetap datar, menyalurkan tekanan tak kasat mata agar Bella tak merusak peran."Ingat, Bella," bisik Daren sangat pelan, mendekatkan bibirnya ke telinga Bella di tengah keriuhan musik klasik. "Cukup berdiri di sampingku, jawab seperlunya, dan biarkan aku yang mengen
Tiga hari setelah insiden di lorong VIP, kehidupan Bella di Rumah Sakit Arkanata Utama berjalan dalam ritme yang teratur namun penuh tekanan.Di bawah penanganan tim hukum keluarga Arkanata, para penagih utang tidak lagi meneror ponselnya. Namun, bayang-bayang Dimas yang sewaktu-waktu bisa nekat masih membayangi pikirannya.Pagi itu, sebelum jam visite dimulai, Daren memanggil Bella ke ruang kerja privatnya.Tidak ada berkas medis atau tablet data pasien di atas meja mahoni pria itu.Hanya ada dua jilid dokumen tebal bertulisan Perjanjian Kerjasama Khusus yang dijilid rapi dengan sampul hitam.Daren duduk di balik mejanya, menyandarkan punggung dengan gestur yang tenang namun memancarkan dominasi mutlak. Sepasang mata hitamnya menatap Bella yang berdiri di seberang meja."Duduk, Bella," perintah Daren datar.Bella menarik kursi kayu berukir itu dan duduk dengan gerakan canggung. Jemarinya tertaut rapat di pangkuannya. "Ada laporan riset yang salah, Dokter?""Ini bukan tentang riset,"
Seluruh darah di tubuh Bella seolah mengalir turun ke kaki. Wajahnya yang semula agak berseri pasca-penanganan darurat pasien kini berubah pucat pasi."Siapa pria itu?" tanya Daren datar."Dokter... saya mohon maaf. Saya akan menyelesaikannya di luar," bisik Bella panik.Tanpa menunggu jawaban Daren, Bella setengah berlari keluar dari kamar 402 menuju lorong utama.Di depan meja perawat, Dimas berdiri dengan pakaian kusam dan mata merah yang liar.Dua orang satpam rumah sakit tampak mencoba menahannya, tapi Dimas terus mengamuk, sembari menepis tangan petugas security."Dimas! Berhenti!" seru Bella dengan suara parau.Kemudian menghampiri suaminya dan mencoba menarik lengan pria itu menjauh dari kerumunan staf medis yang mulai berbisik-bisik. "Ini rumah sakit, Dimas! Jangan bikin keributan di sini!"Dimas berbalik cepat, kemudian menyambar pergelangan tangan Bella dan mencengkeramnya begitu kuat hingga Bella meringis menahan sakit."Akhirnya keluar juga kamu!" bentak Dimas tepat di de
Keesokan paginya.Tepat pukul lima lewat empat puluh lima menit, Bella sudah berdiri di koridor lantai empat gedung riset RS Arkanata Utama.Suasana lantai ini jauh lebih sepi dibandingkan bangsal perawatan biasa. Hanya ada deretan laboratorium, ruang simulasi bedah, dan kantor privat jajaran dokter spesialis senior.Pintu kaca tebal bertuliskan Neuroscience Research Lab terbuka secara otomatis.Di dalam ruangan beraroma antiseptik yang dingin itu, Dokter Daren sudah berdiri di depan papan tulis kaca interaktif, membelakangi pintu.Pria itu sudah mengenakan kemeja biru tua yang digulung hingga siku dan jas dokter putih yang kaku."Kamu terlambat dua menit dari waktu persiapan," ucap Daren tanpa menoleh.Bella langsung tersentak lalu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima lewat lima puluh delapan menit. "Maaf, Dokter Daren. Saya pikir jam enam—""Persiapan tim medis dimulai sepuluh menit sebelum jadwal utama," potong Daren tegas.Pria itu kemudian berbalik dan memutar tubuhnya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.