LOGINKecerobohan satu malam nyaris menghancurkan karier Bella sebagai perawat. Namun, Daren—dokter spesialis dingin dan perfeksionis justru memberinya tawaran yang tak bisa ditolak. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dan bebas dari suaminya yang toksik, Bella setuju berpura-pura menjadi calon tunangan Daren. Dalam permainan sandiwara berisiko tinggi ini, batas antara kepatuhan profesional dan ketertarikan nyata perlahan mulai kabur.
View MorePagi harinya, jam dinding di kamar menunjukkan pukul enam tepat.Bella terbangun lebih dulu, merapikan kemeja putih oversized yang membalut tubuhnya, lalu melangkah pelan menuju dapur."Aku harus menyiapkan sarapan, setidaknya ini yang bisa kubuat sebelum berangkat," gumam Bella pada dirinya sendiri di depan kompor.Jemarinya bergerak lincah mengocok telur dan memotong beberapa lembar roti tawar yang ditemukannya di kulkas.Aroma harum mentega perlahan memenuhi area dapur penthouse yang serba mewah itu.Di tengah kegiatannya membalik telur, Bella sesekali menoleh ke arah lorong kamar Daren."Kenapa pria itu belum juga keluar dari kamarnya, ya?" batin Bella heran seraya mematikan kompor.Namun, dugaan Bella salah besar.Suara denting pintu utama apartemen yang terbuka spontan membuat Bella menoleh kaget.Daren melangkah masuk dari luar, masih mengenakan pakaian olahraga serba hitam dengan peluh tipis di pelipisnya.Tangan kanannya menenteng dua buah goodie bag berukuran cukup besar ber
Bella menelan ludah, lalu melangkah keluar dari mobil dengan ragu-ragu.Daren langsung menyambar pergelangan tangan Bella dan menuntunnya menuju lift pribadi gedung apartemen tersebut.Dinding kaca lift memantulkan bayangan mereka berdua yang berdiri sangat berdampingan."Dokter, ini tidak ada di dalam draf perjanjian kerja sama kita," protes Bella pelan.Daren menekan tombol lantai paling atas tanpa menoleh. "Ada poin klausul keamanan di sana.""Tapi tinggal satu atap dengan Dokter itu..." Bella menghentikan kalimatnya, bingung mencari kata yang tepat."Itu adalah cara terbaik untuk memastikan kamu tidak melarikan diri atau diseret oleh suamimu lagi," potong Daren.Pintu lift denting terbuka mengarahkan mereka langsung ke dalam penthouse yang sangat luas dan elegan.Aroma kayu cendana dan dominasi warna abu-abu langsung menyambut indra penciuman Bella.Daren melepas jas dokternya dan meletakkannya dengan santai di atas sofa kulit hitam."Kamar tidurmu ada di sebelah kiri," tunjuk Dar
Bella segera memundurkan kepalanya, lalu menarik diri dengan napas terengah-engah dari ciuman mendadak itu.'Pria ini benar-benar gila!' keluh Bella dalam hatinya sembari melirik ke arah Daren yang masih melingkarkan tangannya di pinggangnya itu. Jantungnya berdebar keras menahan ketakutan yang membakar dadanya.Ia lalu melirik cemas pada Clara yang masih berdiri kaku dengan mata membelalak lebar."Daren! Kamu sudah gila, hah?!" jerit Nyonya Maharani seraya memukul tepi meja makan kristal itu.Daren tidak melepaskan genggaman tangannya pada jemari Bella yang dingin.Ia justru menatap satu per satu orang di meja makan itu dengan raut wajah yang sepenuhnya tenang."Apa selama ini kalian pernah melihatku bercanda soal pilihanku?" tanya Daren dengan intonasi rendah dan tajam.Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Prof. Subroto maupun Nyonya Maharani.Mereka hanya diam membisu, melemparkan tatapan mematikan yang dipenuhi amarah mendalam kepada Bella.Di sudut meja, Bella dapat melihat
Aroma parfum mahal dan denting halus gelas kristal menyambut langkah Bella saat ia melewati pintu ganda aula makan kediaman utama keluarga Arkanata.Gaun malam berlengan panjang berwarna biru gelap pilihan tim Daren melekat pas di tubuhnya, menutupi memar di lengan yang mulai memudar.Namun, balutan kemewahan itu tak mampu mengikis rasa canggung yang merayap di dada.Di sampingnya, Daren berjalan dengan postur tegap.Pria itu mengenakan setelan jas hitam kaku.Saat memasuki ruangan, Daren melingkarkan jemarinya di pinggang Bella, sentuhan yang terukur dan dingin, persis seperti yang tertulis dalam pasal sandiwara profesional mereka.Bella sempat tersentak, tetapi memaksakan diri untuk tetap tenang. Wajah Daren di sampingnya tetap datar, menyalurkan tekanan tak kasat mata agar Bella tak merusak peran."Ingat, Bella," bisik Daren sangat pelan, mendekatkan bibirnya ke telinga Bella di tengah keriuhan musik klasik. "Cukup berdiri di sampingku, jawab seperlunya, dan biarkan aku yang mengen












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.