Perawat Cantik Simpanan Dokter Tampan

Perawat Cantik Simpanan Dokter Tampan

last update최신 업데이트 : 2026-07-19
작가:  Red Swan연재 중
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
6챕터
14조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Kecerobohan satu malam nyaris menghancurkan karier Bella sebagai perawat. Namun, Daren—dokter spesialis dingin dan perfeksionis justru memberinya tawaran yang tak bisa ditolak. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dan bebas dari suaminya yang toksik, Bella setuju berpura-pura menjadi calon tunangan Daren. Dalam permainan sandiwara berisiko tinggi ini, batas antara kepatuhan profesional dan ketertarikan nyata perlahan mulai kabur.

더 보기

1화

Bagian 1: Batas Ambang Kematian

“Cuma segini?” bentak Dimas yang sedang berdiri di ambang pintu, sembari menatap Bella dengan mata merah yang liar.

Garis-garis wajahnya mengeras oleh emosi dan kecanduan judi daring yang makin parah.

“Kamu itu perawat rumah sakit besar, Bella! Masa cuma ada uang tiga ratus ribu di dompetmu?”

Sudut bibir Bella pecah, mengeluarkan darah segar yang asin saat lidahnya mengusap luka itu secara refleks.

Rasa panas menjalar di pipi kirinya akibat hantaman telapak tangan Dimas, sang suami.

Di atas lantai keramik kontrakan yang dingin, tas kerjanya tergeletak terbuka dengan isi yang berantakan.

Isi dompetnya telah dikuras habis, beberapa lembar uang ratusan ribu hasil sisa gaji dan uang lembur minggu lalu kini berpindah tangan.

“Itu uang sisa untuk makan minggu ini, Dimas,” bisik Bella.

“Ibu butuh obat ICU, adiku butuh biaya sekolah, dan sementara kamu ambil semuanya untuk judi?”

“Jangan sok menasihati aku! Kamu itu istriku. Tugasmu cari uang dan nurut sama suami!” Dimas menyambar kerah seragam perawat Bella dan menarik tubuh wanita itu hingga berdiri terpaku menatapnya.

Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Dimas mendorong Bella hingga punggungnya terantuk keras ke bingkai pintu, lalu berbalik melangkah pergi membanting pintu kayu hingga bergetar keras.

Bella merosot di lantai. Pandangannya mengabur oleh air mata yang tak sanggup ia tahan lagi.

Memar di lengannya, sudut bibirnya yang robek, serta utang ratusan juta yang ditinggalkan Dimas atas namanya, semuanya terasa membelit lehernya perlahan.

Namun, ia tidak punya waktu untuk meratapi nasib.

Sebab jam dinding sudah menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit.

Sepuluh menit lagi ia harus menyuntikkan obat anestesi dan membantu persiapan operasi darurat di Rumah Sakit Arkanata Utama.

Dengan jemari gemetar, Bella mengusap air matanya, merapikan seragamnya yang kusut, lalu menutupi memar di pipinya dengan bedak tebal.

Ia memaksakan kakinya melangkah keluar dari tempat yang seharusnya menjadi rumah, tetapi hanya terasa seperti neraka.

Setelah tiba di rumah sakit, Bella berdiri di samping troli obat, kepala dan dadanya berdenyut hebat.

Dengung di telinganya belum juga hilang sejak pertengkaran hebat tadi pagi.

Pikirannya melayang pada deretan tagihan ICU ibunya yang menunggak dan ancaman penagih utang yang terus menteror ponselnya.

“Suster Bella, obat penenang dan agen blok neuromuskular sudah disiapkan?” suara datar Dokter Daren memecah fokusnya.

Bella tersentak. “S-sudah, Dokter Daren,” jawabnya dengan suara parau di balik masker medis.

Ia pun menyuntikkan cairan dari spuit ke jalur intravena pasien.

Tangannya gemetar samar, matanya yang kabur oleh kelelahan ekstrem salah membaca konsentrasi obat pada vial yang tersusun di meja.

Ia mengambil botol dengan label yang salah, dosis yang ia berikan tiga kali lipat dari batas aman untuk kondisi jantung pasien saat ini.

Beberapa menit setelah pisau bedah pertama menyentuh kulit pasien, monitor tanda vital mendadak berbunyi nyaring. Suara bip yang cepat dan konstan seketika memotong ketenangan ruang operasi.

“Tekanan darah drop! Detak jantung turun drastis ke angka tiga puluh!” seru perawat instrumen.

Kepanikan menjalar di ruangan itu. Bella langsung membeku di tempatnya. Matanya menatap grafik di monitor yang terus merosot turun.

Tubuhnya kaku, seolah seluruh darah di tubuhnya mendadak membeku. Pasien mengalami henti jantung sekunder akibat overdosis obat penenang.

“Atropin satu miligram, sekarang!” perintah Daren.

Tangannya bergerak cepat, tenang, dan sangat presisi melakukan resusitasi jantung. Pria itu tidak berteriak, tetapi setiap gerakan jemarinya memancarkan efisiensi yang dingin.

Selama sepuluh menit yang terasa seperti neraka, Daren bertarung ditarik-ulur oleh maut hingga akhirnya grafik monitor kembali stabil secara perlahan. Pasien berhasil diselamatkan dari krisis mortalitas.

“Jahit penutup,” ucap Daren singkat pada asisten bedahnya.

Pria itu kemudian melepas sarung tangan latex-nya, melemparnya ke tempat sampah medis, lalu menatap Bella yang berdiri mematung di sudut ruangan.

“Suster Bella. Ke ruang kerjaku sekarang.”

Setibanya di sana, Bella berdiri di hadapan meja tersebut. Tangannya tertaut rapat di depan tubuh, menahan gemetar yang tak kunjung reda.

“Kamu menyuntikkan Pavulon dengan dosis tiga kali lipat,” ucap Daren pelan. “Kamu hampir membunuh pasien di atas meja operasiku, Bella.”

“M-maaf, Dokter, saya tidak fokus, saya kelelahan—”

“Kelelahan bukan variabel yang diterima di meja operasi,” potong Daren. “Pasien tidak membayar rumah sakit ini untuk disuntik mati oleh perawat yang pikirannya tidak berada di tempat kerja.”

Bella menunduk dalam-dalam. “Saya mengaku salah, Dokter Daren. Saya juga menerima konsekuensi yang harus saya terima, potong gaji saya atau apa pun itu asalkan—"

“Memotong gajimu tidak akan mengembalikan nyawa pasien jika tadi dialat tersebut tidak berhasil menyelamatkannya,” potong Daren dengan intonasi yang begitu datar. “Dan rumah sakit ini bukan tempat penampungan sosial untuk masalah pribadimu.”

Daren kemudian mengambil sebuah pena berlogo rumah sakit, memutarnya sekali di antara jemarinya yang panjang, lalu menarik selembar formulir keputusan dari dalam laci.

“Kesalahanmu adalah pelanggaran berat tingkat satu. Kecerobohanmu membahayakan reputasi rumah sakit dan integritas tim medis saya,” Daren menandatangani formulir tersebut dengan gerakan mantap dan elegan.

Ia lalu menegakkan pandangannya menatap Bella lurus-lurus. “Mulai detik ini, Suster Bella, izin praktikmu di Rumah Sakit Arkanata Utama resmi ditangguhkan. Kamu dipecat.”

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
6 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status