Masuk"Aku tidak lari," kata Peter Davis dengan nada sangat datar. Tidak ada emosi yang terpancar dari suaranya, hanya ketenangan yang dingin.Pria berbadan besar itu tertawa keras, tawa penuh penghinaan dan ejekan. "Bagus! Tunjukkan padaku kau bukan pengecut yang hanya bisa bersembunyi!"Lalu mereka menyerang, semua bersamaan, tanpa peringatan atau basa-basi. Serangan datang dari berbagai sisi, membentuk gelombang mematikan.Peter Davis menghunus Pedang Naga Emasnya dengan gerakan sangat cepat dan anggun.Ting! Cahaya emas menyala dari pedang itu, tapi lebih redup dari biasanya. Qi-nya masih tertekan, belenggu masih aktif, hanya dilonggarkan, bukan dihilangkan sepenuhnya.Wush! Dua orang menyerang dari depan, pedang energi di tangan mereka bersinar terang. Mereka mengincar titik vital dengan presisi.Peter Davis mengayunkan Pedang Naga Emasnya dengan kekuatan penuh. Denting! Denting! Getaran menjalar ke lengannya, menandakan kekuatan lawan yang tidak main-main.Lalu tiga orang menyerang da
Beberapa hari berlalu dengan sangat lambat. Waktu terasa membeku dalam keheningan penjara yang mencekam.Setiap hari terasa sama, monoton dan tanpa variasi berarti. Peter Davis hanya bangun, makan di kafetaria, lalu kembali ke selnya.Tidak ada aktivitas lain yang berarti baginya. Ia tidak memiliki interaksi dengan siapa pun. Hanya keheningan yang sangat berat menyelimuti dirinya.Peter Davis menghabiskan waktu dengan bermeditasi. Ia mencoba merasakan Qi di dalam tubuhnya meskipun belenggu terus menekannya. Ia berusaha menjaga pikirannya tetap tajam dan fokus, agar tidak larut dalam keputusasaan.Lalu pada hari kelima, sesuatu berubah. Sebuah pertanda kecil yang memecah rutinitas penjara yang membosankan.Gong berbunyi dengan pola yang berbeda. Bunyi itu memecah keheningan yang telah lama berkuasa.Bunyinya terdengar empat kali, bukan tiga seperti biasanya. Pola ini asing bagi Peter Davis, menimbulkan sedikit rasa penasaran.Suara dingin bergema dari speaker. "Hari libur. Semua tahana
"Itu dia," kata seseorang dengan suara yang sangat pelan, tapi cukup keras untuk Peter Davis dengar. "Itu Percival Thorne.""Aku dengar dia melawan Grandmaster Xylos dan Elder Lyor Willowbrook sendirian," bisik yang lain dengan nada kagum. "Bahkan sayap putihnya itu aneh.""Bukan kuning keemasan atau cokelat seperti mereka, tapi putih polos," lanjut bisikan itu. "Aku tidak pernah kulihat yang seperti itu.""Percival Thorne si pembantai," tambah suara ketiga dengan nada yang sangat dingin. "Klan Pengobat Willow Valley hancur karena dia."Peter Davis tetap diam, tidak merespons bisikan-bisikan itu. Ia hanya menatap makanan di depannya dengan tatapan yang sangat kosong.Lalu ia mendengar langkah kaki yang berat, sangat berat, mendekat ke arahnya.Peter Davis tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang, aura agresif itu sudah sangat jelas.Seorang pria berbadan besar berdiri di depan mejanya. Wajahnya penuh bekas luka yang sangat dalam, meninggalkan jejak pertarungan brutal.Matany
Peter Davis terbangun dengan lambat, merasakan berat di kepalanya. Matanya terasa seperti ditimpa batu yang besar.Ia membuka kelopak matanya sedikit demi sedikit, menyesuaikan diri dengan cahaya yang sangat redup di sekelilingnya. Cahaya itu datang dari dinding selnya.Peter Davis menatap dinding sel dengan tatapan yang sangat kosong. Dinding itu terbuat dari material transparan yang memancarkan cahaya biru pucat yang sangat redup.Cahaya itu hampir seperti senja yang tidak pernah berubah menjadi malam, berdenyut sangat pelan seperti jantung yang berdetak dengan ritme lambat.Di balik dinding transparan itu, ia bisa melihat lorong penjara yang sangat panjang dan gelap. Hanya ada cahaya merah redup di langit-langit, memberikan sedikit penerangan.Cahaya merah itu membuat segala sesuatu terlihat seperti dalam mimpi buruk yang mengerikan.Peter Davis menggerakkan tubuhnya dengan sangat pelan, setiap gerakan terasa berat. Ia duduk di lantai yang sangat dingin, terbuat dari logam yang dip
Warden Kaelen melangkah tegap, pria tinggi berwajah dingin dan mata biru tajam. Seragam metaliknya bersinar biru, sayap peraknya mengepak, menerpa semua dengan embusan angin kuat."Kami tidak peduli dendam pribadi kalian," kata Warden Kaelen datar, tanpa emosi."Percival Thorne tahanan Kekaisaran Aethelon. Siapa pun mencoba membunuhnya akan berurusan langsung dengan kekaisaran." Ia menegaskan, "Konsekuensinya akan sangat berat," tatapannya menyapu Grandmaster Xylos dan Elder Lyor, penuh ancaman.Elder Lyor melangkah maju, tongkat tergenggam, sayap cokelat mengepak gelisah. Wajahnya memerah karena amarah, urat-urat menonjol."Warden Kaelen, Overseer Jaxus," katanya nyaris meledak. "Kalian tahu apa yang penjahat ini lakukan? Ia hancurkan keluarga kami, mencuri Kitab Agung Vitae Willow, membantai orang yang kami cintai!" teriak Elder Lyor, suaranya bergetar."Keadilan harus ditegakkan sekarang!" tuntutnya, mata menyala dendam.Overseer Jaxus melangkah tenang, auranya tak kalah kuat. Lebih
Telapak tangan Grandmaster Xylos menghantam tanah tempat Peter berdiri sebelumnya. Lantai retak dengan bunyi yang sangat keras, retakan menyebar seperti jaring laba-laba.Krak! Krak!Peter mendarat beberapa meter jauhnya, napasnya tersengal. Ia menatap kedua musuhnya dengan tatapan yang sangat serius.Kultivasi mereka setara dengannya. Bahkan mungkin sedikit lebih tinggi dari Peter. Mereka berdua menyerang secara bersamaan dengan koordinasi yang sempurna. Seolah sudah berlatih bersama selama puluhan tahun."Aku tidak bisa menang seperti ini," gumam Peter dengan suara sangat pelan. Ia mengencangkan genggaman pedangnya. Keringat mengalir deras di pelipisnya.Pertarungan berlanjut dengan intensitas yang sangat tinggi.Denting! Duar! Wush!Pedang Naga Emas berkelebat di udara, memantulkan serangan dari tongkat Elder Lyor. Sayap Uriel mengepak dengan cepat, membawa Peter bergerak lincah menghindari serangan Qi dari Grandmaster Xylos.Tapi Peter terus terdesak. Setiap serangan yang ia tangk







