LOGINDi kehidupan pertamanya, Lian Xue mengkhianati suaminya demi pria yang dicintainya. Demi Pei Zhen, ia meracuni Shen Yang, mencuri segel militer, dan tanpa sadar membuka jalan bagi kehancuran Kerajaan Xiang Xi. Namun ketika ayahnya dibunuh dan dirinya dikhianati hingga kehilangan nyawa, Lian Xue baru menyadari siapa musuh dan siapa yang benar-benar melindunginya. Kini takdir memberinya kesempatan kedua. Terbangun kembali di malam pernikahannya, Lian Xue bertekad menyelamatkan ayahnya, menggagalkan pemberontakan, dan memperbaiki hubungannya dengan Shen Yang. Namun sang jenderal tidak mempercayai perubahan mendadaknya. Dengan identitas tersembunyi sebagai Zhao Tian, pria bertopeng yang hangat dan penuh perhatian, Shen Yang diam-diam mengawasi istrinya. Tanpa mengetahui bahwa Zhao Tian dan Shen Yang adalah orang yang sama, Lian Xue justru jatuh cinta untuk kedua kalinya pada suaminya sendiri. Di tengah konspirasi istana, perebutan takhta, dan rahasia darah kerajaan Shen Yang yang terkubur puluhan tahun, akankah cinta mereka mampu mengalahkan pengkhianatan, atau takdir kembali menuntut harga yang sama?
View MoreLian Xue memandang tubuhnya perlahan di depan cermin perak. Gaun hanfu berwarna biru langit dengan model sederhana membungkus tubuhnya dengan pas."Putri, kau tampak cantik sekali. Apakah kau akan pergi ke suatu tempat?" tanya A'ning sambil membereskan sisir ke dalam tempatnya. Dayang pribadi Lian Xue itu tidak memandang langsung ke arahnya, terlalu sibuk merapikan meja rias.Lian Xue melirik secarik kertas yang terlipat di sudut meja. Ia menerimanya dari seorang pelayan saat berjalan sendirian di taman tadi pagi.Temui aku siang ini di Kuil Tianjin. Begitu tulisan yang tertera.Tempat pertemuan yang berbeda dari biasanya, batin Lian Xue. Tidak ada nama tertulis, tapi ia hafal betul tulisan tangan itu seperti ia hafal suara penulisnya, Pei Zhen.Ini pertemuan pertama mereka sejak pernikahannya dengan Shen Yang. Pei Zhen masih termasuk kerabat Istana Mingxiu. Ia anak dari adik perempuan Kaisar yang lahir dari seorang selir rendahan. Ibu Pei Zhen menikah dengan Hakim Agung Pei Jiang
Suara langkah kaki Kasim Zhang menggema di selasar kayu Paviliun Lily. Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan, aroma dupa cendana seolah memudar, digantikan oleh hawa otoritas yang kaku. Kasim kepercayaan kaisar itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang sempurna kepada Selir Agung Wei. "Mohon ampun, Selir Agung," ujar Kasim Zhang dengan suara berat namun sopan. "Hamba datang membawa titah kedisiplinan. Selir Wen telah melanggar perintah untuk tetap tinggal di kediamannya selama masa penyelidikan. Melanggar aturan rumah tangga istana adalah pelanggaran serius. Beliau dijatuhi hukuman berlutut di dalam Aula Leluhur selama satu hari penuh untuk merenungkan kesalahannya." Di balik tirai sutra yang bergoyang lembut, Lian Xue bisa melihat bayangan Selir Wen yang gemetar hebat. Wanita itu bersembunyi di sana dengan napas tertahan. Lian Xue sendiri tetap duduk tegak di sisi bibinya, memperhatikan bagaimana Selir Agung Wei menanggapi situasi ini. Selir Agung Wei bangkit dari d
Pintu kayu berukir itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Selir Wen yang melangkah masuk dengan tergesa. Guratan kecemasan tak mampu disembunyikan dari wajahnya yang pucat. Ia mengenakan jubah sutra berwarna hijau zamrud, warna penuh ketenangan, namun pagi ini tampak kontras dengan kegelisahan yang memancar dari matanya. "Mohon maaf jika kunjunganku yang mendadak ini mengganggu pembicaraan Kakak Wei dan Tuan Putri," ucap Selir Wen sambil memberikan penghormatan yang sempurna, menekuk lututnya dengan gemetar yang halus. Selir Agung Wei tersenyum ramah. Topeng istananya telah terpasang kembali dengan sempurna, menyembunyikan apa yang ia diskusikan bersama keponakannya. "Sama sekali tidak, Wen Yue. Silakan duduk. Kami baru saja menikmati teh pagi sambil berbincang santai. Mari, hangatkan dirimu."Kilau Emas, Hati yang Panas Lian Xue tetap duduk diam, jemarinya melingkari cangkir porselen yang sudah mendingin. Matanya tak lepas memperhatikan setiap gerak-gerik wanita di hadapa
Angin pagi membawa aroma dupa cendana menyusup melalui jendela Paviliun Shengde, namun kehangatan sinar matahari tidak mampu mencairkan suasana yang mendadak beku. Di atas meja perjamuan, piring-piring porselen berisi hidangan mewah seolah kehilangan daya tariknya saat Kasim Zhang melangkah maju. Dengan gerakan penuh penghormatan, Kasim Zhang menyerahkan sebuah kotak kayu cendana berukir bunga plum kepada Kaisar Yang. Begitu tutupnya dibuka, kilauan permata memantulkan cahaya yang menyilaukan mata. Di dalamnya berjajar tusuk konde emas murni, gelang giok hijau yang jernih berukir naga, hingga sepasang anting bermata mirah delima. Lian Xue merasakan dadanya menyempit. Ia mengenali benda-benda itu, perhiasan milik ibu Pei Zhen. Suasana makan pagi yang semula tenang seketika berubah tegang dan canggung. Wajah ayahnya, Kaisar Yang, langsung mengeras karena rasa tidak suka yang amat sangat. Di sampingnya, Shen Yang tetap diam, namun Lian Xue bisa merasakan aura dingin yang memanc






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews