LOGINDikhianati hingga mati oleh cinta palsunya, kini saatnya mengubah takdir! Demi pria licik, Putri Lian Xue meracuni suaminya sendiri Jendral Shen Yang, hingga kerajaannya hancur. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Terbangun kembali di malam pernikahannya, ia bersumpah untuk menebus dosa dan menggagalkan pemberontakan. Rumitnya, Lian Xue justru jatuh hati pada Zhao Tian - pria bertopeng misterius yang sebenarnya adalah Shen Yang yang sedang menyamar untuk mengawasinya!
View More"Shen Yang! Shen Yang! "
Lian Xue menggoyangkan tubuh laki-laki yang kini tergeletak kaku di atas meja setelah menenggak arak pernikahan mereka. Namun Shen Yang tidak merespon. Lian Xue memeriksa nafas dari Shen Yang. Tidak ada embusan nafas dari hidungnya. Bibirnya mulai menghitam. Lian Xue tersenyum samar. "Ma- ma ti ... akhirnya Shen Yang mati. Pei Zhen ... Aku berhasil membunuhnya ...." Suara Lian Xue bergetar. Dia tak menyangka bahwa racun yang dimasukan ke dalam arak pernikahan itu bereaksi dengan cepat. Ia mendekap erat segel militer berbentuk patung harimau kecil yang berhasil didapatkan dari balik pakaian pengantin Shen Yang. Barang itu yang sangat diinginkan oleh Pei Zhen, pujaan hatinya. Demi cintanya pada Pei Zhen, ia rela meracuni Shen Yang, suami pilihan ayahnya, agar bisa mencuri segel militer milik Shen Yang. Di dalam otaknya, masih terngiang kata-kata Pei Zhen bahwa jika Lian Xue berhasil mengambil segel militer dari Sheng Yan dan membunuhnya, maka mereka akan bersama selamanya. Angin malam yang dingin menerpa tubuh Lian Xue yang berlari dari kamar pengantin dengan tubuh gemetar dengan masih memakai pakaian pengantin berwarna merahnya bersulam naga. Ia berlari menuju Aula altar leluhur tempat ia berjanji bertemu dengan Pei Zhen. Namun di tengah perjalanan, ia melihat Pei Zhen berjalan menuju kamar ayahandanya, sang Kaisar. Lian Xue mengikuti, namun langkahnya terhenti saat melihat bayangan di jendela kamar sang ayah. Pei Zhen masuk dengan langkah terburu-buru, namun bukan untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, jantung Lian Xue seolah berhenti berdetak. Pei Zhen menarik bantal sutra, lalu dengan dingin menekan wajah Kaisar yang lemah. Sang Kaisar meronta, tangannya mencakar udara, namun tenaga pria tua yang sakit-sakitan itu bukan tandingan kekuatan Pei Zhen. "Ayah!" jerit Lian Xue histeris, menghambur masuk ke dalam kamar. Terlambat. Tubuh Kaisar sudah lemas. Pei Zhen berbalik dengan tenang, di tangannya tergenggam Segel Kekaisaran yang baru saja ia dapatkan dari Kaisar. "Berhenti!" Lian Xue meronta saat dua pengawal pribadi Pei Zhen mencengkeram lengannya dengan kasar sebelum ia sempat menyentuh pria itu. "Pei Zhen! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau tega membunuh ayahku?!" Pei Zhen tidak menunjukkan raut penyesalan. Ia justru tertawa kecil, sebuah tawa sinis yang belum pernah didengar Lian Xue selama tiga tahun mereka menjalin cinta. "Bagaimana aku tega?" Pei Zhen mendekat, menatap Lian Xue dengan pandangan menghina. "Kau pikir selama ini aku tulus mencintaimu? Kau pikir aku benar-benar ingin menghabiskan sisa hidupku dengan putri manja sepertimu?" Lian Xue menggeleng, air mata membanjiri wajahnya. "Tapi kau bilang ... kau bilang kita akan membangun masa depan bersama ...." "Kau hanya alat," potong Pei Zhen tajam. Ia mengangkat Segel Kekaisaran tinggi-tinggi. "Aku hanya menggunakanmu untuk mendapatkan ini. Tanpamu, aku harus menunggu bertahun-tahun untuk menguasai takhta ini." Pei Zhen kemudian melirik tangan Lian Xue yang masih menggenggam kotak segel milik Shen Yang. "Sekarang, berikan segel militer itu padaku. Setidaknya aku akan memberimu kematian yang tidak terlalu menyakitkan." Melihat seringai iblis di wajah pria yang ia puja, rasa cinta Lian Xue menguap, digantikan oleh kebencian yang membara. Saat Pei Zhen mengulurkan tangan untuk merampas kotak itu, Lian Xue mengumpulkan sisa tenaganya dan .... Cuih! Ludah bercampur amarah mendarat tepat di wajah Pei Zhen. PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Lian Xue. Kekuatannya begitu besar hingga Lian Xue tersungkur ke lantai kayu yang dingin. Sudut bibirnya pecah, darah segar mulai menetes. "Dasar jalang tidak tahu diuntung!" geram Pei Zhen sambil mengusap wajahnya. Lian Xue tidak menyerah. Dengan sisa tenaganya, ia mencoba bangkit dan lari menuju pintu keluar. Namun, ia tidak pernah sampai ke sana. Sebuah desing tajam membelah udara, diikuti oleh rasa dingin yang menusuk dari arah punggung tembus ke dada. Lian Xue terpaku. Ia menunduk dan melihat mata pedang yang berkilau darah muncul dari tengah dadanya. Pei Zhen telah melemparkan pedangnya dengan akurasi mematikan. Tubuh Lian Xue limbung. Matanya sempat menangkap sesosok bayangan tak jauh di depan pintu, seorang wanita. Namun sebelum mengenalinya, pandangannya sudah mengabur. Ketika kesadarannya belum hilang sepenuhnya dan tubuhnya belum rebah ke tanah, ia membisikkan sumpah dengan suara yang bergetar. "Jika ada kehidupan kedua ... akan kubalas ... apa yang telah kau lakukan padaku... dan ayahku ... Pei Zhen!" BUKK! Tubuhnya bedebum jatuh di atas lantai kayu yang keras. Kegelapan menelannya. "Tuan Puteri ...." Lian Xue tersentak. Napasnya tersengal seolah baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam lama. Ia tidak merasakan dinginnya lantai kayu, melainkan kehangatan sebuah kursi empuk. Ia mengerjapkan mata. Pemandangan di depannya bukan lagi kamar ayahnya, melainkan sebuah kamar luas yang didominasi warna merah terang. Lilin-lilin besar menyala di setiap sudut, dan aroma arak yang manis memenuhi hidungnya. Ini bukan alam baka. Ini adalah kamar pengantinnya dengan Shen Yang. Seorang pria berdiri membelakanginya. Bahunya lebar, mengenakan jubah merah pengantin yang gagah. Itu Shen Yang. "Jika Tuan Puteri memang tidak berkenan dengan pernikahan ini," suara rendah dan dalam milik Shen Yang terdengar. "Maka aku akan menyelesaikan ritual ini sendirian. Aku akan meneguk arak pernikahan ini demi menghormati Kaisar, setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi." Tangan Shen Yang mulai meraih cangkir arak di atas meja. Mata Lian Xue membelalak. Cangkir itu. Ia ingat betul. Di dalam cangkir itulah ia telah mencampurkan racun beberapa menit yang lalu atas perintah Pei Zhen. Sekelebat bayangan mengerikan berputar di kepalanya: pedang yang menembus dadanya, tawa iblis Pei Zhen, dan wajah ayahnya yang meregang nyawa di bawah bantal. Aku kembali? batinnya tak percaya. Aku kembali ke saat semuanya bermula. "JANGAN!" Lian Xue melompat dari kursinya, gaun pengantinnya yang panjang hampir membuatnya tersandung. Sebelum jemari Shen Yang menyentuh cangkir itu, Lian Xue sudah menerjang maju dan menepis tangan sang jenderal dengan keras. Prang! Cangkir porselen itu jatuh ke lantai, isinya tumpah membasahi lantai, dan aromanya yang manis kini terasa seperti bau busuk kematian di hidung Lian Xue. Shen Yang berbalik, wajahnya yang kaku menunjukkan keterkejutan. "Tuan Puteri? Apa maksudnya ini?" Lian Xue menatap pria di depannya. Pria yang di kehidupan sebelumnya ia bunuh dengan dingin demi seorang pengkhianat. Dadanya sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Ia tidak hanya harus menyelamatkan dirinya sendiri, ia harus menyelamatkan pria ini. Shen Yang tidak boleh mati, bisiknya dalam hati. Ayah tidak boleh mati.Desahan pasrah Lian Xue bergema membelah keheningan kamar Penginapan Anggrek Merah. Dinding-dinding kayu tua di lantai teratas menjadi saksi bisu bagaimana pertahanan dingin sang Putri Kekaisaran runtuh total di bawah kendali mutlak suaminya. Shen Yang merapatkan tubuh tegapnya, menatap lurus sepasang mata bening istrinya yang kini berselimut kabut gairah. Pria itu menyapu sisa peluh halus di dahi Lian Xue dengan usapan jemari kasarnya yang hangat, membimbing wanita itu memasuki pusaran rasa yang kian pekat. "Tatap aku, Lian Xue," perintah Shen Yang serak, nada suaranya mengalun bagai titah yang tak sanggup ditolak. "Jangan alihkan pandanganmu sedikit pun." Lian Xue mencengkeram bahu kekar Shen Yang yang menopang tubuh di sisi kepalanya. "Shen Yang ... kau ...." Kalimat sang Putri terputus kaku saat Shen Yang menyatukan kembali keintiman mereka secara utuh. Sebuah desahan panjang lolos dari bibir Lian Xue, disusul kehangatan intens yang seketika menjalar merayapi seluruh p
Di balik kibasan selimut tebal yang ditarik cepat, Shen Yang melucuti gaun sutra tipis yang melekat pada tubuh istrinya dengan gerakan yang sangat tangkas. Hanya dalam hitungan detik, kain merah marun itu terlepas dari tubuh Lian Xue, menyisakan kehangatan kulit di balik temaram pendar lilin. Tanpa membuang waktu, Shen Yang menyentak hanfu hitamnya sendiri, membiarkan jubah itu terlempar ke sudut peraduan.Lian Xue tertawa pelan, suara manjanya terdengar bergetar di dalam keheningan kamar."Jenderal Shen ...," bisiknya seraya membelai bahu tegap suaminya, "aku tidak tahu kalau jemari pimpinan Biro Penyelidik begitu terlatih untuk melucuti pakaian dalam sekejap mata."Shen Yang menyunggingkan senyum miring. Sepasang mata elangnya menatap lurus paras ayu yang kini berpasrah penuh di bawah kungkungannya."Aku biasa melucuti senjata tawanan di medan perang dalam waktu cepat," kelakar Shen Yang dengan suara bariton yang serak dan rendah, "apalagi hanya melucuti pakaian istriku sendir
Shen Yang membatu seketika. Manik mata elangnya yang remang oleh pengaruh arak, menatap paras cantik yang kini terpampang nyata hanya sejengkal di hadapan wajahnya. Rona merah di pipi Lian Xue, binar mata beningnya yang hangat, serta helaan napas halus yang menyapu permukaan bibirnya bukanlah ilusi dari mimpi mabuknya. "Lian ... Xue?" bisik Shen Yang parau, suaranya bergetar antara percaya dan tidak. "Ya, ini aku, Suamiku," balas Lian Xue lembut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman paling manis yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya. Jemari tegap Shen Yang yang semula hendak menolak tubuh di pangkuannya perlahan mengendur. Kesadaran sang Jenderal berangsur pulih, digantikan oleh kehangatan pekat yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Tanpa ragu lagi, Shen Yang merangkulkan kedua lengan kekarnya di pinggang ramping Lian Xue, menarik tubuh istrinya kian erat dan menempel rapat tanpa celah di atas pangkuannya. "Bagaimana bisa kau ...." Shen Yang tidak
Lian Xue terdiam membisu di balik cadarnya. Kata-kata Shen Yang bergetar pelan di udara malam, meruntuhkan keangkuhan yang membentang kaku di dadanya. Pria tegap ini tampak begitu rapuh dan letih hanya karena memikirkan pertengkaran mereka. Secara naluri, rasa hangat yang sempat membeku di dalam dada Lian Xue mendadak mencair. Sang Putri memiringkan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka. Jemari lentiknya terangkat perlahan, mencoba membelai rahang tegap suaminya yang mengeras kaku. Namun, sebelum jemarinya sempat mengusap kulit hangat itu, Shen Yang dengan refleks menepis tangan Lian Xue secara halus namun tegas. Pria itu menggelengkan kepalanya tanpa memandang paras sang pemusik. "Hanya istriku yang boleh melakukannya," bisik Shen Yang serak, menengguk sisa arak di cawannya hingga tak berbekas. Dada Lian Xue berdesir hebat. Degup jantungnya berpacu liar di balik gaun sutra tipisnya. Ada rasa hangat yang membakar pipinya saat menyadari keteguhan hati suaminya. Dalam k
Suara langkah kaki Kasim Zhang menggema di selasar kayu Paviliun Lily. Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan, aroma dupa cendana seolah memudar, digantikan oleh hawa otoritas yang kaku. Kasim kepercayaan kaisar itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang sempurna kepada Selir Agung Wei. "
Pintu kayu berukir itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Selir Wen yang melangkah masuk dengan tergesa. Guratan kecemasan tak mampu disembunyikan dari wajahnya yang pucat. Ia mengenakan jubah sutra berwarna hijau zamrud, warna penuh ketenangan, namun pagi ini tampak kontras dengan kegelisahan
Angin pagi membawa aroma dupa cendana menyusup melalui jendela Paviliun Shengde, namun kehangatan sinar matahari tidak mampu mencairkan suasana yang mendadak beku. Di atas meja perjamuan, piring-piring porselen berisi hidangan mewah seolah kehilangan daya tariknya saat Kasim Zhang melangkah maju.
"Tuan Putri, bangunlah! Selir Agung memintamu dan Jenderal Shen untuk hadir dalam perjamuan makan pagi bersama Kaisar."Suara lembut A'Ning, dayang pribadinya, perlahan membangunkan Lian Xue. Ia mengerjap, menarik kesadarannya. Saat matanya terbuka sempurna, ia tersentak menyadari sekelilingnya. In






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore