LOGIN“Astaga. Aku … nggak mau mati sekarang. Putriku masih membutuhkanku.”
Mata Jay masih tertutup. Dia merasakan sakit yang luar biasa. Ingatannya dipenuhi wajah putrinya. “Kalo aku harus mati … aku rela tukar hidupku demi kesembuhan Veel cantik.” Veel Issac, putri kecil Jay yang cantik dan pintar. Demi apapun, dia sangat menyayangi anak semata wayangnya. Nyawa Jay sudah di ujung tanduk. Bukannya memohon keselamatan untuk diri sendiri, Jay malah memikirkan dan memohon kehidupan untuk putrinya. Dia benar-benar ayah yang baik. Jay merasakan kepalanya berdengung. Darah terus mengalir dari mulut, hidung dan kepala. Dia tidak bisa mendengar apapun lagi. Mungkin inilah akhir hidupnya! “Veel, anak Ayah ….” Beberapa menit berlalu. Tanda-tanda keajaiban datang! Jay memakai kalung giok berukiran naga kecil yang sangat sederhana. Warnanya abu kehijauan. Itu adalah kalung peninggalan orang tuanya yang dia pakai sejak kecil. Giok yang terkena darah Jay bercahaya. Tali kalung yang terbuat dari benang hitam ikut bergetar pelan. Saat cahaya giok menyala, Jay merasakan panas menjalar dari dada ke pelipis. Bukan sakit, tapi lebih seperti tubuhnya sedang diingatkan akan sesuatu yang belum siap dia tanggung. Lalu, cahaya abu kehijauan dari kalung Jay tiba-tiba terserap ke dalam tubuhnya. Tanda lahir hijau sebesar kuku jari di bawah rambut dahinya berubah drastis setelah bercampur dengan darah. Seketika, terbentuk menjadi pola naga merah yang luar biasa. Mengejutkan! Pola naga merah itu bukan sekadar muncul. Dia bergerak perlahan, seakan hidup. Dan untuk pertama kalinya, Jay merasa, dia sedang dilihat. Jay dalam keadaan koma. Dia merasa pikirannya dipenuhi dengan informasi akupuntur Gerbang Neraka Ke-13, titik akupuntur anatomi, dan informasi tentang teknik medis. Luka parah di tubuh Jay sembuh dalam sekejap mata. Ketika Jay terbangun, dia sudah berada di rumah sakit. Hari sudah pagi. Dia duduk di tepi ranjang IGD, mencabut selang infus di pergelangan tangan kirinya. Perawat berteriak memanggil dokter, “Dok, pasien yang semalam babak belur sembuh mendadak.” Jay melihat ke sekelilingnya. Ini adalah rumah sakit tempat putrinya dirawat. Pada saat itu, seorang dokter pria berusia empat puluhan datang bersama dua perawat. Wajahnya penuh keterkejutan saat melihat Jay sudah duduk tegak dengan infus terlepas dan monitor jantung dimatikan. “Pak, Anda—” Dokter belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Jay menoleh, menatapnya dengan mata tenang yang sama sekali tidak menunjukkan bekas orang sekarat semalam. “Makasih, Dok. Tapi saya harus pergi sekarang,” kata Jay, tenang. “Nggak bisa begitu!” Dokter refleks meninggikan suara. “Kondisi Anda semalam kritis. Kami bahkan—” Jay berdiri. Tubuhnya stabil dan langkahnya mantap. Tidak ada rasa pusing. Tidak ada nyeri sama sekali. Hanya ada kekuatan baru di dalam tubuhnya. “Maaf, saya harus pergi. Ada seseorang yang lebih membutuhkan saya,” ucap Jay pelan. Dia mengambil tas ransel di atas kursi, lalu pergi. Para perawat terpaku. Dokter pun membeku beberapa detik sebelum akhirnya hanya bisa menatap punggung Jay yang menjauh. Ini tidak masuk akal! Bagaimana bisa seorang pasien yang semalam babak belur, pagi ini berjalan seperti tak pernah terluka? Namun, Jay tidak peduli. Jay mempercepat langkahnya saat berbelok ke rawat inap anak. Bau antiseptik langsung menusuk hidungnya. Jay berhenti di depan satu pintu. Kamar 317. Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh gagang pintu. Jay menarik napas dalam-dalam, lalu mendorongnya perlahan. “Ayah!” Suara kecil itu menghantam jantung Jay lebih keras dari pukulan mana pun. Veel Issac duduk bersandar di ranjang. Tubuhnya semakin kurus. Pipinya masih pucat, dan kepalanya plontos ditutupi topi rajut biru. Namun, matanya yang jernih berbinar hidup. Benar-benar hidup. Jay terpaku. Dadanya sesak dan matanya panas. Dia nyaris tidak percaya. “Veel …” Jay memanggil nama anaknya dengan suara parau. Tanpa peduli selang infus, Veel mengulurkan tangan kecilnya. Jay langsung menghampiri dan berlutut di samping ranjang. Dia memeluk putrinya sebentar. Lalu menggenggam tangannya erat-erat, seakan takut semua ini hanya mimpi. “Syukurlah,” ucap Jay lirih, dahinya menempel di punggung tangan Veel. Di sudut kamar, dua pasang mata memandang dengan ekspresi berbeda. Mereka adalah ibu dan ayah mertuanya. Jay ingin mencoba kekuatannya. Akan tetapi, tidak di depan mereka. Ibu mertua mendengus pelan. Diana menyilangkan tangan sambil memasang raut wajah tidak suka. “Masih sempat-sempatnya datang. Dari mana aja kamu? Kenapa semalem nggak jagain Veel? Istrimu banting tulang bertahun-tahun, kamu malah santai-santai.” Jay melihat jam di dinding menunjukkan pukul 7:30 pagi. Dia langsung teringat janjinya pada Lisa semalam. Ayah mertua mengangguk setuju. Beni berkata, “Kamu punya wajah yang nggak jelek-jelek banget. Badanmu juga lumayan. Kenapa kamu nggak cari kerja, sih?” Beni berkata lagi, “Harga diri suami diukur dari tanggung jawab. Dari pertama nikah sampai sekarang, kamu sama sekali nggak pernah ngasih nafkah Istri. Dan sekarang, kamu menelantarkan anak.” Diana menyela, “Papa lupa, ya? Dia itu nggak lulus SD. Boro-boro cari kerja, ijazah aja nggak punya. Kalo nggak punya kenalan orang dalam, dia nggak bakalan bisa diterima kerja.” Beni merasa jengkel. “Ah, iya. Aku lupa. Dia ini kan cuma yatim piatu, tuna wisma dan pengangguran yang dipungut Papa. Terus akhirnya, dinikahin sama Lisa, anak kita.” Merasa belum puas, Diana kembali mencerca Jay. “Seandainya kamu kerja dari dulu, Lisa nggak perlu capek-capek begini. Lihat sekarang! Anakmu sakit-sakitan, tapi Lisa yang tanggung semuanya.” Jay perlahan mengangkat kepala. Tatapannya tenang, nyaris dingin. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Veel berbisik pelan, menarik lengan Jay. “Ayah, jangan marah sama Kakak dan Nenek.” Seketika, Jay melunak. Dia tersenyum kecil, mengelus tangan putrinya. “Ayah nggak marah, Nak.” Jay berdiri, berbalik menghadap kedua mertuanya. “Pa, tawaran kerja Kakak ipar apa masih berlaku?” tanya Jay. Dulu, kakak ipar laki-laki yang bernama Irwan pernah menawarkan pekerjaan di perusahaan keluarga Cole. Syaratnya, Jay dan Lisa harus berpisah. Jadi tidak heran jika raut wajah Diana dan Beni berubah cepat. “Kamu—” Diana belum selesai bicara, tetapi Jay sudah menyela. Seolah tahu isi pikiran mereka, Jay berkata, “Ya. Saya udah tanda tangan surat cerai semalam.” Diana tidak percaya. “Serius kamu udah tanda tangan? Ini kabar baik.” Diana mengeluarkan ponsel. Dia mencoba menghubungi Lisa untuk menanyakan tentang kabar perceraian. Sementara Beni tersenyum lebar. “Selama ini, saya memang gagal,” ucap Jay jujur. “Saya bukan ayah dan suami yang mapan. Saya bukan menantu yang kalian banggakan. Tapi, saya nggak pernah berhenti berusaha jadi ayah Veel.” Diana mencibir. “Kata-kata aja nggak bisa menyembuhkan kanker.” Lisa tidak menjawab panggilan telepon. Diana menyimpan kembali ponselnya. Jay mengangguk pelan. “Mama memang benar. Tapi mulai hari ini, saya nggak akan biarin siapa pun meremehkan hidup putri saya.” Jay duduk di sisi ranjang. Ketiga jarinya menyentuh pergelangan Veel dengan sangat lembut. Di balik sentuhan itu, pikirannya bekerja. Titik-titik akupuntur yang baru dia pahami berdenyut dalam kesadarannya. Gerbang Neraka Ke-13. Aliran qi. Resonansi tubuh. Tidak sekarang. Tidak di depan mereka. Pagi ini, Jay tidak hanya bersyukur karena masih hidup. Tapi, dia bersyukur karena takdir memberinya kesempatan kedua untuk melawan demi hidup putrinya yang lebih baik. “Veel cantik, Ayah pergi dulu, ya,” bisik Jay, lembut.Tiga jam berlalu.Jay duduk di tepi ranjang. Tangannya mengepal, lalu mengendur. “Kita … kita omongin ini nanti,” ujar Jay, pelan.Lisa terbaring. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil. Dia menatap langit-langit kamar, lalu perlahan menoleh ke arah Jay. Dia canggung, bingung dan merasa bersalah.Jay beranjak membersihkan diri. Ketika Jay sudah sampai di depan kamar mandi, Lisa duduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.Lisa berucap, “Jangan pernah berpikir untuk melakukannya lagi. Ini adalah terakhir kalinya kita berhubungan intim.”“Oh ya, satu lagi. Setelah ulang tahun Nenek, aku akan daftarin berkas perceraian lagi.”Jay membalas, “Baru selesai bercinta, kamu udah ngomongin masalah perceraian. Segitu nggak sabaran, ya.”Dia langsung mendorong pintu kamar mandi dan masuk.Jay menyalakan shower. Dia berdiri di bawahnya. “Nggak kusangka, staminaku bener-bener kuat. Sampai sekarang, aku nggak ngerasain capek sama sekali. Ini pasti berkat darah naga.”Kalau bukan karena melihat L
“Nek, biar aku ke dapur dan memasak untuk Nenek,” ujar Jay, sopan.Melati tersenyum. Di antara anak, menantu dan cucunya, Jay tetaplah yang terbaik. Selain tulus, lembut dan pengertian, Jay memang cucu menantu idaman. “Duduk aja dulu, Jay. Temani Nenek ngobrol. Nenek kangen banget sama kamu dan Veel. Sejak Veel sakit, kamu jarang banget datang ke sini.”Mereka berada di ruang tengah. Melati mengeluhkan sikap Jay yang sekarang jarang mengunjunginya. Meskipun memiliki kesibukan, usia senja seperti Melati memang kerap merasa kesepian.“Astaga! Maaf, Nek. Aku nggak bermaksud buat Nenek kecewa. Tapiー”Melati berseru memotong kalimat Jay, “Ah, Liora udah datang!”Liora datang membawa nampan berisi dua mangkuk sup sarang burung walet. Dia meletakkan nampan di atas meja.Liora membentuk gestur hormat.“Tuan Jay, Nyonya Lisa, silakan dinikmati supnya mumpung masih hangat,” ujar Liora. Liora Tan adalah salah satu orang kepercayaan Melati, selain Pandu Darma. Sebelumnya, Liora mendapatkan kaba
Sekarang sudah pukul 08:55 pagi. Saat Jay tiba di kantor pencatatan sipil, dia melihat mobil Lisa sudah terparkir. Jarak antara rumah sakit dan kantor pencatatan sipil hanya butuh jalan kaki selama 10 menit saja. Pintu mobil terbuka. Lisa turun ditemani Riani. Sambil berjalan, Riani menatap Jay tajam. “Pak Jay, kamu nyaris terlambat. Kami pikir, kamu berubah pikiran.”Jay tidak menghiraukan perkataan Riani. Dia tahu, selama ini Riani lah yang mengenalkan Regan pada istrinya. Riani juga yang mendekatkan Lisa dan Regan. Bahkan, dia membujuk beberapa kata pada nenek Lisa untuk menerima Regan menjadi cucu menantu keluarga Cole. Jay membalas tatapan Riani. “Jangan-jangan, ide perceraian ini berasal dari kamu ya?”Riani tersenyum. Saat Jay ingin berkata lagi, Lisa berbicara.Lisa berkata, “Jay, kenapa kamu nolak uang kompensasi perceraian dariku? Apa jumlahnya kurang? Tinggal bertahun-tahun sama kamu, nggak kusangka … ternyata kamu matre juga.”Di dokumen perceraian semalam, terdapat d
“Astaga. Aku … nggak mau mati sekarang. Putriku masih membutuhkanku.”Mata Jay masih tertutup. Dia merasakan sakit yang luar biasa. Ingatannya dipenuhi wajah putrinya.“Kalo aku harus mati … aku rela tukar hidupku demi kesembuhan Veel cantik.”Veel Issac, putri kecil Jay yang cantik dan pintar. Demi apapun, dia sangat menyayangi anak semata wayangnya. Nyawa Jay sudah di ujung tanduk. Bukannya memohon keselamatan untuk diri sendiri, Jay malah memikirkan dan memohon kehidupan untuk putrinya. Dia benar-benar ayah yang baik.Jay merasakan kepalanya berdengung. Darah terus mengalir dari mulut, hidung dan kepala. Dia tidak bisa mendengar apapun lagi. Mungkin inilah akhir hidupnya!“Veel, anak Ayah ….”Beberapa menit berlalu. Tanda-tanda keajaiban datang!Jay memakai kalung giok berukiran naga kecil yang sangat sederhana. Warnanya abu kehijauan. Itu adalah kalung peninggalan orang tuanya yang dia pakai sejak kecil. Giok yang terkena darah Jay bercahaya. Tali kalung yang terbuat dari benan
“Jay Issac, aku udah anterin Istri kamu pulang dengan selamat.”Dari dalam mobil sport hitam yang terparkir di depan villa besar, seorang pria gagah dan tampan menghembuskan asap rokok. Dia Regan Gray, Tuan Muda kedua keluarga Gray yang angkuh. Sosoknya menjulang bak serigala di puncak rantai makanan, menyeringai penuh kemenangan ke arah Jay. Hujan mengguyur Kota Blackridge seperti air mata langit yang berkabung. Langit malam ini kelam seperti takdir yang seakan mengepung Jay Issac dari segala arah. Lisa ColeーIstri Jay, duduk di kursi penumpang dengan keadaan setengah mabuk. Parasnya yang cantik sedikit memerah karena pengaruh alkohol. Regan menatap Jay yang berdiri di depan pintu utama. Lalu, membuang puntung rokok yang masih menyala.Regan tersenyum licik. “Jay, bisa nggak kamu bawa Lisa ke dalam rumah? Atau kamu mau aku aja yang bawa dia ke kamar kalian?”Jay segera melangkah cepat membawa payung, mendekati mobil Regan. Dia mengulurkan tangan, hendak membuka pintu mobil, namun t







