Share

Chapter 2

Author: Papa Buaya
last update publish date: 2026-02-09 07:31:19

“Astaga. Aku … nggak mau mati sekarang. Putriku masih membutuhkanku.”

Mata Jay masih tertutup. Dia merasakan sakit yang luar biasa. Ingatannya dipenuhi wajah putrinya.

“Kalo aku harus mati … aku rela tukar hidupku demi kesembuhan Veel cantik.”

Veel Issac, putri kecil Jay yang cantik dan pintar. Demi apapun, dia sangat menyayangi anak semata wayangnya.

Nyawa Jay sudah di ujung tanduk. Bukannya memohon keselamatan untuk diri sendiri, Jay malah memikirkan dan memohon kehidupan untuk putrinya. Dia benar-benar ayah yang baik.

Jay merasakan kepalanya berdengung. Darah terus mengalir dari mulut, hidung dan kepala. Dia tidak bisa mendengar apapun lagi.

Mungkin inilah akhir hidupnya!

“Veel, anak Ayah ….”

Beberapa menit berlalu.

Tanda-tanda keajaiban datang!

Jay memakai kalung giok berukiran naga kecil yang sangat sederhana. Warnanya abu kehijauan. Itu adalah kalung peninggalan orang tuanya yang dia pakai sejak kecil. Giok yang terkena darah Jay bercahaya. Tali kalung yang terbuat dari benang hitam ikut bergetar pelan.

Saat cahaya giok menyala, Jay merasakan panas menjalar dari dada ke pelipis. Bukan sakit, tapi lebih seperti tubuhnya sedang diingatkan akan sesuatu yang belum siap dia tanggung. Lalu, cahaya abu kehijauan dari kalung Jay tiba-tiba terserap ke dalam tubuhnya.

Tanda lahir hijau sebesar kuku jari di bawah rambut dahinya berubah drastis setelah bercampur dengan darah. Seketika, terbentuk menjadi pola naga merah yang luar biasa.

Mengejutkan!

Pola naga merah itu bukan sekadar muncul. Dia bergerak perlahan, seakan hidup. Dan untuk pertama kalinya, Jay merasa, dia sedang dilihat.

Jay dalam keadaan koma. Dia merasa pikirannya dipenuhi dengan informasi akupuntur Gerbang Neraka Ke-13, titik akupuntur anatomi, dan informasi tentang teknik medis.

Luka parah di tubuh Jay sembuh dalam sekejap mata.

Ketika Jay terbangun, dia sudah berada di rumah sakit.

Hari sudah pagi. Dia duduk di tepi ranjang IGD, mencabut selang infus di pergelangan tangan kirinya.

Perawat berteriak memanggil dokter, “Dok, pasien yang semalam babak belur sembuh mendadak.”

Jay melihat ke sekelilingnya. Ini adalah rumah sakit tempat putrinya dirawat.

Pada saat itu, seorang dokter pria berusia empat puluhan datang bersama dua perawat. Wajahnya penuh keterkejutan saat melihat Jay sudah duduk tegak dengan infus terlepas dan monitor jantung dimatikan.

“Pak, Anda—”

Dokter belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Jay menoleh, menatapnya dengan mata tenang yang sama sekali tidak menunjukkan bekas orang sekarat semalam.

“Makasih, Dok. Tapi saya harus pergi sekarang,” kata Jay, tenang.

“Nggak bisa begitu!” Dokter refleks meninggikan suara. “Kondisi Anda semalam kritis. Kami bahkan—”

Jay berdiri. Tubuhnya stabil dan langkahnya mantap. Tidak ada rasa pusing. Tidak ada nyeri sama sekali. Hanya ada kekuatan baru di dalam tubuhnya.

“Maaf, saya harus pergi. Ada seseorang yang lebih membutuhkan saya,” ucap Jay pelan.

Dia mengambil tas ransel di atas kursi, lalu pergi.

Para perawat terpaku. Dokter pun membeku beberapa detik sebelum akhirnya hanya bisa menatap punggung Jay yang menjauh.

Ini tidak masuk akal! Bagaimana bisa seorang pasien yang semalam babak belur, pagi ini berjalan seperti tak pernah terluka?

Namun, Jay tidak peduli.

Jay mempercepat langkahnya saat berbelok ke rawat inap anak. Bau antiseptik langsung menusuk hidungnya.

Jay berhenti di depan satu pintu.

Kamar 317.

Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh gagang pintu. Jay menarik napas dalam-dalam, lalu mendorongnya perlahan.

“Ayah!”

Suara kecil itu menghantam jantung Jay lebih keras dari pukulan mana pun.

Veel Issac duduk bersandar di ranjang. Tubuhnya semakin kurus. Pipinya masih pucat, dan kepalanya plontos ditutupi topi rajut biru. Namun, matanya yang jernih berbinar hidup. Benar-benar hidup.

Jay terpaku. Dadanya sesak dan matanya panas. Dia nyaris tidak percaya.

“Veel …”

Jay memanggil nama anaknya dengan suara parau.

Tanpa peduli selang infus, Veel mengulurkan tangan kecilnya.

Jay langsung menghampiri dan berlutut di samping ranjang. Dia memeluk putrinya sebentar. Lalu menggenggam tangannya erat-erat, seakan takut semua ini hanya mimpi.

“Syukurlah,” ucap Jay lirih, dahinya menempel di punggung tangan Veel.

Di sudut kamar, dua pasang mata memandang dengan ekspresi berbeda. Mereka adalah ibu dan ayah mertuanya. Jay ingin mencoba kekuatannya. Akan tetapi, tidak di depan mereka.

Ibu mertua mendengus pelan. Diana menyilangkan tangan sambil memasang raut wajah tidak suka.

“Masih sempat-sempatnya datang. Dari mana aja kamu? Kenapa semalem nggak jagain Veel? Istrimu banting tulang bertahun-tahun, kamu malah santai-santai.”

Jay melihat jam di dinding menunjukkan pukul 7:30 pagi. Dia langsung teringat janjinya pada Lisa semalam.

Ayah mertua mengangguk setuju. Beni berkata, “Kamu punya wajah yang nggak jelek-jelek banget. Badanmu juga lumayan. Kenapa kamu nggak cari kerja, sih?”

Beni berkata lagi, “Harga diri suami diukur dari tanggung jawab. Dari pertama nikah sampai sekarang, kamu sama sekali nggak pernah ngasih nafkah Istri. Dan sekarang, kamu menelantarkan anak.”

Diana menyela, “Papa lupa, ya? Dia itu nggak lulus SD. Boro-boro cari kerja, ijazah aja nggak punya. Kalo nggak punya kenalan orang dalam, dia nggak bakalan bisa diterima kerja.”

Beni merasa jengkel. “Ah, iya. Aku lupa. Dia ini kan cuma yatim piatu, tuna wisma dan pengangguran yang dipungut Papa. Terus akhirnya, dinikahin sama Lisa, anak kita.”

Merasa belum puas, Diana kembali mencerca Jay.

“Seandainya kamu kerja dari dulu, Lisa nggak perlu capek-capek begini. Lihat sekarang! Anakmu sakit-sakitan, tapi Lisa yang tanggung semuanya.”

Jay perlahan mengangkat kepala. Tatapannya tenang, nyaris dingin. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak.

Veel berbisik pelan, menarik lengan Jay. “Ayah, jangan marah sama Kakak dan Nenek.”

Seketika, Jay melunak. Dia tersenyum kecil, mengelus tangan putrinya. “Ayah nggak marah, Nak.”

Jay berdiri, berbalik menghadap kedua mertuanya.

“Pa, tawaran kerja Kakak ipar apa masih berlaku?” tanya Jay.

Dulu, kakak ipar laki-laki yang bernama Irwan pernah menawarkan pekerjaan di perusahaan keluarga Cole. Syaratnya, Jay dan Lisa harus berpisah. Jadi tidak heran jika raut wajah Diana dan Beni berubah cepat.

“Kamu—”

Diana belum selesai bicara, tetapi Jay sudah menyela.

Seolah tahu isi pikiran mereka, Jay berkata, “Ya. Saya udah tanda tangan surat cerai semalam.”

Diana tidak percaya. “Serius kamu udah tanda tangan? Ini kabar baik.”

Diana mengeluarkan ponsel. Dia mencoba menghubungi Lisa untuk menanyakan tentang kabar perceraian. Sementara Beni tersenyum lebar.

“Selama ini, saya memang gagal,” ucap Jay jujur. “Saya bukan ayah dan suami yang mapan. Saya bukan menantu yang kalian banggakan. Tapi, saya nggak pernah berhenti berusaha jadi ayah Veel.”

Diana mencibir. “Kata-kata aja nggak bisa menyembuhkan kanker.”

Lisa tidak menjawab panggilan telepon. Diana menyimpan kembali ponselnya.

Jay mengangguk pelan. “Mama memang benar. Tapi mulai hari ini, saya nggak akan biarin siapa pun meremehkan hidup putri saya.”

Jay duduk di sisi ranjang. Ketiga jarinya menyentuh pergelangan Veel dengan sangat lembut.

Di balik sentuhan itu, pikirannya bekerja. Titik-titik akupuntur yang baru dia pahami berdenyut dalam kesadarannya. Gerbang Neraka Ke-13. Aliran qi. Resonansi tubuh.

Tidak sekarang.

Tidak di depan mereka.

Pagi ini, Jay tidak hanya bersyukur karena masih hidup. Tapi, dia bersyukur karena takdir memberinya kesempatan kedua untuk melawan demi hidup putrinya yang lebih baik.

“Veel cantik, Ayah pergi dulu, ya,” bisik Jay, lembut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 38

    Kali ini, reaksi Lisa bukan pura-pura. Itu adalah reaksi yang nyata.Lisa menoleh cepat ke arah Riani.“Apa aku pernah buat keputusan kayak gitu? Aku nggak merasa menghentikan dana pengobatan Veel. Aku sudah melakukannya sesuai permintaan Nenek.”Riani terlihat terkejut. Dia langsung membuka tablet di tangannya. Jari-jarinya bergerak cepat menelusuri data.“Saya… saya nggak menemukan perintah resmi dari Anda, Bu,” jawabnya gugup.Melati menyipitkan mata.“Jadi kamu nggak tau?” suaranya rendah, tapi mengandung tekanan.Lisa menggeleng cepat. Lalu melirik jam tangannya. “Ini udah waktunya rapat harian. Aku—”Melati geram. “Apa nyawa anakmu nggak lebih penting daripada rapat? Asal kamu tau, Lisa. Kantor akan terus beroperasi tanpa kamu.”Lisa menjadi serba salah. Dia memang akan bercerai dengan Jay. Tapi Veel?Lisa telah bersusah payah untuk mendapatkan pengakuan kakek dan neneknya. Sampai akhirnya, baru beberapa tahun ini dia mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari keluarga Cole.

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 37

    Gedung utama Grup Cole berdiri di pusat kota Blackridge, tinggi, modern, dan terlihat dingin.Fasadnya didominasi kaca gelap yang memantulkan langit seperti cermin, membuat gedung itu tampak tak tersentuh dan berjarak.Logo Cole Group terpampang besar di bagian atas dengan desain minimalis namun tegas, melambangkan kekuasaan dan kontrol.Mobil hitam sedan berhenti tanpa suara di pintu samping.Pandu Darma menoleh ke belakang. “Nyonya, kita sudah sampai.”Liora turun lebih dulu membukakan pintu mobil untuk Melati.“Silakan, Nyonya.”Melati turun perlahan. Hari ini, dia tidak ingin disambut oleh siapapun di kantor. Dia ingin melihat… apa yang sebenarnya terjadi!Begitu memasuki lobi, suasana langsung terasa berbeda. Melati langsung masuk ke lift menuju lantai 17, di sanalah ruangannya berada. Di Lantai 17. Beberapa karyawan yang melihatnya tampak terkejut. Ada yang buru-buru menunduk. Ada juga yang saling bertukar pandang. Seolah… mereka menyembunyikan sesuatu.Begitu melewati ruangan

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 36

    Keesokan hari di Mega Kemuning. Liora datang ke kamar Melati. Wajahnya lesu dan tatapannya berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dia berdiri di depan Melati. “Nyonya Besar,” sapa Liora.“Gimana? Yang ku suruh cari info, udah dapat belum?”Liora mengangguk. “Ini data yang Anda minta.”Liora menyerahkan sebuah dokumen hitam berisi data-data yang diinginkan Melati.“Bagus,” kata Melati. Melati meminum teh dengan anggun. Setelah kejadian semalam di pesta ulang tahunnya, Melati meminta Liora untuk menyelidiki keluarga Domani dan keluarga Boni. Karena Melati merasa, kedua keluarga tersebut sangat dekat dengan Jay. Melati hanya ingin menyelamatkan pernikahan cucunya. Jay adalah pria pendiam dan setia. Jadi Melati sangat yakin, Jay tidak pandai menggoda wanita. Sambil menundukkan kepala, Liora mulai melaporkan pekerjaannya. “Saya udah suruh anak buah menyebar dan mencari Nona Veel ke seluruh penjuru Issac Hospital. Tapi, mereka nggak menemukannya. Saat bertanya ke bagian administrasi, me

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 35

    “Tapi, diantara empat keluarga itu…”Jay tetap berdiri di depan jendela. Cahaya kota memantul samar di matanya yang gelap. Ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang berani menyela.Jay menggeleng tipis.“Yang lain… masuk akal. Keluarga Boni, Domani, Winata… mereka punya motif.”Dia berhenti sejenak.“Tapi keluarga Cole? Aku nggak yakin. Mereka nggak punya bisnis di kota Redlock. Nggak terlibat bisnis kotor.”Nada suaranya berubah. Lebih rendah dan lebih berat.Martinus sedikit mengangkat kepala. “Tuan Muda, semua bukti—”“Aku bilang, nggak mungkin.”Kali ini tegas. Tidak keras, tapi tidak bisa dibantah.Dokter Idris melirik Jay sekilas. Dia tahu… ini bukan sekadar analisis. Ini sesuatu yang lebih dalam.Jay berbalik dari jendela. Tatapannya tajam, tapi ada sesuatu yang tertahan di dalamnya.“Keluarga Cole saat itu baru naik,” lanjutnya. “Mereka belum punya posisi untuk masuk ke lingkaran atas itu.”Martinus membuka salah satu berkas lagi, mencoba tetap objektif. “Justru karena itu, Tuan.

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 34

    Setelah menyelimuti Veel dan memastikannya tidur nyenyak, Jay masuk ke ruang kerja yang terletak di ujung koridor Utara villa. Di sana, Martinus sudah menunggunya. “Tuan Muda,” sapa Martinus. Jay datang bersama Dokter Idris. Sementara Della sudah pergi beristirahat di kamarnya yang terletak di sebelah kamar Veel. Jay duduk di meja kerja. “Kapan sampai?” tanya Jay. Dia membakar rokok. “Dua jam lalu,” jawab Martinus.Mata Jay fokus menatap sebuah kotak hitam di depannya. Martinus menyodorkan kotaknya. “Semua ini adalah bukti terakhir yang didapatkan mata-mata kita sebelum tewas.”Asap rokok mengepul pekat di udara. Jay tidak langsung menyentuh isi kotak itu. Tatapannya diam, seolah sudah menebak bahwa apa yang ada di dalamnya… bukan sesuatu yang sederhana.Jay menjepit rokok di sela-sela bibirnya. Akhirnya, dia membuka kotaknya perlahan.“Ehm?” Isinya bukan rekaman modern. Tidak ada CCTV ataupun file digital yang mencolok.Yang ada… justru hanyalah potongan masa lalu.Dahi Dokter

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 33

    “Dokter Hazel, makasih untuk bantuanmu malam ini.”Jay berkata dengan tulus. Dia berdiri di sisi mobil “Jangan sungkan begitu, Tuan Jay,” balas Hazel, ramah. “Udah larut. Ayo bawa Veel kembali ke rumah sakit.”Sesuai dengan rencana awal, Jay tidak membawa Veel kembali ke rumah sakit. Tetapi, membawanya pulang ke perumahan elite Bukit Rajawali Emas. Jay menggeleng. “Aku mau bawa Veel Pulang ke rumah kami.”Hazel sedikit bingung. Sebab menurut laporan dari asistennya, Jay dan Lisa sedang menghadapi perceraian. Apalagi, Jay sudah membawa Veel keluar dari rumah keluarga Cole. Jadi sebenarnya, ke mana Jay akan membawa anaknya pulang? Hazel tidak percaya. “Rumah? Maaf, kalo aku lancang. Tapi, bukannya selama ini kamu dan Veel tinggal di siniーdi rumah keluarga Cole? Dan, pengobatan Veelー”Jay tertawa pelan. “Aku punya rumah sederhana di tengah kota. Kalo nggak keberatan, nanti aku akan atur waktu untuk undang kamu datang makan bersama kami. Gimana?”“Mengenai pengobatan Veel, Dokter Idr

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 18

    “Ka—kamu… sebenernya, siapa kamu?”Clara Winata masih terduduk. Rasa nyeri pada pahanya sudah hilang. Kulit yang tadinya putih pucat, kini sudah memerah. Dia menatap Jay, membiarkan benaknya mengingat fitur wajah laki-laki ini.Jay bersikap tidak peduli. Dia berdiri di meja kasir, menulis resep un

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 17

    Toko Obat Herbal Bintang Timur sudah ada sejak puluhan tahun silam dan terkenal menjual bahan-bahan obat yang sulit ditemukan. Meskipun harganya tidak murah, tetapi demi Veel… Jay harus mendapatkannya“Oke. Kamu tunggu di sini,” perintah Jay. “Saya akan lebih tenang kalo ikut kamu ke dalam, Tuan.”

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 16

    Kamar Jay berada di lantai dua yang menghadap ke danau. Seperti kata Boy, pemandangan di sini benar-benar indah dan suasananya begitu tenang.Jay duduk di bawah jendela yang terbuka. Dia sedang mengamati beberapa gambar di layar laptop. Pak Umar datang mendekat. “Tuan, air rendaman sudah siap. Bat

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 14

    Tepat pada saat itu, terdengar suara ribut-ribut dari luar ruang inap Veel. Jay mengerutkan kening. “Ada apa di luar?”Telinga Toni berdiri tegak, berusaha menangkap suara. “Saya akan periksa, Tuan.”Seseorang mengetuk pintu. Perhatian Jay dan Toni berpaling ke arah pintu. Saat pintu terbuka, Del

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status