LOGIN
“Jay Issac, aku udah anterin Istri kamu pulang dengan selamat.”
Dari dalam mobil sport hitam yang terparkir di depan villa besar, seorang pria gagah dan tampan menghembuskan asap rokok. Dia Regan Gray, Tuan Muda kedua keluarga Gray yang angkuh. Sosoknya menjulang bak serigala di puncak rantai makanan, menyeringai penuh kemenangan ke arah Jay. Hujan mengguyur Kota Blackridge seperti air mata langit yang berkabung. Langit malam ini kelam seperti takdir yang seakan mengepung Jay Issac dari segala arah. Lisa ColeーIstri Jay, duduk di kursi penumpang dengan keadaan setengah mabuk. Parasnya yang cantik sedikit memerah karena pengaruh alkohol. Regan menatap Jay yang berdiri di depan pintu utama. Lalu, membuang puntung rokok yang masih menyala. Regan tersenyum licik. “Jay, bisa nggak kamu bawa Lisa ke dalam rumah? Atau kamu mau aku aja yang bawa dia ke kamar kalian?” Jay segera melangkah cepat membawa payung, mendekati mobil Regan. Dia mengulurkan tangan, hendak membuka pintu mobil, namun terkunci dari dalam. Lisa menurunkan kaca mobil sedikit. “Pergi!” Regan menyeringai. Dia keluar dari dalam mobil. Lalu membuka payung. Dengan gerakan penuh percaya diri, dia mendorong Jay agar menjauh. Pintu mobil telah terbuka. Regan mengulurkan tangan, membantu Lisa turun. “Ayo.” Lisa berjalan sempoyongan melewati Jay tanpa menoleh sedikitpun, seolah keberadaannya tidak ada. Dulunya, Lisa begitu mencintai Jay. Karena dia melihat ketulusan hati Jay. Kini, istrinya berdiri di sisi pria lain tanpa rasa bersalah. Mata hati Lisa seolah sudah tertutup untuk Jay. Jay menghela napas panjang. “Hemm ....” Jay berjalan di belakang Lisa. Begitu sampai di teras, Jay menyandarkan payung, lalu hendak menggendong istrinya. Namun, Lisa menepisnya. Lisa hampir terjatuh, tetapi Jay buru-buru menopang tubuhnya. “Lepasin! Jangan sentuh aku!” Lisa mendorong Jay. Di tangan Lisa, terdapat sebuah dokumen. Lisa melepaskan sepatunya yang kotor dan tasnya yang basah. Lalu, menyerahkan semuanya pada Jay. “Ambil ini dan bawa ke kamar!” Jay Issac adalah seorang menantu matrilokal keluarga Cole. Pernikahan antara Jay dan Lisa terjadi karena paksaan dari mendiang kakek Lisa bernama Tuan Adrian. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan berusia 5 tahun yang sedang terbaring di rumah sakit karena kanker tulang stadium akhir. Karena itulah, Lisa menjauhi anaknya. Dia malu dengan kondisi anaknya yang selalu menjadi bahan omongan di kantor. Tapi, Tuan Adrian sudah wafat setahun yang lalu. Tidak ada lagi yang memihak Jay. Jay mengambil barang-barang Lisa. Mata Jay yang gelap menatap Lisa yang malah menggenggam lengan laki-laki lain di depannya. Namun, wajah Jay tetap datar bagaikan permukaan danau yang tenang sebelum diterpa badai. Sikap tenangnya itulah yang selalu membuat Lisa bertanya-tanya. Ketika Jay berniat pergi, Lisa melangkah mendekat tanpa melepaskan genggaman tangannya dari lengan Regan. Senyumnya tipis, tetapi tajam bagai pedang yang menusuk tanpa ampun. Lisa bertanya dengan acuh tak acuh, “Jay, kok kamu masih di sini? Memangnya tadi Riani nggak datang ketemu kamu?” Riani asisten Lisa yang setia. Tadi siang, Riani datang membahas tentang perceraian. Namun, Jay mengusirnya. Tentu saja Lisa tahu hal ini. Makanya dia sengaja memprovokasi Jay. Jay tidak menjawab. Diamnya bukan karena lemah. Dia berpikir, percuma menjawab. Karena apapun yang dia katakan, Lisa tidak akan mendengarkan. Lisa mendengus dingin. Dengan gerakan ringan namun penuh penghinaan, dia melemparkan dokumen tadi ke wajah Jay hingga terjatuh lembut di kakinya. Surat cerai. Ya, ini adalah surat cerai yang tadi siang dibawa Riani. Jay menatap surat cerai tanpa menggerakkan tubuhnya. Pandangannya beralih ke Lisa, mencari jawaban di wajah istrinya. Namun, dia tidak menemukan apa-apa, selain kehampaan. “Kenapa?” Jay akhirnya membuka suara. Suaranya tenang seperti biasa. “Aku udah cukup bersikap baik sama kamu. Seharusnya kamu sadar dari awal, kalo kamu cuma beban di keluarga Cole. Kalo bukan karena jasamu menyelamatkan kakekku dulu, apa kamu pikir bisa nikah sama aku?” “Jay Issac, jangan mimpi!” Kata-kata Lisa dingin dan lebih tajam daripada bilah belati yang dipoles hingga sempurna. Lisa berseru lagi, “Cepat, tanda tangan!” Jay menangkap buku nikahnya yang dilempar Lisa dengan wajah masam. Regan tertawa kecil, melangkah ke depan. Dia menepuk bahu Jay dengan gaya meremehkan. Regan berujar, “Terima aja nasib kamu, Jay! Pecundang kayak kamu memang nggak pantes di sisi Lisa. Cepetan tanda tangan. Terus, pergi!” Lisa menambahkan, “Pergi dan jangan bawa apapun dari rumah ini!” Jay menatap Lisa dalam diam, lalu memungut dokumen cerai. “Kalo ini maumu, oke. Aku akan tanda tangan sekarang. Aku pastiin, kamu bakal menyesal. Tapi saat itu, nggak ada jalan lagi untuk balikan, Lisa.” Lisa tidak terima. Dia berseru marah, “Balikan?! Kamu gila. Aku nggak akan menyesal. Jangankan balikan, mengingat kamu aja, aku nggak sudi.” Di dalam dokumen, Lisa rupanya sudah menyiapkan bolpoin. Saat Lisa selesai bicara, Jay sudah selesai menorehkan tanda tangan. Dia menyerahkan dokumen pada Lisa. Setelah memastikan tanda tangan Jay sama seperti di kartu identitas, Lisa menyeringai puas. Lisa melambaikan tangan. “Sampai ketemu besok di kantor pencatatan sipil jam 9 pagi. Jangan mangkir, Jay. Jangan lupa, urus anakmu yang sakit-sakitan itu.” Lisa dan Regan menertawakan Jay yang berdiri seperti orang bodoh. Mereka berjalan masuk menuju ruang tamu. 10 menit berlalu. Setelah selesai berkemas di kamar lantai 2, Jay turun. Dia pergi dari rumah Lisa tanpa menoleh ke belakang lagi. Hujan mengguyur tubuhnya, tapi Jay tidak peduli. Malam ini, dia telah kehilangan segalanya—setidaknya, begitulah yang mereka pikirkan. Rupanya takdir masih belum selesai mempermainkan Jay. Di tengah jalan, sebuah mobil lain melaju kencang dan berhenti mendadak di hadapan Jay. Dari dalamnya, Regan keluar lagi. Namun kali ini, dia ditemani beberapa pria bertubuh kekar. Seringai jahat Regan masih melekat di wajahnya. “Sayang banget, Jay. Aku nggak rela biarin kamu pergi gitu aja.” Suara Regan rendah, tapi penuh kesombongan. “Menantu sampah kayak kamu harus lenyap selamanya." Tanpa aba-aba, pukulan pertama anak buah Regan menghantam dada Jay dan membuatnya terhuyung ke belakang. Seperti serigala yang mencabik mangsanya, anak buah Regan melancarkan pukulan demi pukulan. Mereka menghajar Jay tanpa belas kasihan. Setiap pukulan bagaikan palu godam yang menghancurkan tulang Jay. Setiap tendangan membuat tubuhnya terpelanting ke aspal yang dingin dan basah. Jay muntah darah. Tidak lama, seseorang memukul kepala bagian belakang Jay dengan balok kayu. Jay berteriak kesakitan. “Aaarrghh!” Jay ambruk dalam hitungan detik. Darah mengalir deras dari kepalanya. Jay masih bertahan dengan sisa kesadarannya. “Biadab….” Regan berjongkok di hadapan Jay. Dia meraih rambut Jay dengan kasar, lalu memaksanya menatap wajah keji yang penuh kepuasan itu. “Selamat datang di alam baka, pecundang! Semoga saat reinkarnasi nanti, kita nggak akan pernah ketemu lagi di kehidupan selanjutnya.” Dengan satu pukulan terakhir ke pelipisnya, dunia Jay menjadi gelap seketika. Detik itu juga, dia tidak sadarkan diri. Seorang anak buah Regan menendang badan Jay berulang kali dengan kaki. Anak buah berkata, “Bos, dia udah nggak gerak. Mungkin dia mati.” “Ayo, pergi! Kalo dia beneran mati, kita jangan sampai terlibat!” Regan berdiri, memandangi tubuh Jay yang terkapar tak bergerak. Lalu, pergi. Hujan terus turun, membasahi aspal yang mulai diwarnai genangan darah. Anak buah Regan mengikuti tanpa ragu. Dalam pikiran mereka, Jay Issac sudah mati. Tidak perlu repot-repot memastikannya lagi.Kali ini, reaksi Lisa bukan pura-pura. Itu adalah reaksi yang nyata.Lisa menoleh cepat ke arah Riani.“Apa aku pernah buat keputusan kayak gitu? Aku nggak merasa menghentikan dana pengobatan Veel. Aku sudah melakukannya sesuai permintaan Nenek.”Riani terlihat terkejut. Dia langsung membuka tablet di tangannya. Jari-jarinya bergerak cepat menelusuri data.“Saya… saya nggak menemukan perintah resmi dari Anda, Bu,” jawabnya gugup.Melati menyipitkan mata.“Jadi kamu nggak tau?” suaranya rendah, tapi mengandung tekanan.Lisa menggeleng cepat. Lalu melirik jam tangannya. “Ini udah waktunya rapat harian. Aku—”Melati geram. “Apa nyawa anakmu nggak lebih penting daripada rapat? Asal kamu tau, Lisa. Kantor akan terus beroperasi tanpa kamu.”Lisa menjadi serba salah. Dia memang akan bercerai dengan Jay. Tapi Veel?Lisa telah bersusah payah untuk mendapatkan pengakuan kakek dan neneknya. Sampai akhirnya, baru beberapa tahun ini dia mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari keluarga Cole.
Gedung utama Grup Cole berdiri di pusat kota Blackridge, tinggi, modern, dan terlihat dingin.Fasadnya didominasi kaca gelap yang memantulkan langit seperti cermin, membuat gedung itu tampak tak tersentuh dan berjarak.Logo Cole Group terpampang besar di bagian atas dengan desain minimalis namun tegas, melambangkan kekuasaan dan kontrol.Mobil hitam sedan berhenti tanpa suara di pintu samping.Pandu Darma menoleh ke belakang. “Nyonya, kita sudah sampai.”Liora turun lebih dulu membukakan pintu mobil untuk Melati.“Silakan, Nyonya.”Melati turun perlahan. Hari ini, dia tidak ingin disambut oleh siapapun di kantor. Dia ingin melihat… apa yang sebenarnya terjadi!Begitu memasuki lobi, suasana langsung terasa berbeda. Melati langsung masuk ke lift menuju lantai 17, di sanalah ruangannya berada. Di Lantai 17. Beberapa karyawan yang melihatnya tampak terkejut. Ada yang buru-buru menunduk. Ada juga yang saling bertukar pandang. Seolah… mereka menyembunyikan sesuatu.Begitu melewati ruangan
Keesokan hari di Mega Kemuning. Liora datang ke kamar Melati. Wajahnya lesu dan tatapannya berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dia berdiri di depan Melati. “Nyonya Besar,” sapa Liora.“Gimana? Yang ku suruh cari info, udah dapat belum?”Liora mengangguk. “Ini data yang Anda minta.”Liora menyerahkan sebuah dokumen hitam berisi data-data yang diinginkan Melati.“Bagus,” kata Melati. Melati meminum teh dengan anggun. Setelah kejadian semalam di pesta ulang tahunnya, Melati meminta Liora untuk menyelidiki keluarga Domani dan keluarga Boni. Karena Melati merasa, kedua keluarga tersebut sangat dekat dengan Jay. Melati hanya ingin menyelamatkan pernikahan cucunya. Jay adalah pria pendiam dan setia. Jadi Melati sangat yakin, Jay tidak pandai menggoda wanita. Sambil menundukkan kepala, Liora mulai melaporkan pekerjaannya. “Saya udah suruh anak buah menyebar dan mencari Nona Veel ke seluruh penjuru Issac Hospital. Tapi, mereka nggak menemukannya. Saat bertanya ke bagian administrasi, me
“Tapi, diantara empat keluarga itu…”Jay tetap berdiri di depan jendela. Cahaya kota memantul samar di matanya yang gelap. Ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang berani menyela.Jay menggeleng tipis.“Yang lain… masuk akal. Keluarga Boni, Domani, Winata… mereka punya motif.”Dia berhenti sejenak.“Tapi keluarga Cole? Aku nggak yakin. Mereka nggak punya bisnis di kota Redlock. Nggak terlibat bisnis kotor.”Nada suaranya berubah. Lebih rendah dan lebih berat.Martinus sedikit mengangkat kepala. “Tuan Muda, semua bukti—”“Aku bilang, nggak mungkin.”Kali ini tegas. Tidak keras, tapi tidak bisa dibantah.Dokter Idris melirik Jay sekilas. Dia tahu… ini bukan sekadar analisis. Ini sesuatu yang lebih dalam.Jay berbalik dari jendela. Tatapannya tajam, tapi ada sesuatu yang tertahan di dalamnya.“Keluarga Cole saat itu baru naik,” lanjutnya. “Mereka belum punya posisi untuk masuk ke lingkaran atas itu.”Martinus membuka salah satu berkas lagi, mencoba tetap objektif. “Justru karena itu, Tuan.
Setelah menyelimuti Veel dan memastikannya tidur nyenyak, Jay masuk ke ruang kerja yang terletak di ujung koridor Utara villa. Di sana, Martinus sudah menunggunya. “Tuan Muda,” sapa Martinus. Jay datang bersama Dokter Idris. Sementara Della sudah pergi beristirahat di kamarnya yang terletak di sebelah kamar Veel. Jay duduk di meja kerja. “Kapan sampai?” tanya Jay. Dia membakar rokok. “Dua jam lalu,” jawab Martinus.Mata Jay fokus menatap sebuah kotak hitam di depannya. Martinus menyodorkan kotaknya. “Semua ini adalah bukti terakhir yang didapatkan mata-mata kita sebelum tewas.”Asap rokok mengepul pekat di udara. Jay tidak langsung menyentuh isi kotak itu. Tatapannya diam, seolah sudah menebak bahwa apa yang ada di dalamnya… bukan sesuatu yang sederhana.Jay menjepit rokok di sela-sela bibirnya. Akhirnya, dia membuka kotaknya perlahan.“Ehm?” Isinya bukan rekaman modern. Tidak ada CCTV ataupun file digital yang mencolok.Yang ada… justru hanyalah potongan masa lalu.Dahi Dokter
“Dokter Hazel, makasih untuk bantuanmu malam ini.”Jay berkata dengan tulus. Dia berdiri di sisi mobil “Jangan sungkan begitu, Tuan Jay,” balas Hazel, ramah. “Udah larut. Ayo bawa Veel kembali ke rumah sakit.”Sesuai dengan rencana awal, Jay tidak membawa Veel kembali ke rumah sakit. Tetapi, membawanya pulang ke perumahan elite Bukit Rajawali Emas. Jay menggeleng. “Aku mau bawa Veel Pulang ke rumah kami.”Hazel sedikit bingung. Sebab menurut laporan dari asistennya, Jay dan Lisa sedang menghadapi perceraian. Apalagi, Jay sudah membawa Veel keluar dari rumah keluarga Cole. Jadi sebenarnya, ke mana Jay akan membawa anaknya pulang? Hazel tidak percaya. “Rumah? Maaf, kalo aku lancang. Tapi, bukannya selama ini kamu dan Veel tinggal di siniーdi rumah keluarga Cole? Dan, pengobatan Veelー”Jay tertawa pelan. “Aku punya rumah sederhana di tengah kota. Kalo nggak keberatan, nanti aku akan atur waktu untuk undang kamu datang makan bersama kami. Gimana?”“Mengenai pengobatan Veel, Dokter Idr
Tepuk tangan yang awalnya terdengar pelan, semakin lama semakin menyebar.Bukan karena hadiah mewah itu. Tapi karena pria yang baru saja merusak semua prasangka di ruangan itu.Ya! Jay berhasil membuat separuh tamu undangan percaya pada kemampuannya. Stevani berjalan mendekati Jay. Wajahnya berse
Diana mencubit pinggang anak keduanya. “Oliv, cepat kasih kotak hadiah Nenek. Mama mau Nenek lupain masalah Lisa dan Regan.”Olivia Coleーadik Lisa yang berusia 22 tahun, mengangguk. “Oke, Ma. Aku akan alihkan perhatian Nenek.”Olivia maju mendekati Nenek Melati. Dia memiliki kulit putih cerah deng
Semua orang mengalihkan perhatian pada Jay dan Veel. Saking terkejutnya, Nenek Melati langsung berdiri. “Cicitku yang cantik, kemarilah!”Sejak pesta ulang tahunnya dimulai, Nenek Melati tidak tersenyum. Dia hanya membalas senyum tipis pada tamu yang datang menyapa. Selebihnya, dia enggan berbicar
Baru sampai di ambang pintu aula, Jay sudah disuguhi pemandangan yang mencekik. Dia akhirnya mengerti situasi. Jay menatap Dokter Idris. “Pergi ambil hadiah Nenek.”Lalu, tatapan Jay jatuh pada wajah mungil putrinya. “Kalian jangan masuk sebelum aku panggil. Aku mau ngasih kejutan mereka.”Hatiny







