FAZER LOGINSekarang sudah pukul 08:55 pagi.
Saat Jay tiba di kantor pencatatan sipil, dia melihat mobil Lisa sudah terparkir. Jarak antara rumah sakit dan kantor pencatatan sipil hanya butuh jalan kaki selama 10 menit saja. Pintu mobil terbuka. Lisa turun ditemani Riani. Sambil berjalan, Riani menatap Jay tajam. “Pak Jay, kamu nyaris terlambat. Kami pikir, kamu berubah pikiran.” Jay tidak menghiraukan perkataan Riani. Dia tahu, selama ini Riani lah yang mengenalkan Regan pada istrinya. Riani juga yang mendekatkan Lisa dan Regan. Bahkan, dia membujuk beberapa kata pada nenek Lisa untuk menerima Regan menjadi cucu menantu keluarga Cole. Jay membalas tatapan Riani. “Jangan-jangan, ide perceraian ini berasal dari kamu ya?” Riani tersenyum. Saat Jay ingin berkata lagi, Lisa berbicara. Lisa berkata, “Jay, kenapa kamu nolak uang kompensasi perceraian dariku? Apa jumlahnya kurang? Tinggal bertahun-tahun sama kamu, nggak kusangka … ternyata kamu matre juga.” Di dokumen perceraian semalam, terdapat dua kolom tanda tangan. Yaitu kolom tanda tangan perjanjian perceraian dan satunya lagi tanda tangan persetujuan uang kompensasi perceraian. Namun, Jay hanya menandatangani berkas perceraian saja. Menyadari hal itu, Riani emosi. Riani menggeleng. “Pak Jay, jadi orang jangan nggak tahu diri. Bu Lisa udah berbaik hati ngasih kamu uang kompensasi. Sebenernya berapa banyak uang yang kamu mau, hah?!” Lisa merasa konyol. “Jay, aku ngasih kamu Rp 1 miliar. Uang itu bisa kamu pakai buat bayar biaya pengobatan anakmu. Di mana lagi kamu bisa dapatkan uang sebanyak itu?” Mereka telah sampai di teras kantor pencatatan sipil. Riani pergi menanyakan prosedur pada petugas. Sementara Jay dan Lisa berdiri saling berhadapan. Jay balik bertanya, “Kamu bilang, uang Rp 1 miliar banyak?” “Iya. Ada yang salah?” “Lisa, kamu itu CEO Cole Group. Harusnya kamu tau, uang Rp 1 miliar bahkan nggak cukup buat bayar biaya kamar rawat inap Veel,” celoteh Jay. Lisa naik pitam. “Kamu ini Ayahnya Veel. Kenapa nggak pergi cari uang? Jadi pemulung atau tukang sedot tinja bisa, kan?” Ini penghinaan! Jay tidak tahan lagi. Darah naga di dalam tubuhnya bergejolak. “Dan jangan lupa, Lisa. Kamu ibunya. Kamulah yang melahirkan Veel. Kenapa ada seorang ibu yang tega menukar anaknya dengan uang Rp 1 miliar?” Wajah Lisa pucat pasi. Dia memang melahirkan Veel. Tapi bukan berarti dia tidak menyayangi anaknya. Dia hanya tidak ingin menjadi bahan lelucon di kantor. Perasaan bersalah muncul di hati Lisa. “Aku—” “Jay! Lisa!” Seseorang memanggil mereka berdua. Riani yang baru saja selesai mendaftarkan berkas perceraian langsung menghampiri Lisa. “Bu Lisa, itu nenek Melati,” bisik Riani, sedikit panik. Lalu, kedua bola mata Lisa terarah pada Jay. Dia langsung mencurigainya. “Jay, kamu sengaja panggil Nenek ke sini supaya kita nggak jadi cerai? Segitu takutnya kamu cerai sama aku!” Jay segera membalas, “Jarak dari rumah Nenek ke sini cuma 20 menit. Nenek Melati suka jalan pagi sama Romeo. Sebagai cucu yang berbudi luhur, seharusnya kamu tau kebiasaan Nenek.” Usai menjawab, Jay pergi menghampiri Melati. Jay menyapa Melati dengan ramah. “Nenek, kenapa jalan pagi cuma sama Romeo? Kenapa nggak ajak pelayan?” Jay menggendong Romeo. Dia adalah seekor anjing Beagle medium berwarna coklat yang setia menemani Melati. “Nenek mau ke pasar. Tapi, kayaknya udah kesiangan,” sahut Melati. Lisa sudah berada di sisi Melati dengan wajah tegang. Sebab selain Adrian, Melati juga menyayangi dan memperlakukan Jay dengan baik. Lisa khawatir. Dengan kehadiran Melati sekarang, rencana perceraian yang sudah disusunnya akan gagal total. Lisa meraih pergelangan tangan Melati. “Nenek, ngapain di sini?” Melati tidak senang. “Justru harusnya aku yang tanya. Kalian berdua ngapain di sini?” Tatapan Melati terarah pada Jay, “Jangan bilang, Lisa ngajak kamu cerai?” Jay mengelus kepala Romeo dengan lembut. Bukankah bangkai jika ditutupi rapat-rapat tetap akan tercium juga baunya? Maka, Jay memilih untuk menjawab jujur. “Oh, itu … aku cuma ikutin kemauan Lisa, Nek,”sahut Jay. Dari dulu sampai sekarang, Jay tidak pernah bisa berbohong pada Adrian dan Melati. Dia menganggap keduanya sebagai kakek dan neneknya sendiri. Melati mencubit Lisa. “Anak nakal!” Wajah Lisa sedikit memerah. “Duh, Nek. Ini sakit.” Melati tidak peduli. “Jay kurang apa? Sebagai suami dan ayah, dia menjaga juga merawatmu dan Veel dengan baik. Tapi kamu malah nggak tau diri!” “Udah berapa kali kamu dan orang tuamu menyakiti Jay? Tapi Jay nggak pernah balas perlakuan kalian,” bentak Melati. Jika biasanya Lisa bersikap berani pada semua orang, tapi di depan Melati, nyalinya ciut. Setelah Adrian wafat, Melati menjadi kepala keluarga Cole yang tegas dan keras kepala. Di masa muda, Melati membangun bisnis bersama Adrian hingga perusahaan Cole Group bisa bertahan di dunia industri farmasi sampai sekarang. Namun, hidup tidak selalu sejalan dengan keinginan manusia. 6 tahun lalu, Cole Group mengalami kerugian besar dan nyaris pailit. Saat mendapatkan kabar itu, Adrian terkena serangan jantung di pinggir jalan. Beruntung, Jay lewat di depan mobil pribadi Adrian dan segera memberikan pertolongan pertama. Alhasil, Adrian selamat. Adrian merasa berhutang budi pada Jay. Dia menjodohkan Jay dengan Lisa, cucunya yang paling cantik. Sambil memperhatikan wajah Jay, Melati tersenyum. ‘Seandainya kamu bersabar sedikit, kelak kamu akan tau siapa suamimu ini, Lisa!’ Melati berujar, “Jay, Nenek capek. Ayo anterin Nenek pulang. Nenek kangen masakan kamu. Mau kan masakin Nenek?” Nada suara Melati berubah ramah saat berbicara dengan Jay. “Baiklah, Nek. Aku setuju. Habis itu, aku baru balik lagi ke rumah sakit,” balas Jay. Lisa menghela napas panjang. “Kalo gitu, biar Lisa anterin pakai mobil, Nek,” rayu Lisa yang langsung disetujui oleh Melati. Melati sudah duduk di dalam mobil, diapit Jay di sisi kanan dan Lisa di sisi kiri. Jay memperhatikan istrinya. Lisa berusia 27 tahun. Kulit putihnya terawat. Karena dia pintar merawat tubuhnya. Blouse merah muda ketat dan tanpa lengan mengekspos belahan dadanya yang kencang dan menantang hasrat Jay. Belum lagi rok hitam ketat satu jengkal di atas lutut yang memperlihatkan paha mulusnya. Jay merasa risih dengan gaya berpakaian Lisa yang menurutnya kelewat seksi. Jay membuka jaket dan melemparnya pada Lisa. “Pakai ini.” Karena Melati menatapnya, Lisa pun menuruti ucapan Jay dengan terpaksa. Mobil melaju. Riani yang duduk di kursi sopir tidak berkutik di hadapan Melati. “Jay, Lisa. Ingat pesan mendiang Kakek Adrian, kan? Kalian nggak boleh bercerai apapun yang terjadi.” Melati memecah keheningan di dalam mobil. Dia menarik tangan Jay dan Lisa, lalu menyatukannya. Melati tersenyum. Dia berkata pada Lisa, “Kalo kamu berani minta cerai lagi sama Jay, arwah kakek nggak akan bisa tenang di alam baka. Paham kamu, Lisa?” Mobil memasuki perumahan mewah Mega Kemuning yang berada di tengah kota. Lalu, berhenti di rumah besar nomor 70. Walaupun mobil sudah berhenti, Melati belum mau turun. “Veel udah lama sakit. Kalian cepatlah kasih nenek cicit lagi,” kata Melati, pelan.Tiga jam berlalu.Jay duduk di tepi ranjang. Tangannya mengepal, lalu mengendur. “Kita … kita omongin ini nanti,” ujar Jay, pelan.Lisa terbaring. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil. Dia menatap langit-langit kamar, lalu perlahan menoleh ke arah Jay. Dia canggung, bingung dan merasa bersalah.Jay beranjak membersihkan diri. Ketika Jay sudah sampai di depan kamar mandi, Lisa duduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.Lisa berucap, “Jangan pernah berpikir untuk melakukannya lagi. Ini adalah terakhir kalinya kita berhubungan intim.”“Oh ya, satu lagi. Setelah ulang tahun Nenek, aku akan daftarin berkas perceraian lagi.”Jay membalas, “Baru selesai bercinta, kamu udah ngomongin masalah perceraian. Segitu nggak sabaran, ya.”Dia langsung mendorong pintu kamar mandi dan masuk.Jay menyalakan shower. Dia berdiri di bawahnya. “Nggak kusangka, staminaku bener-bener kuat. Sampai sekarang, aku nggak ngerasain capek sama sekali. Ini pasti berkat darah naga.”Kalau bukan karena melihat L
“Nek, biar aku ke dapur dan memasak untuk Nenek,” ujar Jay, sopan.Melati tersenyum. Di antara anak, menantu dan cucunya, Jay tetaplah yang terbaik. Selain tulus, lembut dan pengertian, Jay memang cucu menantu idaman. “Duduk aja dulu, Jay. Temani Nenek ngobrol. Nenek kangen banget sama kamu dan Veel. Sejak Veel sakit, kamu jarang banget datang ke sini.”Mereka berada di ruang tengah. Melati mengeluhkan sikap Jay yang sekarang jarang mengunjunginya. Meskipun memiliki kesibukan, usia senja seperti Melati memang kerap merasa kesepian.“Astaga! Maaf, Nek. Aku nggak bermaksud buat Nenek kecewa. Tapiー”Melati berseru memotong kalimat Jay, “Ah, Liora udah datang!”Liora datang membawa nampan berisi dua mangkuk sup sarang burung walet. Dia meletakkan nampan di atas meja.Liora membentuk gestur hormat.“Tuan Jay, Nyonya Lisa, silakan dinikmati supnya mumpung masih hangat,” ujar Liora. Liora Tan adalah salah satu orang kepercayaan Melati, selain Pandu Darma. Sebelumnya, Liora mendapatkan kaba
Sekarang sudah pukul 08:55 pagi. Saat Jay tiba di kantor pencatatan sipil, dia melihat mobil Lisa sudah terparkir. Jarak antara rumah sakit dan kantor pencatatan sipil hanya butuh jalan kaki selama 10 menit saja. Pintu mobil terbuka. Lisa turun ditemani Riani. Sambil berjalan, Riani menatap Jay tajam. “Pak Jay, kamu nyaris terlambat. Kami pikir, kamu berubah pikiran.”Jay tidak menghiraukan perkataan Riani. Dia tahu, selama ini Riani lah yang mengenalkan Regan pada istrinya. Riani juga yang mendekatkan Lisa dan Regan. Bahkan, dia membujuk beberapa kata pada nenek Lisa untuk menerima Regan menjadi cucu menantu keluarga Cole. Jay membalas tatapan Riani. “Jangan-jangan, ide perceraian ini berasal dari kamu ya?”Riani tersenyum. Saat Jay ingin berkata lagi, Lisa berbicara.Lisa berkata, “Jay, kenapa kamu nolak uang kompensasi perceraian dariku? Apa jumlahnya kurang? Tinggal bertahun-tahun sama kamu, nggak kusangka … ternyata kamu matre juga.”Di dokumen perceraian semalam, terdapat d
“Astaga. Aku … nggak mau mati sekarang. Putriku masih membutuhkanku.”Mata Jay masih tertutup. Dia merasakan sakit yang luar biasa. Ingatannya dipenuhi wajah putrinya.“Kalo aku harus mati … aku rela tukar hidupku demi kesembuhan Veel cantik.”Veel Issac, putri kecil Jay yang cantik dan pintar. Demi apapun, dia sangat menyayangi anak semata wayangnya. Nyawa Jay sudah di ujung tanduk. Bukannya memohon keselamatan untuk diri sendiri, Jay malah memikirkan dan memohon kehidupan untuk putrinya. Dia benar-benar ayah yang baik.Jay merasakan kepalanya berdengung. Darah terus mengalir dari mulut, hidung dan kepala. Dia tidak bisa mendengar apapun lagi. Mungkin inilah akhir hidupnya!“Veel, anak Ayah ….”Beberapa menit berlalu. Tanda-tanda keajaiban datang!Jay memakai kalung giok berukiran naga kecil yang sangat sederhana. Warnanya abu kehijauan. Itu adalah kalung peninggalan orang tuanya yang dia pakai sejak kecil. Giok yang terkena darah Jay bercahaya. Tali kalung yang terbuat dari benan
“Jay Issac, aku udah anterin Istri kamu pulang dengan selamat.”Dari dalam mobil sport hitam yang terparkir di depan villa besar, seorang pria gagah dan tampan menghembuskan asap rokok. Dia Regan Gray, Tuan Muda kedua keluarga Gray yang angkuh. Sosoknya menjulang bak serigala di puncak rantai makanan, menyeringai penuh kemenangan ke arah Jay. Hujan mengguyur Kota Blackridge seperti air mata langit yang berkabung. Langit malam ini kelam seperti takdir yang seakan mengepung Jay Issac dari segala arah. Lisa ColeーIstri Jay, duduk di kursi penumpang dengan keadaan setengah mabuk. Parasnya yang cantik sedikit memerah karena pengaruh alkohol. Regan menatap Jay yang berdiri di depan pintu utama. Lalu, membuang puntung rokok yang masih menyala.Regan tersenyum licik. “Jay, bisa nggak kamu bawa Lisa ke dalam rumah? Atau kamu mau aku aja yang bawa dia ke kamar kalian?”Jay segera melangkah cepat membawa payung, mendekati mobil Regan. Dia mengulurkan tangan, hendak membuka pintu mobil, namun t







