Share

Chapter 3

Author: Papa Buaya
last update publish date: 2026-02-09 07:31:58

Sekarang sudah pukul 08:55 pagi.

Saat Jay tiba di kantor pencatatan sipil, dia melihat mobil Lisa sudah terparkir. Jarak antara rumah sakit dan kantor pencatatan sipil hanya butuh jalan kaki selama 10 menit saja.

Pintu mobil terbuka. Lisa turun ditemani Riani.

Sambil berjalan, Riani menatap Jay tajam. “Pak Jay, kamu nyaris terlambat. Kami pikir, kamu berubah pikiran.”

Jay tidak menghiraukan perkataan Riani. Dia tahu, selama ini Riani lah yang mengenalkan Regan pada istrinya.

Riani juga yang mendekatkan Lisa dan Regan. Bahkan, dia membujuk beberapa kata pada nenek Lisa untuk menerima Regan menjadi cucu menantu keluarga Cole.

Jay membalas tatapan Riani. “Jangan-jangan, ide perceraian ini berasal dari kamu ya?”

Riani tersenyum. Saat Jay ingin berkata lagi, Lisa berbicara.

Lisa berkata, “Jay, kenapa kamu nolak uang kompensasi perceraian dariku? Apa jumlahnya kurang? Tinggal bertahun-tahun sama kamu, nggak kusangka … ternyata kamu matre juga.”

Di dokumen perceraian semalam, terdapat dua kolom tanda tangan. Yaitu kolom tanda tangan perjanjian perceraian dan satunya lagi tanda tangan persetujuan uang kompensasi perceraian.

Namun, Jay hanya menandatangani berkas perceraian saja.

Menyadari hal itu, Riani emosi.

Riani menggeleng. “Pak Jay, jadi orang jangan nggak tahu diri. Bu Lisa udah berbaik hati ngasih kamu uang kompensasi. Sebenernya berapa banyak uang yang kamu mau, hah?!”

Lisa merasa konyol. “Jay, aku ngasih kamu Rp 1 miliar. Uang itu bisa kamu pakai buat bayar biaya pengobatan anakmu. Di mana lagi kamu bisa dapatkan uang sebanyak itu?”

Mereka telah sampai di teras kantor pencatatan sipil. Riani pergi menanyakan prosedur pada petugas. Sementara Jay dan Lisa berdiri saling berhadapan.

Jay balik bertanya, “Kamu bilang, uang Rp 1 miliar banyak?”

“Iya. Ada yang salah?”

“Lisa, kamu itu CEO Cole Group. Harusnya kamu tau, uang Rp 1 miliar bahkan nggak cukup buat bayar biaya kamar rawat inap Veel,” celoteh Jay.

Lisa naik pitam.

“Kamu ini Ayahnya Veel. Kenapa nggak pergi cari uang? Jadi pemulung atau tukang sedot tinja bisa, kan?”

Ini penghinaan!

Jay tidak tahan lagi. Darah naga di dalam tubuhnya bergejolak.

“Dan jangan lupa, Lisa. Kamu ibunya. Kamulah yang melahirkan Veel. Kenapa ada seorang ibu yang tega menukar anaknya dengan uang Rp 1 miliar?”

Wajah Lisa pucat pasi. Dia memang melahirkan Veel. Tapi bukan berarti dia tidak menyayangi anaknya. Dia hanya tidak ingin menjadi bahan lelucon di kantor.

Perasaan bersalah muncul di hati Lisa. “Aku—”

“Jay! Lisa!”

Seseorang memanggil mereka berdua.

Riani yang baru saja selesai mendaftarkan berkas perceraian langsung menghampiri Lisa.

“Bu Lisa, itu nenek Melati,” bisik Riani, sedikit panik.

Lalu, kedua bola mata Lisa terarah pada Jay. Dia langsung mencurigainya.

“Jay, kamu sengaja panggil Nenek ke sini supaya kita nggak jadi cerai? Segitu takutnya kamu cerai sama aku!”

Jay segera membalas, “Jarak dari rumah Nenek ke sini cuma 20 menit. Nenek Melati suka jalan pagi sama Romeo. Sebagai cucu yang berbudi luhur, seharusnya kamu tau kebiasaan Nenek.”

Usai menjawab, Jay pergi menghampiri Melati.

Jay menyapa Melati dengan ramah. “Nenek, kenapa jalan pagi cuma sama Romeo? Kenapa nggak ajak pelayan?”

Jay menggendong Romeo. Dia adalah seekor anjing Beagle medium berwarna coklat yang setia menemani Melati.

“Nenek mau ke pasar. Tapi, kayaknya udah kesiangan,” sahut Melati.

Lisa sudah berada di sisi Melati dengan wajah tegang.

Sebab selain Adrian, Melati juga menyayangi dan memperlakukan Jay dengan baik. Lisa khawatir. Dengan kehadiran Melati sekarang, rencana perceraian yang sudah disusunnya akan gagal total.

Lisa meraih pergelangan tangan Melati. “Nenek, ngapain di sini?”

Melati tidak senang. “Justru harusnya aku yang tanya. Kalian berdua ngapain di sini?”

Tatapan Melati terarah pada Jay, “Jangan bilang, Lisa ngajak kamu cerai?”

Jay mengelus kepala Romeo dengan lembut. Bukankah bangkai jika ditutupi rapat-rapat tetap akan tercium juga baunya? Maka, Jay memilih untuk menjawab jujur.

“Oh, itu … aku cuma ikutin kemauan Lisa, Nek,”sahut Jay.

Dari dulu sampai sekarang, Jay tidak pernah bisa berbohong pada Adrian dan Melati. Dia menganggap keduanya sebagai kakek dan neneknya sendiri.

Melati mencubit Lisa. “Anak nakal!”

Wajah Lisa sedikit memerah. “Duh, Nek. Ini sakit.”

Melati tidak peduli. “Jay kurang apa? Sebagai suami dan ayah, dia menjaga juga merawatmu dan Veel dengan baik. Tapi kamu malah nggak tau diri!”

“Udah berapa kali kamu dan orang tuamu menyakiti Jay? Tapi Jay nggak pernah balas perlakuan kalian,” bentak Melati.

Jika biasanya Lisa bersikap berani pada semua orang, tapi di depan Melati, nyalinya ciut.

Setelah Adrian wafat, Melati menjadi kepala keluarga Cole yang tegas dan keras kepala.

Di masa muda, Melati membangun bisnis bersama Adrian hingga perusahaan Cole Group bisa bertahan di dunia industri farmasi sampai sekarang.

Namun, hidup tidak selalu sejalan dengan keinginan manusia.

6 tahun lalu, Cole Group mengalami kerugian besar dan nyaris pailit. Saat mendapatkan kabar itu, Adrian terkena serangan jantung di pinggir jalan.

Beruntung, Jay lewat di depan mobil pribadi Adrian dan segera memberikan pertolongan pertama. Alhasil, Adrian selamat. Adrian merasa berhutang budi pada Jay. Dia menjodohkan Jay dengan Lisa, cucunya yang paling cantik.

Sambil memperhatikan wajah Jay, Melati tersenyum. ‘Seandainya kamu bersabar sedikit, kelak kamu akan tau siapa suamimu ini, Lisa!’

Melati berujar, “Jay, Nenek capek. Ayo anterin Nenek pulang. Nenek kangen masakan kamu. Mau kan masakin Nenek?”

Nada suara Melati berubah ramah saat berbicara dengan Jay.

“Baiklah, Nek. Aku setuju. Habis itu, aku baru balik lagi ke rumah sakit,” balas Jay.

Lisa menghela napas panjang.

“Kalo gitu, biar Lisa anterin pakai mobil, Nek,” rayu Lisa yang langsung disetujui oleh Melati.

Melati sudah duduk di dalam mobil, diapit Jay di sisi kanan dan Lisa di sisi kiri. Jay memperhatikan istrinya.

Lisa berusia 27 tahun. Kulit putihnya terawat. Karena dia pintar merawat tubuhnya. Blouse merah muda ketat dan tanpa lengan mengekspos belahan dadanya yang kencang dan menantang hasrat Jay. Belum lagi rok hitam ketat satu jengkal di atas lutut yang memperlihatkan paha mulusnya.

Jay merasa risih dengan gaya berpakaian Lisa yang menurutnya kelewat seksi.

Jay membuka jaket dan melemparnya pada Lisa. “Pakai ini.”

Karena Melati menatapnya, Lisa pun menuruti ucapan Jay dengan terpaksa.

Mobil melaju. Riani yang duduk di kursi sopir tidak berkutik di hadapan Melati.

“Jay, Lisa. Ingat pesan mendiang Kakek Adrian, kan? Kalian nggak boleh bercerai apapun yang terjadi.”

Melati memecah keheningan di dalam mobil. Dia menarik tangan Jay dan Lisa, lalu menyatukannya.

Melati tersenyum. Dia berkata pada Lisa, “Kalo kamu berani minta cerai lagi sama Jay, arwah kakek nggak akan bisa tenang di alam baka. Paham kamu, Lisa?”

Mobil memasuki perumahan mewah Mega Kemuning yang berada di tengah kota. Lalu, berhenti di rumah besar nomor 70.

Walaupun mobil sudah berhenti, Melati belum mau turun.

“Veel udah lama sakit. Kalian cepatlah kasih nenek cicit lagi,” kata Melati, pelan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 38

    Kali ini, reaksi Lisa bukan pura-pura. Itu adalah reaksi yang nyata.Lisa menoleh cepat ke arah Riani.“Apa aku pernah buat keputusan kayak gitu? Aku nggak merasa menghentikan dana pengobatan Veel. Aku sudah melakukannya sesuai permintaan Nenek.”Riani terlihat terkejut. Dia langsung membuka tablet di tangannya. Jari-jarinya bergerak cepat menelusuri data.“Saya… saya nggak menemukan perintah resmi dari Anda, Bu,” jawabnya gugup.Melati menyipitkan mata.“Jadi kamu nggak tau?” suaranya rendah, tapi mengandung tekanan.Lisa menggeleng cepat. Lalu melirik jam tangannya. “Ini udah waktunya rapat harian. Aku—”Melati geram. “Apa nyawa anakmu nggak lebih penting daripada rapat? Asal kamu tau, Lisa. Kantor akan terus beroperasi tanpa kamu.”Lisa menjadi serba salah. Dia memang akan bercerai dengan Jay. Tapi Veel?Lisa telah bersusah payah untuk mendapatkan pengakuan kakek dan neneknya. Sampai akhirnya, baru beberapa tahun ini dia mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari keluarga Cole.

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 37

    Gedung utama Grup Cole berdiri di pusat kota Blackridge, tinggi, modern, dan terlihat dingin.Fasadnya didominasi kaca gelap yang memantulkan langit seperti cermin, membuat gedung itu tampak tak tersentuh dan berjarak.Logo Cole Group terpampang besar di bagian atas dengan desain minimalis namun tegas, melambangkan kekuasaan dan kontrol.Mobil hitam sedan berhenti tanpa suara di pintu samping.Pandu Darma menoleh ke belakang. “Nyonya, kita sudah sampai.”Liora turun lebih dulu membukakan pintu mobil untuk Melati.“Silakan, Nyonya.”Melati turun perlahan. Hari ini, dia tidak ingin disambut oleh siapapun di kantor. Dia ingin melihat… apa yang sebenarnya terjadi!Begitu memasuki lobi, suasana langsung terasa berbeda. Melati langsung masuk ke lift menuju lantai 17, di sanalah ruangannya berada. Di Lantai 17. Beberapa karyawan yang melihatnya tampak terkejut. Ada yang buru-buru menunduk. Ada juga yang saling bertukar pandang. Seolah… mereka menyembunyikan sesuatu.Begitu melewati ruangan

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 36

    Keesokan hari di Mega Kemuning. Liora datang ke kamar Melati. Wajahnya lesu dan tatapannya berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dia berdiri di depan Melati. “Nyonya Besar,” sapa Liora.“Gimana? Yang ku suruh cari info, udah dapat belum?”Liora mengangguk. “Ini data yang Anda minta.”Liora menyerahkan sebuah dokumen hitam berisi data-data yang diinginkan Melati.“Bagus,” kata Melati. Melati meminum teh dengan anggun. Setelah kejadian semalam di pesta ulang tahunnya, Melati meminta Liora untuk menyelidiki keluarga Domani dan keluarga Boni. Karena Melati merasa, kedua keluarga tersebut sangat dekat dengan Jay. Melati hanya ingin menyelamatkan pernikahan cucunya. Jay adalah pria pendiam dan setia. Jadi Melati sangat yakin, Jay tidak pandai menggoda wanita. Sambil menundukkan kepala, Liora mulai melaporkan pekerjaannya. “Saya udah suruh anak buah menyebar dan mencari Nona Veel ke seluruh penjuru Issac Hospital. Tapi, mereka nggak menemukannya. Saat bertanya ke bagian administrasi, me

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 35

    “Tapi, diantara empat keluarga itu…”Jay tetap berdiri di depan jendela. Cahaya kota memantul samar di matanya yang gelap. Ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang berani menyela.Jay menggeleng tipis.“Yang lain… masuk akal. Keluarga Boni, Domani, Winata… mereka punya motif.”Dia berhenti sejenak.“Tapi keluarga Cole? Aku nggak yakin. Mereka nggak punya bisnis di kota Redlock. Nggak terlibat bisnis kotor.”Nada suaranya berubah. Lebih rendah dan lebih berat.Martinus sedikit mengangkat kepala. “Tuan Muda, semua bukti—”“Aku bilang, nggak mungkin.”Kali ini tegas. Tidak keras, tapi tidak bisa dibantah.Dokter Idris melirik Jay sekilas. Dia tahu… ini bukan sekadar analisis. Ini sesuatu yang lebih dalam.Jay berbalik dari jendela. Tatapannya tajam, tapi ada sesuatu yang tertahan di dalamnya.“Keluarga Cole saat itu baru naik,” lanjutnya. “Mereka belum punya posisi untuk masuk ke lingkaran atas itu.”Martinus membuka salah satu berkas lagi, mencoba tetap objektif. “Justru karena itu, Tuan.

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 34

    Setelah menyelimuti Veel dan memastikannya tidur nyenyak, Jay masuk ke ruang kerja yang terletak di ujung koridor Utara villa. Di sana, Martinus sudah menunggunya. “Tuan Muda,” sapa Martinus. Jay datang bersama Dokter Idris. Sementara Della sudah pergi beristirahat di kamarnya yang terletak di sebelah kamar Veel. Jay duduk di meja kerja. “Kapan sampai?” tanya Jay. Dia membakar rokok. “Dua jam lalu,” jawab Martinus.Mata Jay fokus menatap sebuah kotak hitam di depannya. Martinus menyodorkan kotaknya. “Semua ini adalah bukti terakhir yang didapatkan mata-mata kita sebelum tewas.”Asap rokok mengepul pekat di udara. Jay tidak langsung menyentuh isi kotak itu. Tatapannya diam, seolah sudah menebak bahwa apa yang ada di dalamnya… bukan sesuatu yang sederhana.Jay menjepit rokok di sela-sela bibirnya. Akhirnya, dia membuka kotaknya perlahan.“Ehm?” Isinya bukan rekaman modern. Tidak ada CCTV ataupun file digital yang mencolok.Yang ada… justru hanyalah potongan masa lalu.Dahi Dokter

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 33

    “Dokter Hazel, makasih untuk bantuanmu malam ini.”Jay berkata dengan tulus. Dia berdiri di sisi mobil “Jangan sungkan begitu, Tuan Jay,” balas Hazel, ramah. “Udah larut. Ayo bawa Veel kembali ke rumah sakit.”Sesuai dengan rencana awal, Jay tidak membawa Veel kembali ke rumah sakit. Tetapi, membawanya pulang ke perumahan elite Bukit Rajawali Emas. Jay menggeleng. “Aku mau bawa Veel Pulang ke rumah kami.”Hazel sedikit bingung. Sebab menurut laporan dari asistennya, Jay dan Lisa sedang menghadapi perceraian. Apalagi, Jay sudah membawa Veel keluar dari rumah keluarga Cole. Jadi sebenarnya, ke mana Jay akan membawa anaknya pulang? Hazel tidak percaya. “Rumah? Maaf, kalo aku lancang. Tapi, bukannya selama ini kamu dan Veel tinggal di siniーdi rumah keluarga Cole? Dan, pengobatan Veelー”Jay tertawa pelan. “Aku punya rumah sederhana di tengah kota. Kalo nggak keberatan, nanti aku akan atur waktu untuk undang kamu datang makan bersama kami. Gimana?”“Mengenai pengobatan Veel, Dokter Idr

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 26

    Tepuk tangan yang awalnya terdengar pelan, semakin lama semakin menyebar.Bukan karena hadiah mewah itu. Tapi karena pria yang baru saja merusak semua prasangka di ruangan itu.Ya! Jay berhasil membuat separuh tamu undangan percaya pada kemampuannya. Stevani berjalan mendekati Jay. Wajahnya berse

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 25

    Diana mencubit pinggang anak keduanya. “Oliv, cepat kasih kotak hadiah Nenek. Mama mau Nenek lupain masalah Lisa dan Regan.”Olivia Coleーadik Lisa yang berusia 22 tahun, mengangguk. “Oke, Ma. Aku akan alihkan perhatian Nenek.”Olivia maju mendekati Nenek Melati. Dia memiliki kulit putih cerah deng

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 24

    Semua orang mengalihkan perhatian pada Jay dan Veel. Saking terkejutnya, Nenek Melati langsung berdiri. “Cicitku yang cantik, kemarilah!”Sejak pesta ulang tahunnya dimulai, Nenek Melati tidak tersenyum. Dia hanya membalas senyum tipis pada tamu yang datang menyapa. Selebihnya, dia enggan berbicar

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 23

    Baru sampai di ambang pintu aula, Jay sudah disuguhi pemandangan yang mencekik. Dia akhirnya mengerti situasi. Jay menatap Dokter Idris. “Pergi ambil hadiah Nenek.”Lalu, tatapan Jay jatuh pada wajah mungil putrinya. “Kalian jangan masuk sebelum aku panggil. Aku mau ngasih kejutan mereka.”Hatiny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status