Teilen

Chapter 31

last update Veröffentlichungsdatum: 24.03.2026 20:22:48

Cairan anggur yang membasahi wajah Regan masih menetes perlahan ke dagunya. Aula yang sebelumnya dipenuhi bisikan langsung membeku dalam keheningan yang menyesakkan.

Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang berani bersuara.

Semua mata tertuju pada satu orang—Regan Gray.

Regan berdiri kaku. Wajahnya memerah. Bukan hanya karena siraman anggur, tapi karena rasa malu yang menghantamnya tanpa ampun.

Regan menggeram tertahan. “Sialan!”

Hazel berdiri di depannya dengan santai. Gelas kosong masih berada
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 35

    “Tapi, diantara empat keluarga itu…”Jay tetap berdiri di depan jendela. Cahaya kota memantul samar di matanya yang gelap. Ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang berani menyela.Jay menggeleng tipis.“Yang lain… masuk akal. Keluarga Boni, Domani, Winata… mereka punya motif.”Dia berhenti sejenak.“Tapi keluarga Cole? Aku nggak yakin. Mereka nggak punya bisnis di kota Redlock. Nggak terlibat bisnis kotor.”Nada suaranya berubah. Lebih rendah dan lebih berat.Martinus sedikit mengangkat kepala. “Tuan Muda, semua bukti—”“Aku bilang, nggak mungkin.”Kali ini tegas. Tidak keras, tapi tidak bisa dibantah.Dokter Idris melirik Jay sekilas. Dia tahu… ini bukan sekadar analisis. Ini sesuatu yang lebih dalam.Jay berbalik dari jendela. Tatapannya tajam, tapi ada sesuatu yang tertahan di dalamnya.“Keluarga Cole saat itu baru naik,” lanjutnya. “Mereka belum punya posisi untuk masuk ke lingkaran atas itu.”Martinus membuka salah satu berkas lagi, mencoba tetap objektif. “Justru karena itu, Tuan.

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 34

    Setelah menyelimuti Veel dan memastikannya tidur nyenyak, Jay masuk ke ruang kerja yang terletak di ujung koridor Utara villa. Di sana, Martinus sudah menunggunya. “Tuan Muda,” sapa Martinus. Jay datang bersama Dokter Idris. Sementara Della sudah pergi beristirahat di kamarnya yang terletak di sebelah kamar Veel. Jay duduk di meja kerja. “Kapan sampai?” tanya Jay. Dia membakar rokok. “Dua jam lalu,” jawab Martinus.Mata Jay fokus menatap sebuah kotak hitam di depannya. Martinus menyodorkan kotaknya. “Semua ini adalah bukti terakhir yang didapatkan mata-mata kita sebelum tewas.”Asap rokok mengepul pekat di udara. Jay tidak langsung menyentuh isi kotak itu. Tatapannya diam, seolah sudah menebak bahwa apa yang ada di dalamnya… bukan sesuatu yang sederhana.Jay menjepit rokok di sela-sela bibirnya. Akhirnya, dia membuka kotaknya perlahan.“Ehm?” Isinya bukan rekaman modern. Tidak ada CCTV ataupun file digital yang mencolok.Yang ada… justru hanyalah potongan masa lalu.Dahi Dokter

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 33

    “Dokter Hazel, makasih untuk bantuanmu malam ini.”Jay berkata dengan tulus. Dia berdiri di sisi mobil “Jangan sungkan begitu, Tuan Jay,” balas Hazel, ramah. “Udah larut. Ayo bawa Veel kembali ke rumah sakit.”Sesuai dengan rencana awal, Jay tidak membawa Veel kembali ke rumah sakit. Tetapi, membawanya pulang ke perumahan elite Bukit Rajawali Emas. Jay menggeleng. “Aku mau bawa Veel Pulang ke rumah kami.”Hazel sedikit bingung. Sebab menurut laporan dari asistennya, Jay dan Lisa sedang menghadapi perceraian. Apalagi, Jay sudah membawa Veel keluar dari rumah keluarga Cole. Jadi sebenarnya, ke mana Jay akan membawa anaknya pulang? Hazel tidak percaya. “Rumah? Maaf, kalo aku lancang. Tapi, bukannya selama ini kamu dan Veel tinggal di siniーdi rumah keluarga Cole? Dan, pengobatan Veelー”Jay tertawa pelan. “Aku punya rumah sederhana di tengah kota. Kalo nggak keberatan, nanti aku akan atur waktu untuk undang kamu datang makan bersama kami. Gimana?”“Mengenai pengobatan Veel, Dokter Idr

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 32

    Jay perlahan menghilang di balik pintu aula, membawa Veel pergi dari aula bersama orang-orangnya. Begitu pintu tertutup, suasana yang tersisa justru terasa lebih berat dari sebelumnya.Tidak ada yang langsung berbicara. Seolah kepergian satu orang… telah membawa pergi seluruh pusat perhatian di ruangan itu.Helena yang pertama kali bereaksi. Dia menarik napas tajam.“Dia… pergi gitu aja?” gumamnya, tidak percaya.Olivia menyilangkan tangan. Wajahnya masih kaku.“Hmph! Gaya banget,” katanya dingin. “Dia kira, siapa dirinya?”Namun, suara Olivia tidak sekuat sebelumnya.Irwan berdiri diam. Tatapannya masih tertuju ke arah pintu. Untuk pertama kalinya… dia tidak punya kata-kata untuk merendahkan Jay.Beni menggeleng pelan. “Kurang ajar,” gerutunya. “Dapat perhatian dikit aja, udah lupa diri.”Lisa masih berdiri di tempatnya. Matanya menatap lurus ke depan, entah apa yang sedang dia pikirkan!Tangannya perlahan mengepal. Lisa ingin mengejar dan memanggil putrinya. Namun kakinya tidak ber

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 31

    Cairan anggur yang membasahi wajah Regan masih menetes perlahan ke dagunya. Aula yang sebelumnya dipenuhi bisikan langsung membeku dalam keheningan yang menyesakkan.Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang berani bersuara.Semua mata tertuju pada satu orang—Regan Gray.Regan berdiri kaku. Wajahnya memerah. Bukan hanya karena siraman anggur, tapi karena rasa malu yang menghantamnya tanpa ampun.Regan menggeram tertahan. “Sialan!”Hazel berdiri di depannya dengan santai. Gelas kosong masih berada di tangannya. Tatapannya dingin, tanpa rasa bersalah sedikit pun.“Maaf,” katanya ringan. “Tanganku… kadang refleks kalo lihat sesuatu yang kotor.”Beberapa tamu menahan napas.Kalimat itu jelas bukan permintaan maaf. Itu tamparan kedua yang tentunya lebih menyakitkan dari siraman tadi.Lisa membeku di tempatnya. Wajahnya pucat pasi dan tubuhnya terasa dingin.Semua orang melihat. Semua orang tahu.Dia berdiri terlalu dekat dengan pria lain, di depan suaminya sendiri dan di pesta keluarga. Ini s

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 30

    Tutupnya terangkat perlahan. Dan saat isi di dalamnya terlihat, suasana aula seketika membeku.Di dalam kotak itu, terletak sebuah set peralatan minum teh kuno berwarna putih gading, berukiran naga dan bunga teratai yang begitu halus hingga tampak hidup. Di tengahnya, sebuah teko utama memancarkan kilau lembut. Bukan karena emas, tapi karena usia dan kualitas materialnya.Suasana di aula masih sunyi. Tidak ada yang berbicara atau menarik napas keras-keras. Jonathan dan Stevani yang biasanya paling vokal, kini diam membeku seolah terhipnotis oleh hadiah yang dibawa Jay. Nenek Melati yang sejak tadi berdiri… tiba-tiba melangkah maju. Langkahnya pelan, tapi matanya tidak bisa lepas dari benda itu.Tangannya bergetar.“Ini…”Suara Nenek Melati lemah dan hampir tidak terdengar.Dia mendekat, lalu menatap lebih dekat ukiran di permukaan teko itu. Kemudian, .atanya membesar.“Ini… ini nggak mungkin…”Jay berdiri di sampingnya. “Orangku menemukannya di pelelangan internasional beberapa Ming

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status