Share

Bab 252

Penulis: Liazta
last update Tanggal publikasi: 2026-03-31 14:17:33

Pagi itu ruang rapat utama sudah dipenuhi oleh berbagai tokoh penting. Di antara mereka ada pengacara berpengalaman, notaris yang siap menyaksikan setiap langkah, direktur rumah sakit, serta beberapa pejabat tinggi lainnya yang sudah menjelma di kursi masing-masing. Suasananya jelas formal, namun ada getaran ketegangan yang mengendap di udara—seolah semua orang merasakan bahwa hari ini akan ada peristiwa besar yang mengubah segalanya.

Sementara itu, di luar ruangan, Bram mengetuk pintu sebelum
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rosantirosa
bahagianya punya cwok kayak Devan
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 329

    Vivian berdiri di dapur sambil mengikat rambutnya asal.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar berniat memasak sendiri.Ia ingin membuat makan malam spesial untuk Devan.Sesuatu yang hangat.Sesuatu yang bisa membuat pria itu luluh lagi seperti dulu.Namun saat membuka kulkas—langkahnya langsung terhenti.Kosong.Tidak ada apa-apa di dalam sana.Bahkan lampu kulkas pun tidak menyala.Vivian mengernyit.Ia mencoba mengecek bagian samping, lalu menghela napas pelan.“Dayanya dimatikan…”Dapur besar itu terasa asing sekarang.Tidak ada pelayan.Tidak ada aroma makanan.Tidak ada kehidupan.Semuanya kosong dan dingin.“Mana mungkin dia nyetok makanan kalau nggak ada pelayan di rumah ini,” gumamnya pelan.Vivian akhirnya mengambil tasnya lagi.Tanpa banyak pikir, ia pergi menuju swalayan terdekat.Beberapa jam kemudian—Vivian kembali dengan kedua tangan penuh kantong belanja.Daging segar.Udang.Sayuran.Buah-buahan.Sampai perlengkapan untuk membuat minuman favorit D

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 328

    Suasana ruang rapat terasa tegang.Puluhan layar presentasi masih menyala di depan. Grafik, angka, dan laporan proyek memenuhi meja panjang itu. Namun tidak ada satu pun orang yang berani berbicara sembarangan.Karena Devan sedang marah.Pria itu duduk di kursi utama dengan wajah dingin. Jas hitamnya terlihat rapi tanpa cela. Tatapannya tajam saat membaca laporan yang baru saja diberikan stafnya.“Proyek ini seharusnya tidak bermasalah,” ucapnya pelan.Namun justru nada suaranya yang tenang membuat semua orang semakin gugup.Salah satu staf langsung menelan ludah.“Y-ya, Tuan… sebenarnya progres berjalan lancar. Hanya saja… kita mengalami masalah lahan.”Devan mengangkat pandangannya perlahan.“Masalah lahan?”“Iya, Tuan.” Pria itu mengangguk cepat. “Lahan yang kita incar ternyata juga sedang dinegosiasikan pihak lain.”“Siapa?”Ruangan mendadak hening.Sampai akhirnya seseorang menjawab dengan hati-hati.“Perusahaan milik Tuan Thomas.”Devan langsung terdiam.Beberapa staf mulai pani

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 327

    Devan mengantarkan Alicia sampai ke depan ruang kerjanya. Namun setelah pintu terbuka, pria itu tidak langsung pergi.Alicia yang baru saja hendak masuk akhirnya menoleh kembali. Ia memandang Devan dengan sedikit bingung.“Ada apa?” tanyanya pelan.Devan berdiri sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. Tatapannya tertuju penuh pada Alicia.“Kamu jangan terlalu capek, ya.”Nada suaranya terdengar serius. Bukan sekadar basa-basi.Alicia langsung tertawa kecil.“Semua pekerjaan sudah kamu kasih ke orang lain, Dev,” katanya sambil menggeleng pelan. “Aku cuma mengontrol semuanya. Memastikan semuanya berjalan baik. Kalau ada rapat, aku yang memimpin. Ya… kurang lebih seperti bos pada umumnya.”Ia tersenyum lebar.“Dan jujur aja, aku nggak merasa capek.”Devan memperhatikannya dengan tenang.“Aku cuma khawatir.”Kalimat sederhana itu membuat hati Alicia terasa hangat.“Justru dulu waktu masih jadi dokter biasa, itu lebih capek,” lanjut Alicia sambil bersandar santai di dekat pintu ruan

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 326

    Pagi itu, suasana rumah Sofia terasa jauh lebih ramai dari biasanya.Aroma sarapan memenuhi ruang makan. Cahaya matahari masuk dari jendela besar, membuat ruangan terasa hangat dan nyaman.Namun yang paling menarik perhatian—adalah dua pria yang datang terlalu pagi hanya untuk menjemput wanita yang mereka sukai.Thomas duduk dengan tenang di kursi ruang makan sambil memegang cangkir kopinya. Sementara Devan duduk di samping Alicia dengan ekspresi santai, meskipun sesekali tatapannya terus mengarah pada wanita itu.Sofia baru saja turun dari lantai atas.Begitu melihatnya, Thomas langsung mengangkat alis.“Kesiangan bangunnya?”Nada suaranya rendah. Santai. Tapi jelas terdengar menggoda.Sofia langsung melotot kecil sambil menarik kursi.“Kalau semalam kamu nggak ngajak ngobrol sampai jam satu malam, aku juga nggak bakal bangun kesiangan.”Thomas tertawa pelan.“Aku kira kamu kuat begadang.”“Kuat,” jawab Sofia cepat. “Kalau lawan ngobrolnya nggak cerewet.”Thomas menatapnya penuh art

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 325

    Sofia tertawa lepas mendengar ucapan Thomas. Benar-benar lepas, tanpa ditahan.Sudah lama sekali ia tidak merasa seringan ini saat berbicara dengan seseorang.Namun di balik tawanya—jantung Sofia berdebar sangat cepat.Thomas hanya diam memperhatikan reaksinya dari layar handphone. Tatapan pria itu begitu tenang… namun jelas dipenuhi rasa puas melihat Sofia tertawa seperti itu.Dan tanpa sadar—Thomas ikut tertawa kecil.Suara tawanya rendah dan hangat.Membuat suasana malam itu terasa semakin nyaman.Sofia sampai menutup wajahnya dengan bantal kecil karena malu sendiri.“Ya ampun…” gumamnya sambil tertawa pelan. “Kenapa kamu bisa ngomong seperti itu?”Thomas mengangkat alis santai. “Memangnya salah?”“Kamu baru saja ngajak seorang wanita menikah tengah malam.”Thomas tampak berpikir beberapa detik.Lalu mengangguk pelan.“Kalau dipikir-pikir… iya juga.”Sofia kembali tertawa.Pria ini benar-benar tidak pandai menggombal.Tapi justru itu yang membuat semuanya terasa lucu… dan menggem

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 324

    Malam semakin larut.Lampu tidur di kamar Sofia hanya menyisakan cahaya remang yang hangat. Suasana rumah sudah tenang, bahkan Alicia pun telah tertidur pulas di kamarnya.Namun Sofia… masih belum bisa tidur.Panggilan video dengan Thomas masih tersambung.Awalnya hanya untuk menemani Arabella mendengarkan dongeng sebelum tidur.Tapi sekarang— Arabella sudah lama tertidur.Dan entah sejak kapan… obrolan mereka berubah menjadi percakapan panjang yang terasa begitu nyaman.Sofia bersandar di kepala tempat tidur sambil memegang ponselnya. Rambut panjangnya tergerai sedikit berantakan. Wajahnya tampak jauh lebih lembut tanpa makeup.Sedangkan di layar— Thomas duduk di sofa ruang keluarganya.Kemeja hitam pria itu sudah sedikit terbuka di bagian leher. Lengannya tergulung santai. Tidak sekaku biasanya.Dan yang paling Sofia sadari…Thomas sekarang jadi jauh lebih banyak bicara.Kadang bahkan terlalu serius untuk hal-hal kecil… sampai akhirnya terdengar lucu.“Ara bilang aku membosankan,” u

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 53

    Pintu rumah itu tertutup dengan suara keras. Bukan dibanting, tapi cukup untuk membuat semua orang terdiam.Vina sudah pergi. Langkah kakinya yang menjauh seolah masih bergema di lantai marmer rumah mewah itu, meninggalkan udara yang dingin dan penuh sisa amarah.Sofia berdiri kaku di tempatnya. Ta

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 61

    Sinta berdiri di barisan paling depan.Bukan sebagai tamu kehormatan.Bukan pula sebagai keluarga.Ia hanya berdiri—seperti tamu yang bahkan tidak mendapatkan undangan secara khusus. Ia hanya bayangan yang sengaja diabaikan.Dari jarak sedekat itu, ia menyaksikan segalanya dengan mata kepala sendir

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 52

    Malam itu, rumah besar Tonny terasa hangat. Meja makan panjang telah ditata sempurna, dengan hidangan Nusantara dan Eropa berdampingan—rendang yang pekat aromanya, steak yang masih mengepul, salad segar, sup krim, dan aneka pencuci mulut mahal. Semua tampak mewah dan lengkap. Tawa kecil sempat meng

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 57

    Para perwakilan perusahaan lain keluar dengan wajah tegang—ada yang kecewa, ada yang penuh perhitungan. Namun Tonny berbeda. Pria itu justru bergerak cepat, seolah hidungnya mencium peluang besar.Alexander Group.Kesempatan pertama.Dan mungkin—satu-satunya.Tonny tahu betul, kesempatan ini tidak

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status