Share

Bab 252

Author: Liazta
last update publish date: 2026-03-31 14:17:33

Pagi itu ruang rapat utama sudah dipenuhi oleh berbagai tokoh penting. Di antara mereka ada pengacara berpengalaman, notaris yang siap menyaksikan setiap langkah, direktur rumah sakit, serta beberapa pejabat tinggi lainnya yang sudah menjelma di kursi masing-masing. Suasananya jelas formal, namun ada getaran ketegangan yang mengendap di udara—seolah semua orang merasakan bahwa hari ini akan ada peristiwa besar yang mengubah segalanya.

Sementara itu, di luar ruangan, Bram mengetuk pintu sebelum
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rosantirosa
bahagianya punya cwok kayak Devan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 385

    ​Di dalam ruang periksa yang temaram itu, Vivian masih menatap bidan di hadapannya dengan tatapan memohon yang nanar. "Ibu... saya mohon. Tolong sebutkan saja berapa biayanya. Saya akan usahakan, asalkan anak ini keluar dari perut saya!"​Bidan paruh baya itu menghela napas panjang, lalu melipat kedua tangannya di atas meja medis. Tatapannya berubah menjadi sangat dingin dan kalkulatif.​"Nona Vivian, ini bukan masalah uang satu atau dua juta. Untuk usia kandungan yang baru satu atau dua bulan, tarif kami biasanya sekitar lima sampai tujuh juta rupiah. Tapi kasus Anda ini berbeda," ujar bidan itu dengan penekanan di setiap kalimatnya. "Kandungan Anda sudah jalan empat bulan. Ukuran janinnya sudah besar dan jaringannya sudah melekat kuat di dinding rahim."​Bidan itu mengetuk-ngetuk jarinya ke meja, memberikan efek intimidasi yang kuat. "Risiko yang kami ambil untuk membersihkan kandungan sebesar itu sangat besar. Jika Anda memaksa, tarifnya menjadi lima puluh juta rupiah, tunai di muk

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 384

    Thomas sedikit tersenyum, perlahan menyesap kopi buatan Sofia hingga tandas tak bersisa. Setelah cangkir itu berdenting pelan di atas tatakan, Thomas melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam.Dengan berat hati, pria matang itu akhirnya berdiri. "Sudah larut. Aku harus pulang sekarang, Sofia. Aku tidak mau membuat tetanggamu berpikir yang tidak-tidak tentang calon istriku."Sofia tersenyum lega, ikut berdiri untuk mengantarkan Thomas sampai ke pintu depan. "Iya, hati-hati di jalan, Thomas. Terima kasih untuk kopinya... maksudku, terima kasih sudah menghabiskan kopinya."Namun, begitu mereka tiba di ambang pintu depan yang terbuka, Thomas mendadak menghentikan langkahnya. Pria itu berbalik, menatap Sofia dengan raut wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius dan tegang.Sofia mengernyit bingung melihat perubahan ekspresi calon suaminya. "Kenapa, Thomas? Ada yang tertinggal?"Thomas berdehem berat, melonggarkan kerah kemejanya sedikit, lalu menatap

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 383

    Sofia benar-benar gugup. Bahkan wajahnya sudah memerah tomat masak.Melihat Sofia yang hanya bisa terdiam dengan mata bulat yang berkedip-kedip panik, Thomas tidak bisa lagi menahan senyum kemenangannya."Thomas, jangan—"Cup.Belum sempat kata 'mesum' atau 'nakal' keluar dari bibir Sofia, Thomas sudah lebih dulu menunduk dan mengecup bibir Sofia dengan lembut. Bukan ciuman yang menuntut, melainkan sebuah kecupan manis yang sarat akan rasa sayang dan kepemilikan yang dalam. Cukup lama, sampai Sofia bisa merasakan ketulusan yang mengalir dari pria sedewasa Thomas.Begitu Thomas menarik wajahnya kembali, Sofia langsung menyembunyikan wajahnya yang sudah matang seperti kepiting rebus di dada bidang pria itu. Tangannya memukul pelan dada Thomas dengan gemas."Kamu benar-benar ya! Di dapur pun sempat-sempatnya mencuri kesempatan!" rajuk Sofia dengan suara yang diredam di balik kain kemeja Thomas.Thomas tertawa rendah, suara baritonnya bergetar di dada yang sedang dipeluk Sofia. Ia merapa

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 382

    ​Setelah kemeriahan pesta perlahan usai, Thomas bersikeras mengantarkan Sofia pulang diantar langsung oleh Thomas. Namun, setibanya di halaman kediaman mewah Sofia, pria matang itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyalakan mesin mobilnya kembali untuk pulang.​"Apa kamu langsung kembali ke rumah?" tanya Sofia lembut, menatap Thomas sebelum jemarinya bergerak membuka sabuk pengaman.​"Aku ingin masuk dulu sebentar," sahut Thomas tenang.​Sofia tersenyum canggung, melirik jam digital di dasbor mobil. "Tapi Thomas... ini sudah sangat malam."​"Ya, aku tahu ini sudah larut. Dan tiba-tiba saja aku ingin minum kopi hangat buatanmu," jawab Thomas, mengulas senyum tipis yang penuh muslihat pria dewasa di sudut bibirnya.​Sofia tidak punya alasan lagi untuk menolak. Lagi pula, bagaimana mungkin ia tega mengusir pria yang baru beberapa jam lalu menyematkan cincin berlian di jarinya? Pada akhirnya, Sofia hanya bisa mengangguk pasrah dan membawa Thomas melangkah masuk ke dalam ru

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 381

    Malam semakin larut, namun kehangatan di ruang ruangan ini, seolah enggan beranjak. Setelah para tamu dan anak-anak pamit pulang kerumah, Thomas masih setia duduk di sofa, menemani Sofia yang sejak tadi tampak gelisah memainkan jemarinya."Thomas..." panggil Sofia memecah keheningan."Hm? Ada apa, Sofia?" Thomas menoleh, meletakkan cangkir tehnya lalu menatap wanita di sampingnya dengan perhatian penuh.Sofia menghela napas pendek, matanya menatap ragu pada cincin berlian yang baru saja melingkar di jari manisnya. "Apa kamu... benar-benar yakin ingin menikah denganku?"Thomas tidak langsung menjawab. Pria matang itu hanya diam, memandangi wajah Sofia dengan tatapan dalam yang sulit diartikan, membuat suasana di antara mereka mendadak senyap.Melihat respons diam Thomas, dada Sofia seketika berdesir cemas. Ia menunduk dalam. Jika pernikahan batal, ia pasti sangat malu. Namun ia juga tidak boleh egois. Pernikahan terdahulu, me jadi pelajaran paling berharga baginya."Thomas, jika di dal

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 380

    ​Malam ini, Devan tampak seperti pria paling bahagia di dunia. Sejak meninggalkan gedung pertemuan, sudut bibirnya sama sekali tidak berniat untuk turun. Pria itu terus-menerus mengulas senyum tipis yang mematikan.​"Kenapa, sih? Sepertinya dari tadi kamu bahagia sekali?" tanya Alicia, memandangi pahatan wajah tampan calon suaminya dari samping.​Devan menoleh sekilas, menatap Alicia dengan binar mata yang hangat sebelum kembali fokus ke jalanan. "Tentu saja. Bagaimana aku tidak bahagia hari ini?"Km u uuy7uuuuuuuu ​"Aku juga sangat senang," kata Alicia dengan tulus, pipinya sedikit menghangat. "Acara pertunangan kita berjalan sangat sempurna. Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan menyiapkan kejutan semewah itu. Aku merasa... sangat diistimewakan."​"Memang sudah seharusnya begitu," sahut Devan lugas. "Aku ingin seluruh dunia tahu siapa wanita yang memegang hatiku. Lagipula, kejutan terbesarnya kan ada pada Om Thomas yang mendadak nekat melamar Tante Sofia. Sekarang, kita hanya p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status