LOGIN“Iya… aku tahu,” jawabnya pelan. “Dan aku percaya itu.”Ia tersenyum kecil.“Tapi tetap saja… aku ingin mami bahagia.”Devan mengangguk, kali ini tanpa banyak kata.Ia berjalan ke sisi mobil, lalu membukakan pintu untuk Alicia.“Silakan, Nona.”Alicia tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil.Gerakan sederhana itu…tapi terasa begitu berarti.Sepanjang hidupnya—tidak pernah ada yang memperlakukannya seperti ini.Bukan Tonny, bukan siapa pun.Bahkan saat bersama Jerry dulu… ia tidak pernah merasa dihargai seperti sekarang.Pintu mobil tertutup pelan.Suasana yang tadinya ringan… perlahan berubah.Alicia duduk di kursi penumpang, sementara Devan belum juga masuk. Pria itu berdiri di luar, satu tangannya bertumpu di pintu mobil, seolah masih menimbang sesuatu. Namun hanya beberapa detik saja, Devan kemudian masuk ke dalam mobil.“Sayang…” panggilnya pelan.Namun kalimat itu menggantung.“Ada apa?” Alicia menatapnya, mulai merasa ada yang berbeda.Devan menarik napas panjang. Tatapannya tida
Bab 299 “Aku sedang kerja," kata Vivian pelan. “Aku juga sedang menunggu hakku.” Jawaban Nicholas cepat, tanpa jeda. Vivian mulai kehilangan kesabaran. Apakah semahal itu kenikmatan yang diberikan Nicholas? Ia pikir semua kenikmatan itu didapatkan dengan gratis. Selama ini ia tidak mempermasalahkannya jika Nicholas meminta uang ataupun barang-barang yang dia inginkan. Karena uang di rekeningnya sangat banyak. Namun sekarang, uang di rekeningnya benar-benar sudah habis. “Kamu pikir aku sengaja menunda?” bisiknya, berusaha menahan emosi. “Aku lagi pusing di sini!” Nicholas terkekeh pelan. “Pusing karena kerjaan… atau karena Devan?” Kalimat itu seperti menyentil titik paling sensitif. Wajah Vivian langsung berubah. Dia tidak menyangka bahwa Nicholas tau tentang Devan “Jangan bawa-bawa dia.” Nicholas mendekat lagi, kini jarak mereka sangat dekat. “Tapi dia alasan utama kamu seperti ini, kan?” Pertanyaan itu jelas menunjukkan kecemburuan. Dan Vivian senang, ketika Nicholas c
Pagi itu seharusnya menjadi awal yang menyenangkan bagi Vivian.Tubuhnya memang lelah… namun biasanya, setelah menghabiskan waktu dengan Nicholas, ia akan merasa lebih segar. Lebih percaya diri. Lebih berenergi.Inilah alasan mengapa ia betah berada di Bali hingga berbulan-bulan.Tapi tidak hari ini.Justru sebaliknya—dadanya terasa sesak, pikirannya kacau, dan kepalanya penuh oleh satu nama yang terus berputar tanpa henti.Devan.Lokasi syuting di salah satu pantai di Bali sudah ramai sejak pagi. Kru berlalu-lalang, peralatan tersusun rapi, dan kamera sudah siap sejak satu jam lalu.Semua orang menunggu satu hal.Vivian.“Vivian, kita mulai sekarang ya!” teriak asisten sutradara.Vivian mengangguk cepat, mencoba mengumpulkan fokusnya. Ia berdiri di titik yang sudah ditentukan, menarik napas dalam-dalam.Fokus… ini cuma kerjaan. Kamu profesional.“Action!”Vivian mulai berjalan sesuai blocking. Wajahnya harus terlihat bahagia, ringan, penuh pesona.Namun—“CUT!”Suara sutradara langs
Sofia terbangun saat ponselnya berdering. Ia meraih benda itu dengan mata yang masih setengah terpejam. Begitu melihat nama yang tertera di layar—Thomas—ia langsung tersadar.Dengan cepat, panggilan itu diangkat.“Halo…”Di seberang sana, Thomas tersenyum mendengar suara Sofia yang masih serak—jelas tanda ia baru saja bangun tidur.“Kamu sudah bangun?”Sofia mengusap wajahnya pelan. “Iya, baru saja. Kalau kamu tidak menghubungiku, mungkin aku bisa tidur sampai pagi,” jawabnya sambil tertawa kecil.Perasaan itu… aneh.Jatuh cinta bukan hal baru baginya. Tapi entah kenapa, hanya dengan mendengar suara Thomas saja, jantungnya sudah berdebar tidak karuan.Sofia langsung mengingatkan dirinya sendiri—jangan terlalu berharap. Bisa jadi, Thomas hanya bersikap baik.“Aku sudah di bawah. Aku menunggumu.”Seketika mata Sofia membulat.“Hah?!” Ia langsung bangkit dari tempat tidur. “Aku belum mandi!”Di luar, Thomas tersenyum tipis mendengar kepanikan itu.“Tidak apa-apa. Aku tunggu.”“Aku mandi
Devan mengangkat panggilan telepon yang baru saja masuk ke ponselnya. Begitu suara di seberang terdengar, ia langsung terdiam. Rahangnya mengeras, tatapannya berubah tajam.“Ingin memberikan laporan apa?” tanyanya dingin.“Sesuai yang sudah kamu prediksi. Selama satu bulan ini aku mengawasinya… dan kali ini, bukti yang kamu tunggu benar-benar jelas.”Suara itu terdengar tenang, bahkan cenderung santai. Berbanding terbalik dengan detak jantung Devan yang mulai berpacu lebih cepat.“Kalau begitu, kirimkan.”“Baiklah… selamat menikmati ‘filmnya’.”Sambungan terputus.Ruangan mendadak terasa hening.Devan menatap layar ponselnya, menunggu. Beberapa detik kemudian, notifikasi masuk. Sebuah file video.Tanpa ragu, ia membukanya.Dan dalam sekejap—Tatapannya membeku.Rahangnya menegang.Napasnya tertahan.Apa yang ada di layar itu… tidak lagi menyisakan ruang untuk penyangkalan.Semua yang selama ini ia curigai—terjawab sudah.Jelas. Telanjang. Menyakitkan.Namun anehnya…Tidak ada ledakan
Suara desahan panjang terdengar hingga keluar kamar, merambat pelan di antara dinding yang seolah menjadi saksi tanpa suara."Ah Nicholas, kamu sangat hebat. Ah... Ah... Enak sekali." Desahan panjang itu sangat keras. Seakan mereka berada di dalam kamar kedap suara."Sayang, aku sangat suka mendengar desahan kamu." Nicholas tersenyum dan memukul pantat Vivian dengan keras. Posisi Vivian yang menyungin, membuat pria itu semakin memukul pantat wanita itu berulang-ulang kali. "Ah, ah," jerit Vivian."Vivian, milikmu sangat enak sekali.""Ah sayang, kamu kuat sekali." Vivian balik memuji. Namun apa yang dikatakanbya nensudah lemas. Entah sudah berapa gaya yang sudah mereka coba. Bahkan durasi waktu sudah lebih dari 45 menit. Namun pria itu belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar. "Apa kamu menyerah," kata Nicholas sambil menarik rambut Vivian dengan keras.Vivian tertawa dan sambil mendesah. Tidak hanya menarik rambut, pria itu juga menekan batang leher Vivian, hingga wajahnya memer
Pagi itu kepala Devan berdenyut nyeri, seperti dipukul pelan namun terus-menerus. Malam yang seharusnya menjadi waktu beristirahat justru berubah menjadi ruang penuh kegelisahan. Pertengkaran, kekecewaan, dan kenyataan yang selama ini ia abaikan kembali menghantam tanpa ampun. Bahkan ketika akhirny
Sofia menggeliat pelan di atas ranjang. Kelopak matanya bergerak-gerak sebelum akhirnya terbuka. Namun begitu pandangannya mulai fokus, ia langsung duduk tegak, napasnya sedikit memburu.“Licia?”Alicia yang sejak tadi duduk di kursi dekat jendela segera bangkit. Ia melangkah cepat dan memeluk ibun
Mobil melaju membelah jalanan pagi. Biasanya Devan memanfaatkan waktu ini untuk membaca laporan atau membalas pesan kerja, namun hari ini ponselnya tergeletak begitu saja di sampingnya. Ia tidak punya energi untuk membuka lanjutan pesan dari Vivian. Sesampainya di kantor, ia langsung merasakan per
Di dalam restoran, mereka duduk berhadapan. Devan memesan menu dengan cepat tanpa perlu melihat daftar terlalu lama—jelas ia sudah sangat mengenal tempat ini. "Kamu mau pesan apa?" Devan bertanya karena Alicia masih membalik-balikan buku daftar menu. "Tunggu dulu, aku masih pilih."Devan tidak be







