LOGIN"Waktu itu, aku sangat berharap... andaikan tidak boleh masuk ke dalam ruangan, diizinkan untuk melihat dari jauh saja aku sudah senang. Namun sayangnya kesempatan itu tidak pernah aku dapatkan. Aku bahkan ingin mengintip ke dalam. Melihat dari celah kecil pun aku sudah bahagia. Tapi ternyata, pintu penjagaan mereka sangat rapat. Aku tidak bisa melihat sedikit pun ke dalam."Suara Charlotte mulai parau, sarat akan keputusasaan yang teramat dalam. "Hanya seketika ketika pintu dibuka sebentar, aku berusaha untuk mengintip. Namun tetap saja, aku tidak bisa melihat dengan jelas... tertutup oleh kemewahan mereka."Sinta menangis tersedu-sedu mendengar cerita putrinya, menyadari betapa kejam dunia memperlakukan anak yang dulu ia jadikan alat untuk merebut suami orang."Bagaimana cara aku memohon... jika untuk sekadar mendekat saja aku sudah ditolak mentah-mentah?"Charlotte kemudian tertawa kecil—sebuah tawa sumbang yang terdengar jauh lebih menyakitkan daripada tangisan."Meskipun usia Mam
"Padahal wajahmu sangat cantik!" bentak Charlotte dengan air mata yang akhirnya pecah membasahi pipinya. "Tapi kenapa Mami tidak bisa mencari pria lain selain Tonny?! Padahal Mami bisa mendapatkan pilihan pria yang jauh lebih baik daripada dia!"Charlotte mencengkeram besi ranjang dengan sangat erat, menyuarakan amarahnya yang memuncak. "Lihat Mami Sofia! Sekarang dia sudah menikah dengan Thomas! Dia mendapatkan pria yang jauh lebih kaya dan jauh lebih baik daripada Tonny! Sedangkan Mami?!""Charlotte... maafkan Mami, Nak..." ratap Sinta tak berdaya."Andaikan aku boleh memilih orang tua..." desis Charlotte dengan tatapan mata sarat akan kebencian dan kekecewaan, "aku lebih memilih terlahir dari wanita miskin dan ayah yang miskin tapi menyayangiku! Daripada harus terlahir menjadi anak haram dari skenario busuk kalian seperti ini! Hidupku benar-benar hancur!"Sinta tidak dapat lagi bersuara. Pria yang dulu ia agung-agungkan sebagai cinta pertamanya, kini hanya menyisakan derita tak ber
Jam 6 pagi, ia baru bisa pulang ke apartemen yang ditingkatkan Tonny. Satu-satunya harta warisan yang tersisa. Namun biaya tinggal di apartemen ini cukup tinggi.Tubuhnya terasa sangat lelah. Langkah kaki Charlotte terasa begitu berat menyeret high heels-nya menyusuri jalanan malam. Penolakan Jerry, tawa merendahkan kekasih barunya, serta deretan utang yang menumpuk seolah menjadi tembok tebal yang mengurungnya di neraka. Kini Charlotte benar-benar sadar... di dunia yang kejam ini, tidak ada satu pun orang yang akan sudi mendekat jika ia tak lagi memiliki harta dan tahta.Kringgg! Kringgg!Getaran dan dering ponsel di dalam tasnya memecah keheningan pagi itu. Dengan jemari yang gemetar, Charlotte meraih ponselnya. Sebuah nomor asing tertera di layar."Hallo?" sapa Charlotte dengan suara serak."Apakah ini benar dengan Nona Charlotte, putri dari Nyonya Sinta?" tanya suara wanita di seberang sana dengan nada formal."I-iya, benar. Saya anaknya. Ini siapa, ya?""Kami dari Rumah Tahanan
Begitu pria berkantong tebal itu terkulai lemas dan tertidur lelap di atas sofa VIP, Charlotte mengusap bibirnya kasar. Dengan senyum puas akibat tips tebal yang baru saja masuk ke rekeningnya, ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan remang-remang tersebut.Namun, baru saja kakinya menginjak lantai lorong klab malam yang diterangi pendaran lampu remang, langkah Charlotte mendadak terhenti total. Matanya membelalak sempurna.Di ujung lorong, berdiri seorang pria tampan dengan pakaian kasual bernilai puluhan juta rupiah. Pria yang sangat ia kenali, pria yang dulu selalu tunduk pada setiap perintahnya."Jerry...?" bisik Charlotte, suaranya bergetar antara percaya dan tidak.Rasa bahagia yang membuncah mendadak memenuhi dada Charlotte. Bagaikan melihat secercah cahaya penyelamat di tengah kegelapan jalannya, Charlotte langsung berlari kecil menghampiri pria itu."Jerry! Kamu... kamu sudah kembali dari luar negeri?!" seru Charlotte dengan mata berkaca-kaca. Tanpa ragu, ia mengu
Shift malam di restoran akhirnya usai. Charlotte melangkah cepat menuju ruang ganti karyawan. Begitu pintu loker terbuka, ia langsung melepas seragam pelayannya dan menghempaskannya ke dalam tas.Tangan Charlotte bergerak cepat meraih sebuah gaun black mini dress yang teramat seksi dan berpotongan dada rendah. Ia memoles ulang riasan wajahnya secara tebal, membalur bibirnya dengan lipstik merah menyala. Wajah cantiknya kini terpoles sempurna, namun matanya memancarkan rasa lelah yang mendalam.Begitu keluar dari pintu belakang restoran, sebuah mobil taksi daring sudah menunggunya di pinggir jalan. Charlotte masuk dan menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap jalanan kota yang gemerlap."Ke mana, Nona?" tanya sopir taksi melirik dari kaca spion."Ke Club Eclipse," jawab Charlotte singkat dan dingin.Charlotte harus melakoni dua pekerjaan sekaligus untuk bertahan hidup. Jika jam 10 siang sampai jam 10 malam ia memeras keringat di restoran, maka sejak jam 11 malam hingga dini
"Sayang, bagaimana? Apa kamu suka dengan konsep acara resepsi kita jika dibuat seperti ini?"Devan bertanya seraya menunjukkan layar iPad mewahnya, memperlihatkan sebuah desain visual tiga dimensi dari pesta pernikahan super megah. Di layar itu, terlihat sebuah ballroom hotel bintang lima yang disulap bagai istana kerajaan Eropa, lengkap dengan lampu gantung kristal raksasa, panggung tinggi berlapis emas, dan dekorasi yang memancarkan kesan serbamewah.Alicia, yang duduk di samping Devan di dalam ruang rapat privat kantor penyedia jasa acara pernikahan (wedding organizer) ternama di Jakarta, memiringkan kepalanya sedikit. Mata indahnya berkedip beberapa kali menatap layar tablet tersebut, lalu beralih menatap Devan dengan helaan napas yang teramat gemas."Devan... ini mewah sekali," gumam Alicia, memajukan bibirnya tipis. "Tapi ini konsep pesta kerajaan. Panggungnya sangat tinggi, nanti kaki saya bisa pegal kalau harus berdiri seharian menyalami ribuan tamu yang bahkan tidak semuanya







