Se connecter"Aku mau kita pisah, Mas!" "Sampai kapan pun aku gak akan pernah menceraikanmu, Melan!" *** Menikah karena perjodohan, membuat rumah tangga Ardian dan Melan tanpa kehangatan. Terlebih, setelah Oma Risma meninggal, Ardian makin terang-terangan mengumbar kemesraan dengan Lila—kekasihnya. Hal itu membuat Melan muak dan bertekad melakukan gugatan cerai. Namun, semua itu ternyata tak semudah membalik telapak tangan karena Ardian selalu menghalangi langkah Melan. Apa sebenarnya yang laki-laki itu inginkan? Lalu, apakah Melan akan berhasil mengajukan gugatan ke pengadilan?
Voir plus"Aku mau kita pisah!"
Satu kalimat itu berhasil membuat tatapan Ardian menajam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh hingga urat-uratnya terlihat. "Bisa ulangi sekali lagi?" "Aku mau kita pisah, Mas Ardian!" Brak! Teriakan Melan terdengar bersamaan dengan suara gebrakan meja yang sangat kencang, membuat ruangan kerja itu seketika sunyi. Hanya sesekali terdengar isak tangis Melan dan deru napas Ardian yang tak beraturan. "Ke-kenapa, sih, Mas? Buat apa kita masih mempertahankan rumah tangga, sementara kamu aja udah dapat Lila?" Akhirnya Melan mengeluarkan suara lirih. "Oma udah gak ada. Sekarang gak ada lagi yang mengikat kita, Mas. Kamu bisa lakukan apa pun sama Lila, tapi ceraikan aku dulu!" Tangan Ardian makin mengepal. Ia maju selangkah hingga wajahnya nyaris tanpa jarak dengan wajah Melan. "Sampai kapan pun aku gak akan pernah menceraikanmu!" "Tapi kenapa?" sahut Melan cepat. Sungguh ia tidak mengerti jalan pikiran Ardian. 2 tahun lalu, mereka menikah secara paksa karena permintaan Oma Risma. Dan selama 2 tahun itu, keduanya menjalani rumah tangga yang hampa. Melan tidak pernah sedikit pun mendapat perlakuan lembut, apalagi cinta dari Ardian. Laki-laki itu selalu sibuk bersama Lila—kekasihnya yang disembunyikan dari sang oma dan keluarga. Ardian menarik pinggang sang istri hingga menempel padanya. Kemudian, ia tangkup wajah perempuan itu dengan sedikit kasar. "Karena kamu adalah tawananku," ucapnya penuh penekanan. Melan segera menggeleng. "Kamu gak akan dapat apa-apa dengan menahanku, Mas. Justru kamu akan bebas dan bisa menikahi Lila kalau kita bercerai!" "Tutup mulutmu, Melan!" sentak Ardian hingga membuat Melan terlonjak. Dadanya bergemuruh hebat setiap kali sang istri melontarkan kata pisah. "Jadilah istri yang baik, dan jangan pernah berpikir kita akan pisah!" Ardian melepas Melan setelah mengatakan itu. Kemudian, ia berjalan keluar ruangan seolah tanpa beban, meninggalkan Melan sendirian yang kini hanya mampu menangis dalam diam. 'Sebenarnya mau kamu apa, Mas?' *** Rasanya tidak berguna Melan berlama-lama di kantor, sebab laki-laki yang ia temui pun sudah pergi. Akhirnya, ia memilih kembali ke rumah dengan tangan kosong. Entah harus seperti apa lagi Melan membujuk Ardian agar mau menceraikannya. Jujur saja, ia merasa tersiksa tiap kali melihat sang suami bersama Lila. Bayangkan saja, hubungan gila ini sudah terjadi selama 2 tahun, dan Melan hanya bisa diam. Ia tidak memiliki pilihan selain mengikuti permainan Ardian demi Oma Risma. Wanita tua itu awalnya memang hanya pasien jompo yang ia rawat. Namun, sebagai perempuan yang sudah tak memiliki orang tua, kehangatan dan kebaikan Oma Risma membuat Melan terikat secara emosional. Ia akan melakukan apa pun agar Oma Risma semangat dalam menjalani sisa hidupnya. Akan tetapi, kini satu-satunya pegangan Melan di rumah ini sudah pergi. Ia tak memiliki siapa pun lagi. "Melan?" Suara itu tiba-tiba muncul dari depan, membuat Melan mendongak. "Ferdi? Kapan kamu datang?" Laki-laki yang mengenakan kemeja biru itu seolah tak punya niat untuk menjawab pertanyaan Melan. Ia melangkah lebih dekat, lalu balik bertanya, "Kenapa nangis? Ardian buat ulah lagi?" Lagi. Ya, sedikit banyak, Ferdi memang tahu kondisi rumah tangga sepupunya karena Melan sempat bercerita. Melan segera menghapus jejak air mata di wajahnya, lalu duduk pada sofa yang ada di sana. "Aku habis dari kantor Mas Ardian." Jawaban itu cukup membuat kening Ferdi mengernyit. Segera ia duduk di samping Melan. "Buat apa kamu ke sana? Lalu, apa yang Ardian lakukan sama kamu?" Melan tak lantas menjawab. Ada helaan napas panjang yang mengisi jeda. Hingga dengan suara pelan ia berkata, "Aku baru minta pisah." "Serius?" Mata Ferdi seketika membulat. Ia terkejut, tapi senang dengan keputusan yang akhirnya berani Melan ambil. Jujur saja, sudah sejak lama ia menyaksikan bagaimana pernikahan Melan dan Ardian hanya sebuah status belaka. Terlebih, ia pun sering melihat Ardian terang-terangan berhubungan dengan Lila, tanpa memikirkan perasaan Melan. Melan mengangguk pelan, membuat Ferdi menggeser duduknya agar lebih rapat. "Lalu, gimana reaksi Ardian? Dia setuju?" "Mas Ardian gak mau bercerai, Fer." Jawaban itu seketika membuat harapan Ferdi setengah pupus. Dadanya bergemuruh menahan emosi. "Kenapa bisa begitu? Bukannya selama ini dia cuma mencintai Lila?" Melan kembali menggeleng. "Aku pun bingung, Fer. Aku gak tahu harus lakukan apa lagi sekarang. Hatiku terlalu sakit buat bertahan sama Mas Ardian," ucapnya lirih, diikuti isak pelan seiring cairan bening yang keluar dari sudut mata cantiknya. Sungguh Ferdi tak tega. Ia melingkarkan tangan ke bahu Melan, membawa kepala perempuan itu bersandar di dadanya. "Kamu tenang aja, Mel. Aku akan bantu kamu biar bisa lepas dari Ardian. Aku janji." "Tapi gimana caranya, Fer?"Senyum miring tercetak di bibir Ardian saat melihat nama sang istri memenuhi layar panggilan. Tampaknya perempuan itu takut dengan ancamannya untuk membuat Bi Tin terluka.Tak menunggu waktu lama, Ardian menggeser ikon hijau hingga suara panik Melan terdengar di seberang panggilan."Jangan sakiti Bi Tin, Mas! Dia gak salah!"Ardian semakin menarik bibirnya ke atas. "Jadi, kamu tahu, kan, apa yang harus kamu lakukan sekarang, Melan?"Hening.Beberapa saat hanya terdengar suara deru napas Melan yang tak beraturan dari seberang panggilan. Dan tentu, itu membuat Ardian kesal. Tanpa berkata lagi, ia langsung mengubah panggilan suara ke panggilan video. Tak lama, wajah resah Melan tampak memenuhi layar."A-apa yang kamu mau, Mas?""Pulang sekarang."Tentu. Memangnya apa lagi yang Ardian inginkan selain Melan kembali ke rumah ini?"Kalau kamu gak mau kembali ke rumah ini ..."Ardian menjeda ucapannya sembari mengubah kamera ponsel ke kamera belakang, lalu tampaklah Bi Tin di layar. Wanita p
Pagi sekali Ardian sudah berada di ruang makan. Kedua siku tangannya bertempu di meja, sementara jemarinya saling bertautan di bawah dagu. Laki-laki itu tampak tenang, seolah tidak ada apa pun yang terjadi semalam. Roti lapis juga segelas susu hangat di depannya masih belum disentuh sejak tadi. Bahkan mungkin, susu hangat itu kini sudah berubah jadi dingin. Entahlah. Dia merasa malas menyentuh sarapannya pagi ini."Mana Melan?" tanyanya pada Bi Tin—asisten rumah tangga kepercayaannya.Sudah 30 menit Ardian diam di meja makan, tapi Melan belum juga muncul. Sangat membosankan!Ya, meski hubungan mereka sangat buruk, tapi saat waktu makan begini mereka akan berkumpul di meja makan. Walau kegiatan itu selalu dilalui dengan keheningan."Dari tadi Bibi belum lihat Nyonya turun, Tuan," jawab Bi Tin yang sangat tidak memuaskan bagi Ardian.Laki-laki itu berdecak kesal. "Periksa dia sekarang! Suruh turun buat sarapan," katanya.Bi Tin segera berjalan meninggalkan ruang makan, sedangkan Ardian
"Mas Ardian!" Teriakan itu terdengar memenuhi kamar. Melan tahu itu adalah suara Lila. Namun, tak ada niat untuknya menoleh barang sedikit saja.Melan masih tetap membelakangi Ardian sembari membungkus tubuh polosnya menggunakan selimut. Sementara matanya yang basah menatap nanar ke luar jendela.Untuk pertama kalinya, Ardian menjadikan Melan istri seutuhnya. Namun, alih-alih menikmati dan bahagia, perempuan itu justru merasa tersiksa karena sang suami benar-benar melakukannya dengan kasar dan penuh paksaan. Jika saja memiliki tenaga untuk melawan, rasanya Melan ingin sekali menendang tubuh Ardian ke lantai, kemudian ia lari sejauh mungkin.Sayang, kini semua sudah terjadi dan Melan tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang dari dirinya malam ini.Berbeda dengan Melan yang tidak memedulikan kehadiran Lila, Ardian justru dibuat terkejut. Laki-laki itu langsung bangkit dari atas ranjang dengan hanya mengenakan celana pendek. Sementara bagian atas tubuhnya dibiarkan polos tanpa seh
"Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang suami. Meski begitu, hatinya tetap menolak untuk bertahan di rumah yang bak neraka ini.Belum habis keterkejutan Melan, Ardian tiba-tiba menyeret paksa lengannya untuk lebih masuk ke dalam rumah. Dengan tanpa belas kasihan laki-laki itu mencengkram lengan Melan kuat hingga sang istri terus meringis sepanjang berjalan paksa menuju kamar.Sementara itu, Melan benar-benar terkejut dengan perlakuan Ardian. Selama pernikahan, laki-laki itu belum pernah melakukan kekerasan fisik terhadapnya, meskipun hubungan mereka memang tidak harmonis sejak awal. Namun, kini Ardian tega dan berani memperlakukannnya seperti ini.'Apa-apaan ini? Kamu berani menindasku, Ardian?' batin perempuan itu geram.Ia beru
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.