LOGINKalia Putri bersumpah menjauhi Reza Aditya, pria yang menghancurkan perusahaan kecil ayahnya lima tahun lalu dan membuat keluarganya terpuruk. Namun saat ayahnya koma dan utang miliaran mengancam rumah mereka, Kalia terpaksa menerima tawaran menikah kontrak dua tahun dengan Reza, semua utang dilunasi, biaya pengobatan ditanggung. Reza, pengusaha properti sukses di Surabaya, memperlakukannya dingin dan penuh kebencian. Di rumah megahnya, Kalia hidup sebagai istri tanpa cinta. Tetapi seiring waktu, ia melihat luka tersembunyi dan rahasia masa lalu Reza yang menggoyahkan keyakinannya. Apakah benci yang dalam bisa berubah menjadi cinta yang mendalam? Ataukah kontrak pernikahan ini hanya akan membawa penderitaan lebih besar bagi mereka berdua?
View MoreDebu tipis beterbangan, saat Kalia Putri meniup ujung pensilnya. Layar laptop di depannya, menampilkan denah rumah sederhana yang belum juga selesai sejak tadi siang. Jam di dinding menunjukkan pukul enam sore, tapi ruangan kecil yang dijadikan kantor itu masih terasa panas dan pengap.
“Kal, kamu masih belum selesai juga?” Siska berdiri di sampingnya sambil membawa dua gelas kopi. “Serius, kamu harus berhenti. Kamu sudah hampir tumbang.” Kalia menggeleng pelan, tanpa mengalihkan pandangan. “Deadline jam delapan malam. Kliennya cuma punya uang segini, tapi dia minta revisi terus.” “Dia bahkan belum bayar DP penuh,” protes Siska. “Kalau kamu sakit, kantor ini malah berhenti total.” Kalia tersenyum tipis. “Kalau aku berhenti, biaya listrik bulan ini juga berhenti dibayar.” Siska terdiam. Ia tahu sahabatnya tidak bercanda. Kantor arsitektur kecil itu sudah dua minggu terlambat membayar operasional. Bahkan, kursi yang mereka duduki pun bekas dari kantor lama yang bangkrut. “Kamu juga masih tanggung biaya rumah dan obat Ibu, kan?” tanya Siska pelan. Kalia hanya mengangguk. Tangannya berhenti sesaat saat matanya jatuh pada foto keluarga di sudut meja. Senyum ayahnya di foto itu terlihat begitu hangat, jauh berbeda dengan kenyataan hidup mereka sekarang. “Ayah pasti baik-baik saja,” gumamnya lirih. Tiba-tiba, telepon kantor berdering keras. Siska yang paling dekat langsung mengangkatnya. “Halo… iya… ini kantor Arsitek KPS…” suara Siska perlahan berubah. “Iya… sebentar… apa?!” Kalia menoleh cepat. “Kenapa, Sis?” Siska menutup telepon itu dengan tangan gemetar. “Kal… dari rumah sakit. Ayahmu… kena serangan jantung. Sekarang koma.” Jantung Kalia seperti berhenti. “Apa?” “Mereka minta keluarganya datang sekarang.” Kalia langsung berdiri, kursinya terdorong ke belakang. Ia meraih tas tanpa mematikan laptop. “Aku ke sana.” “Kal, tunggu, aku ikut” Namun, Kalia sudah berlari keluar. Suara langkahnya menggema di lorong sempit sebelum akhirnya hilang. Dua puluh menit kemudian, Kalia tiba di rumah sakit dengan napas terengah. Ia langsung melihat ibunya duduk di kursi luar ruang ICU, menangis dengan bahu bergetar. “Bu…” Kalia memeluknya. “Ayah bagaimana?” Ibu Mira menggenggam tangannya erat. “Ayahmu jatuh di kontrakan. Tetangga yang bawa ke sini. Dokter bilang… kondisinya koma.” Pintu ICU terbuka. Seorang dokter perempuan keluar sambil membaca berkas. “Keluarga Pak Sudarmanto?” “Iya, Dok,” jawab Kalia cepat. “Pasien mengalami serangan jantung, dan sempat kekurangan oksigen. Saat ini stabil, tapi masih koma. Kami perlu observasi intensif beberapa hari.” Kalia menelan ludah. “Dok… berapa biayanya?” “ICU sekitar lima juta per hari. Belum termasuk obat dan pemeriksaan. Jika perlu tindakan lanjutan, biayanya bisa puluhan juta.” Kalia langsung pucat. “Lima… juta per hari?” Dokter mengangguk. “Kami sarankan segera menyiapkan dana.” Setelah dokter pergi, suasana hening. Kalia duduk lemas di kursi. Semua tabungannya hanya sekitar sepuluh juta. Itu bahkan tidak cukup untuk dua hari. “Bu… kita masih punya apa?” tanya Kalia. Ibu Mira menggeleng pelan. “Tidak ada. Kontrakan juga belum dibayar tiga bulan. Pemiliknya sudah menagih.” Kalia menutup wajahnya. “Aku bisa pinjam bank…” “Kita masih punya utang lama, Kal. Bank tidak akan mau.” “Kita jual barang...” “Barang kita tinggal sedikit.” Kalia terdiam. Napasnya terasa berat. Waktu berjalan, tapi ia tidak punya solusi. Langkah sepatu terdengar mendekat. Kalia mendongak. Seorang pria tinggi dengan jas hitam berdiri di hadapannya. Rambutnya rapi, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Mata tajam itu langsung menatap Kalia. Tubuh Kalia menegang. “Reza…?” Reza Aditya mengangguk tipis. “Kalia Putri.” Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Kalia tajam. “Aku datang untuk berbicara.” “Kami tidak butuh apapun darimu.” Reza tidak tersinggung. “Ayahmu memiliki utang dua puluh lima juta, pada perusahaan keluargaku. Kami berniat menagihnya hari ini.” Kalia mengepalkan tangan. “Ayahku sedang koma.” “Aku tahu.” Reza mengeluarkan amplop putih. “Karena itu aku membawa solusi.” Kalia menatap amplop itu dengan curiga. “Solusi apa?” “Kontrak pernikahan.” Reza menyerahkannya. “Jika kamu menikah denganku selama dua tahun, semua utang keluargamu lunas. Biaya rumah sakit ditanggung. Aku juga siapkan rumah baru untuk kalian.” Kalia menatapnya tak percaya. “Kamu bercanda?” “Aku tidak pernah bercanda.” “Pernikahan bukan transaksi.” “Untukku, ini transaksi yang efisien.” Ibu Mira menatap Kalia dengan mata berkaca-kaca. “Kal…” “Kamu gila, Reza,” ucap Kalia marah. “Setelah menghancurkan perusahaan ayahku, sekarang kamh mau membeli hidupku?” Tatapan Reza tetap dingin. “Ambil atau tinggalkan. Kamu punya waktu satu hari.” “Kalau aku menolak?” “Perusahaan kami akan menempuh jalur hukum. Rumah kontrakan kalian mungkin ikut disita. Dan…” ia melirik pintu ICU, “…biaya rumah sakit, harus kalian tanggung sendiri.” Kalia membeku. Reza melangkah mundur. “Hubungi aku jika kamu setuju.” Ia berbalik dan berjalan pergi tanpa menunggu jawaban. Kalia menatap amplop di tangannya. Tangannya gemetar. Di dalam ruangan ICU, suara monitor detak jantung terdengar samar. “Kal…” bisik Ibu Mira. “Ayahmu tidak punya waktu…” Kalia menutup mata. Napasnya bergetar. Ia membuka amplop itu perlahan. Di halaman pertama, tertulis besar: KONTRAK PERNIKAHAN — DURASI DUA TAHUN Syarat pertama langsung membuat napasnya tercekat. Ia membaca kalimat itu sekali lagi. Wajahnya berubah pucat. “Aku… harus tinggal serumah dengannya?” bisiknya. Ibu Mira menatapnya cemas. “Apa lagi, Kal?” Kalia tidak langsung menjawab. Matanya terus membaca baris berikutnya, dan detak jantungnya semakin cepat. Di bagian bawah kontrak, ada satu klausul tambahan yang tidak ia duga sama sekali. Tangannya berhenti. Jika ia menandatangani ini… hidupnya tidak akan pernah sama lagi.Malam itu, suasana di ruang makan utama rumah besar keluarga Wijaya terasa begitu hangat, hidup, dan penuh dengan gelak tawa yang lepas. Suasana yang dulu selalu dingin, kaku, dan penuh tembok pembatas, kini telah berubah total. Ruangan itu tidak hanya diisi oleh Reza dan Kalia, tapi juga Tuan Mahendra beserta istrinya yang kini duduk berdampingan dengan sangat akrab dan santai. Tidak ada lagi jarak yang memisahkan. Tidak ada lagi kecanggungan yang menyiksa. Tidak ada lagi tatapan curiga atau benci. Yang ada hanyalah dua keluarga besar yang kini bersatu, menikmati makan malam bersama, layaknya saudara darah daging yang sudah lama terpisah dan akhirnya dipertemukan kembali. Reza duduk dengan tenang di kursi utamanya, tepat di samping Kalia. Di bawah meja, tangan mereka saling menggenggam erat, seakan tak ingin melepaskan satu sama lain lagi selamanya. Mata mereka berdua berkeliling mengamati pemandangan indah di hadapan ini, dan di sudut mata mereka, terbit rasa haru yang begitu
Pagi harinya, sinar matahari pagi menyelinap lembut masuk melalui celah tirai jendela ruang kerja. Cahaya keemasan itu menyentuh lantai marmer, seakan ikut membersihkan aura gelap yang selama ini menghuni ruangan tersebut. Suasana yang semalam begitu berat, penuh air mata dan keputusasaan, kini telah berganti menjadi sebuah ketenangan yang aneh namun sangat damai. Hati yang tadinya sesak oleh dendam, kini terasa lega, seakan beban berton-ton telah diangkat dari bahu sang pemiliknya. Reza Wijaya duduk tegak di kursi kerjanya yang besar. Wajahnya memang masih terlihat sedikit lelah. Ada lingkaran hitam samar di bawah matanya, bukti bahwa semalam dia hampir tidak memejamkan mata, sibuk meraba ulang seluruh ingatan dan sejarah hidupnya. Tapi tatapan matanya sama sekali berbeda. Dia menatap layar komputer sejenak, lalu dengan tangan yang mantap, dia menekan tombol interkom. "Siapkan mobil. Aku mau keluar," perintah Reza singkat, padat, dan tegas. Tidak ada nada marah, tidak ada nada d
Ruangan itu kembali hening, sunyi senyap. Hanya suara napas mereka berdua yang terdengar, bercampur dengan detak jarum jam yang seakan berjalan semakin lambat, seakan memberi waktu bagi Reza Wijaya untuk mencerna semua informasi yang baru saja meledak di kepalanya. Reza menatap layar laptop itu dengan pandangan yang kosong. Matanya bergerak lambat, membaca ulang baris demi baris data, angka, dan bukti yang ditunjukkan Rafi. Otaknya yang biasa bekerja cepat dan logis kini seakan macet, berusaha menerima kenyataan pahit yang bertolak belakang dengan apa yang dia yakini selama puluhan tahun. Selama ini... Selama ini dia hidup dengan api kebencian yang membara di dada. Dia membangun tembok setinggi langit antara dirinya dan keluarga Mahendra. Tembok yang begitu tinggi dan tebal, tak ada satupun yang bisa menembusnya. Dia menyiksa diri sendiri dengan rasa dendam. Dia menyiksa dengan kecurigaan dan kemarahan. Dia bahkan hampir membuat hubungan dengan anak-anaknya retak. Semuanya... s
Malam semakin larut, namun cahaya lampu kristal di ruang kerja pribadi Reza Wijaya masih menyala terang. Suasana di ruangan itu terasa begitu berat, sunyi, dan penuh dengan tekanan. Hanya suara detak jarum jam dinding yang terdengar jelas, seakan menghitung mundur waktu sebelum badai pecah. Reza duduk tegak di kursi kerjanya yang besar dan mewah. Wajahnya datar, tak ber ekspresi, namun sorot matanya tajam menusuk, menatap lurus ke arah putranya, Rafi, yang berdiri kokoh di hadapan meja kerja itu. Di tangan Rafi, tergenggam sebuah laptop dan setumpuk berkas tebal yang terikat rapi, bukti-bukti yang telah dia kumpulkan dengan susah payah. "Jadi, apa yang mau kamu bicarakan sampe segitunya, Fi?" tanya Reza akhirnya. Suaranya dingin, datar, namun menyiratkan wibawa yang menakutkan. "Kamu mau minta izin supaya Papa biarin Aisyah terus pacaran sama anak Mahendra itu? Kamu tau kan sejarahnya? Keluarga mereka benci kita sama kayak kita benci mereka." Rafi menggeleng pelan. ia mengumpulkan
Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit, Reza masih berada di kamar utamanya. Tangan kanannya masih digips, gerakannya juga masih terbatas. Ia baru saja menyelesaikan telepon dengan manajer proyek, ketika pintu diketuk pelan.“Kamu sudah bangun?”Suara Kalia terdengar lembut dari luar.“Masuk
Layar laptop Kalia menyala terang, di kamar yang gelap. File berjudul “Kesalahan Ayahmu yang Sebenarnya” terbuka perlahan. Kalia menahan napas saat membaca baris pertama.Namun, sebelum ia sempat memahami isinya, ponselnya berdering keras.Kalia terlonjak.Nomor tak dikenal.Ia ragu sesaat, lalu me
Pagi masih terlalu sunyi, ketika Kalia membuka matanya. Ia tidak langsung bangun. Tatapannya kosong ke langit-langit kamar tamu yang sempit itu. Semalam ia hampir tidak tidur. Kata-kata Reza masih terngiang di kepalanya.Kamu hanya perlu menjalankan peranmu.Kalia menghela napas panjang, lalu duduk
Malam itu, Kalia duduk di lantai kamar tamu. Dokumen-dokumen lama tersusun di sekelilingnya. Ia memeriksa satu per satu, sambil mencocokkan foto yang sudah tersimpan di ponselnya.“Ayah… aku akan menemukan semuanya buktinya..” bisiknya.Ia menulis beberapa nama di kertas kecil. Mantan staf keuangan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore