Share

Bab 74

Penulis: Liazta
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-09 22:08:43

Dokter itu mengambil pil tersebut, memutarnya di antara dua jarinya. Ia lalu membuka botol resmi di mejanya, menuangkan satu pil untuk dibandingkan.

Diamnya terlalu lama.

“Tidak,” katanya akhirnya, datar. “Ini bukan obat yang membuatnya bergantung.”

Tonny membeku. “Maksud Anda…?”

“Yang seharusnya ia minum,” lanjut dokter itu pelan, “adalah senyawa yang menekan kesadaran emosionalnya. Membuat pikirannya tenang hanya selama ia patuh. Selama ia terus minum.”

Ia mengangkat pil dari kantong Tonny.

“Ini?” Ia mendengus tipis. “Hanya zat perawatan tubuh. Tidak menyentuh pikirannya sama sekali.”

Perawatan kulit?"

“Ya, ini vitamin,” jawab dokter itu tenang. “Vitamin C, vitamin E, dan kolagen. Ini obat untuk perawatan kulit.”

Tonny membeku. Napasnya tersendat di tenggorokan. Ia terduduk lemas di kursi pasien, kepalanya berdengung hebat.

“Tidak mungkin…” gumamnya lirih.

Ia meraih ponselnya, membuka kembali foto resep-resep lama dan membandingkannya satu per satu dengan pil di tangannya. Tidak ad
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 78

    Devan tetap terpaku di balik meja kerjanya. Jemarinya sibuk menari di atas keyboard dan sesekali membubuhkan tanda tangan pada berkas-berkas digital. Namun, setiap beberapa menit, fokusnya terbelah—matanya secara naluriah melirik ke arah sofa. Di sana, Alicia masih tertidur pulas. Jas milik Devan masih setia menyelimuti tubuh wanita itu. Wajah Alicia terlihat begitu tenang, dengan bibir yang sedikit mengerucut seperti anak kecil yang sedang bermimpi. Tanpa sadar, sudut bibir Devan terangkat tipis. Ia kembali bekerja, namun kali ini dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati. Tidak ada bunyi laci yang ditutup keras, bahkan seluruh notifikasi ponselnya telah ia senyapkan. Devan tidak ingin mengusik kedamaian itu. Ia mengamati Alicia dari kejauhan. Napas wanita itu teratur, wajahnya tampak jauh lebih lembut dibanding saat ia sedang mengomel atau bersikap formal sebagai dokter. Jas yang membungkusnya membuat sosok Alicia terlihat kecil dan rapuh. Devan tersenyum tipis. Jarang sekali—at

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 77

    Alicia kini sepenuhnya mendedikasikan dirinya pada satu peran baru yang melekat erat—menjadi penjaga kesehatan Devan.“Tuan, Anda harus makan buah,” ucapnya sambil meletakkan piring berisi potongan apel, mangga, dan pir di sudut meja kerja Devan. Ruangan itu dipenuhi tumpukan dokumen; aroma kertas dan kopi pahit kini bercampur dengan kesegaran buah-buahan.Devan hanya melirik piring itu sekilas. Tanpa mengalihkan fokus atau berucap sepatah kata pun, ia justru membuka mulutnya.Alicia mengernyit heran. “Hah?”Namun, sebagai seorang dokter—dan mungkin karena sudah mulai terbiasa dengan tabiat Devan yang tak terduga—ia hanya bisa menghela napas pasrah. Alicia mengambil sepotong apel dan menyuapkannya ke mulut pria itu. Devan mengunyahnya perlahan, seolah sedang menikmati sesuatu yang jauh lebih istimewa dari sekadar buah.“Pantas saja lambung Anda bermasalah,” omel Alicia sembari menyodorkan potongan berikutnya. “Bekerja tanpa henti, abai pada waktu makan, dan tidak peduli pada kesehatan

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 76

    Tonny memandang Sofia cukup lama. Tatapan istrinya kosong, seolah ada kabut tipis yang mengaburkan kewarasannya. Dalam kondisi seperti ini, tonny tahu bahwa meyakinkan Sofia secara logika bukanlah perkara mudah. Namun, di titik rapuh inilah, Sofia paling mudah untuk digiring.“Kamu hanya cemburu,” ujar Toni akhirnya, suaranya diatur selembut mungkin. “Padahal… apa yang harus kamu cemburukan dari Sinta?”Sofia mengerjap. Dahinya berkerut, seolah sedang bersusah payah menyusun kepingan logika di kepalanya yang tumpul.“Dilihat dari sisi mana pun,” lanjut Tonny sembari mendekat selangkah, “kamu jauh lebih cantik darinya. Jauh, Sofia. Dia itu sudah tua.”Ia menjeda kalimatnya, berpura-pura memilih kata yang tepat, lalu melanjutkan dengan nada yang terdengar tulus meski beracun.“Kalau aku memang berniat selingkuh, harusnya aku mencari yang masih muda. Seusia Charlotte, atau mungkin gadis dua puluh dua tahun. Yang masih segar, yang mudah.” Ia menggeleng pelan, seakan menertawakan kemustahi

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 75

    "Apa yang kamu—""Buka mulut," potong Alicia, menatapnya lurus tanpa ragu. "Atau saya akan berdiri di sini sampai malam."Devan menatap sendok di depan wajahnya, beralih ke wajah Alicia, lalu kembali ke sendok itu lagi. Ekspresinya tampak bimbang; ada guratan kesal yang tertahan, namun entah mengapa, ia justru terlihat pasrah."Alicia," ucapnya dengan suara rendah yang dalam. "Aku bisa makan sendiri."Alicia mendengus kecil. "Iya, katanya bisa. Tapi faktanya, sejak tadi nasi itu cuma kamu pandangi, bukan dimakan. Kalau nasi bisa tersinggung, dia sudah minta pindah piring."Devan menatapnya tajam. "Kamu berlebihan.""Tidak," sahut Alicia cepat. "Yang berlebihan itu bekerja tanpa makan. Lambung kamu itu organ manusia, bukan mesin. Kalau sampai rusak, saya yang akan disalahkan. Dan saya tidak mau dimarahi Nyonya Luna hanya karena Anda terlalu keras kepala."Devan terdiam, kehilangan kata-kata.Alicia melanjutkan tanpa memberi celah bagi Devan untuk menyela. "Sudah, jangan mendebat. Saya

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 74

    Dokter itu mengambil pil tersebut, memutarnya di antara dua jarinya. Ia lalu membuka botol resmi di mejanya, menuangkan satu pil untuk dibandingkan.Diamnya terlalu lama.“Tidak,” katanya akhirnya, datar. “Ini bukan obat yang membuatnya bergantung.”Tonny membeku. “Maksud Anda…?”“Yang seharusnya ia minum,” lanjut dokter itu pelan, “adalah senyawa yang menekan kesadaran emosionalnya. Membuat pikirannya tenang hanya selama ia patuh. Selama ia terus minum.”Ia mengangkat pil dari kantong Tonny.“Ini?” Ia mendengus tipis. “Hanya zat perawatan tubuh. Tidak menyentuh pikirannya sama sekali.”Perawatan kulit?" “Ya, ini vitamin,” jawab dokter itu tenang. “Vitamin C, vitamin E, dan kolagen. Ini obat untuk perawatan kulit.”Tonny membeku. Napasnya tersendat di tenggorokan. Ia terduduk lemas di kursi pasien, kepalanya berdengung hebat.“Tidak mungkin…” gumamnya lirih.Ia meraih ponselnya, membuka kembali foto resep-resep lama dan membandingkannya satu per satu dengan pil di tangannya. Tidak ad

  • Dokter, Jangan Gitu Dong    Bab 73

    Sinta duduk tenang di sofa ruang kerja Tonny, matanya mengikuti gerak-gerik pria itu yang mondar-mandir tanpa arah. Wajah Tonny tampak kusut, matanya cekung, dan dasinya sudah tak lagi rapi. Jelas sekali, badai semalam telah menggerogoti kewarasannya. Sinta melipat tangan di dada. Matanya menyipit—bukan karena khawatir, melainkan sedang menakar setiap kata yang akan ia lepaskan sebagai umpan. “Aku dari tadi memperhatikan,” ucapnya pelan, suaranya dibuat selembut mungkin. “Sofia… sekarang sangat berbeda.” Langkah Tonny terhenti. “Maksudmu?” Sinta bangkit dan melangkah mendekat. Bunyi tumit sepatunya berdetak pelan di atas lantai marmer, setiap langkah seolah memberikan tekanan baru pada syaraf Tonny yang menegang. “Biasanya dia hanya diam. Menangis. Mengurung diri,” katanya hati-hati. “Tapi semalam… itu bukan Sofia yang kita kenal.” Tonny menelan ludah, tenggorokannya terasa kering kerontang. “Dia memukul,” lanjut Sinta lirih. “Menarik rambut. Tatapannya liar, seolah tak sadar s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status