LOGINTiga hari berlalu bagaikan sekejap mata di dalam honeymoon suite hotel berbintang. Selama tiga hari itu pula, Devan benar-benar memanjakan Alicia—membawanya larut dalam sisa-sisa kehangatan malam pertama, canda tawa manja, dan dekapan tak terpisahkan.Kini, sejoli itu akhirnya melangkah pulang ke kediaman utama. Sambutan hangat sudah menanti. Luna—sang mami—telah menyiapkan jamuan makan malam istimewa untuk menyambut kepulangan anak dan menantunya yang baru saja resmi menyandang status suami istri.Suasana di meja makan berukuran besar itu terasa begitu hidup dan meriah. Gelak tawa dan godaan tak henti-hentinya mengarah pada Alicia."Lihat tuh, Alicia mukanya makin berseri-seri. Beda ya kalau sudah jalan-jalan tiga hari di hotel," goda Luna seraya tersenyum menggoda."Iya, Mami. Pengantin baru, jalan saja masih pelan-pelan gitu," timpal yang lain, memicu tawa riuh di sekeliling meja.Wajah Alicia seketika memerah padam bagaikan kepiting rebus. Ia menunduk dalam-dalam, menyembunyikan s
"Aku ini bekerja di klub malam cuma sebagai pengantar minuman, Tuan Kevin, bukan wanita sewaan," sahut Charlotte santai. "Lagipula, sejak konflik keluargaku mencuat, mana ada lagi yang mau berteman denganku? Kalau dulu... waktu aku masih jadi putri kaya raya, memang banyak yang sering main ke sini. Tapi semenjak kasus Papi dan Mami melejit, semuanya menghilang begitu saja."Charlotte menghembuskan napas halus, melanjutkan dengan binar mata yang hangat."Jadi kalau kamu ikut naik, kamu itu orang pertama yang bertamu ke apartemenku setelah musibah itu terjadi! Nanti aku siapkan makanan yang enak. Sekarang aku sudah pintar memasak, lho. Aku sudah mandiri, tidak manja lagi seperti dulu. Kalau dulu semuanya disiapkan pelayan, sekarang aku belajar menyiapkan semuanya sendiri. Kalau kamu mau coba, nanti aku masak untukmu."Kevin menghembuskan napas lega yang panjang. Kewaspadaannya luluh seketika mendengar penuturan jujur nan manis dari wanita di sebelahnya."Baiklah, aku ikut naik," putus K
Suasana di luar klub malam terasa begitu dingin menyengat. Kevin memiringkan tubuhnya, menatap wajah Charlotte yang masih memucat dan gemetaran akibat kejadian menegangkan tadi."Ayo, aku akan antar kamu pulang," ucap Kevin dengan suara bariton yang tenang namun penuh penekanan.Charlotte menatap Kevin ragu sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepala pasrah.Sebenarnya, hinaan dan tatapan merendahkan bukan pertama kalinya Charlotte terima sejak keluarganya hancur. Namun, malam ini rasanya begitu membekas dan jahat. Biasanya para tamu hanya tertawa kejam dan mengejek statusnya sebagai anak haram. Ia tak pernah menyangka bahwa rasa benci masyarakat akan mendorong orang-orang itu bertindak kurang ajar dan mencoba merusaknya secara fisik.Di dalam mobil mewah Kevin yang melaju membelah jalanan malam, keheningan sempat tercipta. Kevin meraih sebuah botol air mineral dari holder di dekat kemudi, lalu mengulurkannya pada Charlotte."Kamu... adik satu ayah dengan Rayan, kan?" tanya Kevin m
Lampu flash warna-warni membelah kegelapan klub malam yang bising oleh dentuman musik bas. Setelah menyaksikan pernikahan Alicia melalui sambungan telepon dari sudut ballroom, Charlotte langsung bergegas berganti pakaian dan berangkat menuju tempat kerjanya.Malam Minggu selalu menjadi puncak kesibukan. Pengunjung membludak, menjejali setiap sudut area VIP dan lounge. Charlotte menjalankan tugasnya seperti biasa—membawa nampan berisi deretan gelas dan botol minuman beralkohol mahal menuju salah satu meja bertuliskan reservasi khusus.Awalnya, semua berjalan tenang. Namun, saat Charlotte baru saja menaruh gelas terakhir di atas meja melingkar itu, salah seorang pria berdasi longgar menatap wajahnya lekat-lekat."Tunggu dulu... Kamu bukannya Charlotte?" celetuk pria itu, memicingkan mata.Teman di sebelahnya menoleh. "Kamu mengenalnya?""Tentu saja! Kasusnya kan sempat viral sekali beberapa waktu lalu!" seru pria itu dengan nada mengejek yang sangat kentara. Ia menyandarkan punggungnya,
Devan kembali dari area dapur suite membawa nampan berisi sup ayam hangat beraroma harum, steak lembut yang sudah dipotong kecil-kecil, serta segelas susu hangat. Pria itu meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping ranjang, lalu duduk merapat di sisi Alicia.Alicia yang tadinya menyandarkan punggung pada tumpukan bantal langsung menegakkan tubuh. Matanya berbinar melihat makanan lezat di hadapannya, namun saat hendak meraih sendok, Devan lebih dulu menyambar alat makan itu."Eits, biar aku yang suapi," tahan Devan seraya menyunggingkan senyum menggodanya."Devan, aku bisa sendiri... Tanganku tidak sakit," cibir Alicia malu-malu."Memang tanganmu tidak sakit, tapi kan tubuhmu lemas gara-gara perbuatanku tadi," goda Devan tanpa dosa, menatap Alicia dengan binar nakal. "Lagipula, melayani istri di sepertiga malam begini dapat pahala besar, tahu."Pipi Alicia seketika memerah pasrah. Ia pun membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan sup hangat dari Devan. Usapan lembut ib
Di sudut ballroom yang remang dan jauh dari perhatian para tamu, Charlotte menggenggam erat ponselnya. Di layar kaca itu, wajah Toni—sang ayah—tampak kurus dan basah oleh air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Melalui sambungan video call, pria itu menyaksikan setiap detik prosesi sakral anak perempuannya.Suara tegas Devan saat mengucapkan kalimat ijab kabul mengema hingga ke seberang telepon. Dan ketika kata "SAH" bergemuruh, tangis Toni pecah tanpa suara, bahunya berguncang hebat di balik jeruji besi yang mengungkungnya.Sewaktu pernikahan Rayan dulu, Charlotte tidak sempat melakukan panggilan video seperti ini. Toni melewatkan momen itu begitu saja. Namun hari ini, setidaknya ada sedikit penawar rindu untuk hati seorang ayah yang terlambat menyadari kesalahannya."Apa Papi melihatnya dengan jelas?" bisik Charlotte pelan, mengarahkan kamera ke panggung pelaminan yang megah.Toni mengangguk patah-patah seraya mengusap air matanya. "Iya... Papi lihat, Sayang. Terima kasih... teri







