INICIAR SESIÓNOjek berhenti di depan klinik Jalan Senopati pukul 13.05 WIB. Andin menyodorkan dua lembar uang sepuluh ribu dan turun sebelum pengojek sempat mencari kembalian."Selamat siang, Mbak Andin!" sapa Pak Jul dari pos satpam. Andin sudah melewatinya dan tidak menoleh.Di meja resepsionis, Rendi berdiri setengah dari kursinya dengan gagang telepon masih di telinga. Dia melihat wajah Andin, lalu meletakkan gagang itu pelan-pelan, karena dia tahu tidak ada telepon yang lebih penting daripada perempuan yang baru melewati pintu depan."Mbak, Dokter ada pasien jam satu lewat seperempat!" seru Rendi."Tolong ditunda, Ren," sahut Andin tanpa memperlambat langkah.Rendi menatap punggung Andin yang menjauh, lalu menatap Pak Jul yang berdiri di ambang pintu depan."Pasien jam satu lewat seperempat saya suruh nunggu di mana, Pak?" bisik Rendi."Suruh minum teh dulu, Ren. Banyak-banyak," saran Pak Jul sambil menggeleng.Andin menaiki tangga ke lantai dua, dua anak tangga sekaligus. Di lorong, Suster Ma
Pukul 11.50 WIB, ponsel Andin bergetar di saku jaket ketika dia turun dari angkot di depan rumah sakit daerah. Notifikasi bank menampilkan satu baris pendek: honor bulan ketiga, Rp5.000.000, sudah masuk.Andin berhenti di trotoar dan membaca angka itu dua kali. Tiga bulan lalu dia masih menghitung uang receh di mesin setor tunai dengan tangan gemetar. Hari ini dia datang membawa uang sendiri untuk melunasi sisa tagihan ibunya."Semua ini hasil kerjaku sendiri. Hari ini aku bayar sendiri, tanpa pinjam siapa pun."Kelas pagi tadi dia lewati dengan setengah hati, karena telepon Suster Rahma terus terngiang di kepalanya. Dia sudah menyiapkan dua dugaan: tagihan Ibu naik, atau ada berkas yang hilang.Di bangsal saraf lantai dua, Suster Rahma duduk di balik meja jaga dengan map tebal yang menggunung di sisi kanan. Perempuan berusia lima puluhan itu mengangkat kepala, lalu tersenyum lebar begitu melihat Andin."Mbak Andin, sini duduk dulu," sapa Suster Rahma sambil menarik kursi plastik."Se
Bel pintu depan berbunyi lagi, kali ini tiga kali berturut-turut. Andin langsung turun dari meja dapur dan menarik ujung kaus sampai menutup paha, dengan kaki yang masih goyah."Siapa itu?" bisik Andin panik."Kemungkinan besar satpam kompleks," jawab Javier sambil menaikkan celana training dengan satu gerakan."Mas, aku nggak pakai apa-apa selain kaus ini!" desis Andin."Kamu sembunyi di balik pintu kulkas, dan aku yang bicara," putus Javier.Andin menurut. Dia berjongkok di balik pintu kulkas yang terbuka lebar, menahan napas, dan menekan kedua lutut ke dada. Gula masih menempel di telapak kakinya, dan setiap gerakan kecil membuat butirannya berderak di lantai.Javier membuka pintu depan dengan wajah paling tenang yang bisa dia atur. Di teras berdiri seorang satpam berseragam cokelat, topinya dipegang di tangan dan napasnya terengah. Nama di dadanya tertulis Wahyu."Maaf mengganggu, Pak Dokter. Alarm asap rumah Bapak bunyi lama sekali," lapor Pak Wahyu."Tidak ada kebakaran, Pak. Ha
Alarm masih meraung di langit-langit, dan Andin yang duduk di tepi meja dapur harus berteriak supaya suaranya terdengar."Tetangga bakal mengira rumah ini kebakaran, Mas!" teriak Andin."Tetanggaku sudah terbiasa. Aku memang tidak pernah bisa memasak!" balas Javier dengan suara sama kerasnya."Itu nggak pantas dibanggakan!" protes Andin."Kalau satpam kompleks datang, aku bilang kita sedang latihan evakuasi," ujar Javier."Evakuasi pakai kaus kamu yang aku pakai ini?!" pekik Andin.Asap tipis masih menggantung di dekat langit-langit, dan bau gosong menempel di tirai dapur. Javier tidak peduli pada semua itu, karena perhatiannya hanya tertuju pada Andin yang duduk di meja dengan pipi merah dan rambut kusut.Javier menunduk sampai dahi mereka bersentuhan. Dia menunggu sampai Andin menatapnya, lalu menurunkan suara hingga nyaris berbisik supaya tetap terdengar di antara raungan alarm. Andin harus membaca gerak bibirnya untuk memahami kalimat itu."Kamu mau di sini, sekarang? Kalau kamu r
Pukul 07.20 WIB, dapur rumah Javier dipenuhi bunyi sendok yang beradu dengan wajan. Andin berdiri di depan kompor dengan kaus lama Javier yang panjangnya sampai paha dan rambut yang dikuncir asal-asalan. Di sampingnya ada semangkuk nasi dingin dari rice cooker yang sudah dia remas-remas supaya tidak menggumpal.Di keranjang bumbu di bawah rak, Andin menemukan dua siung bawang putih dan sebotol kecap manis. Tutup kecap itu masih tersegel rapat. Dia menyobeknya dengan gigi tanpa pikir panjang."Kecapnya ada, tapi isi kulkasnya nggak ada. Orang ini hidup dari janji."Andin terbiasa memasak dengan bahan seadanya karena uang bulanannya selalu pas-pasan. Dia menyalakan kompor, menuang sedikit minyak ke wajan, lalu menunggu sampai wajan itu cukup panas.Minyak mulai berdesis pelan, dan perut Andin berbunyi lagi. Tangannya bergerak cekatan meski dapur ini asing baginya.Javier muncul di ambang dapur dengan kaus polos dan celana training, dan rambutnya masih berantakan. Dia bersandar di kusen
Bantal tunggal itu sudah lama berpindah ke bawah kepala Andin ketika cahaya matahari mulai menembus celah gorden. Javier tidur tanpa bantal, dengan lengan kiri terlipat di bawah pundak Andin.Jam digital di nakas sudah menunjukkan 05.12 WIB ketika Andin membaca angkanya untuk kesekian kali.Andin tidak tidur lagi sejak pukul 03.00 WIB. Dia berbaring miring menghadap Javier dan menghitung tarikan napasnya satu per satu. Igauan tadi terus terngiang, dan dia tidak berani membangunkan Javier untuk menagih jawabannya."Dia minta maaf pada anaknya, padahal anaknya yang menutup gorden. Berapa lama dia menyimpan ini sendirian?"Hujan sudah berhenti sejak lama, dan genteng di atas kamar masih menetes pelan. Udara kamar terasa dingin dan lembap, jadi Andin menarik selimut sampai ke dagu.Sepanjang sisa malam, Andin memandangi garis rahang Javier yang tenang dalam tidur. Wajah itu tampak lelah, dan Andin bisa melihat bahwa pemiliknya sudah terlalu lama menunggu sesuatu yang tidak datang. Tidak a







