Masuk
“Ugh ... nikmat sekali, Mas!”
Deg! Avrisha yang berjalan hendak menuju dapur itu sontak mengentikan langkah kakinya kala mendengar suara desahan dari balik kamar tamu. Ia mendekat, menempelkan daun telinga pada pintu agar lebih jelas. “Aaahh ... aku cemburu. Dia pasti puas sekali kalau lagi sama kamu. Tapi aku pasti lebih menggairahkan, kan?” Tawa Kirana tergelak manja disusul desahan panjang. "Eungh... lebih cepat!" Tangannya membekap mulut, matanya membelalak lebar seiring degup jantungnya yang terus berpacu keras. “Kirana sama siapa? Apa dia bawa pacarnya ke sini?” gumamnya lirih. Kamar itu dihuni sahabatnya, calon ibu pengganti yang ia dan sang suami sewa rahimnya. Beberapa bulan lalu, sebelum Avrisha menjalani operasi pengangkatan rahim akibat komplikasi endometriosis berat, dokter kandungannya berhasil mengambil dan membekukan sel telurnya. Proses bayi tabung pun dilakukan, dan Kirana, sahabat sejak SMA yang selama ini hidup sebatang kara dan sering mengeluhkan hidupnya yang serba kekurangan, membuat Avrisha iba dan menawarkannya untuk menjadi surrogate mother dengan upah fantastis. Kini, Kirana tengah mengandung benihnya dan sang suami. Kandungan berusia lima minggu itu sangat ia nantikan selama enam tahun ini. Di balik itu juga ada mertuanya yang terus menuntut keturunan karena suaminya anak tunggal. “Aaahh ....” Keningnya berkerut saat lagi-lagi mendengar suara desahan dari dalam sana. Apa Kirana menyelundupkan pria ke rumahnya? Namun, setahunya selama ini Kirana tidak punya kekasih. “Tapi bisa saja dia punya pacar dan belum cerita sama aku,” gumamnya. Pikiran itu membuat napasnya tercekat. Kalau benar, itu bisa berbahaya. Berhubungan badan di masa awal kehamilan bisa mengancam janin. Ia dan suaminya sudah susah payah melakukan proses ini ke luar negeri, kalau Kirana tidak menjaganya semuanya bisa sia-sia. Dengan perasaan tak menentu, Avrisha akhirnya nekat mengangkat tangan dan mengetuk pintu kamar tamu. Tok! Tok! Tok! Suara desahan langsung berhenti. Hening menggantung begitu dalam, seperti seseorang menahan napas di balik pintu. Avrisha menelan saliva dengan susah. “Kirana?” panggilnya gugup. Tak ada jawaban, perasaannya semakin tidak karuan. Ia mengetuk lagi. “Kirana, kamu masih bangun?” Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat, tergesa. Dan pintu kamar pun terbuka sedikit, menampakkan wajah Kirana yang tampak kacau. Daster yang ia kenakan dikancing asal, sebagian terbuka di bagian dada. Rambut panjangnya berantakan, keringat membasahi dahi dan pelipisnya, meski kamar itu ber-AC. Avrisha mengulas senyum lembut. “Kamu lagi apa?” tanyanya hati-hati. Kirana tampak gelagapan sesaat, tapi cepat memasang senyum tipis. “Eh, a-aku lagi olahraga barusan. Biar sehat dan nggak mual-mual terus. Kalau siang, kan, aku bawaannya ngantuk.” “Olahraga?” Avrisha melirik ke dalam kamar, lalu kembali pada wajah sahabatnya. “Iya, lihat di YouTube gitu. Senam ringan, kan, boleh selama hamil,” jawabnya sambil bergerak pelan menutup pintu. Namun, Avrisha dengan cepat mengangkat tangan menahannya. “Tadi aku dengar kamu ngomong, sama siapa?” Kirana memucat sepersekian detik, tapi buru-buru tertawa kecil. “Oh, itu mungkin suara video senamnya. Pemandunya ada banyak. Suaranya keras banget, ya? Maaf sudah ganggu kamu.” Avrisha mengernyit, jelas-jelas tadi ada panggilan sayang dan suara desahan. Mana mungkin pemandu senam berkata seperti itu? Kenapa Kirana berbohong? Untuk apa? Mereka sahabatan dan sejak dulu selalu berbagi cerita, raut muka itu ia tahu sekali Kirana sedang menyembunyikan sesuatu. Banyak sekali pertanyaan di kepalanya, tetapi tampaknya Kirana mati-matian menyembunyikan darinya. “Tapi aneh banget, lho, malam-malam gini kamu senam.” Avrisha menyipitkan mata, berusaha memancing agar sahabatnya jujur. “Biasanya kamu tidur jam sembilan.” “Eum ... ini juga tumben belum ngantuk, jadi kupikir kenapa nggak gerak dikit. Biar bayinya juga happy, Sha.” Avrisha mengangguk pelan, meski pikirannya belum tenang. Ia mendorong pintu perlahan. “Aku masuk, ya ....” Kirana langsung terlihat panik, mencoba menahan. “Eh, jangan! K-kamarnya berantakan banget, Sha. Aku belum sempat beresin. Lagian ini bau keringat, lho,” jawabnya terbata. Melihat wajah sahabatnya memucat, Avrisha mundur. Kepalanya mengangguk pelan, “Baiklah. Tapi beneran nggak ada apa-apa, kan?” Ia tetap berusaha memancing, tetapi sepertinya Kirana kukuh menyembunyikan dan bersikeras menggelengkan kepala. “Nggak ada apa-apa, Sha. Udah, ya ... udah ngantuk banget aku. Boleh istirahat sekarang? Bayinya juga butuh istirahat, kan?” Kalimat terakhir itu menghantam Avrisha. Kirana adalah satu-satunya harapan untuk menjadi orangtua, ia sadar tidak bisa terlalu mendesak. Kalau Kirana stres, ia juga yang rugi. Dengan napas berat, Avrisha tersenyum kecil, menelan semua kegelisahan yang menggebu di dada. “Iya. Maaf ganggu kamu malam-malam.” Kirana mengangguk cepat, memaksakan senyum yang lebih lebar. “Nggak papa, Sha. Kamu istirahatlah, jangan mikir macam-macam.” Pintu kamar tertutup, Avrisha berbalik ke kamar, meski tidak bisa tidur malam itu. Tubuhnya terbaring diam di atas ranjang, pikirannya berputar cepat, menolak untuk beristirahat. Suara desahan tadi terus terngiang, berpadu dengan ekspresi gugup Kirana. Ia menatap langit-langit dalam gelap, dadanya sakit seperti diikat tali tak kasatmata. “Apa benar hanya aku yang terlalu curiga?” bisiknya pelan, hatinya sendiri tak yakin pada pertanyaannya itu. Hingga suara pintu membuyarkan lamunannya. Arion melangkah pelan masuk ke dalam kamar, dua buah kancing kemejanya terbuka menampakkan bulir keringat di dada. Aroma parfum yang menyusup ke indera penciumannya membuat tubuh Avrisha menegang. Ia baru sadar, aromanya sama dengan yang sempat ia cium samar dari dalam kamar Kirana. “Kebangun, Sayang?” tanya pria itu. Senyum kecut terukir sekadarnya. “Iya, Mas. Kamu dari mana?” Tak langsung menjawab, Arion naik ke ranjang dan mengelus lembut rambut Avrisha, mengecup lembut di kening. “Dari ruang gym, makanya keringetan gini.” Wanita itu mengalihkan pandang. “Malam-malam?” “Pagi tadi, kan, belum sempat. Kalau nggak gym nanti ototnya kendor, kamu nggak suka.” Seringai kecil muncul di sudut bibir merah itu, helaan napasnya terdengar berat. Enggan berdebat dan menambah sesak pikirannya, ia memilih mengangguk saja. “Ya sudah, tidur saja. Aku capek, Mas.” Keesokan Paginya. “Sha! Ayo sini, aku udah siapin sarapan,” serunya ceria, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Avrisha melangkah mendekat ke meja makan. Tatapannya sempat bertabrakan dengan Arion, yang hanya menanggapi dengan anggukan kecil dan senyum tipis. “Kamu gak usah repot-repot nyiapin beginian, Kirana,” ujar Avrisha datar, menarik kursi tanpa menatap siapa pun. “Gak apa-apa, kok. Mumpung pagi ini gak mual,” sahut Kirana cepat, masih dengan nada ceria, lalu menyendokkan nasi untuk Avrisha. “Lagian aku harus tetap aktif biar gak lemas, kata dokter juga gitu, kan?” Avrisha hanya mengangguk. Ia menerima piring itu tanpa komentar lebih. Diam-diam, matanya terus mengamati. Tangannya bergerak menyendok lauk, tapi ekor matanya menangkap sorotan cepat Kirana pada Arion. Dan Arion, balas memandang dengan kedipan singkat. Meski tak ada senyum, tapi cukup untuk membakar dada Avrisha. Ia menunduk, menyuapkan makanan ke mulut, meski tak terasa apa-apa. Dadanya terasa seperti digerogoti, satu per satu. Ia menoleh ke arah Kirana yang kini sibuk mengambil sambal dan tertawa ringan saat Arion mengomentari rasa tumisannya. Rasa ingin bertanya menggumpal di ujung lidahnya. Namun, ia telan, bersama nasi yang rasanya seperti abu. Ia tidak bisa meledak sekarang. Bayi itu masih ada di dalam kandungan Kirana, bayi dari darah dan dagingnya sendiri. Namun, kenapa keakraban itu memantik firasat lain di hatinya?Sirene meraung memecah malam, memanjang seperti urat tegang yang ditarik paksa. Dua mobil patroli terdepan melesat keluar kompleks, diikuti SUV hitam tak bertanda yang dikendarai Elvareno bersama Kapten Arya. Lampu biru-merah berpendar di aspal basah, memantul di kaca-kaca toko yang sudah tutup.“Plat masih terbaca jelas?” tanya Elvareno, rahangnya mengeras.Arya mengangguk, matanya tak lepas dari tablet. “Masih. Mereka masuk jalur arteri timur, ke arah pintu tol lama. Kecepatan stabil, nggak ngebut. Ini ciri orang yang tahu jalur aman.”“Artinya mereka sudah sering lewat sini,” gumam Elvareno.Radio berderak.“Unit Tiga ke pusat, target melewati lampu merah Jalan Kenari, belok kiri. Ada satu kendaraan pembayang.”“Copy,” jawab Arya cepat. “Jangan terlalu dekat. Biarkan mereka merasa aman.”Mobil-mobil polisi menjaga jarak, bergerak seperti bayangan. Kamera lalu lintas berpindah satu per satu di layar, wajah pengemudi buram, plat tertangkap jelas, waktu bergerak terasa menipis.“Merek
“Apa? Tunggu, jelaskan semuanya dari awal, pelan-pelan!” Elvareno menahan panik, mencoba menenangkan diri, meski adrenalin sudah membara di seluruh tubuhnya. “Keir tadi pesan makanan online, aku minta dia ke depan sebentar pas kurirnya udah anterin. Dia juga bawa Arel dinaikin stroller, cuma sebentar, El! Aku nggak tahu, tiba-tiba katanya ada orang nanya alamat. Keira bingung, dia bukan asli situ, niatnya mau balik nanya aku. Tapi pas dia balik , Arel … Arel udah nggak ada! Stroller-nya kosong, El, anakku nggak ada!” Suara Avrisha pecah, tangisnya makin keras. Elvareno langsung menyambar jaketnya dan berlari masuk lagi ke dalam mobil. “Tenang, jangan panik. Aku ke situ sekarang!” sahutnya seraya menyalakan mesin mobil dengan tangan gemetar. Sesampainya di rumah Avrisha, Elvareno melihat Avrisha duduk terkulai di sofa, wajahnya basah penuh air mata, tubuhnya gemetar hebat. Keira berdiri di samping dengan wajah pucat, bibir gemetar, dan tangan terus meremas bajunya sendiri. “Ak
“El, nanti kamu makan dulu,” ujar Raisa sambil melepas sepatu, mereka baru saja sampai rumah. “Mama udah minta maid bikinin sup.” Elvareno mengangguk. “Sebentar lagi, Ma.” Belum sempat melewati pintu, suara klakson panjang terdengar dari depan pagar. Satu mobil sedan abu-abu berhenti kasar, disusul SUV hitam di belakangnya. Alis Hendrik berkerut. “Siapa itu?” Pintu sedan terbuka lebih dulu. Seorang wanita turun dengan gerakan kaku, tubuhnya kurus, bahu tegang, wajahnya pucat dengan matanya menyala penuh amarah. Rambutnya disanggul asal, riasan wajahnya tebal, tetapi retak oleh garis-garis emosi. Raisa membeku. “Livia?” Suaranya tercekat. Livia Santosa, mama mendiang Valeri. Di belakangnya, seorang pria paruh baya turun dengan wajah muram, Anton Santosa, ayah mendiang Valeri. Tatapannya dingin, kosong, seperti abu sisa kebakaran. Belum sempat Raisa melangkah mendekat, Livia sudah lebih dulu menerjang. “Akhirnya kita bertemu lagi, Raisa!” Suara itu memecah udara
Hari itu datang tanpa gegap gempita. Tidak ada tenda besar, tidak pula barisan bunga yang berlebihan. Rumah Avrisha hanya dibersihkan lebih rapi dari biasanya. Tirai diganti, meja tamu dilap, vas bunga diisi melati putih sederhana.Avrisha berdiri di depan cermin sejak pagi.Gaun pastel panjang dengan potongan sederhana membalut tubuhnya. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya disematkan jepit kecil di satu sisi. Wajahnya nyaris tanpa riasan tebal, hanya bedak tipis dan lipstik warna alami. Mbok Sumi membantu merapikan selendang di bahu Avrisha.“Tenang, Nyonya,” ucapnya pelan. “Hari baik pasti berjalan lancar.”Avrisha tersenyum kecil. “Doakan, ya, Mbok.”Tak lama kemudian, suara mobil terdengar di halaman.Satu sedan hitam berhenti, disusul mobil lain di belakangnya.Avrisha menarik napas dalam.Keira berdiri di sampingnya, baru tiba dua hari lalu dari luar negeri. Wanita itu mengenakan kebaya modern warna sage, rambutnya disanggul simpel. Matanya sudah berkaca sejak tadi.“Tarik napa
Avrisha menatap cincin itu terlalu lama.Kilau beningnya bukan yang membuat dadanya sesak, melainkan tangan Elvareno yang sedikit gemetar, napasnya yang ditahan, dan cara pria itu menunggu tanpa memaksa. Seperti duluDetik berlalu. Lalu, tanpa aba-aba, kenangan itu datang.Bangku kayu di koridor SMA yang catnya terkelupas. Bau kapur tulis dan kertas basah. Sepatu hitam Elvareno yang selalu sedikit kotor di ujungnya karena ia malas menghindari genangan.“El, kamu, tuh, kalau lari jangan nabrak orang.” Suara Avrisha remaja terdengar dengan napasnya terengah.“Kalau aku nabrak kamu, nggak apa-apa,” jawab Elvareno waktu itu sambil terkekeh, keringat menetes di pelipis. “Yang penting ketangkep.”Ia teringat sore-sore sepulang sekolah, ketika mereka duduk berdampingan di halte kecil, berbagi es lilin dua warna. Elvareno selalu menggigit bagian cokelat dulu, lalu menyerahkan sisanya.“Kenapa selalu aku?” protes Avrisha.“Karena kamu paling sabar,” jawabnya ringan. “Kalau nanti hidup susah,
Hari-hari setelah kepergian Arion berlalu tanpa benar-benar terasa. Seperti lembaran kalender yang disobek tergesa, tanggal berganti, rutinitas berjalan, dan Avrisha belajar bernapas dengan ritme baru. Pagi diisi tangis Arel yang lembut, siang dengan pekerjaan butik, malam dengan keheningan yang tak lagi menuntut penjelasan.Sore itu, matahari condong ke barat ketika suara mobil berhenti di halaman.Mbok Sumi menengok lewat jendela. “Nyonya, ada tamu.”Avrisha mengintip. Sedan abu-abu dengan nomor plat yang ia hafal.“Elvareno,” gumamnya pelan.Ia menggendong Arel, merapikan selendang tipis di bahunya, lalu melangkah ke teras. Elvareno sudah turun, mengenakan kemeja biru muda dengan lengan digulung rapi. Di tangannya, sebuah tas kertas berwarna krem, logo toko mainan anak tercetak halus.“Sore,” sapa Elvareno, senyumnya hangat.“Sore, El. Baru banget pulang, nih?” balas Avrisha. “Masuk, masuk.”“Aku mampir sebentar,” katanya, mengangkat tas. “Kangen sama pasien favorit yang baru sebu







