Begitu melihat Rangga pergi, Lastri langsung panik.
Ia keluar kamar tergesa-gesa dengan pakaian seadanya, tanpa sempat memperhatikan penampilannya. “Kita tidak bisa membiarkannya pergi,” ucapnya penuh kepanikan, kehilangan kendali atas dirinya. Tanpa mempedulikan keberadaan Pak Agus yang berdiri di sampingnya, Lastri melangkah cepat hendak mengejar Rangga. Tujuannya satu: mencegah video rekaman itu tersebar, terutama agar tidak sampai ke tangan keluarga atau pihak berwenang. Namun, begitu sampai di luar, harapannya pupus. Sosok Rangga sudah menghilang, entah ke mana. “Sial, Mas Rangga sudah pergi,” desis Lastri frustrasi, menggigit bibirnya dengan panik. Pikirannya langsung kacau. Bagaimana kalau video itu benar-benar viral di media sosial? batinnya cemas. Dia bisa saja menjadi bahan hinaan, bukan hanya oleh orang asing, tapi juga oleh keluarga dan teman-teman dekatnya. Viral karena prestasi atau penampilan? Mungkin aku bisa menerimanya. Tapi kalau karena video mesum? Itu mimpi buruk, pikirnya kalut. “Aku harus menemukan Mas Rangga secepatnya dan memintanya menghapus video itu sebelum diunggah!” gumamnya, kini dengan nada serius, nyaris putus asa. “Hentikan, kau tidak bisa mengejarnya hanya dengan berjalan kaki,” ujar Pak Agus, mencoba menyadarkan Lastri. Pria paruh baya itu meraih tangannya, menghentikannya dengan paksa. Bahkan ia tak sadar bahwa resleting celananya masih terbuka. “Lepaskan! Aku harus menghentikannya sebelum semuanya terlambat!” Lastri berontak, berusaha melepaskan diri. “Dengan apa? Jalan kaki? Dia sudah jauh pergi,” jawab Pak Agus, menatapnya tajam. Lastri pun terdiam. Ia sadar, tak ada kendaraan yang bisa ia gunakan—kecuali milik Pak Agus. “Lalu… bagaimana aku bisa menghentikan agar video itu tidak bocor ke internet?” tanyanya lirih, suaranya mulai bergetar, nyaris menangis. “Aku masih muda… aku tak sanggup jika aibku tersebar ke mana-mana. Kalau polisi tahu… aku bisa dipenjara,” ucapnya pelan, air mata mulai mengalir di pipinya. Lastri benar-benar panik dan kehilangan arah. Dalam kepanikannya, ia bahkan lupa bahwa semua ini bermula dari kesalahan yang mereka lakukan bersama. Pak Agus sebenarnya memiliki ketakutan yang sama. Ia sadar betul jika video itu tersebar, hidupnya bisa berantakan. Ia bisa kehilangan keluarganya, reputasinya, dan dihancurkan oleh skandal. Namun, berbeda dengan Lastri, Pak Agus tidak menunjukkan kelemahan. “Tenanglah, aku punya rencana,” ucapnya mantap, dengan ekspresi percaya diri. Melihat Lastri masih menangis, Pak Agus mencoba membujuknya. “Sudahlah… selama kau tetap jadi simpananku, bukan cuma iPhone yang akan kau dapatkan. Akan ada lebih banyak kemewahan di masa depan,” ucapnya mencoba merayu. Lastri hanya diam, masih dirundung ketakutan. Iming-iming itu tidak cukup untuk menenangkannya. “Tapi Pak Agus, Mas Rangga sudah membawa rekaman itu. Kalau sampai diunggah… bukan cuma aku yang hancur, tapi juga Anda,” sahutnya, kali ini lebih serius. Pak Agus menghela napas panjang. Ia tidak bisa membantah. Jika hubungan terlarangnya dengan Lastri terbongkar, rumah tangganya bisa hancur. Ia tahu betul apa risikonya. Namun, sebagai pria yang sudah terbiasa dengan intrik dan kekuasaan, ia punya jalan sendiri. “Tenang saja. Aku tidak akan membiarkan Rangga mengunggah video itu,” ucapnya dingin, penuh tekad. Ia tahu apa yang harus dilakukan: temukan Rangga, rampas ponselnya, dan hancurkan barang bukti. Kalau perlu, lenyapkan Rangga sekalian. Lastri melihat secercah harapan. Ia menggenggam tangan Pak Agus. “Aku mohon… lakukan apa pun untuk menghapus rekaman itu. Aku akan menuruti semua keinginanmu,” ujarnya memelas. “Gampang. Siapa juga yang peduli pada pria miskin seperti dia?” ujar Pak Agus penuh keyakinan. “Walaupun harus keluar uang, aku bisa membuatnya menghilang dari muka bumi. Setelah itu, video itu tidak akan pernah muncul lagi,” tambahnya dengan dingin. Lastri pun tersenyum lega, meski samar. Sebagai wanita yang lemah, satu-satunya yang bisa ia andalkan hanyalah Pak Agus. Baginya, Rangga hanyalah masa lalu. Dan semakin cepat pria itu menghilang, semakin tenang hidupnya ke depan. --- Sementara itu, Rangga memutar gas motornya hingga maksimal. Suara raungan motor C70-nya meraung di sepanjang jalan, seolah ikut menjerit bersama luka hatinya. Kendaraan tuanya melaju kencang, tak peduli lampu merah yang diterobosnya—hal yang belum pernah ia lakukan seumur hidup. Rangga menunggangi motornya seperti sedang melarikan diri dari kenyataan, menumpahkan semua frustasi dan amarah yang tak bisa ia redam. Kecepatan itu bukan hanya berbahaya bagi dirinya sendiri, tapi juga bisa mencelakakan orang lain di jalan. Ngeeeeeng! Tiga tahun. Hubungan selama itu bukan waktu yang singkat. Tapi semua kenangan itu kini terasa sia-sia, batinnya lirih. Alih-alih bahagia, Rangga justru menerima pengkhianatan yang menusuk jantungnya. “Sial… Kenapa aku baru sadar sekarang? Kalau saja aku tahu Lastri segampang itu selingkuh, aku takkan pernah mendekatinya,” gerutunya sambil menggertakkan gigi. Matanya berkaca-kaca. Air mata tertahan, siap tumpah kapan saja. Penyesalan menyesak di dadanya. Selama tiga tahun, Rangga berjuang mempertahankan hubungan yang penuh rintangan. Ia percaya, suatu hari nanti, Lastri akan menjadi istrinya. Namun kini, kenyataan menunjukkan betapa kelamnya sosok wanita yang selama ini ia cinta. Meski menyakitkan, pengkhianatan itu menyelamatkannya dari pernikahan dengan wanita bermuka dua seperti Lastri. Barangkali ini jalan terbaik. “Beraninya mereka... di belakangku…” gumamnya lirih, suaranya hampir tercekik oleh emosi. Sambil memacu motor, Rangga terus mengumpat, seperti orang kehilangan akal. Meskipun terlihat gila, siapa pun bisa memahami—cinta yang hancur bisa mengubah siapa saja. “Sialan… Kenapa semuanya jadi begini?!” teriaknya ke udara. Rangga merasa seperti pecundang. Tak hanya dikhianati, ia juga dihina. Meski sempat berpikir untuk menyebarkan rekaman mesum antara Lastri dan Pak Agus sebagai balas dendam, kini ia mulai berpikir ulang. Itu takkan mengubah apa pun. Rangga tak akan memaafkan mereka. Namun ia sadar, menyebarkan aib itu hanya akan mempermalukan dirinya juga. Hubungannya yang gagal akan menjadi bahan tertawaan netizen, dan ia tak ingin menjadi bahan gunjingan. Lebih baik aku pergi jauh… sejauh mungkin dari semua ini, batinnya pilu. Namun kecepatan tinggi yang terus ia tancap mulai kehilangan kendali. Dari arah berlawanan, sebuah mobil hitam melaju. Rangga yang melamun baru menyadarinya saat sudah terlambat. “Aaah! Awas!” teriaknya panik. Sreeeeettt! Ia berusaha menghindar. Untung, tabrakan berhasil dicegah. Tapi kendali motornya terlepas. Braaaakkk! Tubuh Rangga dan motornya menghantam pohon besar di pinggir jalan. Suara benturan keras menggetarkan udara di sekitarnya. Itu bukan kecelakaan kecil. Di dalam mobil hitam, seorang wanita muda yang mempesona menahan napas. Ia menepikan mobilnya dengan panik. Wajah cantiknya memucat. “Sial… aku hampir menabraknya!” ucapnya dengan napas tersengal. Tangannya gemetar di atas kemudi. Ia tahu dirinya tidak menabrak pria itu, tapi tetap saja merasa bersalah. Hatinya dilanda dilema. “Apa aku harus pergi? Aku tidak menabraknya… bukan salahku,” gumamnya, ragu. Ia menggigit bibir, pikirannya dipenuhi ketakutan. Ia bisa saja pergi sekarang, bebas dari masalah. Tapi suara nuraninya menjerit keras. “Kalau aku pergi sekarang tanpa memastikan keadaannya… berarti aku pengecut,” batinnya mantap.Entah mengapa Miranda mengingat sosok Rangga yang belum lama ini di temuinya dan telah menjadikan pria dengan latar belakang sederhana itu sebagai pacar palsunya. Alasan Miranda mempercayai Rangga karena menilainya sebagai orang baik dan tidak akan mengecewakannya. Selain itu penampilan Rangga yang cukup tampan juga menjadi pilihan yang harus di pertimbangkan untuk bisa menjadi pacar palsunya. “Untuk saat ini tidak ada pertemuan yang harus dihadiri dengan membawa pasangan. Sepertinya aku tidak harus meminta bantuan Mas Rangga untuk hari ini.” Mungkin sangat aneh karena Miranda membelikan motor restorasi dan juga sejumlah uang pada Rangga. Bahkan menggratiskan biaya rumah sakit untuk ibunya Rangga yang dalam kondisi koma. Namun semua itu Miranda lakukan sebagai kompensasi karena menyebabkan motor Rangga kecelakaan dan bukan hal besar bagi Miranda yang kaya raya. Tetapi Miranda masih belum memastikan apakah Erik Penadol sudah menyerah atau tidak, sehingga masih membutuhkan bantuan
Melihat pintu kamar mandi terbuka dengan sendirinya seharusnya hanya Risma yang membukanya dari luar. Rangga sendiri baru menempati tempat tersebut dan tidak banyak tahu. Karena itu dia baru sadar jika pintu kamar mandinya tidak bisa di tutup dari dalam. “Risma apa yang kau lakukan?---” Tepat setelah pintu kamar mandi terbuka sepenuhnya Rangga akhirnya melihat tubuh telanjang Risma dan bukannya membuat anunya menurun, namun justru semakin besar lebih dari sebelumnya. Rangga ingin menggali tanah untuk bersembunyi jika bisa. Tetapi kesalahan ada pada Risma dan sepertinya ada yang salah dengan polah pikirnya saat ini. “Risma, apa yang kau lakukan dan mengapa kau tidak berbusana?” Risma terlihat malu-malu dan berkata, “Mas Rangga, kau berbohong tentang kondisimu yang impoten. Sekarang anumu berdiri karena melihat tubuhku, mengapa kau tidak meminta bantuanku. Kau tidak harus melakukan onani dan gunakan saja tubuhku.” Rangga kesulitan untuk menolak saat Risma sudah memberikan ijin p
“Risma mengapa kau tidak tidur lebih awal. Ini sudah malam dan aku juga akan tidur setelah ini!...” Rangga harus menghapus pikiran kotor di benak kepalanya dan menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Tapi dengan Risma yang bersikap manja padanya semakin membuat Rangga tidak tahan lagi. Dia bahkan semakin sulit menahan anunya yang membengkak dan jika tetap di lanjutkan, tentunya akan merusak resleting celananya. “Saat aku menunggu Mas Rangga sebelumnya, Risma sudah tidur bahkan sampai malam. Jadi akan sulit untuk tidur lebih awal, selain itu ada apa dengan posisi duduk Mas Rangga.” Risma mencuri pandang pada Rangga yang berusaha menutupi sesuatu di bagian bawah perutnya. Kemudian rasa ingin tahu membuat Risma menundukkan kepalanya dan melihat celana Rangga yang saat ini membengkak. Di tambah ekspresi wajah Rangga begitu kesakitan dan membuat Risma ingin membantunya. “Mas Rangga kau terlihat kesakitan di sana, apakah kau ingin aku memijatnya?” (Memijat matamu?!...) Rangga hanya m
Rangga yang melihat pemandangan tersebut kesulitan mengedipkan kedua matanya dan seolah takut kehilangan pemandangan yang ada di depannya. (Sial, Risma telanjang dan mengapa kami tidur di ranjang yang sama?) Rangga ingin menyentuh kembali gunung kembar milik Risma dan ingin kembali merasakan kelembutan dari tubuh seorang wanita. Tapi Rangga segera mengabaikan pikirannya tersebut dan menggali melalui ingatannya. Kemudian Rangga mengingat apa yang terjadi kemarin malam. (Sial, aku tidak mungkin melakukannya dengan Risma. Semua ini pasti mimpi dan bukankah aku memiliki kondisi impoten? Jadi bagaimana bisa aku bisa mengambil kesuciannya.) Rangga berusaha menenangkan hatinya dan berniat menutupi tubuh Risma dengan selimut di dekatnya. Akan tetapi wajah Rangga segera membeku saat menemukan sepre di dekatnya berwarna merah dan seharusnya menjadi noda darah keperawanan. Kemudian semuanya semakin jelas saat Rangga melihat ke arah paha putih salju milik Risma yang mengalir bercak darah da
Dia menatap ke arah jasad Pak Agus yang duduk kaku di kursi pengemudi, darah masih menetes dari mulutnya. Napasnya tersengal. Pandangannya beralih pada sosok pria yang dulu ia kenal—dan sekarang berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan. “Mas Rangga… aku bisa menjelaskan… semuanya tidak seperti yang kau kira…” Lastri memaksakan senyuman penuh harap di antara air mata. Ia mencoba bicara seolah sedang menyelamatkan masa depan hidupnya, meski wajahnya penuh riasan yang mulai luntur. “Aku... aku dipaksa! Mas… Pak Agus mengancamku! Aku tidak punya pilihan. Aku bahkan... bahkan menyerahkan segalanya padanya karena dia mengancam akan menghancurkan hidupku! Tapi hatiku tetap untukmu, Mas… Aku masih mencintaimu…” Ia menggenggam dadanya sendiri, berpura-pura menahan luka emosional. Air mata palsu mengalir di pipinya, basah seperti hujan manipulasi. “Mas Rangga… aku tahu kau mungkin kecewa, tapi aku tidak pernah benar-benar mengkhianatimu. Aku hanya ingin kau bahagia… meski dengan c
“Benar. Mereka gagal membunuhku... dan aku sudah membunuh mereka semua,” jawab Rangga tenang. “Sialan! Aku ditipu! Uangku hilang sia-sia!” Pak Agus murka. Ia merasa dikhianati. Dalam pikirannya, Rangga pasti bersekongkol dengan Jalok untuk menipunya. Tak terpikir olehnya bahwa Rangga bisa selamat dan membalas dendam. Sementara Lastri masih menatap penuh ketakutan. “Mas... Kau masih hidup...” Nada suaranya pelan, campuran rasa takut dan penyesalan. Entah kenapa, meski luka dan takut, ada bagian kecil di hatinya yang... merindukan Rangga. Rangga menatapnya dalam. “Benar. Aku masih hidup. Dan sekarang aku di sini… untuk mengakhiri semua ini.” "Jalok! Keluar kau!" Suara Pak Agus menggema di tengah sunyi, penuh amarah dan luka. "Aku tahu kau bersembunyi di sekitar sini! Dasar pengecut! Kau hampir membuatku mati karena mendukung bocah sialan ini!" Pak Agus berdiri goyah namun penuh murka. Dalam benaknya, pengkhianatan Jalok sangat jelas: bersekongkol dengan Rangga hingga menyebabk