Peringatan Novel Memiliki Unsur Dewasa 18+ Tidak semua orang diberi kesempatan untuk mengubah hidupnya. Rangga, yang hidup dalam kemiskinan dan penuh hinaan, tak pernah menyangka akan menerima warisan dari seorang kultivator. “Dengan kekuatan ini, tak akan ada lagi yang merendahkanku. Tak ada wanita yang menolak, dan siapa pun yang menyinggungku akan menyesal.” Warisan itu membangkitkan rasa percaya diri dalam dirinya. Rangga tak hanya menginginkan kekayaan dan hormat, tapi juga kekuasaan mutlak—agar tak seorang pun berani mengusiknya lagi.
View MoreSekilas, Rangga melihat sosok yang begitu ia kenal.
Lastri. Wanita yang selama ini mengisi hatinya, yang ia kagumi dan jaga seakan porselen rapuh. Tapi apa yang dilihatnya kini? Langkahnya terhenti. Matanya tak berkedip. Napasnya tercekat. Di balik kaca, Lastri sedang dalam pelukan pria lain. Keduanya… telanjang. Saling merengkuh, saling membelai, begitu intim, begitu mesra… seolah dunia milik mereka berdua. Rangga tak percaya. Dunia seakan berhenti berputar. Suara-suara malam mendadak hilang. Hanya ada detak jantungnya sendiri yang menggema di telinga. “L–Lastri...?” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar, suaranya pecah oleh guncangan emosi. Tubuhnya bergetar hebat. Ia mundur satu langkah, tapi kakinya lemas. Ia tak sanggup berdiri tegak. Selama ini, ia menjaga hubungan mereka dengan kesabaran dan cinta. Ia tak pernah meminta lebih. Lastri bahkan belum pernah memberinya ciuman, hanya sekadar genggaman tangan yang ia simpan sebagai kenangan berharga. Namun kini, semua pengorbanan dan kepercayaannya terhempas begitu saja. Wanita yang ia cintai… kini telanjang di pelukan pria lain. Bukan hanya dikhianati—ia dihancurkan. “Jadi… selama ini aku hanya cadangan?” batinnya getir, nyaris seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan paling berharganya. Amarah mulai menyusup dalam relung hatinya. Namun lebih dari itu, perih—perih yang mengiris jauh lebih dalam daripada luka fisik manapun. Ia merasa ditampar oleh kenyataan paling kejam dalam hidupnya. Dan dari cara mereka tersenyum, tertawa, saling menatap penuh gairah… Rangga tahu, ini bukan pertama kalinya. “Sial... mengapa dia tega selingkuh dariku?” gumamnya pelan, menyumpah dalam hati. Sebenarnya, alasan di balik pengkhianatan Lastri tidaklah sulit ditebak. Siapa pun bisa melihatnya dengan sangat jelas. Uang memang bisa membeli cinta. Kalimat yang dulu dianggap mitos, kini terasa seperti kebenaran pahit yang menghantam wajahnya. Mungkin, jauh di lubuk hatinya, Rangga telah sadar akan kekurangannya. Bahwa penampilan menarik tak berarti apa-apa tanpa harta sebagai penopangnya. “Kenapa harus begini…” ucapnya lirih, tinjunya mengepal. Amarah dan kecewa bercampur dalam dadanya, tak sanggup dia hanya diam menyaksikan semuanya. Di dalam kamar, dua sosok itu tenggelam dalam gairah. Mereka tidak menyadari kehadiran Rangga yang berdiri terpaku di luar, mengintip dari celah jendela yang terbuka. Lastri, wanita yang selama ini ia percayai, kini terlihat begitu bebas dan tanpa rasa bersalah. Dia larut dalam kenikmatan bersama pria lain. “Sayang, kita harus cepat. Pacarmu bisa datang kapan saja,” ucap pria tua itu, mencoba mengingatkan. Namun Lastri hanya tersenyum sinis, seolah menertawakan nama Rangga yang bahkan tidak pantas disebut saat ini. “Aku tidak peduli dengan pria miskin itu. Jangan sebut-sebut dia di hadapanku,” jawab Lastri dingin. “Hehe, maaf sayang,” sahut pria tua itu sambil tertawa pelan. Lastri menatapnya, lalu berkata, “Aku hanya ingin bersamamu. Isilah rahimku dengan kehangatanmu.” Kata-katanya yang vulgar menusuk hati Rangga, yang mendengar semuanya dari balik jendela. Senyum penuh kemenangan tergurat di wajah pria tua itu. Kepuasannya tak hanya karena tubuh Lastri, tapi karena telah menaklukkan pacar orang lain—dengan uang. “Tapi... kalian sudah tiga tahun bersama. Apa tidak kasihan padanya?” tanya pria tua itu, seolah peduli, padahal hanya ingin menggoda lebih dalam. “Pak Agus, Rangga tidak bisa dibandingkan dengan Anda. Tas Gucci Anda jauh lebih berharga daripada seblak murahan yang dia bawakan setiap minggu,” ucap Lastri dengan nada jijik. “Hanya wanita buta yang mau bertahan dengan pria miskin sepertinya.” Pak Agus tertawa dalam hati. (Bodoh. Bahkan tas itu palsu. Tapi dia percaya dan tunduk pada uang.) “Tapi... apakah dia benar-benar tidak bisa memuaskanmu di ranjang?” tanya Pak Agus lagi, pura-pura terkejut. “Dia impoten, Pak. Tak berguna. Bahkan tubuh telanjangku tidak bisa membuatnya bereaksi sedikit pun,” jawab Lastri tanpa ragu. Pak Agus tertawa terbahak-bahak. “Astaga! Pria itu benar-benar sial!” Lastri tersenyum puas, lalu mendekat. “Sudahlah, jangan bicarakan dia lagi. Fokuslah padaku.” Braaaak!! Tiba-tiba, kaca jendela pecah berkeping-keping. Sebuah batu melayang masuk, menghantam lantai dengan keras. Keduanya terkejut. Pak Agus spontan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Di luar sana, berdiri Rangga, wajahnya penuh kemarahan, matanya merah membara. “Kalian berdua... binatang!” teriaknya lantang. “R-Rangga?!” sahut Pak Agus dengan suara bergetar. Lastri langsung menggigil. Bibirnya bergetar saat melihat lelaki yang selama ini menaruh harapan padanya kini berdiri di ambang kehancuran. “Kau benar-benar murahan, Lastri...” gumam Rangga lirih tapi jelas, lalu melemparkan bungkusan seblak ke arah mereka. Braakk! Makanan itu tumpah, mengotori ranjang tempat mereka berzina. “Mas Rangga! Aku bisa jelaskan semuanya!” seru Lastri panik, mencoba bersikap lembut. “Apakah kau pikir aku buta?!” balas Rangga tajam. Kedua tangannya mengepal, menggigil menahan emosi. “Tiga tahun... dan semua yang kau balas adalah pengkhianatan? Kau lebih memilih pria tua dengan tas palsu daripada pria yang setia?” Lastri terdiam, matanya berkaca-kaca. Tapi Rangga tak berhenti. “Kau wanita matre. Rela menjual harga dirimu demi uang. Aku muak.” Pak Agus, selingkuhan Lastri—akhirnya ikut campur. Ia melangkah maju, lalu tanpa ragu memeluk Lastri dari belakang. “Lastri, sudah cukup pura-puranya. Putuskan saja pria miskin dan impoten itu,” bisiknya di telinga Lastri, suaranya rendah tapi penuh bujukan licik. Lastri menoleh dengan ragu, namun tak tampak terkejut sedikit pun. “Tapi... dia masih pacarku…” Pak Agus mendekatkan wajahnya, menatap mata Lastri dalam-dalam. “Pacarmu? Jangan pura-pura polos. Kita sudah tidur bareng berkali-kali. Kau sendiri yang bilang, kau cuma manfaatin wajahnya yang lumayan, kan?” Lastri terdiam. Tak ada penyangkalan. Tatapan matanya memancarkan rasa bersalah yang tak utuh—lebih pada rasa takut ketahuan, bukan penyesalan. Pak Agus menyeringai puas. Ia tahu betul Lastri bisa dibeli dan dikendalikan. “Putuskan dia sekarang juga. Nanti aku belikan kamu iPhone.” “iPhone? Yang 15 Pro Max?” tanya Lastri cepat, matanya berbinar. “Yang paling baru,” jawab Pak Agus santai, sambil melirik ke arah jendela. Lastri langsung tersenyum cerah, memeluk Pak Agus erat. Dari luar, Rangga melihat semuanya. Tangan mengepal, rahang mengeras. “Dasar tak tahu malu…” gumamnya, suaranya penuh emosi. Pak Agus menunjuk ke arah jendela. “Putuskan dia sekarang. Biar dia tahu diri.” Lastri mengangguk. “Aku mengerti, sayang. Lagipula, dia nggak pantas buat aku.” Namun sebelum Lastri sempat membuka mulut, suara dingin Rangga terdengar dari luar jendela. “Tak perlu repot-repot. Karena aku yang akan memutuskanmu, Lastri.” Suara itu tenang namun menghantam seperti petir. Ia menatap wanita yang dulu ia cintai dengan rasa muak yang tak bisa lagi disembunyikan. “Tak ada alasan untuk mempertahankan hubungan dengan pengkhianat murah seperti kau.” “Apa maksudmu?!” desis Lastri tak percaya. Namun wajahnya berubah seketika saat melihat Rangga mengangkat ponselnya—meski murah dan lusuh, benda itu kini menjadi senjata ampuh. “Kau—kau merekam kami?!” Pak Agus tersentak panik. Ia segera menyelinap ke bawah ranjang, seperti tikus ketakutan. Lastri buru-buru meraih pakaian yang berserakan di lantai, menutupi tubuhnya yang hanya berselimut selimut tipis. “Rangga! Hapus videonya! Jangan sebar, please!” teriak Lastri dengan suara gemetar. “Mas Rangga... kumohon... jangan unggah videonya,” ucapnya terbata. “Kalau orang tua lihat… aku bisa diusir…” Pak Agus juga tak kalah panik. “Kalau kau berani sebar video itu, kau akan menyesal! Aku kenal orang dalam! Bisa bikin kau lenyap!” Rangga tersenyum dingin. “Kalian sudah main belakang di belakangku, merusak hidupku. Sekarang, nikmati balasannya.” Ia simpan ponselnya ke saku dan melangkah pergi, meninggalkan dua manusia yang kini gemetar dalam ketakutan. Sesampainya di motor, Rangga menatap rumah itu satu kali lagi. Rumah kenangan yang kini tinggal reruntuhan luka. Tanpa kata lagi, ia hidupkan mesin dan melesat dalam sunyi malam yang dingin.Entah mengapa Miranda mengingat sosok Rangga yang belum lama ini di temuinya dan telah menjadikan pria dengan latar belakang sederhana itu sebagai pacar palsunya. Alasan Miranda mempercayai Rangga karena menilainya sebagai orang baik dan tidak akan mengecewakannya. Selain itu penampilan Rangga yang cukup tampan juga menjadi pilihan yang harus di pertimbangkan untuk bisa menjadi pacar palsunya. “Untuk saat ini tidak ada pertemuan yang harus dihadiri dengan membawa pasangan. Sepertinya aku tidak harus meminta bantuan Mas Rangga untuk hari ini.” Mungkin sangat aneh karena Miranda membelikan motor restorasi dan juga sejumlah uang pada Rangga. Bahkan menggratiskan biaya rumah sakit untuk ibunya Rangga yang dalam kondisi koma. Namun semua itu Miranda lakukan sebagai kompensasi karena menyebabkan motor Rangga kecelakaan dan bukan hal besar bagi Miranda yang kaya raya. Tetapi Miranda masih belum memastikan apakah Erik Penadol sudah menyerah atau tidak, sehingga masih membutuhkan bantuan
Melihat pintu kamar mandi terbuka dengan sendirinya seharusnya hanya Risma yang membukanya dari luar. Rangga sendiri baru menempati tempat tersebut dan tidak banyak tahu. Karena itu dia baru sadar jika pintu kamar mandinya tidak bisa di tutup dari dalam. “Risma apa yang kau lakukan?---” Tepat setelah pintu kamar mandi terbuka sepenuhnya Rangga akhirnya melihat tubuh telanjang Risma dan bukannya membuat anunya menurun, namun justru semakin besar lebih dari sebelumnya. Rangga ingin menggali tanah untuk bersembunyi jika bisa. Tetapi kesalahan ada pada Risma dan sepertinya ada yang salah dengan polah pikirnya saat ini. “Risma, apa yang kau lakukan dan mengapa kau tidak berbusana?” Risma terlihat malu-malu dan berkata, “Mas Rangga, kau berbohong tentang kondisimu yang impoten. Sekarang anumu berdiri karena melihat tubuhku, mengapa kau tidak meminta bantuanku. Kau tidak harus melakukan onani dan gunakan saja tubuhku.” Rangga kesulitan untuk menolak saat Risma sudah memberikan ijin p
“Risma mengapa kau tidak tidur lebih awal. Ini sudah malam dan aku juga akan tidur setelah ini!...” Rangga harus menghapus pikiran kotor di benak kepalanya dan menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Tapi dengan Risma yang bersikap manja padanya semakin membuat Rangga tidak tahan lagi. Dia bahkan semakin sulit menahan anunya yang membengkak dan jika tetap di lanjutkan, tentunya akan merusak resleting celananya. “Saat aku menunggu Mas Rangga sebelumnya, Risma sudah tidur bahkan sampai malam. Jadi akan sulit untuk tidur lebih awal, selain itu ada apa dengan posisi duduk Mas Rangga.” Risma mencuri pandang pada Rangga yang berusaha menutupi sesuatu di bagian bawah perutnya. Kemudian rasa ingin tahu membuat Risma menundukkan kepalanya dan melihat celana Rangga yang saat ini membengkak. Di tambah ekspresi wajah Rangga begitu kesakitan dan membuat Risma ingin membantunya. “Mas Rangga kau terlihat kesakitan di sana, apakah kau ingin aku memijatnya?” (Memijat matamu?!...) Rangga hanya m
Rangga yang melihat pemandangan tersebut kesulitan mengedipkan kedua matanya dan seolah takut kehilangan pemandangan yang ada di depannya. (Sial, Risma telanjang dan mengapa kami tidur di ranjang yang sama?) Rangga ingin menyentuh kembali gunung kembar milik Risma dan ingin kembali merasakan kelembutan dari tubuh seorang wanita. Tapi Rangga segera mengabaikan pikirannya tersebut dan menggali melalui ingatannya. Kemudian Rangga mengingat apa yang terjadi kemarin malam. (Sial, aku tidak mungkin melakukannya dengan Risma. Semua ini pasti mimpi dan bukankah aku memiliki kondisi impoten? Jadi bagaimana bisa aku bisa mengambil kesuciannya.) Rangga berusaha menenangkan hatinya dan berniat menutupi tubuh Risma dengan selimut di dekatnya. Akan tetapi wajah Rangga segera membeku saat menemukan sepre di dekatnya berwarna merah dan seharusnya menjadi noda darah keperawanan. Kemudian semuanya semakin jelas saat Rangga melihat ke arah paha putih salju milik Risma yang mengalir bercak darah da
Dia menatap ke arah jasad Pak Agus yang duduk kaku di kursi pengemudi, darah masih menetes dari mulutnya. Napasnya tersengal. Pandangannya beralih pada sosok pria yang dulu ia kenal—dan sekarang berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan. “Mas Rangga… aku bisa menjelaskan… semuanya tidak seperti yang kau kira…” Lastri memaksakan senyuman penuh harap di antara air mata. Ia mencoba bicara seolah sedang menyelamatkan masa depan hidupnya, meski wajahnya penuh riasan yang mulai luntur. “Aku... aku dipaksa! Mas… Pak Agus mengancamku! Aku tidak punya pilihan. Aku bahkan... bahkan menyerahkan segalanya padanya karena dia mengancam akan menghancurkan hidupku! Tapi hatiku tetap untukmu, Mas… Aku masih mencintaimu…” Ia menggenggam dadanya sendiri, berpura-pura menahan luka emosional. Air mata palsu mengalir di pipinya, basah seperti hujan manipulasi. “Mas Rangga… aku tahu kau mungkin kecewa, tapi aku tidak pernah benar-benar mengkhianatimu. Aku hanya ingin kau bahagia… meski dengan c
“Benar. Mereka gagal membunuhku... dan aku sudah membunuh mereka semua,” jawab Rangga tenang. “Sialan! Aku ditipu! Uangku hilang sia-sia!” Pak Agus murka. Ia merasa dikhianati. Dalam pikirannya, Rangga pasti bersekongkol dengan Jalok untuk menipunya. Tak terpikir olehnya bahwa Rangga bisa selamat dan membalas dendam. Sementara Lastri masih menatap penuh ketakutan. “Mas... Kau masih hidup...” Nada suaranya pelan, campuran rasa takut dan penyesalan. Entah kenapa, meski luka dan takut, ada bagian kecil di hatinya yang... merindukan Rangga. Rangga menatapnya dalam. “Benar. Aku masih hidup. Dan sekarang aku di sini… untuk mengakhiri semua ini.” "Jalok! Keluar kau!" Suara Pak Agus menggema di tengah sunyi, penuh amarah dan luka. "Aku tahu kau bersembunyi di sekitar sini! Dasar pengecut! Kau hampir membuatku mati karena mendukung bocah sialan ini!" Pak Agus berdiri goyah namun penuh murka. Dalam benaknya, pengkhianatan Jalok sangat jelas: bersekongkol dengan Rangga hingga menyebabk
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments