Mag-log inPeringatan Novel Memiliki Unsur Dewasa 18+ Tidak semua orang diberi kesempatan untuk mengubah hidupnya. Rangga, yang hidup dalam kemiskinan dan penuh hinaan, tak pernah menyangka akan menerima warisan dari seorang kultivator. “Dengan kekuatan ini, tak akan ada lagi yang merendahkanku. Tak ada wanita yang menolak, dan siapa pun yang menyinggungku akan menyesal.” Warisan itu membangkitkan rasa percaya diri dalam dirinya. Rangga tak hanya menginginkan kekayaan dan hormat, tapi juga kekuasaan mutlak—agar tak seorang pun berani mengusiknya lagi.
view moreBagian 1
“Mas, aku pinjam hapemu, ya!” teriakku pada Mas Zaki saat dia baru saja masuk kamar mandi.
“Ya!” Jeritan itu membuatku segera menyambar ponsel milik Mas Zaki yang tergeletak begitu saja di atas nakas. Kebetulan, ponselku baru saja mati sebab habis daya. Sementara aku, masih ingin melanjutkan menonton video-video tutorial make up di YouTube.
Saat aku sedang memainkan ponsel Mas Zaki, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke W******p-nya. Terlihat di jendela notifikasi bahwa Ibun, mertuaku, yang mengirimi pesan. Penasaran, aku langsung membuka pesan tersebut. Betapa tercengangnya diriku saat membaca pesan itu.
[Zak, tolong transferin Ibun dua juta. Sekarang.]
Napasku seketika memburu. Dua juta? Banyak sekali? Padahal, setahuku awal bulan kemarin saat gajian, Mas Zaki sudah mengirimkan jatah bulanan pada Ibun sebanyak satu setengah juta. Dan yang membuatku makin tambah deg-degan adalah history chat dari Ibun bersih. Pesan ini adalah pesan pertama yang diterima oleh Mas Zaki dari mamanya yang tinggal hanya sejauh 40 kilometer saja dari sini.
“Kenapa pesan-pesannya pada dihapus? Apa … Ibun memang sering minta uang?” gumamku pada diri sendiri. Adakah hal yang selama ini Mas Zaki sembunyikan dariku? Namun, kurasa mustahil. Setahun menikah, sepertinya kami sudah saling terbuka. Hanya saja, aku memang jarang membaca chat-chat di ponsel suamiku. Saat pinjam ponsel, aku hanya menggunakannya untuk buka YouTube atau berswa foto untuk diunggah ke Instagramku.
Agak gugup, kuberanikan diri untuk membalas pesan tersebut. Rasa-rasanya, Mas Zaki pasti tak akan marah apabila kusahut Ibun lewat chat. Daripada membuat wanita itu menunggu, kan?
[Buat apa, Bun?]
Pesan itu langsung centang dua biru. Aku tentu saja terperangah. Cepat sekali respon Ibun, pikirku. Berbeda apabila aku yang mengirim pesan. Kalau tidak dibalas sejam kemudian, keseringannya besok hari. Sekali lagi, aku merasa bahwa semua ini janggal. Apakah ada yang kulewatkan dari Mas Zaki maupun keluarganya dalam setahun belakangan?
[Lho, kamu kok, lancang? Tumben sekali nanya-nanya buat apa segala?]
Ulu hatiku ngilu. Mertua yang kunilai pendiam dan tak banyak tingkah itu ternyata begini sifat aslinya saat berhadapan langsung dengan Mas Zaki. Tak kuduga …. Apakah selama ini aku memang sedang menonton sandiwara?
[Maaf, Bun. Uang di ATM soalnya sudah tipis.]
Jawabanku tentu akan membuat Ibun marah. Namun, aku lebih tersulut emosi lagi sebab bagiku uang dua juta itu bukanlah hal yang kecil! Gaji Mas Zaki hanya empat juta. Semua kebutuhan bukan hanya dia yang 100% menopang, tetapi aku juga ikut membantu. Usaha berjualan masker organik dan jamu tradisional yang kupasarkan secara online menghasilkan rupiah yang lumayan. Meski tak menentu per bulannya, setidaknya masih bisa untuk beli token listrik dan bayar wifi. Sekarang, saat tengah bulan begini, Ibun malah seenaknya minta dua juta tanpa tahu alasannya untuk apa. Keterlaluan kalau menurutku.
[Dasar anak durhaka! Pasti ini hasutan istrimu, kan? Jangan menyesal kalau rumah tangga kalian bakal hancur karena kepelitan yang sudah kamu buat!]
Kepalaku seketika pening. Pandangan mata ini mendadak kabur. Hipotensi menyebabkan aku mudah oleng, apalagi jika dalam kondisi syok. Ya Allah, Ibun … kupikir beliau lembut dan penyayang. Apalagi jika kami menginap di sana. Jangankan mengomel, membunuh semut pun dia enggan. Apakah ini sisi gelapnya yang tak pernah kutahu?
Buru-buru kukeluarkan jendela pesan itu. Aku beralih ke status W* dari kontak yang tersimpan di ponsel suamiku. Feelingku kuat mengatakan, bahwa pastinya ada kejutan lain di sana.
Benar saja. Ibun baru saja mengirimkan status dua detik lalu. Aku terkejut bukan main sebab Ibu selama ini tak pernah terlihat memasang status di W******p-ku. Jangan-jangan … selama ini aku disembunyikan dari melihat statusnya?
[Ya sudah, nggak apa-apa! Lihat saja nanti. Kalau sudah pisah, pasti akan balik ke orangtua juga. Semoga Allah menghukum kalian!]
“Ven, kenapa bengong begitu?” Suara bass milik Mas Zaki yang tengah menggosok kepala basahnya dengan handuk putih menggema memenuhi telinga. Membuatku sontak makin terhenyak.
“Kok, kamu kaya orang syok gitu?” Mas Zaki menatapku aneh. Pria yang mengenakan handuk warna merah yang menutupi bagian auratnya itu lalu menyambar ponselnya dari pangkuanku.
“Kenapa, sih?” tanyanya lagi dengan suara yang penasaran. Lelaki bertubuh tinggi dengan kulit sawo matang dan brewok tipis itu kemudian duduk di sampingku. Bahkan, untuk sekadar menarik napas pun aku sulit sekali saking takutnya.
“Ibun? Astaga? Apa yang kamu balas ke Ibun, Ven? Kenapa bahasamu seperti ini?!” Suara Mas Zaki menggelegar. Membuatku serasa ingin terkena serangan jantung saja supaya tak harus menjawab pertanyaannya.
Setahun kami menikah, sore inilah kulihat mata suamiku membeliak besar. Mukanya langsung berubah merah. Terlebih suaranya yang mencelat seperti suara halilintar. Mas, Ibun … apakah kalian selama ini hanya bersandiwara di depanku?
Entah mengapa Miranda mengingat sosok Rangga yang belum lama ini di temuinya dan telah menjadikan pria dengan latar belakang sederhana itu sebagai pacar palsunya. Alasan Miranda mempercayai Rangga karena menilainya sebagai orang baik dan tidak akan mengecewakannya. Selain itu penampilan Rangga yang cukup tampan juga menjadi pilihan yang harus di pertimbangkan untuk bisa menjadi pacar palsunya. “Untuk saat ini tidak ada pertemuan yang harus dihadiri dengan membawa pasangan. Sepertinya aku tidak harus meminta bantuan Mas Rangga untuk hari ini.” Mungkin sangat aneh karena Miranda membelikan motor restorasi dan juga sejumlah uang pada Rangga. Bahkan menggratiskan biaya rumah sakit untuk ibunya Rangga yang dalam kondisi koma. Namun semua itu Miranda lakukan sebagai kompensasi karena menyebabkan motor Rangga kecelakaan dan bukan hal besar bagi Miranda yang kaya raya. Tetapi Miranda masih belum memastikan apakah Erik Penadol sudah menyerah atau tidak, sehingga masih membutuhkan bantuan
Melihat pintu kamar mandi terbuka dengan sendirinya seharusnya hanya Risma yang membukanya dari luar. Rangga sendiri baru menempati tempat tersebut dan tidak banyak tahu. Karena itu dia baru sadar jika pintu kamar mandinya tidak bisa di tutup dari dalam. “Risma apa yang kau lakukan?---” Tepat setelah pintu kamar mandi terbuka sepenuhnya Rangga akhirnya melihat tubuh telanjang Risma dan bukannya membuat anunya menurun, namun justru semakin besar lebih dari sebelumnya. Rangga ingin menggali tanah untuk bersembunyi jika bisa. Tetapi kesalahan ada pada Risma dan sepertinya ada yang salah dengan polah pikirnya saat ini. “Risma, apa yang kau lakukan dan mengapa kau tidak berbusana?” Risma terlihat malu-malu dan berkata, “Mas Rangga, kau berbohong tentang kondisimu yang impoten. Sekarang anumu berdiri karena melihat tubuhku, mengapa kau tidak meminta bantuanku. Kau tidak harus melakukan onani dan gunakan saja tubuhku.” Rangga kesulitan untuk menolak saat Risma sudah memberikan ijin p
“Risma mengapa kau tidak tidur lebih awal. Ini sudah malam dan aku juga akan tidur setelah ini!...” Rangga harus menghapus pikiran kotor di benak kepalanya dan menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Tapi dengan Risma yang bersikap manja padanya semakin membuat Rangga tidak tahan lagi. Dia bahkan semakin sulit menahan anunya yang membengkak dan jika tetap di lanjutkan, tentunya akan merusak resleting celananya. “Saat aku menunggu Mas Rangga sebelumnya, Risma sudah tidur bahkan sampai malam. Jadi akan sulit untuk tidur lebih awal, selain itu ada apa dengan posisi duduk Mas Rangga.” Risma mencuri pandang pada Rangga yang berusaha menutupi sesuatu di bagian bawah perutnya. Kemudian rasa ingin tahu membuat Risma menundukkan kepalanya dan melihat celana Rangga yang saat ini membengkak. Di tambah ekspresi wajah Rangga begitu kesakitan dan membuat Risma ingin membantunya. “Mas Rangga kau terlihat kesakitan di sana, apakah kau ingin aku memijatnya?” (Memijat matamu?!...) Rangga hanya m
Rangga yang melihat pemandangan tersebut kesulitan mengedipkan kedua matanya dan seolah takut kehilangan pemandangan yang ada di depannya. (Sial, Risma telanjang dan mengapa kami tidur di ranjang yang sama?) Rangga ingin menyentuh kembali gunung kembar milik Risma dan ingin kembali merasakan kelembutan dari tubuh seorang wanita. Tapi Rangga segera mengabaikan pikirannya tersebut dan menggali melalui ingatannya. Kemudian Rangga mengingat apa yang terjadi kemarin malam. (Sial, aku tidak mungkin melakukannya dengan Risma. Semua ini pasti mimpi dan bukankah aku memiliki kondisi impoten? Jadi bagaimana bisa aku bisa mengambil kesuciannya.) Rangga berusaha menenangkan hatinya dan berniat menutupi tubuh Risma dengan selimut di dekatnya. Akan tetapi wajah Rangga segera membeku saat menemukan sepre di dekatnya berwarna merah dan seharusnya menjadi noda darah keperawanan. Kemudian semuanya semakin jelas saat Rangga melihat ke arah paha putih salju milik Risma yang mengalir bercak darah da












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu