Share

Bab 2

Bab 2

"Maksud Mas Ibra apa?"

"Ya, pernikahan kita ini, hanya bersifat sementara. Sampai pada saat waktu yang ditentukan itu tiba, maka semuanya akan berakhir.

So, kamu tidak perlu terlalu memikirkannya, sebab pernikahan ini tak lebih hanya sekedar formalitas saja." Ibra melanjutkan kalimatnya, namun tetap saja tak membuat Arumi memahami maksudnya.

"Maksud Mas, pernikahan ini sudah ditentukan tenggang waktunya, begitu?" tanya Arumi memastikan.

"Ya, mungkin bisa disebut demikian." Ibra menjawab tanpa beban.

"Astaghfirullah ... kalau benar seperti itu, maka pernikahan ini lebih seperti praktik kawin kontrak, Mas. Bukankah hal itu terlarang?" Arumi cukup terkejut mendengar penuturan suaminya. Ia benar-benar tidak tahu-menahu tentang rencana keluarganya di balik pernikahannya dengan Ibrahim.

"Saya tidak dikontrak. Saya hanya diberi pilihan, untuk melepaskanmu saat Yusuf pulih nanti, dengan catatan jika memang tak ada cinta yang tumbuh di antara kita. Atau untuk tetap mempertahankanmu jika memang cinta itu telah tumbuh di antara kita." Ibra menyampaikan perjanjian yang ia sepakati dengan pihak keluarga.

"Lalu kenapa Mas seperti sangat yakin bahwa pernikahan ini akan segera berakhir?" tanya Arumi lebih terkesan memprotes.

"Karena saya tidak mencintaimu." Singkat, padat dan jelas jawaban yang diberikan Ibra untuk Arumi.

"Kalau begitu Arumi akan membuat Mas jatuh cinta sebelum waktu itu tiba, sehingga pernikahan ini tidak akan pernah berakhir. Karena bagi Arumi, pernikahan tak sebercanda itu, pernikahan adalah sebuah ikatan sakral, yang harus dijaga dan dipertahankan." Arumi berkata tegas, dan cukup membuat Ibra takjub. Namun detik berikutnya, segaris senyum tipis tercetak di bibir Ibra.

"Sayangnya itu mustahil terjadi," ungkapnya seraya memandang langit-langit kamar.

"Kenapa begitu, Mas?"

"Karena saya tidak percaya dengan cinta," sahut Ibra seketika membuat Arumi terhenyak. Namun kemudian ia tersenyum penuh makna.

"Bagaimana mungkin manusia tak mengenal cinta? Sementara ia diciptakan dan dihadirkan ke dunia ini dengan cinta. Cinta adalah hal pertama yang diketahui oleh manusia.

Cinta Tuhannya sejak dalam proses awal penciptaannya, cinta ibunya sejak di dalam kandungan, cinta ayahnya dalam setiap proses pendidikannya, dan cinta-cinta makhluk lainnya." Arumi sedikit berkata-kata tentang cinta.

"Kamu tidak perlu berkata-kata tentang cinta di hadapan saya, karena itu tak akan dapat mengubah presepsi saya tentang cinta. Bahkan keindahan kalimat cinta itu sendiri lah yang membuatku tak lagi mengenal cinta." Ibrahim berkata dengan nada dingin dan raut pasif. Kemudian beranjak pergi dari hadapan Arumi.

"Terserah Mas saja, yang jelas Arumi akan membuktikan pada Mas kebenaran ucapan Arumi," sahut Arumi mengiringi langkah suaminya menuju kamar mandi.

Lelaki itu sedikitpun tak menoleh atau sekedar menghentikan langkah sebagai responnya. Ia tetap melangkah seolah tak mendengar apapun terlontar dari bibir istrinya.

Arumi menghembuskan nafas kasar, "Ya Allah ... mimpi apa hamba tiba-tiba nikah sama lelaki tembok macam Pak Ibra? Leleki datar, tanpa ekspresi dan ternyata sangat menyebalkan.

Hufh ... sabar ... sabar, Arumi! Kalau suamimu tembok, maka kamu harus menjadi air. Karena batu saja bisa luluh dengan rayuan air, apalagi cuma tembok?" gumamnya menyemangati dirinya sendiri.

***PZ

Waktu saat matahari mulai bertukar posisi dengan rembulan telah tiba. Rembulan yang mencapai puncak purnamanya itu menambah keindahan di malam pernikahan Arumi dan Ibra.

Konon, waktu purnama adalah waktu terbaik untuk sepasang suami istri melaksanakan ritual tanam benih, sebab benih yang dibuahi di malam purnama diyakini akan tumbuh menjadi penerus generasi yang istimewa.

Dengan penuh kepercayaan diri, Arumi mempersiapkan dirinya untuk menyambut malam pertama pernikahannya yang bertepatan dengan malam purnama di bulan mahabbah (Dzulhijjah), bulan yang dijuluki sebagai bulan cinta, sebab di bulan itu lah, pernikahan sepasang kekasih yang dicintai Allah digelar di langit dan bumi. Bulan di mana kisah cinta Sayyidina Ali dan Sayyidah Fathimah yang begitu indah berakhir bahagia dengan akad nikah.

Arumi mematut dirinya di depan cermin. Ia tersenyum menyaksikan pantulan dirinya yang terlihat berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya ia akan mengganti baju dengan set babydoll kesayangannya sebelum tidur, malam ini ia mengganti pakaian dengan kimono seksi berbahan transparan, demi kelancaran tujuan utama dari pernikahannya.

"Bismillah ... semoga mas Ibra suka dengan penampilanku malam ini. Aku harus berusaha meluluhkan hatinya. Jika kata-kata tak mampu menyentuh hatinya, minimal tubuh ini bisa memberikan sentuhan hangat untuk tubuhnya.

Mungkin kata-kata tak dapat merubah presepsinya terhadap cinta, tapi mungkin saja sentuhan dapat mengenalkannya pada cinta.

Aku harus semangat menjalankan peran sebagai istri dengan sebaik-baiknya. Misiku untuk segera hamil dan hidup sehat harus segera terwujud. Aku tak ingin penyakit yang bersarang di rahimku ini akan menjadi parasit yang merusak tubuhku dan mempersingkat masaku di dunia. Dia harus segera dimusnahkan, dengan cara mengirim makhluk yang lebih kuat ke dalamnya, kemudian mengeluarkan mereka bersamaan." Arumi bermonolog dengan dirinya sendiri.

Setelah memastikan penampilannya oke, ia memutuskan untuk segera mengahdap sang suami. Dibukanya pintu kamar mandi perlahan, dengan jantung yang berdebar tak tertahan.

"Tenang, Arumi ... tenang ... jangan terlihat gugup, kamu pasti bisa, dan mas Ibra pasti suka. Lelaki mana yang bisa menolak pesona wanita sepertimu?" gumannya mengafirmasi positif dirinya sendiri.

Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Arumi dengan penampilan yang berbeda. Arumi terdiam dan berdiri di ambang pintu kamar mandi, mengharapkan suami yang tengah duduk santai di ranjangnya akan teralihkan fokusnya dari gawai ke arah dirinya, kemudian dengan penuh hasrat menyambut dan mendatanginya.

Namun harapan hanya tinggal harapan. Nyatanya dosen muda itu tak bergeming, ia sibuk menatap layar ponselnya dan mengabaikan Arumi yang telah siap dengan segala atribut tempurnya.

"Sabar, Arumi ... sabar ... Harusnya kamu jangan berkspektasi tinggi. Ingat, suamimu adalah lelaki tembok tercuek sejagat raya. Kamu harus berusaha ekstra untuk menarik perhatiannya, Rum!" ucapnya pada dirinya sendiri.

Arumi menghembuskan nafas, kemudian mulai berjalan mendekati suaminya. Ia duduk di hadapan lelaki berusia tiga puluh dua itu dengan menyilangkan kaki, bergaya se-sensu mungkin untuk menarik perhatian suaminya.

Sejenak Ibrahim menegang, ia melirik Arumi sekilas kemudian kembali menundukkan pandangannya, seperti seorang jomblo yang bsru saja tak sengaja melihat aurat perempuan lain, seolah lupa akan statusnya yang sudah sah menjadi suami dari seorang gadis bernama Arumi.

"Ngapain kamu duduk di situ?" tanya Ibrahim dengan suara yang sedikit bergetar, sekuat apapun ia menolak pesona wanita, ia tetaplah lelaki normal yang juga memiliki hasrat terhadap lawan jenisnya.

Arumi menyentuh kaki suaminya yang terbalut sarung, memberinya pijatan ringan di sana.

"Ini malam pertama pernikahan kita loh, Mas ... kenapa Mas Ibra malah mempertanyakan keberadaan Arumi di sini? Ini kamar kita, Mas ... kamar pengantin yang telah disiapkan sedemikian rupa untuk menyambut malam indah di hari pernikahan kita. Lihatlah sekitar, keberadaan bunga-bunga di ruangan ini untuk menjadi saksi indah dan harumnya aroma penyatuan cinta kita." Arumi yang memang pandai merangkai kata itu mulai merayu suaminya.

"Tidur dan istirahatlah!" titah Ibra tanpa memandang Arumi.

"Tapi kenapa, Mas? Apa Mas Ibra tidak berminat terhadap Arumi? Atau mungkin Mas capek, mau dipijit dulu? Atau ... penampilan Arumi tidak sesuai dengan selera Mas? Katakan, Mas ... Arumi akan segera memperbaikinya untuk Mas Ibra." Arumi tak putus asa, ia terus mendesak suaminya.

Ibrahim mulai merasa tidak nyaman dengan keberadaan Arumi yang mulai mengusik ketenangannya.

"Ya, saya memang tidak berminat denganmu, Arumi! Dan ingat, pernikahan ini hanya formalitas dan berlaku sementara, jadi jangan pernah mengharapkan apa yang terjadi pada suami istri akan terjadi pada kita berdua!" perkataam Ibrahim bagaikan sembilah pedang yang mengoyak perasaan Arumi, namun gadis dua puluh satu itu berusaha menegarkan hati.

Ia menahan tangan Ibrahim yang hendak pergi.

"Mas ...!"

"Apa lagi?"

"Pernikahan bukanlah hal bercandaan yang bisa Mas permainkan. Ada hak dan kewajiban yang harus kita penuhi sebagai suami istri. Tidak ada sebutan pernikahan hanya sebatas formalitas saja. Jika ijab qabul telah terucap, maka hak dan kewajiban itu menjadi tanggungan kita. Seharusnya Mas sebagai dosen ilmu agama lebih mumpuni dalam bidang keilmuan ini." Arumi berkata tegas, berusaha menyamarkan getaran suaranya akibat perasaan yang baru saja diremas hancur oleh suaminya sendiri.

"Lalu apa maumu?" tanya Ibra seraya mengangkat tangan dalam genggaman Arumi dan berusaha melepasnya. Namun Arumi dengan kuat menahannya.

"Penuhi hak dan kewajiban Mas, atau kita akhiri pernikahan ini!"

Bersambung ...

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status