MasukJingga dan Mataya masih menangis meski kini senyuman tak pernah lepas dari wajah mereka. Keduanya bergantian memeluk Kayla yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa.Rasa panik dan ketakutan yang sejak tadi memenuhi hati mereka perlahan berubah menjadi kebahagiaan. Tak ada yang menyangka hari ini akan berakhir dengan kabar seindah ini.Mendengar bahwa Kayla sedang mengandung membuat keduanya benar-benar bahagia. Rasanya seperti mendapatkan hadiah besar yang sudah lama mereka nantikan bersama.“Kenapa mereka seperti itu?” Dante yang sedang duduk di sofa menggelengkan kepala. “Aneh!”Sagara yang duduk di sampingnya melirik sekilas. “Itu namanya euforia kebahagiaan, Kak.”“Semua orang bahagia dengar kabar Kayla hamil... termasuk aku. Tapi nggak harus menangis seperti mereka.”“Ya karena Kak Dante bukan mereka, jadi nggak bisa menangis tersedu-sedu begitu. Lagipula Kakak belum pernah merasakan bahagianya mau punya anak.”Dante mendengkus pelan. Menurutnya, Jingga dan Mataya sangat b
Kayla tetap memaksakan pergi ke florist karena ada pelanggan yang memesan buket dengan note bahwa hanya dia yang boleh merangkainya.Sejak pagi tubuhnya terasa kurang enak badan. Kepala pusing dan perut tak nyaman. Namun Kayla memilih mengabaikannya dan tetap berangkat bekerja seperti biasanya.Hingga waktu makan siang tiba, dia tak kuat lagi berdiri. Keringat dingin membasahi keningnya dan mata pun mulai berkunang-kunang.“Kay, ini aku bawain minuman rempah hangat,” ujar Mataya yang tadi mampir karena sedang libur mengajar. Rencananya ingin mengajak sahabatnya makan siang. “Minum dulu, Kay—”Kayla pun mengangguk. Dengan bantuan Mataya, dia menegakkan tubuhnya lalu meminum minuman hangat itu. Setelahnya, dia kembali berbaring di sofa ruang kerjanya.“Kayaknya kamu butuh ke dokter deh, Kay. Makin pucat wajah kamu.” Mataya mulai khawatir dengan sahabatnya.Tangannya terangkat ke atas, mengecek suhu tubuh yang terasa hangat.Anehnya, keringat justru membasahi kening wanita itu.“Dibuat i
Suasana makan malam mendadak kisruh saat Bu Safa mengungkapkan rencananya mengajak Kayla jalan-jalan ke Eropa. Mendengar itu, Bhargava langsung menunjukkan ekspresi tidak setuju.Menurutnya, tidak ada alasan istrinya pergi sejauh itu tanpa dirinya. Apalagi perjalanan tersebut bisa memakan waktu cukup lama sementara dia harus tetap bekerja di Solo.Bu Safa tentu tidak tinggal diam. Dia bersikeras bahwa dirinya hanya ingin mengajak menantu kesayangannya berlibur dan berbelanja.Alhasil, perdebatan antara ibu dan anak itu pun tak terhindarkan. Sementara Kayla dan Pak Rayyan memilih menikmati makan malam sembari menahan tawa melihat keduanya saling beradu argumen.“Kamu tuh pelit banget, Mas. Padahal Mama cuma pengen ajak jalan-jalan Kayla selama dua minggu aja.”“Dua minggu kok cuma sih, Ma? Lama banget itu.”“Nggak bakal kerasa kalau kamu sibuk kerja. Lagian minggu depan kamu sama Papa juga bakal ke luar kota kan?”“Ya iya sih, tapi aku rencananya mau ajak Kayla.”“Eh, ya jangan dong!”
Sehari setelah kembali dari honeymoon, Kayla sudah merencanakan acara temu kangen dengan orang-orang terdekatnya. Dia menghubungi Jingga, Mataya, dan si kembar untuk berkumpul di florist miliknya.Selain ingin membagikan oleh-oleh dari Sumba, Kayla juga sudah sangat merindukan suasana ramai di toko bunganya. Beberapa hari pergi ternyata cukup membuatnya merasa kehilangan rutinitas tersebut.Yang paling dirindukannya tentu saja si kembar. Wajah gemas Dipta dan Rendra beberapa kali terlintas di kepalanya selama berada di Sumba. Apalagi setelah malam pertama pernikahannya justru dihabiskan bersama kedua bayi itu.Karena itulah, begitu menghubungi Jingga, Kayla langsung meminta sahabatnya membawa kedua putra kembarnya. Dia bahkan sudah menyiapkan hadiah khusus untuk mereka.Menjelang siang, florist itu kembali dipenuhi tawa dan obrolan hangat. Persis seperti yang diharapkan Kayla sejak pertama kali merencanakan pertemuan tersebut.“Jadi, gimana? Udah ada tanda-tanda belum?” tanya Jingga p
Hari-hari honeymoon mereka berjalan jauh lebih santai dari yang direncanakan. Setelah beberapa hari berkeliling dan menikmati keindahan Sumba, Kayla dan Bhargava merasa sudah cukup mengeksplor banyak tempat.Alhasil, sisa waktu yang mereka miliki lebih sering dihabiskan di dalam resort. Sesekali menikmati sarapan di teras kamar, memesan makanan ke kamar, atau sekedar mengobrol dengan topik random.Anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang merasa bosan. Justru kebersamaan sederhana seperti itulah yang selama ini sulit mereka dapatkan di tengah kesibukan masing-masing.Bagi Kayla dan Bhargava, honeymoon itu bukan lagi soal destinasi atau tempat wisata. Melainkan tentang menikmati waktu bersama orang yang dicintai tanpa harus memikirkan apa pun selain kebahagiaan mereka berdua.“Kok seksi amat sih, Bee!” seru Kayla. Pasalnya sang suami kini tengah memamerkan perut kotak-kotaknya di depan mata. “Mana aku habis keramas lagi.” Bibirnya mengerucut lucu.Bhargava terkekeh pelan lalu langsu
“Katanya mau ajak aku makan malam di luar? Kok kamu masih rebahan gitu, Bee. Mana nggak mandi pula.”Kayla baru saja selesai bersiap. Malam ini dia memakai dress floral berlengan pendek dengan model yang sedikit lebar di bagian lengan. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan sebuah jepit di sisi kanan.Selain cantik, penampilannya malam ini terlihat manis sekali. Siapa pun yang melihatnya pasti akan terpukau.Dan hal itulah yang membuat sang suami enggan mengajaknya keluar.“Bee, aku udah beneran lapar loh.” Kayla duduk di tepi ranjang lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Bhargava. “Kamu sakit, Bee?”Bhargava sebenarnya tidak sakit. Dia hanya masih kesal dengan kejadian sore tadi. Meski sudah berlalu beberapa jam, wajah pemuda yang berusaha berkenalan dengan Kayla itu masih teringat jelas di kepalanya.Yang membuatnya semakin tidak nyaman adalah kenyataan bahwa pemuda tersebut cukup tampan dan terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada sang istri. Memang, Kayla tidak menanggapi apa
“Bagaimana, Saksi?” tanya penghulu. Para saksi menjawab serempak, “SAH!” Seluruh tamu yang hadir di ballroom pun mengucap, “Alhamdulillah.” Sagara, yang baru saja resmi menjadikan Jingga sebagai istrinya, menunduk sejenak. Dia menyeka air mata yang lolos tanpa permisi. Katanya gak suka Jing
“Astaga, Jingga!” seru Kayla, bergegas menyusul sahabatnya yang masih berada di atas tubuh Sagara—meski ciuman tak sengaja sudah terlepas. “Kamu ngapain malah nempel gini sama Prof. Sagara sih?!” Kayla membantu Jingga bangun dan membersihkan tangannya yang terkena tanah. “Ganjen banget, sih!”Jingg
Sagara tak habis pikir dengan kelakuan Jingga pagi ini… saat langit Kota Solo sedang gelap gulita, disertai petir yang saling bersahutan dia malah memakai kacamata hitam. Kalau syal yang melilit lehernya masih masuk akal jika dia beralasan kedinginan karena hujan turun tiga hari berturut-turut. D
Apa yang pernah dikatakan Senada ternyata terbukti sekarang. Bahwa pertengkaran suami istri seringkali berakhir manis di ranjang. Apalagi jika suaminya seperti kakaknya… Sagara, yang memiliki tingkat ‘kemecuman’ setinggi langit. Jingga sampai kewalahan menghadapi permintaan suaminya. Awalnya Sagar







