LOGINNafas Jingga memburu dengan wajah panik saat turun dari mobil. Neneknya tiba-tiba menelpon dengan suara bergetar, membuatnya cemas. Terlebih lagi terdengar suara teriakan Bibi Hana yang samar-samar berkata ‘mati semua’ saat dia ingin bertanya sambungan telepon terputus dan tak bisa dihubungi lagi.
Tidak hanya Jingga yang pulang, Kayla pun ikut serta. Keduanya sama-sama takut terjadi hal buruk pada Nenek Resti. “Nek… Nenek dimana?” teriak Jingga. Baru saja dia hendak naik tangga, suara Bibi Hana menghentikannya. “Nenek ada di belakang, Non,” ujar Bibi Hana. Kayla menatap Bibi Hana dari ujung kepala sampai kaki, lalu kedua alisnya menukik. “Habis renang, Bi?” pasalnya, sekujur tubuh wanita itu basah kuyup. “Berenang di kolam ikan, lebih tepatnya, Non Kay,” jawab Bibi Hana. “Ngapain, Bi? Lagi gabut banget apa gimana?” Jingga mendekat, lalu refleks menutup hidung saat mencium bau aneh. “Ih, kok baunya kayak campuran habbatussauda dan pelet ikan sih?” Belum sempat Bibi Hana menjawab, suara Nenek Resti terdengar dari arah belakang. Jingga dan Kyala pun bergegas menuju ke sana. Dan, betapa terkejutnya mereka saat melihat Nenek Resti sedang mengambil ikan-ikan koi kesayangan Kakek Akmal menggunakan serokan. “Nenek ngapain?” Jingga duduk di tepi kolam. “Loh, ikannya kenapa nggak gerak?” Dia mengarahkan jari telunjuk ke mulut salah satu ikan. “Innalillahi… meninggalkan dunia.” Kayla melepaskan sepatunya, menyingsingkan celana lutut, lalu ikut duduk di tepi kolam. Kedua kakinya masuk ke dalam air. “Keracunan massal mereka, Nek?” tanya Jingga. “Kayaknya sih iya,” sahut Kayla lebih dulu, menunjuk ke arah busa yang memenuhi permukaan kolam. “Tuh… busa itu pasti yang bikin ikan koi meninggoy.” Nenek Resti mengangguk, membenarkan tebakan Kayla. “Tadi Nenek nggak sengaja menumpahkan sabun cuci piring ke kolam.” “Apa?!” Suara Jingga dan Kayla terdengar hampir bersamaan. “Kok bisa sih, Nek?” Untuk kedua kalinya mereka kompak bertanya. Nenek Resti mendesah frustasi sebelum mulai bercerita. “Tadi Nenek mau cuci pot-pot bunga yang akan disimpan ke gudang. Nah, Nenek lupa kalau sabunnya belum dibuka, jadi balik ke dapur kotor. Begitu mau ke taman lagi, nggak sengaja menginjak katak. Saking kagetnya, sabunnya malah tumpah ke dalam kolam.” “Umur ikan pun sudah ditentukan oleh sang Maha Pencipta,” ujar Kayla, ikut prihatin. “Menurut aku sih, Nenek nggak usah takut. Kakek gak bakal marah. Kan nggak sengaja. Lagian ikan koi bisa beli lagi.” “Ikan koi mah banyak di Solo, Kay. Tapi yang coraknya cantik-cantik begini susah carinya. Para cicit Kakek ini dirawat sejak bayi, setelah induknya meninggal pasca bertelur,” jelas Jingga. “Fotoin aja satu-satu. Nanti print, terus bawa ke toko ikan. Biar penjualnya bantu cari yang coraknya mirip.” Ide yang nggak terlalu buruk, tapi akan menyengsarakan penjual ikan. “Aku ada langganan toko ikan yang stok ikan koinya cantik-cantik coraknya.” “Ya sudah kalau gitu, bantuin foto para cicit Kakek ini sebelum dikuburkan dengan layak sesuai adat yang berlaku.” Jingga berdiri lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya. “Kalian sudah nggak ada kuliah?” tanya Nenek Resti. Jingga dan Kayla kompak menggeleng. “Tadi waktu Nenek telepon, kami lagi nunggu dosbing,” terang Jingga. “Maaf ya Nenek malah mengganggu waktu kalian,” kata Nenek Resti sungkan. “Buruan balik ke kampus lagi. Biar Bibi dan tukang kebun yang bantuin.” “Ah, nggak usah, Nek,” tolak Jingga. “Aman kok. Besok masih bisa. Nggak urgent banget.” Setelah itu, Jingga dan Kayla mulai memfoto satu per satu ikan koi sebelum dimasukan ke dalam bak. Sementara Nenek kembali menyerok ikan yang masih mengapung di kolam, dibantu Bibi Hana dan tukang kebun yang sudah berganti pakaian. “Kayaknya dia lagi hamidun deh, Jin,” ujar Kayla tiba-tiba. “Masak sih?” “Hm, perutnya besar.” Kayla menunjuk bagian tubuh dengan sok tahu—padahal yang ditunjuk itu sirip dada. “Langsung masuk surga tuh. Soalnya kata guru ngajiku dulu, meninggal dalam keadaan hamil dapat jaminan surga.” “Guru ngajimu itu guru ngajiku juga, woiii. Terus yang dimaksud itu manusia… wanita, bukan seekor ikan,” jawab Jingga kesal. “Sama-sama berjenis kelamin wanita dan sedang hamil kan? Apalagi kan nggak punya dosa. Hidupnya cuma ‘blup blup blup’, habis itu berenang,” balas Kayla santai. “Memangnya kamu tahu ikan nggak terjerumus pergaulan bebas? Dia hamidun belum nikah loh. Kakek gak pernah cerita soalnya.” sahut Jingga tak mau kalah. “Oh iya juga, ya. Berarti dia meninggal dalam keadaan penuh dosa dong.” Lihatlah kelakuan Kayla—kini menatap seekor ikan koi dengan wajah iba. “Bisa-bisanya cicit Kakek terjerumus kedalam lembah birah1.” Obrolan tidak penting itu justru sedikit mengurangi rasa gundah gulana Nenek Resti. Perihal ikan hamil saja bisa menjadi perdebatan serius, padahal mereka tidak mampu membedakan mana ikan betina dan jantan. Setelah selesai memfoto semua ikan dan air kolam mulai dibuang, bak berisi ikan koi dibawa ke pojok taman untuk dikuburkan oleh tukang kebun. Karena hari masih sore, Kayla mengajak Jingga segera ke toko ikan untuk mencari cicit Kakek Akmal yang baru. Sebelum pergi, mereka mandi lebih dulu karena bau amis dan pakaian mereka sedikit basah terkena cipratan air oleh ikan yang masih setengah hidup. *** “Coraknya harus pas ya, Pak. Atau minimal tingkat kemiripannya 80% deh.” Jingga menyerahkan print out foto para ikan. “Kalau bisa hari ini juga dapat, biar bisa langsung aku bawa pulang.” Pemilik toko ikan itu menggaruk kepalanya, bingung karena baru pertama kali ada pelanggan yang mencari ikan mirip dengan ikan peliharaan yang sudah tiada. Untungnya si bapak punya tingkat kesabaran luar biasa, jadi dia tetap mengiyakan permintaan Jingga. “Kolamnya ada di belakang, Non.” Bapak penjual ikan berjalan lebih dulu. “Tadi juga ada pelanggan yang cari ikan koi. Dia lagi di kolam, milih yang sesuai kemauan keponakannya.” “Cari yang kayak gimana, Pak?” tanya Kayla penasaran. “Ikan koi yang hidungnya mancung,” jawab si bapak. Kasihan sekali nasibnya—tokonya laris, tapi pelanggannya unik-unik. “Jadi Bapak suruh pilih sendiri aja.” “Aku baru tahu kalau ikan koi ada hidungnya,” gumam Kayla. “Bisa jadi anak durhaka yang dikutuk ibunya jadi ikan,” celetuk Jingga seenaknya. Kayla menghentikan langkah, Jingga pun ikut berhenti. “Kenapa, Kay?” “Jin, apa kamu nggak takut dikutuk Nenek Resti kalau nolak perjodohan lagi?” tanya Kayla. “Kamu pikir Nenek setega itu sama aku?” Jingga balik bertanya. “Kalau mau mah dari dulu beliau sudah kutuk aku, dan hari ini aku mati karena keracunan sabun cuci piring rasa habbatussauda.” Gelak tawa Kayla membuat bapak pemilik toko ikan menoleh—hanya sejenak, lalu kembali melangkah ke arah kolam. Tiba-tiba Jingga kebelet pipis. “Kay, aku ke toilet dulu ya.” “Hm, di sana tuh. Bersih kok toiletnya,” jawab Kayla. Baru saja Jingga melangkah melewati batu-batu kecil berwarna putih, 'pluk' ada benda lunak jatuh tepat di kepalanya. “Kay—” panggil Jingga, namun sahabatnya itu tak mendengar. Terpaksa Jingga mengangkat tangan dan mengambil entah apa yang ada di atas kepalanya. Dengan jijik dia menjepit benda itu, lalu mengangkatnya sedikit menjauh. Begitu sadar itu cicak, Jingga langsung berteriak dan melempar hewan malang itu ke sembarang arah. “Ihhhhhh, jijikkkkkk!” teriaknya histeris. Tanpa pikir panjang, Jingga berlari menyusul Kayla. Naas, kakinya terpeleset dan dia menabrak seseorang. Keduanya pun jatuh ke tanah—dengan bibir saling menempel. Jingga yang kaget terdiam beberapa saat. Hingga gigitan kecil di bibir bawahnya mengembalikan kesadarannya. “Aduh, Om–eh, Prof! Kok cium aku sih?!”Makan malam untuk merayakan ulang tahun Rendra dan Dipta akhirnya selesai. Suasana rumah masih ramai karena para tamu belum berniat pulang.Di ruang billiard, para opa dan papa memilih menghabiskan waktu bersama. Opa Kais, Opa Pandu, dan Opa Rayyan sedang bermain billiard bersama Sagara, Bhargava, dan Dante. Sesekali terdengar suara bola billiard beradu, disusul obrolan dan tawa mereka.Sementara itu, para oma memilih suasana yang lebih tenang. Oma Binar, Oma Safa, dan Oma Nindi duduk santai di ruang keluarga sambil menikmati teh dan berbagai camilan.Di dapur, para mama juga tak kalah sibuk. Jingga, Kayla, dan Mataya masih berada di sana sambil membereskan beberapa piring. Namun, pekerjaan itu justru membuat mereka semakin asyik mengobrol.Mulai dari cerita pekerjaan, kesibukan masing-masing, sampai tingkah anak-anak mereka yang semakin besar.Sementara para orang tua sibuk dengan kegiatan masing-masing, para abege pun punya kesibukan sendiri.Rendra mengajak Kavira dan Javendra naik
Kayla ternyata tidak datang hanya bersama Kavira. Beberapa staf dari florist miliknya ikut dibawa untuk membantu mengangkut bunga-bunga segar pemberian para penggemar Rendra.Begitu sampai, mereka langsung sibuk memindahkan bunga dari halaman menuju mobil pengangkut. Jingga pun ikut membantu memilah satu per satu bunga yang masih layak digunakan. Bunga yang sudah layu karena terkena panas matahari atau rusak akibat tergesek keranjang langsung dipisahkan.Sementara itu, Kavira memilih menghabiskan waktunya bersama si kembar. Gadis itu duduk nyaman sambil menikmati cookies, sementara Rendra dan Dipta sibuk bermain PS bersamanya.Sagara pun ikut menemani mereka atas perintah Jingga.Mereka trauma dengan kejadian beberapa waktu lalu. Pelipis Kavira sampai terluka gara-gara lemparan stik PS.Bukan karena Rendra dan Dipta sengaja melemparkannya pada Kavira. Saat itu, Dipta melempar stik ke arah Rendra, tetapi Rendra berhasil mengelak. Alhasil, stik tersebut justru melayang dan mengenai peli
Sepuluh Tahun KemudianJingga baru saja pulang bekerja. Hari ini ada sedikit masalah di kantor yang cukup membuat kepalanya pusing. Dia bahkan sudah membayangkan ingin segera mandi, makan, lalu beristirahat di kamar.Namun, begitu keluar dari mobil, langkah Jingga langsung terhenti.Matanya membulat melihat pemandangan di depan rumah.“Ini rumah apa pasar buah?”Hampir di seluruh halaman terdapat buah rambutan dan durian yang tersusun dalam beberapa keranjang besar.Jingga mengusap wajahnya. Kepalanya yang sejak dari kantor sudah pusing, kini terasa semakin berdenyut.Tak lama kemudian, Bi Yanti, kepala ART di kediaman mereka, keluar dari rumah. Wanita paruh baya itu mengenakan masker hingga berlapis-lapis. Bahkan, dari cara jalannya saja sudah terlihat dia berusaha menjauh dari sumber bau durian.Begitu mendekati Jingga, Bi Yanti langsung menunjuk ke arah tumpukan buah. “Dari penggemar Den Dipta, Non Jingga.”Jingga mengernyit. “Penggemar?”Bi Yanti mengangguk. Matanya menyipit, seda
Acara aqiqah putra pertama Dante dan Mataya, Javendra Adhikara Srinarendra, akhirnya digelar. Sejak pagi, kediaman mereka sudah dipenuhi kerabat dekat dan beberapa tetangga yang datang untuk mengikuti pengajian sekaligus mendoakan si kecil.Suasana berlangsung hangat dan penuh kebahagiaan. Setelah rangkaian pengajian selesai, para tamu menikmati hidangan yang sudah disiapkan.Memasuki siang hari, acara dilanjutkan dengan berbagi kebahagiaan bersama anak-anak panti. Berbagai makanan, bingkisan, dan kebutuhan lainnya telah disiapkan untuk mereka.Seluruh rangkaian acara berjalan dengan sangat lancar. Tidak ada kendala berarti, dan keluarga pun merasa lega karena hari yang sudah mereka persiapkan dengan singkat akhirnya dapat dilalui dengan penuh kebahagiaan.Sore harinya, Mataya sedang bersiap untuk acara berikutnya. Acara kali ini hanya diperuntukkan bagi keluarga inti dan sahabat-sahabat dekat mereka, sehingga suasananya jauh lebih santai dibandingkan acara pagi dan siang tadi.Sement
Setelah kembali ke kediaman, Dante sangat menikmati perannya sebagai papa baru. Hampir semua kebutuhan putranya dia urus sendiri. Mulai dari memandikan, mengganti popok, menggendong, hingga menidurkan si kecil, semuanya dilakukan dengan penuh cinta.Hanya satu yang tidak bisa dia ambil alih—menyusui. Untuk urusan itu, Dante menyerahkannya pada Mataya.Selebihnya, dia tidak ingin melewatkan satu pun momen bersama putra pertamanya. Bahkan ketika si kecil hanya menguap atau menggeliat dalam tidurnya, Dante langsung sibuk memperhatikan.Mataya sampai dibuat kagum dengan sang suami. Dia tak menyangka Dante akan sesibuk itu mengurus putra mereka. Melihat suaminya begitu telaten dan menikmati setiap momen bersama si kecil membuat hatinya terasa hangat.Baginya, Dante bukan hanya suami yang selalu menjaganya, tetapi juga papa yang begitu menikmati peran barunya.Bu Nindi baru saja masuk ke kamar cucunya. Di sana, Mataya sedang sibuk pumping, sementara Dante baru selesai memandikan putra kecil
Ruang perawatan Mataya semakin ramai setelah Rendra dan Dipta datang bersama kedua orangtuanya. Begitu melihat bayi mungil yang berada dalam gendongan Dante, mata kedua bocah itu langsung berbinar.Keduanya bahkan langsung mendekat dan berebut ingin melihat adik bayi mereka dari dekat.“Aku dulu yang gendong!”“Enggak! Aku dulu!”Mataya yang mendengar keributan itu langsung terkekeh. Namun, ketika keduanya mulai meminta izin untuk menggendong, dia buru-buru menggeleng.“Belum boleh, Sayang. Adek masih kecil banget.”Rendra langsung memasang wajah kecewa. “Tapi aku mau gendong, Mama Taya...”“Aku juga!” timpal Dipta.“Nanti kalau Adek sudah lebih besar dan kalian sudah bisa duduk anteng, baru boleh,” jawab Mataya sambil tersenyum.Kedua bocah itu akhirnya hanya bisa saling pandang. Meski kecewa, rasa penasaran mereka terhadap adik bayi tetap tak berkurang.Mereka kembali mendekat, kali ini hanya berani mengintip wajah mungil sang adik dari balik Dante.Jingga yang melihat tingkah kedua







