Share

Win-win Solution

Author: Syamwiek
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-06 19:54:54

Nafas Jingga memburu dengan wajah panik saat turun dari mobil. Neneknya tiba-tiba menelpon dengan suara bergetar, membuatnya cemas. Terlebih lagi terdengar suara teriakan Bibi Hana yang samar-samar berkata ‘mati semua’ saat dia ingin bertanya sambungan telepon terputus dan tak bisa dihubungi lagi.

Tidak hanya Jingga yang pulang, Kayla pun ikut serta. Keduanya sama-sama takut terjadi hal buruk pada Nenek Resti.

“Nek… Nenek dimana?” teriak Jingga. Baru saja dia hendak naik tangga, suara Bibi Hana menghentikannya.

“Nenek ada di belakang, Non,” ujar Bibi Hana.

Kayla menatap Bibi Hana dari ujung kepala sampai kaki, lalu kedua alisnya menukik. “Habis renang, Bi?” pasalnya, sekujur tubuh wanita itu basah kuyup.

“Berenang di kolam ikan, lebih tepatnya, Non Kay,” jawab Bibi Hana.

“Ngapain, Bi? Lagi gabut banget apa gimana?” Jingga mendekat, lalu refleks menutup hidung saat mencium bau aneh. “Ih, kok baunya kayak campuran habbatussauda dan pelet ikan sih?”

Belum sempat Bibi Hana menjawab, suara Nenek Resti terdengar dari arah belakang.

Jingga dan Kyala pun bergegas menuju ke sana.

Dan, betapa terkejutnya mereka saat melihat Nenek Resti sedang mengambil ikan-ikan koi kesayangan Kakek Akmal menggunakan serokan.

“Nenek ngapain?” Jingga duduk di tepi kolam. “Loh, ikannya kenapa nggak gerak?” Dia mengarahkan jari telunjuk ke mulut salah satu ikan. “Innalillahi… meninggalkan dunia.”

Kayla melepaskan sepatunya, menyingsingkan celana lutut, lalu ikut duduk di tepi kolam. Kedua kakinya masuk ke dalam air.

“Keracunan massal mereka, Nek?” tanya Jingga.

“Kayaknya sih iya,” sahut Kayla lebih dulu, menunjuk ke arah busa yang memenuhi permukaan kolam. “Tuh… busa itu pasti yang bikin ikan koi meninggoy.”

Nenek Resti mengangguk, membenarkan tebakan Kayla. “Tadi Nenek nggak sengaja menumpahkan sabun cuci piring ke kolam.”

“Apa?!”

Suara Jingga dan Kayla terdengar hampir bersamaan.

“Kok bisa sih, Nek?”

Untuk kedua kalinya mereka kompak bertanya.

Nenek Resti mendesah frustasi sebelum mulai bercerita. “Tadi Nenek mau cuci pot-pot bunga yang akan disimpan ke gudang. Nah, Nenek lupa kalau sabunnya belum dibuka, jadi balik ke dapur kotor. Begitu mau ke taman lagi, nggak sengaja menginjak katak. Saking kagetnya, sabunnya malah tumpah ke dalam kolam.”

“Umur ikan pun sudah ditentukan oleh sang Maha Pencipta,” ujar Kayla, ikut prihatin. “Menurut aku sih, Nenek nggak usah takut. Kakek gak bakal marah. Kan nggak sengaja. Lagian ikan koi bisa beli lagi.”

“Ikan koi mah banyak di Solo, Kay. Tapi yang coraknya cantik-cantik begini susah carinya. Para cicit Kakek ini dirawat sejak bayi, setelah induknya meninggal pasca bertelur,” jelas Jingga.

“Fotoin aja satu-satu. Nanti print, terus bawa ke toko ikan. Biar penjualnya bantu cari yang coraknya mirip.” Ide yang nggak terlalu buruk, tapi akan menyengsarakan penjual ikan. “Aku ada langganan toko ikan yang stok ikan koinya cantik-cantik coraknya.”

“Ya sudah kalau gitu, bantuin foto para cicit Kakek ini sebelum dikuburkan dengan layak sesuai adat yang berlaku.” Jingga berdiri lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya.

“Kalian sudah nggak ada kuliah?” tanya Nenek Resti.

Jingga dan Kayla kompak menggeleng. “Tadi waktu Nenek telepon, kami lagi nunggu dosbing,” terang Jingga.

“Maaf ya Nenek malah mengganggu waktu kalian,” kata Nenek Resti sungkan. “Buruan balik ke kampus lagi. Biar Bibi dan tukang kebun yang bantuin.”

“Ah, nggak usah, Nek,” tolak Jingga. “Aman kok. Besok masih bisa. Nggak urgent banget.”

Setelah itu, Jingga dan Kayla mulai memfoto satu per satu ikan koi sebelum dimasukan ke dalam bak.

Sementara Nenek kembali menyerok ikan yang masih mengapung di kolam, dibantu Bibi Hana dan tukang kebun yang sudah berganti pakaian.

“Kayaknya dia lagi hamidun deh, Jin,” ujar Kayla tiba-tiba.

“Masak sih?”

“Hm, perutnya besar.” Kayla menunjuk bagian tubuh dengan sok tahu—padahal yang ditunjuk itu sirip dada. “Langsung masuk surga tuh. Soalnya kata guru ngajiku dulu, meninggal dalam keadaan hamil dapat jaminan surga.”

“Guru ngajimu itu guru ngajiku juga, woiii. Terus yang dimaksud itu manusia… wanita, bukan seekor ikan,” jawab Jingga kesal.

“Sama-sama berjenis kelamin wanita dan sedang hamil kan? Apalagi kan nggak punya dosa. Hidupnya cuma ‘blup blup blup’, habis itu berenang,” balas Kayla santai.

“Memangnya kamu tahu ikan nggak terjerumus pergaulan bebas? Dia hamidun belum nikah loh. Kakek gak pernah cerita soalnya.” sahut Jingga tak mau kalah.

“Oh iya juga, ya. Berarti dia meninggal dalam keadaan penuh dosa dong.” Lihatlah kelakuan Kayla—kini menatap seekor ikan koi dengan wajah iba. “Bisa-bisanya cicit Kakek terjerumus kedalam lembah birah1.”

Obrolan tidak penting itu justru sedikit mengurangi rasa gundah gulana Nenek Resti.

Perihal ikan hamil saja bisa menjadi perdebatan serius, padahal mereka tidak mampu membedakan mana ikan betina dan jantan.

Setelah selesai memfoto semua ikan dan air kolam mulai dibuang, bak berisi ikan koi dibawa ke pojok taman untuk dikuburkan oleh tukang kebun.

Karena hari masih sore, Kayla mengajak Jingga segera ke toko ikan untuk mencari cicit Kakek Akmal yang baru.

Sebelum pergi, mereka mandi lebih dulu karena bau amis dan pakaian mereka sedikit basah terkena cipratan air oleh ikan yang masih setengah hidup.

***

“Coraknya harus pas ya, Pak. Atau minimal tingkat kemiripannya 80% deh.” Jingga menyerahkan print out foto para ikan. “Kalau bisa hari ini juga dapat, biar bisa langsung aku bawa pulang.”

Pemilik toko ikan itu menggaruk kepalanya, bingung karena baru pertama kali ada pelanggan yang mencari ikan mirip dengan ikan peliharaan yang sudah tiada.

Untungnya si bapak punya tingkat kesabaran luar biasa, jadi dia tetap mengiyakan permintaan Jingga.

“Kolamnya ada di belakang, Non.” Bapak penjual ikan berjalan lebih dulu. “Tadi juga ada pelanggan yang cari ikan koi. Dia lagi di kolam, milih yang sesuai kemauan keponakannya.”

“Cari yang kayak gimana, Pak?” tanya Kayla penasaran.

“Ikan koi yang hidungnya mancung,” jawab si bapak. Kasihan sekali nasibnya—tokonya laris, tapi pelanggannya unik-unik. “Jadi Bapak suruh pilih sendiri aja.”

“Aku baru tahu kalau ikan koi ada hidungnya,” gumam Kayla.

“Bisa jadi anak durhaka yang dikutuk ibunya jadi ikan,” celetuk Jingga seenaknya.

Kayla menghentikan langkah, Jingga pun ikut berhenti. “Kenapa, Kay?”

“Jin, apa kamu nggak takut dikutuk Nenek Resti kalau nolak perjodohan lagi?” tanya Kayla.

“Kamu pikir Nenek setega itu sama aku?” Jingga balik bertanya. “Kalau mau mah dari dulu beliau sudah kutuk aku, dan hari ini aku mati karena keracunan sabun cuci piring rasa habbatussauda.”

Gelak tawa Kayla membuat bapak pemilik toko ikan menoleh—hanya sejenak, lalu kembali melangkah ke arah kolam.

Tiba-tiba Jingga kebelet pipis. “Kay, aku ke toilet dulu ya.”

“Hm, di sana tuh. Bersih kok toiletnya,” jawab Kayla.

Baru saja Jingga melangkah melewati batu-batu kecil berwarna putih, 'pluk' ada benda lunak jatuh tepat di kepalanya.

“Kay—” panggil Jingga, namun sahabatnya itu tak mendengar.

Terpaksa Jingga mengangkat tangan dan mengambil entah apa yang ada di atas kepalanya.

Dengan jijik dia menjepit benda itu, lalu mengangkatnya sedikit menjauh.

Begitu sadar itu cicak, Jingga langsung berteriak dan melempar hewan malang itu ke sembarang arah.

“Ihhhhhh, jijikkkkkk!” teriaknya histeris.

Tanpa pikir panjang, Jingga berlari menyusul Kayla. Naas, kakinya terpeleset dan dia menabrak seseorang. Keduanya pun jatuh ke tanah—dengan bibir saling menempel.

Jingga yang kaget terdiam beberapa saat. Hingga gigitan kecil di bibir bawahnya mengembalikan kesadarannya.

“Aduh, Om–eh, Prof! Kok cium aku sih?!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (18)
goodnovel comment avatar
yesi rahmawati
Sagara ngintillll mulu sama jingga. Jodoh kayaknya ini
goodnovel comment avatar
Wulan Ruslan
Wah wahhh si nenek kelakuan sehari bikin rugi jutaan kira2 sikakek marah ngga tuh
goodnovel comment avatar
Huzi_toys
masih bisa digoreng gak sih tuhh ikan kan lumayan hehe
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   M-D. Babymoon

    Boyolali menjadi pilihan Mataya dan Dante untuk menghabiskan waktu babymoon mereka. Keduanya memilih sebuah villa resort yang berada di Kawasan Bukit Selo Asri, sebuah kawasan perbukitan yang sejuk dan tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota.Resort tersebut memiliki taman bunga yang dipenuhi warna-warni, kebun sayur, kebun stroberi yang bisa dikunjungi para tamu, hingga mini zoo yang membuat tempat itu terasa seperti perpaduan antara penginapan dan wisata alam.Pemandangan matahari terbit dan tenggelam dari kawasan resort juga begitu cantik. Pagi hari disambut kabut tipis dan cahaya matahari yang perlahan muncul di balik perbukitan, sementara sore harinya langit berubah keemasan sebelum matahari tenggelam.Untuk kenyamanan sang istri, Dante menyewa sebuah cabin yang dilengkapi private pool dan jacuzzi. Cabin itu juga memiliki balkon dengan pemandangan alam yang memanjakan mata.Bagi Dante, tempat itu terasa seperti pelarian kecil dari rutinitas. Tidak ada kesibukan rumah sakit, tidak ada

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   M-D. Bumil Selalu Benar

    Dua hari setelah acara tujuh bulanan, kediaman Dante dan Mataya masih terasa hangat oleh kehadiran keluarga. Bu Aisha dan Pak Hasan masih tinggal di rumah anak dan menantunya sebelum kembali ke Klaten.Sore ini, Mataya sedang bersantai di ruang keluarga. Tubuhnya bersandar nyaman pada Bu Aisha, sementara sang ibu sesekali mengelus lembut kepalanya.Di sisi lain, Pak Hasan duduk di ujung sofa sambil memijat kaki Mataya yang belakangan ini sering bengkak. Kehamilan yang semakin besar membuat Mataya mudah lelah, terutama jika terlalu banyak berjalan.“Sudah, Pak. Jangan dipijat terlalu keras,” ujar Bu Aisha sambil tetap mengusap rambut putrinya.“Sebentar lagi, Bu. Biar agak enakan kakinya,” jawab Pak Hasan sembari terus memijat.Mataya tersenyum kecil. Rasanya seperti kembali menjadi anak kecil yang sedang dimanja oleh kedua orang tuanya.Akhir pekan nanti, Dante dan Mataya berencana pergi ke Wonosobo untuk babymoon. Karena rutenya searah dengan Klaten, mereka sekalian akan mengantar Bu

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   M-D. Gender Reveal Party

    Menjelang sore, Mataya sudah selesai berganti pakaian. Dia mengenakan dress berwarna kuning yang membuat penampilannya terlihat cerah dan manis. Rambutnya dibuat curly, sementara bagian atasnya diikat ke belakang menggunakan jepit rambut yang warnanya senada dengan dress.Untuk urusan pakaian gender revel party, kali ini Mataya memilih sendiri dress yang akan dikenakannya. Belakangan ini, dia memang sedang menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan warna kuning. Mulai dari pakaian, aksesori, hingga barang-barang kecil yang menarik perhatiannya.Dan entah kenapa, warna kuning membuat suasana hatinya selalu terasa lebih ceria.Dante akhirnya masuk ke dalam rumah setelah selesai menyapa para tamu yang sudah berdatangan. Baru beberapa langkah, Bu Nindi langsung menghampirinya.“Mas, jemput Taya, ya. Dia sudah selesai bersiap di atas.”Dante mengangguk. “Iya, Mami.”Pria itu kemudian menaiki tangga menuju kamar. Penampilannya pun senada dengan sang istri. Dia mengenakan kemeja berwarn

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   M-D. Acara Tujuh Bulanan

    Kediaman Dante yang biasanya terlihat tenang kini berubah jauh lebih meriah. Mulai dari halaman depan, berbagai dekorasi bernuansa pink dan biru sudah menghiasi area rumah. Perpaduan kedua warna itu membuat suasana terasa manis sekaligus elegan, sesuai dengan acara tujuh bulanan yang akan digelar untuk Mataya.Memasuki ruang tengah, sebuah karpet tebal terbentang memenuhi sebagian besar ruangan. Area tersebut sudah dipersiapkan untuk acara pengajian yang akan dihadiri para tetangga serta anak-anak dari panti asuhan yang turut diundang.Sementara itu, suasana berbeda terlihat di halaman belakang. Area tersebut sudah disulap dengan dekorasi bergaya tropical, lengkap dengan tanaman hijau dan berbagai hiasan bernuansa santai.Bagian belakang rumah memang sengaja disiapkan untuk acara sore harinya. Setelah rangkaian acara formal selesai, Dante berencana mengadakan garden party kecil untuk sang istri. Tamu yang diundang pun hanya keluarga dekat dan sahabat-sahabat mereka.Mataya sendiri bel

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   M-D. Mirip Siapa?

    Kayla datang ke kediaman Mataya bersama Jingga. Kali ini hanya Kavira yang ikut menemani mereka, sementara si kembar sedang bermain golf bersama Daddy dan Opanya.Begitu melihat bayi mungil itu berada dalam gendongan Kayla, wajah Mataya langsung berbinar. Dia mendekat dan mengambil Kavira dengan hati-hati dari pelukan sang ibu.“Ya ampun, cantiknya anak Mama!”Mataya langsung menciumi kedua pipi gembul Kavira berkali-kali. Bayi itu hanya mengerjapkan mata, lalu menggerakkan tangan kecilnya ingin meraih wajah Mataya.“Lihat, dia sudah kenal Mamanya,” ujar Jingga sambil terkekeh.Mataya semakin gemas. Dia mengusap pipi Kavira yang lembut, kemudian kembali mengecupnya.“Pipi siapa ini? Kok gembul banget?”Kayla menjawab mewakili putri kecilnya, “Mochi itu, Mama. Tapi jangan digigit, ya.”Mataya pun langsung tergelak.Lantas Kayla dan Jingga meninggalkan bumil dan si anak bayi… menuju dapur untuk menyapa Bu Nindi, Bu Safa, dan Bu Binar.Ketiganya sedang sibuk menyiapkan berbagai keperluan

  • Dosen Galakku, Suami Rahasiaku   M-D. Mulai Tak Nyaman

    Dante memeluk Mataya dari belakang, dagunya bertumpu santai di bahu sang istri. Dia mendengarkan dengan tenang saat Mataya menceritakan sanksi yang akhirnya dijatuhkan pihak yayasan kepada Kesya.Sesekali Dante mengusap lengan istrinya, sementara Mataya terus bercerita tentang keputusan tersebut dan bagaimana suasana di sekolah setelah kejadian yang sempat menghebohkan.“Masak iya, Bang? Miss Kesya tuh nggak merasa bersalah sama sekali waktu disidang sama pihak yayasan?” ungkap Mataya heran. Kalau dirinya berada di posisi itu, mungkin sudah pingsan duluan karena malu.Ah, tapi mana mungkin Mataya menjadi pelakor?Pikiran itu buru-buru disingkirkannya. Lalu dia kembali melanjutkan ceritanya.“Ini tuh ceritanya Rina, lho. Dia kan selalu tahu segala macam gosip di sekolah.”Dante belum menanggapi. Bukan karena tidak mendengarkan, tetapi memang tidak tahu harus memberikan respons seperti apa. Toh, dia juga tidak terlalu peduli dengan gosip yang beredar di sekolah tempat istrinya mengajar.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status