LOGIN“Tu-Tuan Aiden, jangan di sini. Nanti Tuan Muda Leo dengar!” “Kalau begitu tutup mulutmu rapat-rapat, Mora. Jika anakku sampai mendengarmu, aku akan menuntut jatah servis tiga kali dalam semalam!” Jungkir balik hidup Mora Adelia dimulai saat memergoki suaminya sedang bercinta dengan sahabatnya. Mora diceraikan tanpa sepeser pun uang, dan terpaksa menjadi pengasuh putra dari konglomerat yang terkenal sadis, Aiden Romanov. Mora pikir, asal bisa mengasuh Leo Romanov dengan baik, hidupnya akan aman dan terjamin. Tapi siapa menduga, hanya dalam semalam, ia justru membuat kesepakatan gila yang menarik sisi gelap sang majikan.
View MoreTangan Mora mengepal kuat, air matanya kembali jatuh membasahi pipinya. Saat memutuskan mengambil tindakan nekat ini, dia sudah bisa memperkirakan beberapa konsekuensi pahit yang akan menimpanya. Dan ya, perkataan Aiden barusan juga termasuk salah satunya.Mora sudah tidak punya pilihan lain. Bagaimanapun, Gilang adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki, tidak mungkin Mora membiarkan adik angkatnya itu membusuk di penjara dan masa depannya hancur karena membela dirinya.“Sepertinya kau tidak berniat, ya?” desis Aiden lagi, menatap Mora dingin dengan tatapan merendahkan.“Tidak! Sa-saya berniat!” sentak Mora, memberanikan diri menatap langsung sepasang mata gelap milik Aiden.Dengan jemari gemetar, Mora meraih kerah kemejanya. Satu per satu, kancing baju itu terlepas. Kain kemejanya terbuka pelan, memamerkan ceruk leher dan kulit mulusnya di bawah pendar lampu. Mora sengaja meloloskan kemeja itu dari bahunya hingga meluncur jatuh ke lantai, menyisakan dirinya yang hanya terbalut pa
Mora langsung memohon izin keluar malam itu. Bibi Greta yang melihat wajah pucat Mora juga segera memesankan taksi online, bahkan menyelipkan beberapa lembar uang pada Mora.“Ini sedikit ongkos. Kamu tidak membawa uang saat diusir, kan? Pakai dulu,” bisik Bibi Greta ramah.Mora sangat bersyukur. Matanya berkaca-kaca saat ia berkali-kali mengucapkan terima kasih dan berjanji akan mengganti uang itu begitu menerima gaji pertamanya. Bibi Greta hanya mengangguk lembut, membiarkan Mora bergegas pergi.Setengah jam perjalanan berlalu hingga taksi berhenti di depan kantor kepolisian. Langkah kaki Mora tergesa-gesa menerobos masuk ke koridor yang dingin.Saat melangkah ke ruang pemeriksaan, ia melihat Gilang, adik angkatnya, duduk menunduk di depan dua orang polisi. Tidak ada tanda keberadaan Ronal di sana, hanya seorang pria berjas rapi duduk tenang di samping petugas membawa map tebal.“Gilang!” panggil Mora parau.Pemuda itu mendongak. Wajahnya yang biasa bersih kini dihiasi lebam kebirua
Mora menelan ludahnya susah payah. Pria bertato ular di sofa itu jelas tidak sedang bercanda.Buru-buru ditariknya fokus kembali pada balita di depannya. Ia menatap Leo yang masih merengut dengan bibir mengerucut tajam, menunjuk dua figurin di meja.“Astaga! Jadi ini jatah makan Leo?” tanya Mora heboh, pura-pura kaget.“Iya, itu punyaku! Kenapa kamu berikan pada mereka? Aku juga mau bertambah kuat, lebih kuat dari mereka!” cerca Leo galak, matanya yang bulat berair menahan kesal.Mora menahan senyum tipis melihat umpannya termakan bulat-bulat. Dia mendekatkan sendok berisi sup hangat ke depan mulut Leo, lalu berbisik pelan.“Kalau mau lebih kuat dari Superman dan Popeye, Leo harus menghabiskan supnya tanpa sisa dan jangan sampai ketahuan. Mereka akan sedih jika Leo lebih kuat dari mereka.”Mata bulat Leo bergulir melirik mainannya, lalu menatap sendok di tangan Mora. Anak itu mengatupkan bibirnya sejenak menimbang-nimbang, tapi dengan iming-iming menjadi kuat seperti superhero kesukaa
“Buka baju?”Mora menelan ludah dengan mata membulat. Apa pria ini berniat melucuti harga dirinya di tengah ruang makan sebagai hukuman atas insiden semalam?“T-Tuan … apa maksud Anda?” Suara Mora bergetar, refleks merapatkan jaket kain di dadanya.“Lepas jaket kumalmu itu,” desis Aiden dingin. “Penampilanmu merusak pemandanganku pagi ini.”“M-maaf, Tuan. Baju pelayannya agak—”“Lepas!” potong Aiden.Mora tak punya ruang untuk membantah lagi, dengan jemari gemetar ia menurunkan resleting, meloloskan jaket dari tubuhnya.Kini, kenyataan itu terpampang di depan mata. Baju pelayan cadangan yang disambarnya tadi, ternyata terlalu sempit. Kain kemeja itu tertarik tegang membungkus bagian dada Mora yang bervolume, membuat kancing paling atas tampak sangat tertekan dan nyaris melompat keluar.Pandangan tajam Aiden seketika terkunci tepat di sana. Sorot matanya tajam, memperhatikan kancing tegang di dada Mora sebelum rahang tegasnya mengeras pelan.Aiden bersandar santai, menatap wajah Mora






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.