Servis Malam si Pengasuh Cantik

Servis Malam si Pengasuh Cantik

last updateLast Updated : 2026-09-26
By:  Ruby BiruOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
4 ratings. 4 reviews
28Chapters
1.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Mora Adelia kehilangan segalanya setelah memergoki suaminya berselingkuh dengan sahabatnya. Diceraikan tanpa uang, dia menerima pekerjaan sebagai pengasuh Leo, putra konglomerat Aiden Romanov yang terkenal kejam. Mora berharap pekerjaan itu memberinya kehidupan baru. Namun, sebuah kesepakatan tak terduga dengan Aiden justru menyeretnya semakin dalam ke urusan keluarga Romanov. Mampukah Mora melindungi dirinya sekaligus mempertahankan pekerjaan yang sangat dibutuhkannya?

View More

Chapter 1

Bab 1 Servis sekretaris

“Ssst … ah, Mas disitu, lebih dalem lagi, hmmppp!”

“Gimana, Mas? Enak dan sempit punyaku, kan? Bukan kayak istrimu yang jelek, nggak sexy, dan dekil itu!"

“Gila San! Enak banget, istriku nggak bisa ngasih servis kayak kamu ini!"

Suara-suara laknat itu bergaung jelas di telinga Mora Adelia, membuatnya seketika terpaku di tempat.

Malam itu, suaminya beralasan lembur. Karena khawatir suaminya kelaparan, Mora memasak makanan kesukaannya dan mengantarkannya ke kantor setelah jam kerja habis. 

Namun, apa yang dia lihat?

Di dalam sana, di atas meja kerja, suaminya, Ronal Wijaya, sedang bergulat panas dengan Sandra, sekretarisnya sendiri.

Mora sengaja menjatuhkan wadah makanan itu ke lantai, hingga berdenting nyaring dan menghentikan aktivitas panas di dalam ruangan.

“M-Mora?! Sejak kapan kamu di sini?” Ronal terperanjat, buru-buru menarik kemejanya yang berantakan. Wajahnya pucat pasi saat melihat Mora berdiri di ambang pintu.

“Dengar dulu. Ini ... ini nggak seperti yang kamu lihat!”

“Nggak seperti yang kulihat? Lalu apa? Kalian sedang rapat kerja sambil telanjang?” sentak Mora.

“Ayolah, Ra. Jangan kekanak-kanakan! Aku ini pusing, stres mengurus proyek perusahaan yang hampir batal! Sandra hanya membantuku melepas stres. Kami hanya terbawa suasana, Mora! Ini cuma khilaf!” Ronal mengelak, suaranya meninggi menutupi rasa bersalahnya. 

“Khilaf?” Mora tertawa sumbang, air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi. 

“Dua tahun aku mengorbankan karir demi menjadi istri penurut di rumah, dan kamu menyebut pengkhianatan ini sebagai khilaf? Kau bajingan!”

Tanpa menunggu jawaban Ronal yang masih terus mengoceh mencari pembelaan, Mora berbalik dan berlari keluar dari gedung kantor. Dia pulang ke rumah dengan hati yang hancur, mengunci diri di kamar semalaman.

***

Esok paginya, Ronal baru pulang ke rumah. Pria itu masuk ke kamar dengan wajah tanpa dosa, membawa sebuah paper bag dari merek ternama dan langsung melemparnya atas ranjang di depan Mora.

“Mora, sudahlah. Jangan kekanak-kanakan sampai mengunci pintu semalaman. Itu, aku belikan baju baru yang paling mahal. Anggap saja masalah semalam selesai. Aku sudah minta maaf, kan?” ujar Ronal enteng.

Mora menatap paper bag berisi gaun itu dengan muak, lalu beralih menatap suaminya dengan dingin. 

“Aku mau kita cerai, Ronal.”

“Cerai? Kamu pikir pernikahan ini mainan? Sadar diri, Mora! Kamu itu cuma gadis yatim piatu sebatang kara. Kalau kamu cerai dariku, kamu tidak akan bisa apa-apa di luar sana! Mau makan apa kamu?”

Mendengar keributan di kamar anaknya, Rita, ibu Ronal masuk bersama kakaknya, Natali. Mora yang melihat mertuanya datang langsung mencoba mengadu, berharap setidaknya ada sesama wanita yang membelanya.

“Ibu, Ronal berselingkuh. Semalam aku memergokinya meniduri wanita lain di kantornya sendiri,” adu Mora dengan suara bergetar.

Rita terdiam sejenak, tapi bukannya terkejut atau memarahi Ronal, wanita tua itu justru menatap Mora dengan pandangan meremehkan.

“Halah, lebay kamu, Mora! Hanya karena masalah begitu saja kamu sampai teriak-teriak minta cerai?” semprot Rita ketus. 

“Ronal itu bos perusahaan, punya uang dan jabatan. Sudah hal lumrah pria kaya begitu kalau bosan di rumah! Tugasmu itu diam, terima uang, dan jadi istri yang baik. Bukan malah bikin ribut!”

“Lebay kata Ibu?” Mora tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Dia bercinta dengan wanita lain, Bu!”

“CK! Apa sih teriak-teriak! Sudahlah, Ronal! Ceraikan saja istri tidak tahu untung begini! Kerjaannya cuma bikin pusing. Lagipula selama dua tahun ini dia cuma numpang hidup gratis di rumahmu!” Natali ikut menimpali sambil bersedekap dada, memanas-manasi adiknya. 

Mora mengepalkan tangan mendengar kata numpang hidup. 

Selama dua tahun ini, Mora tidak hanya ongkang-ongkang kaki, dia membersihkan rumah, memasak, mencuci baju mereka, bahkan mengurus Alvin, anak Natali. 

Dia menjalaninya tulus atas dasar cinta, tapi di mata mereka, dia hanya numpang?

“Kamu mau cerai? Oke! Aku panggilkan pengacara sekarang juga. Kita lihat apa kamu berani tanda tangan!” decak Ronal merasa harga dirinya diinjak-injak karena Mora menolak bujukannya.

Detik itu juga, Ronal langsung menghubungi pengacaranya untuk datang dan membuat surat cerai.

Di ruang tamu, Natali diam-diam berbisik kepada sang pengacara. “Mora ini cuma numpang hidup di rumah adikku. Buat poin perjanjian yang memastikan dia pergi dengan tangan kosong!”

Ronal yang mendengar hal itu hanya diam. Pria itu sangat yakin Mora tidak akan pernah berani menandatangani surat itu.

Namun, perkiraan Ronal salah total. Begitu surat cerai diletakkan di atas meja, Mora langsung menyambar pena, menggoreskan tanda tangannya tanpa ragu.

Raut wajah Ronal langsung berubah drastis, kesal bukan main karena egonya terluka melihat Mora dengan gampang melepaskannya.

Begitu tanda tangan selesai, Rita langsung menyambar surat itu dari meja sambil tersenyum.

“Bagus! Tanda tangan sudah sah. Sekarang, angkat kaki kamu dari rumahku! Pergi!”

Rita dan Natali langsung menarik tubuh Mora, menyeretnya dengan paksa dan mendorongnya keluar. Mereka bahkan tidak mengizinkan Mora mengemas pakaiannya atau membawa tas kecilnya.

Tepat saat tubuh Mora terdorong keluar ke jalanan, langit yang semula mendung langsung menumpahkan hujan yang sangat deras.

Ronal berdiri di ambang pintu, menatap mantan istrinya yang kini basah kuyup terguyur hujan deras.

“Biarkan saja, Ronal. Paling dia cuma bertahan beberapa jam di luar sana. Lagi pula dia nggak punya uang, nggak punya siapa-siapa. Kalau sudah kelaparan dan kedinginan, dia pasti bakal mohon minta balik lagi ke sini. Biarkan dia tahu rasa!” ujar Rita sinis.

***

Berjam-jam Mora berjalan menyusuri trotoar kota dengan linglung. Kaki telanjangnya melangkah tanpa arah di bawah guyuran hujan yang tak kunjung reda.

Hingga malam sepenuhnya mengambil alih kota. Pakaian Mora yang basah kuyup menempel kaku di kulitnya, membuatnya menggigil hebat dihantam dinginnya angin malam .

Dengan langkah kaki yang mulai mati rasa dan perut yang kosong, Mora terhenti di bawah sebuah halte bus. Saat itulah, matanya yang sembab menangkap selembar brosur yang menempel agak lusuh di tiang halte.

[ DICARI PENGASUH UNTUK ANAK 5 TAHUN. ]

Gaji tinggi, disediakan tempat tinggal di dalam mansion ….

Melihat itu, Mora seolah menemukan harapan baru. Tanpa berpikir dua kali, Mora langsung pergi kesana.

Begitu tiba di sebuah mansion mewah di pinggiran kota, seorang pria paruh baya menyambutnya.

“Majikan hanya mencari pengasuh untuk anaknya, bukan dirinya. Jangan berani menggodanya! Jika kamu punya niat terselubung, mending balik kanan sekarang!”

Mora menatap pria tua itu tanpa berkedip.

Pengalaman pahit diceraikan beberapa jam lalu membuatnya tidak peduli lagi dengan lelaki, cinta, atau apa pun. Baginya saat ini, asal mendapat tempat tinggal untuk berteduh dan gaji untuk menyambung hidup, itu sudah lebih dari cukup. 

“Saya hanya ingin bekerja untuk menyambung hidup, Pak,” jawabnya datar.

“Bagus. Ayo masuk!” Pria itu berbalik membawanya masuk. 

Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba—

DOR!

Mora tersentak kaget, tubuhnya sampai limbung ke belakang dan tanpa sengaja menabrak dada bidang seorang pria. Aroma maskulin bercampur anyir darah langsung menusuk indra penciuman. 

Di bawah remang cahaya lampu, Mora mendongak, menatap wajah tegas yang kini bercipratan noda darah segar di rahangnya. Manik gelap pria itu bergulir menatap lurus ke mata Mora. Tatapan tajam tanpa ampun itu seketika membuat seluruh tubuh Mora membeku kaku.

“Kucing liar mana yang berani masuk kawasanku?” desisnya dingin.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Kimmy
Kimmy
Lanjut kk yang lebih seru cerita'a
2026-09-13 09:13:42
0
0
Callme_Tata
Callme_Tata
Next, Kak. Yang banyak updatenya, jangan bikin penasaran🫶
2026-09-12 20:57:44
0
0
Syafira
Syafira
bagus banget. semangat Thor. buat si ronal nyesel!!!
2026-09-11 12:33:33
0
0
Rifah Biy
Rifah Biy
Semoga booming ya Thor 🫶 semangat!!!!!
2026-09-10 18:37:43
0
0
28 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status