Share

Bab 44. Vivi Lupa

Author: Agniya14
last update Huling Na-update: 2025-09-22 12:04:13

Rima akhirnya tak bisa menahan diri. Dari tadi matanya tak lepas dari Vivi dan Antonio yang duduk berdampingan. Keduanya tampak serius di antara lembaran tugas yang berserakan di meja.

“Eh, Vi.” Suara Rima terdengar menggoda. “Kamu sama Antonio tuh cocok banget. Kenapa sih kalian nggak pacaran aja?”

Vivi langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengetik. Dia melirik Rima cepat-cepat, lalu menggeleng sambil pura-pura fokus lagi pada layar laptopnya. “Nggak deh, Rim,” jawabnya singkat.

“Loh, kenapa?” Rima mengernyit, benar-benar tak mengerti. “Antonio itu ganteng, pinter, secara ekonomi juga jelas bagus. Apa coba kurangnya?”

Pertanyaan itu membuat Vivi terdiam, menunduk menatap keyboard laptop. Ada jawaban yang tak mungkin bisa dia ucapkan bahwa dia sudah terikat pernikahan yang harus disimpan rapat-rapat dari siapa pun.

“Pokoknya nggak deh.” Suaranya datar, mencoba menutup percakapan.

Rima mendesah panjang, menatap Vivi
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 170. Ending

    Seminggu setelah hari yang bersejarah di rumah sakit itu, suasana di rumah baru Ciumbuleuit telah sepenuhnya berubah. Rumah yang awalnya terasa sangat luas dan sunyi, kini dipenuhi dengan kehidupan. Aroma minyak telon, bedak bayi, dan cucian bersih yang dijemur di bawah sinar matahari pagi Bandung seolah menjadi dekorasi baru yang paling indah.​Vivi duduk di kursi goyang di dalam kamar bayi yang telah mereka hias dengan stiker bintang dan awan. Di pelukannya, jagoan kecil yang mereka beri nama Gavriel Arkanza, yang berarti "Kekuatan Tuhan yang Menjadi Cahaya"—sedang tertidur lelap setelah menyusu. Vivi memandangi wajah mungil itu dengan tatapan yang tak pernah bosan. Ada rasa syukur yang mendalam menyelinap di hatinya; perjuangan melewati mual di awal kehamilan, beban ujian semester yang berat, hingga rasa sakit saat persalinan, semuanya menguap seketika setiap kali ia melihat jemari mungil Gavriel bergerak dalam tidurnya.​Pintu kamar terbuka perlahan. Giorgio masuk dengan membawa

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 169. Vivi Melahirkan

    Di dalam kamar yang sejuk, Vivi tiba-tiba terbangun. Ia tidak terbangun karena haus atau ingin ke toilet seperti biasanya, melainkan karena sebuah gelombang rasa mulas yang perlahan naik, mencengkeram perut bawahnya, lalu perlahan menghilang.​Vivi terdiam, mengatur napasnya. "Mungkin cuma kontraksi palsu lagi," batinnya mencoba tenang.​Namun, sepuluh menit kemudian, rasa itu datang lagi. Kali ini lebih kuat, menjalar hingga ke punggung bawahnya. Vivi melirik jam digital di nakas. Ia mulai menghitung. Ketika gelombang ketiga datang tepat sepuluh menit setelahnya, ia tahu ini bukan lagi latihan.​"Gio ... Giorgio ...," bisiknya sambil menyentuh lengan suaminya.​Giorgio, yang selama ini tidurnya tidak nyenyak sejak kehamilan Vivi besar, langsung terjaga sepenuhnya. Ia duduk tegak dalam sekejap. "Ya? Kenapa, Vi? Ada yang sakit? Mau ke kamar mandi?"​"Kayaknya sudah waktunya, Gio," ucap Vivi pelan, mencoba menahan rasa mulas yang mulai memuncak. "Sudah teratur, setiap sepuluh menit."​M

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 168. Persiapan

    Vivi dan Giorgio menghabiskan sore yang tenang di kamar bayi yang beraroma kayu baru dan cat segar. Mereka memutuskan untuk memberikan sentuhan personal pada dinding kamar tersebut dengan menempelkan stiker wallpaper bermotif awan dan bintang-bintang kecil yang berpendar dalam gelap.​"Sedikit ke kanan, Gio. Nah, di situ!" seru Vivi sambil mengarahkan suaminya dari kursi goyang.​Giorgio dengan telaten menempelkan stiker itu, memastikan tidak ada gelembung udara yang tersisa. "Gimana? Sudah pas belum?" tanya Giorgio sambil mundur selangkah untuk melihat hasil kerjanya.​Vivi bangkit berdiri, menghampiri Giorgio, lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sambil memandangi dinding yang kini tampak jauh lebih hidup. "Sempurna. Si Kecil pasti suka melihat bintang-bintang ini sebelum tidur nanti."​Kamar yang tadinya hanya berisi furnitur itu kini terasa jauh lebih hangat. Ada keranjang bayi yang sudah dilapisi kain lembut, boneka rajut berbentuk beruang di sudut ruangan, dan tumpukan b

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 167. Hari Terakhir Ujian

    Malam semakin larut, tapi semangat di dalam ruang belajar itu belum padam. Lala tampak mengerutkan kening, berulang kali membaca satu halaman buku yang sama sambil sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.​"Vi, bagian kebijakan fiskal ini kenapa ribet banget sih? Aku baca tiga kali masih muter-muter di kepala," keluh Lala sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak nyaris menyerah.​Vivi yang sedang merapikan catatannya menoleh. Dengan tenang, ia menarik buku Lala ke arahnya. "Sini, aku jelasin pakai cara simpel. Bayangin aja anggaran negara itu kayak anggaran belanja kamu sebulan. Kalau kamu pengeluaran lebih besar dari pemasukan, itu namanya defisit. Nah, pemerintah harus cari cara buat nutupin itu."​Vivi menjelaskan dengan sabar, suaranya lembut. Lala mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk-angguk paham. Kehamilan sepertinya tidak mengurangi ketajaman berpikir Vivi sedikit pun; justru ia terlihat lebih tenang dan sistematis.​"Gila, Vi! Kamu jelasin semenit lan

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 166. Belajar Bareng Lala

    Suasana rumah di Ciumbuleuit yang tenang menjadi saksi bisu perjuangan Vivi. Di ruang belajar yang menghadap langsung ke taman, cahaya lampu meja berpendar hangat, menyinari tumpukan diktat dan buku tebal yang terbuka lebar. ​Vivi membetulkan posisi duduknya. Punggungnya mulai sering terasa pegal, dan gerakan janin di dalam rahimnya semakin aktif seolah ikut membaca barisan materi Teori Ekonomi Makro di depannya. Ada sedikit rasa sesal di hatinya, seandainya ia tidak hamil, mungkin gelar sarjana itu sudah di depan mata dalam dua tahun. Namun, menatap perutnya yang membuncit, Vivi sadar bahwa menunda satu tahun adalah pengorbanan kecil demi kebahagiaan yang jauh lebih besar.​Terdengar ketukan pintu pelan sebelum Giorgio masuk membawa nampan kecil. Di atasnya terdapat segelas air putih hangat dan sepiring potongan buah naga serta melon yang sudah dikupas. ​"Makan buahnya yang banyak ya, Vi. Vitamin alaminya bagus buat stamina kamu dan si Kecil," ujar Giorgio sambil meletakkan nampan

  • Dosenku, Musuhku, Suamiku    Bab 165. Kedatangan Orang tua

    Pagi berikutnya, suasana rumah baru di Ciumbuleuit itu berubah menjadi sangat ramai. Suara mesin mobil yang menderu di depan pagar menandakan tamu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Bukan hanya satu, tapi dua mobil mewah sekaligus memasuki halaman luas rumah tersebut.​"Vi, Pak Gio! Orang tua kalian datang barengan!" seru Lala yang sejak tadi sudah standby di ruang tamu sambil menikmati udara pagi.​Vivi yang sedang duduk santai di ruang belajar barunya langsung bangkit perlahan. Giorgio dengan sigap merangkul pinggang istrinya, membantu Vivi berjalan menuju pintu depan.​Begitu pintu terbuka, pemandangan hangat menyambut mereka. Papa Giorgio turun dari mobil pertama bersama istrinya, sementara dari mobil kedua, Ayah dan Ibu Vivi keluar dengan wajah yang tak kalah sumringah.​"Ya ampun, ini dia penghuni rumah barunya!" seru Ibu Vivi sambil setengah berlari kecil memeluk putrinya. Ia langsung mengusap perut Vivi yang besar. "Sehat, Nak? Cucuku nggak rewel kan pindahan kemarin?"​"Sehat,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status