LOGINUntuk membuat Jingga menyatakan menyerah dalam pernikahan dan mengajukan perceraian lebih dulu, Sagara membuat perlakuan buruk kepada perempuan itu. Karena sebuah perjodohan yang tidak bisa ditolak, dia melampiaskan kekesalannya dengan menindas sang istri. Sayangnya, Jingga bukanlah lawan yang mudah untuk ditumbangkan. Meskipun Sagara bersikap menyebalkan dengan memunculkan perempuan lain dalam pernikahan mereka, dia tak gentar sedikitpun. Bahkan dengan kelapangan hatinya, dia tetap memperlakukan Sagara layaknya suami sesungguhnya saat di rumah. Ada dua kemungkinan dalam hubungan mereka pada akhirnya. Sagara yang akan bertekuk lutut pada sikap Jingga, atau Jingga yang memberikan kebebasan pada Sagara dengan sebuah perceraian. ***
View More"Berapa lama kamu akan bertahan dalam pernikahan ini?" Sagara bertanya kepada perempuan yang baru dua hari ini dinikahinya. Pernikahan yang tidak pernah diinginkan tapi harus dilakukan.
Mendengar pertanyaan itu, Jingga mendongak menatap Sagara yang sejak tadi memberikan atensi kepadanya. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, namun bukan berarti Jingga tidak peduli atau bahkan tidak menyimak. Jingga hanya memberi waktu kepada lelaki itu untuk menyelesaikan ucapannya.
"Enam bulan? Satu tahun? Atau bahkan lebih pendek dari itu. Dua bulan mungkin?" katanya melanjutkan sebelum seringaian tajam muncul di bibirnya. “Aku sarankan, kamu bisa segera mengakhiri pernikahan ini dengan cepat sehingga kamu tidak akan terluka terlalu banyak nantinya.”
Jingga masih tidak menjawab. Menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya. Setiap pergerakan Jingga tampak begitu anggun, tapi di mata Sagara, perempuan itu hanyalah pembawa kerepotan dalam hidupnya. Dan dia tidak menyukainya.
"Menyerahlah atau kamu akan merasakan bagaimana sebuah neraka yang aku ciptakan. Pernikahan ini sudah salah sejak awal. Dan tidak akan pernah berhasil karena aku tidak akan pernah mecintaimu. Toh, cepat atau lambat, kita juga akan bercerai."
Pagi ini adalah pagi pertama mereka duduk berdua di ruang makan rumah mereka sendiri setelah pulang dari rumah orang tua Sagara. Dan akhirnya setelah menahan diri, Sagara bisa menumpahkan segala rasa kesal dan berbicara serius tentang pernikahan paksaan itu dengan istrinya. Memojokkan Jingga agar perempuan itu menyudahi hubungan pernikahan mereka secepatnya.
Perjodohan yang Violet rencanakan nyatanya tak sanggup Sagara tolak. Dia dipaksa menikah dengan perempuan asing yang baru sekali dikenalnya. Usaha untuk menolak tentu saja dia lakukan, tapi ibunya adalah pemegang tahta tetinggi dalam kehidupannya. Sehingga penolakan itu tak pernah dihiraukan.
“Kalau kamu mau bercerai, kamu bisa mengajukannya. Karena aku tidak berniat untuk melakukannya.”
Jingga menyelami tatapan tajam Sagara kepadanya. Tidak bisa dipungkiri, Sagara memiliki ketampanan yang luar biasa. Alisnya tebal, hidung mancung, serta wajah yang dibingkai dengan rahang yang tegas. Cukup mampu membuat perempuan mana pun yang melihatnya jatuh hati pada lelaki itu.
“Kenapa harus aku yang menyerah kalau nyatanya yang bermasalah dalam hubungan ini adalah kamu. Kalau kamu sangat tidak menyukaiku, seharusnya sejak awal kamu mengatakan kepada Bunda dan menolak perjodohan ini.” Jingga berbicara dengan suara rendah tanpa ekspresi. Tidak ada nada penghakiman di dalamnya. “Kenapa harus menerimanya kalau pada akhirnya kamu memojokkanku dan memusuhiku?”
Jingga pernah mendengar, Sagara adalah lelaki dengan catatan sejarah percintaan yang panjang. Dia tidak suka terikat dan lebih suka kebebasan. Mengatasnamakan kebaikan, Sagara mampu menjerat banyak wanita. Tidak tahu pasti seliar apa lelaki itu di luar sana, tapi Jingga tentu sudah tahu berita itu bukanlah sebuah isapan jempol belaka. Tentu itu berbanding terbalik dengan Samudra yang tidak pernah mempermainkan wanita mana pun.
“Karena kamu yang menerima perjodohan ini, maka usahaku untuk menolak hanyalah sebuah kesia-siaan.” sanggah Sagara dengan cepat. Merasa kesal.
“Aku tidak pernah menerimanya.”
“Tapi kamu juga tidak menolak,” tegas Sagara dengan suara yang semakin dingin dan tajam.
Jingga tidak membantah. Dia memang tidak memberikan penolakan apa pun kepada ibunya saat diminta untuk menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya. Waktu itu, Jingga masih berada di luar negeri setelah menyelesaikan study-nya. Juga, masih bekerja di sebuah perusahaan di sana. Terlebih lagi, dia juga baru saja patah hati karena seorang lelaki yang dicintainya.
Namun karena tidak ada penolakan dari Jingga, sang mama menyalahartikan sikapnya. Ibunya menganggap kalau Jingga menerima perjodohan tersebut. Dan dengan cepat, pembicaraan tentang pernikahan, sehingga membuat Jingga dan Sagara terjebak di dalamnya. Sejujurnya, bagi Jingga, menikah dengan siapapun akan sama saja. Karena lelaki itu adalah pilihan sang mama, maka Jingga tidak perlu meragukannya. Terlebih lagi, dia masih membekukan hatinya karena patah hati yang dirasakan.
"Semua sudah terjadi," jawab Jingga pada akhirnya dengan pelan, "aku juga harus melepaskan semuanya untuk menjadi istrimu. Maka suka tak suka, kita nyatanya sudah terikat."
Jingga memiliki karir yang bagus di luar negeri. Di tengah menyelesaikan Tesisnya, dia hampir direkrut menjadi karyawan tetap setelah kontrak dua tahunnya selesai. Jelas, Jingga berkontribusi besar pada perusahaan. Namun pada akhirnya, dia harus merelakan karirnya untuk kembali ke Indonesia.
“Terikat denganmu?” Sagara menyeringai tajam. “Hanya dalam sebuah dokumen. Karena faktanya, kamu hanya perempuan asing yang tidak akan pernah aku izinkan mencampuri urusanku. Lagi pula, aku sudah mencintai perempuan lain."
Jingga menyeringai. Seringaian pertama pagi ini. “Aku menyangka kalau aku memiliki suami yang tegas dan tidak suka menindas perempuan. Tapi ternyata aku salah.” Jingga menggeleng kecil sambil tersenyum. Senyum manis, tapi mengandung racun di dalamnya. “Lawanmu sebenarnya bukan aku, Suamiku. Tapi Bunda. Kalau kamu tidak kuasa menolak permintaan Bunda, kenapa harus melemparkan kesalahan kepadaku?”
Sagara mengepalkan tangannya bulat sampai membuat kukunya memutih. Perempuan itu, terlalu berani kepadanya. Dia bahkan mengoloknya? Sialan!
"Aku tidak melarangmu mencintai perempuan lain. Cintai kekasihmu sebanyak yang kamu mau. Aku hanya akan berdiri di tempatku dengan peranku sebagai seorang istri."
“Menggelikan,” ucap Sagara sarkasme. “Aku tidak membutuhkan peranmu sebagai istri. Aku bisa mengurus diriku sendiri tanpa dirimu. Yang aku inginkan kamu menyerah dan kita bercerai.” Sagara tidak menyerah. Dia mengira Jingga akan melakukan permintaannya.
Reaksi Jingga begitu santai dengan kedikan bahunya. “Aku sudah bilang, kalau memang kamu nggak mau meneruskan pernikahan ini, kamu yang seharusnya mengajukan gugatan cerai. Karena aku nggak akan pernah melakukannya.”
Kalimat yang diucapkan oleh Jingga membuat Sagara kesal luar biasa. Sendok yang ada di tangannya digenggam erat untuk menyalurkan amarahnya. Dia mungkin mengira jika Jingga adalah perempuan lemah yang mudah ditindas, tapi dia salah sasaran. Nyatanya, gadis itu lebih kuat dari yang dibayangkan.
"Jangan bilang aku tidak pernah memeringatkanmu. Karena aku tidak akan bertanggung jawab atas sakit hati yang kamu rasakan nanti." Ada jeda sebentar sebelum Sagara Kembali bersuara. "Kalau begitu, lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Dan lagi, jangan sekalipun ikut campur urusanku."
Sagara menyukai kebebasan, dan sebernanya, menikah belum masuk dalam daftar rencana hidupnya. Tapi Violet melakukan semuanya ini demi untuk mengontrol putranya yang sedikit liar dibanding saudara-saudaranya yang lain. Berpegang dengan kata-kata 'demi kebahagiaan Sagara’, Violet menikahkan putranya dengan putri sahabatnya. Atau lebih tepatnya memaksa putranya untuk menikah dengan gadis pilihannya.
“Kamu yakin mampu membuatku sakit hati hanya karena perlakuan burukmu kepadaku yang akan menciptakan neraka untukku?” Senyum Jingga terbit kembali. “Kenapa aku merasa justru neraka itu kamu ciptakan untuk dirimu sendiri?” Jinggi memajukan tubuhnya sedikit berbisik. “Aku tidak akan kalah, Sagara!”
***
Sagara masuk ke dalam unitnya disambut sepi yang membelenggu. Dinding kaca masih tertutup gorden. Lampu tidak menyala, dan hanya gelap yang mampu menguasai tempat tinggalnya. Tanda kehidupan seakan lenyap tanpa bekas. Kini tujuannya hanya satu. Kamar utama.Ketika dia membuka pintu kamar, dia bisa melihat gundukan di atas kasur tertutup selimut. Langkah kakinya mendekat dan dia langsung mengecek keadaan istrinya. Menempelkan telapak tangannya pada dahi sang istri untuk sekedar mengecek suhu tubuh perempuan itu.“Nggak panas,” gumamnya kecil tak ingin mengganggu istrinya yang tengah istirahat.Lantas memilih berganti pakaian sebelum ikut bergabung dengan Jingga di dalam selimut yang sama. Menarik perempuan itu ke dalam pelukannya sebelum mengecup dahinya dengan lembut.“Kamu udah pulang? Jam berapa ini?” Merasa terusik, Jingga membuka matanya. Semakin bergelung pada pelukan sang suami.“Baru jam setengah satu.” Sagara mengusap punggung istrinya dengan lembut. “Gimana rasanya tubuh kamu
Resah itu tersimpan rapat. Meskipun ingatan tentang masa lalu terkadang masih mengusik ketenangan, tetapi Jingga berusaha mengabaikannya. Sekali lagi, masa lalu tetaplah masa lalu dan dia tidak ingin hal tersebut justru memengaruhi kehidupannya masa sekarang.“Kamu serius mau di rumah sendiri? Atau mau telpon Luna buat nemenin kamu?”Sagara sudah bertanya hal itu sejak bangun tadi sampai sekarang dia sudah siap pergi ke kantor. Badan Jingga baru terasa remuk keesokan harinya. Semalam Sagara ‘melahapnya’ sampai dia kelelahan dan sekarang dia rasanya tak bisa beranjak dari ranjang.Terlebih lagi ngilu di kakinya pun terasa tak bisa ditahan. Kini dia berbaring di atas ranjang sambil menatap suaminya yang sejak tadi sibuk bersiap-siap.“Aku janji nanti setelah meeting aku langsung pulang. Sekarang kita sarapan dulu, ya. Aku udah pesankan bubur ayam.”Kalau saja Sagara tidak memiliki pekerjaan penting yang harus dia kerjakan hari ini, maka mungkin sekarang dia akan menemani istrinya di apa
Jingga menarik napasnya panjang. Dia bahkan menutup mata untuk sekedar merasakan jantungnya yang lambat laun mulai berdetak normal. Pertanyaan Sagara bukan hal yang sulit untuk dijawab. Namun, lidahnya terasa berat untuk bersuara.“Yang,” panggil Sagara lagi saat lampu lalu lintas berubah merah.Jingga masih saja diam. Entah kenapa pertemuannya kembali dengan Brian membuatnya tergugu pilu. Masihkah dia merindukan lelaki itu? Atau masihkan dia berharap sesuatu atas pertemuan tersebut?“Jingga.” Tangan besar Sagara menyadarkan Jingga dari lamunannya. Menelan ludahnya, matanya kini mengarah para sosok laki-laki yang kini tengah menatapnya.Ekspresi Sagara tampak begitu kaku seolah ada banyak hal yang perlu dia korek dari sang istri. Sejujurnya Sagara tidak tenang. Ada resah yang berusaha dia tahan agar dia tak mengeluarkan kata-kata yang tidak perlu.Sebagai orang yang terbiasa mengeluarkan kata-kata menyebalkan, Sagara selalu mencoba untuk tidak melakukannya jika bersama sang istri. Dia
Jingga menarik napasnya panjang ketika meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya. Sagara bilang dia akan telat menjemput karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Seharusnya dia membawa mobil sendiri tadi, tetapi Sagara selalu saja melarangnya dan membuatnya harus menunggu lelaki itu hanya untuk sekedar pulang ke apartemen.Sekarang lagi-lagi Sagara harus telat menjemputnya dan dia sudah kelelahan. Jingga sudah merindukan kasur empuknya dan tubuhnya butuh mendarat di sana. Namun, kali ini dia sama sekali tidak peduli dengan larangan Sagara. Dia memilih pulang dengan taksi menuju apartemen setelah mengirimkan pesan kepada sang suami.Naasnya, sebuah kecelakaan terjadi dan melibatkan mobil-mobil di depannya beserta taksi yang ditumpanginya. Kepala Jingga terbentur dan dia mengalami luka. Matanya terasa berkunang-kunang sampai dia tak lagi mampu mempertahankan kesadarannya saat gelap menyerbunya.Suasana di luar tidak lagi kondusif. Orang-orang membantu korban kecelakaan da






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore