MasukEva menatap kembali ke arah layar. Wajah tersenyumnya perlahan memudar, ia meremas jari tangannya.
'Walau mereka musuh yang menarik... apakah kami bisa mengalahkannya ya?' pikir Eva.
Tiba-tiba terdengar suara notifikasi masuk, Eva melihat ponselnya dan terdapat sebuah pesan dari William.
[Perhatikan pertandingannya, fokus.]
Melihat pesan itu, mata Eva berkedut. Kenapa orang ini bisa tahu isi hatinya?
Eva membalas pesan tersebut.
[Menurutmu, aku ada kesempatan menang?]
Eva kembali memperhatikan pertandingannya. Tidak lama kemudian, ponsel Eva berbunyi lagi.
[Pasti ada. Belum bertanding saja masa sudah takut kalah? Jadi cuman seperti ini mental pejuang istriku?]
[sticker:kecewa]
Ujung bibir Eva sedikit terangkat hingga membentuk sebuah senyuman. Eva mengirimkan sebuah sticker kepada William.
[sticker:lempar_sendal]
Eva mematikan ponselnya. Sekarang suasana hatinya sudah mulai membaik, jadi ia
Di tengah malam, terdapat seseorang yang membuka kunci ruang CCTV dan masuk ke dalamnya. Ia membawa sebuah tas kecil yang berisikan USB beserta beberapa kabel, lalu ia mencolokkannya kepada komputer tersebut.Di layar monitor terdapat tulisan 'Transfer Berhasil!'Orang tersebut menyeringai puas saat melihat monitor tersebut. Namun, seringai itu langsung memudar begitu mendengar sebuah langkah kaki dari arah luar ruangan. Dengan cekatan, ia langsung bergegas mencabut semua colokkannya dan pergi meninggalkan ruangan CCTV, tanpa diketahui oleh siapa pun.----Keesokan harinya, Eva sedang berjalan menuju kelasnya. Saat ia berada di depan kelas, Eva mendengar suara ricuh dari dalam. Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia langsung memasuki ruang kelas tersebut."Sudah, deh ... kamu ngaku saja, waktu itu kamu dipanggil sama dosen pasti karena kamu yang nyebarin fitnah ini, 'kan?""Bukan aku! Untuk apa juga aku melakukannya? Aku ini banyak kerjaan, t
"Ke suatu tempatnya itu ... ke mana ya, Bu?"Ibu Anna tersenyum tipis. "Ke sebuah Panti Asuhan yang dekat dengan rumah ibu. Kamu tertarik?"Eva diam sejenak, ia melirik ke arah lain. "Hm ... memangnya, apa yang akan kita lakukan di sana, Bu? Apa yang bisa dilakukan oleh orang sepertiku di sana?""Banyak hal." Ia menempelkan kepalan tangan di pipi. "Kamu bisa bermain dan berinteraksi dengan anak-anak yang ada di sana. Kamu juga bisa melihat secara langsung seperti apa perkembangan kognitif anak dan perbedaannya terhadap usia yang berbeda.""Menarik, bukan? Kamu bisa terjun ke lapangan langsung daripada hanya sekedar belajar teori saja."Eva menunduk sesaat, lalu ia setengah melirik ke arah ibu Anna. "Menarik, sih ... tapi, kenapa saya?""Karena ibu mau, kamu bisa belajar untuk mempercayai orang lagi."Napas Eva tercekat, sebelum berbicara, ia menarik napasnya dalam-dalam. "Ibu ... saya mengerti dengan niat baik ibu untuk membantu saya.
Eva sedang jalan-jalan menuju kantin, ia menggerakkan kontroller kursi roda. Wajahnya sedikit murung, dan sedikit merasa kesepian dikarenakan ketidakhadiran Clara di sampingnya. Biasanya, sahabatnya ini bisa membuatnya terhibur, dan melupakan masalah yang ada. Kehadiran sahabatnya yang cerewet itu, membuat hari-hari menjadi lebih berwarna.Selama perjalanan menuju ke kantin, Eva merasakan tatapan yang tajam dari para mahasiswa kepada dirinya. Ia memang berusaha untuk tidak mempedulikan tatapan itu dan bersikap biasa saja, namun kali ini, tatapan itu jauh lebih menusuk dibandingkan sebelumnya. Eva menggenggam pegangan kursi roda dengan kuat, hingga ujung jarinya memutih.'Sial! Apa kursi roda ini nggak bisa berjalan lebih cepat? Cepat bawa aku keluar dari sini!' batinnya.Tidak lama kemudian, Eva akhirnya sampai di kantin. Ia memilih tempat yang dekat dengan jendela, dan berada di pojokan. Ia tidak ingin terlihat oleh orang-orang yang sedang berlalu lalang di sek
Di depan kantor dosen, William sedang menikmati secangkir kopi yang ia bawa, sambil menatap ke luar jendela. Melihat birunya langit yang disertai dengan awan-awan yang berjalan dengan perlahan. Pikirannya saat ini sedang dipenuhi oleh berbagai macam hal.Tetapi, lamunan itu akhirnya terpecah saat seseorang menepuk pundaknya. "Yo, brother."William mendecak. "Bisa nggak, kamu jangan panggil aku begitu? Kita ini masih di kampus, kau ingat?"Surya menutup mulut dengan tangannya. "Ups, maaf. Kebiasaan soalnya, hehe."William menghela nafas kecil, lalu ia kembali menyeruput kopi. Surya menatap sejenak cangkir yang dipegang oleh William. "Ngomong-ngomong, apa yang bapak lakukan di sini? Dan ... kenapa bapak bawa cangkir kopi keluar ruangan?"William diam sejenak, tatapannya tidak beralih sedikit pun dari jendela. "Cuman mau cari udara segar."Surya menaikkan alisnya. "Udara segar? Di sini?" Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menoleh kembali ke
Di kelas, Eva sedang mencatat beberapa poin penting yang baru saja ia pelajari. Catatan itu ia buat dengan serapi mungkin agar ia bisa dengan mudah memahaminya. Di catatan tersebut, terdapat beberapa poin yang diwarnai menggunakan stabilo, lalu terdapat beberapa tulisan yang diberi kotak.Saat sedang mencatat, Eva sesekali melirik ke arah Clara yang ada di sebelahnya. Clara menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya. Semenjak mereka dipanggil ke ruang meeting, sikap Clara yang awalnya ceria dan juga cerewet, berubah menjadi pendiam. Bahkan, saat mereka berdua bertemu saja, Clara hanya menyapanya dengan senyuman saja.Eva hendak melanjutkan mencatat lagi, tetapi ia masih tidak terbiasa dengan sikap Clara yang seperti ini. Tubuhnnya berputar hingga menghadap Clara. "Clara, kamu nggak apa-apa?" Eva menggoyangkan tangannya."Hmm ..." Clara hanya menjawab tanpa melirik sedikit pun."Kamu mau pergi ke kantin, nggak? Kita beli makanan kesukaanmu."Clar
Di sebuah kamar yang diterangi oleh lampu, William mengoleskan obat salep ke tangan Eva yang terkena pukulan. Ujung jarinya menyentuh kulit tangan sang istri dengan lembut dan hati-hati, memastikan agar tidak menimbulkan rasa nyeri.Eva tidak berkata apa-apa, ia hanya diam saja sambil menatap wajah William yang sangat serius. Alisnya sedikit menurun dan terlihat kerutan samar di dahinya. Tetapi, Eva memilih diam sambil menikmati pemandangan ini. Padahal pria ini baru saja meluapkan emosinya, tapi ia masih bisa merawat lukanya seperti ini.Terdengar sebuah suara berat yang memecah keheningan. "Kenapa kamu begitu ceroboh sampai membuat dirimu terluka, hm?"Eva menghela nafas kecil. "Aku cuman nggak mau kamu kena pukul ayahmu. Itu saja."William setengah melirik ke arah Eva, menatapnya sejenak. "Seharusnya kamu nggak perlu melakukan itu ... aku sendiri juga masih bisa menghindar, kok. Kamu lupa dengan janjimu padaku?""Aku masih ingat dengan janjiku untuk menjaga diri, tapi yang tadi itu







