แชร์

Bab 251

ผู้เขียน: Sherlys01
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-05 18:59:43

Di depan ruang meeting, Michael merapikan jasnya. Senyuman tipis terlihat di wajahnya. Setelah sekian lama, akhirnya hari yang ia tunggu-tunggu telah tiba. Hari di mana semua rencananya akan berjalan dengan lancar dan hanya memerlukan satu langkah lagi.

"Kalau semua berjalan dengan lancar, akan kupastikan kamu juga akan mendapatkan bonus tambahan dariku. Jadi, kamu juga bekerjalah dengan baik," ucap Michael, sambil menoleh ke belakang dari balik bahu.

Seorang asisten yang berdir

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 254

    Di perusahaan Vander Corp., Michael sedang mempresentasikan data saham selama beberapa bulan terakhir. Selain itu, ia juga menjelaskan mengenai rencana projek-projek yang akan datang untuk meningkatkan jumlah saham. Semua orang yang ada di ruangan tersebut mendengarkannya dengan saksama.Sedangkan Nathan, pikirannya tidak sepenuhnya terfokus pada penjelasan Michael. Ia masih memikirkan pertemuan pertamanya dengan William pada hari itu. Hari di mana dirinya tidak pernah membayangkan bahwa sang kakak yang dikaguminya akan meminta bantuan dan memberikan tugas kepadanya.Nathan melirik ke arah jari-jari tangannya yang saling tertaut. 'Kenapa Kakak memintaku melakukan tugas ini, ya? Padahal ada Kak Surya saja juga sudah cukup, kan?'Surya diam-diam menyikut lengan Nathan sehingga membuat fokus Nathan terpecah dan menoleh ke arahnya. Surya menyentakkan dagunya ke arah Michael yang menandakan bahwa ia harus tetap fokus mendengarkan presentasi Michael secara saksama.

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 253

    William menunggu jawaban Nathan dengan sabar. Ia sengaja memberikan sedikit waktu untuk Nathan berbicara karena ia tahu bahwa hari ini adalah pertemuan pertama mereka secara pribadi. Ia yakin kalau Nathan juga merasa sangat gugup.Nathan mengusap punggung tangannya yang semakin berkeringat. Bahkan ia juga tidak berani menatap William secara langsung. Butuh waktu sedikit lama hingga akhirnya ia berhasil mengumpulkan semua keberaniannya."Itu karena… aku ingin tahu lebih banyak tentang Kakak."William menaikkan sebelah alisnya."A-aku tahu kalau tindakanku ini mungkin membuat Kakak merasa nggak nyaman. Tapi percayalah, aku mencari tahu informasi Kakak hanya untuk keperluan pribadi, seperti..."Nathan diam sejenak. Ia menelan ludahnya sendiri. "Seperti… bagaimana cara Kakak menghadapi masalah seorang diri?"Nathan merasakan jantungnya semakin berdebar kencang. Ia sudah bersusah payah untuk menyiapkan kata-kata yang tidak menyinggu

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 252

    Beberapa hari sebelum pertemuan dengan investor di perusahaan Vander Corp., William berada di sebuah ruangan VIP di restoran yang terkenal akan kemewahannya. Ia sedang duduk di meja yang tidak terlalu besar yang terletak di dekat pintu. Ia sedang mengetik laporan penelitian di laptopnya. Pandangannya lurus ke arah layar laptop dan ia juga mengenakan sebuah kacamata yang dilengkapi dengan pelindung sinar UV.Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. William melirik ke arahnya sekilas, lalu pandangannya beralih kembali ke arah layar laptopnya. Seseorang datang mendekat ke mejanya."Aku sudah datang, Kakak. Kau sudah lama menungguku?"William tidak langsung menjawab. Ia menekan tombol sleep pada laptopnya, kemudian menutupnya. "Nggak juga. Aku juga baru sampai di sini sekitar 10 menit yang lalu.""Baru sampai tapi sudah sibuk dengan penelitianmu, eh?"William melepaskan kacamatanya. "Kenapa masih berdiri? Kamu mau kita ngobrol sambil berdiri

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 251

    Di depan ruang meeting, Michael merapikan jasnya. Senyuman tipis terlihat di wajahnya. Setelah sekian lama, akhirnya hari yang ia tunggu-tunggu telah tiba. Hari di mana semua rencananya akan berjalan dengan lancar dan hanya memerlukan satu langkah lagi."Kalau semua berjalan dengan lancar, akan kupastikan kamu juga akan mendapatkan bonus tambahan dariku. Jadi, kamu juga bekerjalah dengan baik," ucap Michael, sambil menoleh ke belakang dari balik bahu.Seorang asisten yang berdiri di belakang Michael hanya mengangguk dan tersenyum kecut. Entah apa yang ada di pikirannya, ia hanya menatap Michael dengan datar saja. Tidak ada ekspresi senang ataupun semangat karena bosnya akan memberinya bonus.Namun, Michael tidak memedulikan hal itu. Ia sudah terbiasa dengan sifat pendiam sang asisten. Selama asistennya sudah melakukan pekerjaan dengan sangat baik, baginya itu sudah cukup. Ia tidak peduli pada hal-hal yang ada di luar pekerjaannya."Ayo, kita masuk."

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 250

    "Sial! Apa anak itu sama sekali belum melakukan pergerakan apa pun?"Michael melempar tablet miliknya ke atas meja kerjanya, merasa kesal karena ia masih belum menemukan tanda-tanda pergerakan dari William. Sudah beberapa hari ini ia terus mengawasi William secara diam-diam. Namun, hal-hal yang ia temukan hanyalah kepergiannya ke pasar, mal, maupun tempat-tempat umum lainnya.Michael menoleh ke arah lain. "Atau jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku sedang mengawasi gerak-geriknya?"Di detik berikutnya, Michael menggelengkan kepalanya. "Nggak. Itu nggak mungkin. Dia itu hanyalah anak yang jarang sekali bersosialisasi dengan orang lain.""Bisa dipastikan kalau dia nggak punya kenalan yang memiliki kemampuan intel yang hebat. Hanya seorang dosen biasa saja… pasti kenalannya juga nggak jauh-jauh dari seorang profesor, kan?"Michael bangkit berdiri dan hendak keluar dari ruang kantornya. Begitu ia hampir sampai di dekat pintu, pintu itu tiba-tib

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 249

    Di tengah malam, William sedang tertidur di meja kerjanya. Ia terbangun karena mendengar suara petir yang menyambar dengan kencang. Ia mengerjapkan matanya, lalu melihat ke sekeliling. William mengernyitkan dahinya, lalu memegang kepalanya yang mulai berdenyut."Sepertinya… aku ketiduran dalam waktu yang cukup lama," gumamnya pelan.William menoleh ke arah meja kerjanya yang penuh dengan lembaran kertas penelitian ataupun jurnal. Laptopnya pun masih menyala dan menampilkan penulisan-penulisannya tentang penelitiannya yang hendak dilakukan di masa yang akan datang. Ia merapikan mejanya dan menekan tombol sleep mode pada laptopnya karena ia masih memerlukannya ketika hari sudah pagi nanti.Seusai membereskan meja, William masuk ke dalam kamar. Begitu pintu kamar terbuka, alangkah terkejutnya dirinya saat melihat Eva tidak ada di kasurnya, melainkan ada di sudut kamar—sebelah kasur— sambil memeluk bantal dengan erat. Napasnya terengah-engah. Mata

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 105

    Setelah suasana hati Eva membaik, Eva beristirahat sejenak dan memainkan game MoLa. Kemudian, ia lanjut belajar hingga larut malam.Keesokan harinya, Eva pergi ke kampus tetapi kali ini ia sama sekali tidak membawa tas atau buku satu pun, hanya ada satu pulpen saja. Clara menghampiri

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 93

    Setelah berdebat dengan seorang dosen, Eva dan Clara masuk kembali ke dalam kelas, dikarenakan waktu istirahatnya sudah usai. Mereka melanjutkan perkuliahan tanpa istirahat sedikit pun, sehingga hal ini membuat Eva sulit berkonsentrasi."Eva ..."Eva menoleh ke arah Clara. "Hm

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 7

    Mereka semua saling memandang, lalu salah satu suster menoleh ke arah Eva.'Bukannya dia pasien yang baru saja dipindahkan?' pikirnya."Maaf, anda mau bawa kemana pasien kami?" ucap salah satu suster.Eva mengenali suara itu dan tubuhnya pun menegang. Tiba-tiba William merasakan sebuah getaran pada

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 6

    Suster tersebut mendengus kesal, ia memegang pinggangnya."Ternyata kamu cukup pintar juga. Benar, kami ingin mengusirmu dari kamar ini."Eva menyipitkan matanya, "atas dasar apa kalian bisa mengusirku? Pak William sudah membayar biaya administrasinya!"Mereka saling memandan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status