Chapter: Bab 248Di kediaman keluarga Brown, Chloe sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia sedang menunggu kabar dari sang ibu. Apakah ibunya berhasil membujuk ayahnya untuk mempertemukan mereka dengan seorang pewaris keluarga Vanderbilt?Chloe menggoyangkan kakinya. Ia sesekali juga melirik ke arah arlojinya yang terbalut di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul empat sore. Ia mendengus kecil."Sudah jam segini, kenapa Ibu masih belum pulang juga, sih?"Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu rumah terbuka. Chloe langsung menoleh ke belakang dari balik bahunya. Terlihat Amelia sedang menaruh sepatu hak tingginya di rak sepatu. Chloe, yang merasa senang akan kepulangan ibunya, langsung menghampirinya."Ibu! Akhirnya Ibu pulang juga. Bagaimana keadaannya di sana? Ayah mau membantu kita, kan?"Amelia melirik sekilas ke arah Chloe. Ekspresinya terlihat datar, tetapi terdapat kekesalan dalam sorot matanya. Ia menghembuskan napas panjang."Nanti saja ki
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: Bab 247"Ayah, kenapa kamu nggak bisa memenuhi keinginan kita? Apa maksudmu sebenarnya?"Di ruang kantor, Mason sedang duduk di meja kerjanya sambil menatap layar komputernya dengan serius. Ia sama sekali tidak melirik ke arah Amelia."Untuk apa kamu ingin bertemu dengannya? Apa kamu nggak tahu kalau pewaris itu sudah menjadi orang besar yang sulit untuk didekati?"Amelia menumpukan kedua tangannya di meja kerja Mason. "Tentu saja, untuk menarik dia ke dalam keluarga kita. Selama keluarga Vanderbilt mau menjadi bagian dari keluarga besar kita, sudah pasti nggak akan ada orang lain yang berani mengganggu kita."Mason mendecak kesal. "Dengar ya, perusahaan kita saat ini juga sudah mendapatkan investasi besar dari keluarga Vanderbilt. Ini juga sudah termasuk keuntungan yang sangat besar bagi kita. Jadi, jangan sampai tindakanmu ini bisa mengakibatkan kita kehilangan kerja sama dengannya."Amelia menyilangkan kedua tangannya di depan. "Cuma investasi doang, ap
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: Bab 246Di ruang makan, William baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Ia melihat Eva yang sudah duduk di kursinya. Di meja sudah tersedia cukup banyak menu makanan yang siap disantap. William menarik kursi kosong dan duduk di sebelah Eva."Sudah selesai mandinya? Kenapa lama sekali?"William tersenyum tipis sambil mengambil alat makannya. "Masa sih lama? Padahal aku mandi seperti biasa, kok. Atau jangan-jangan kamu yang terlalu rindu padaku, jadi kamu merasa lama?""Ihh... kegeeran banget kamu." Eva memukul tangan William dengan manja.William terkekeh-kekeh. Ia mengambil beberapa lauk, lalu menaruhnya di piring Eva. "Nih, makan dulu yang banyak ya, sayang. Kamu sudah melalui banyak hal sendirian, jadi kamu harus menghadiahkan tubuhmu dengan makan yang banyak dan juga sehat."Eva tersenyum lebar. "Terima kasih banyak, sayang. I love you so much."William mengecup singkat pipi Eva dengan gemas. "I love you too."Sembari makan, William
Last Updated: 2026-05-26
Chapter: Bab 245Sesampainya di rumah, William baru saja meletakkan tasnya di gantungan. Kemudian, ia dikagetkan oleh kehadiran Eva yang telah menantikan kepulangannya.Eva merentangkan tangannya. "Sayang, akhirnya kamu sudah pulang."William terkekeh kecil, lalu ia menggendong Eva. "Ada apa ini? Tumben sekali menyambutku seperti ini."Eva menggesekkan ujung hidungnya di pipi William dengan manja. "Aku sangat bosan menghabiskan waktu sendirian di rumah. Biasanya kita selalu berangkat ke kampus bareng dan pulang bareng. Jadi, tanpa kamu di sini, rasanya sangat sepi.""Jadi, kamu merindukanku?"Eva tersenyum lebar. "Tentu saja. Aku selalu merindukanmu kalau kita berpisah."William tertawa kecil. Semua perasaan lelah dan juga cemas menghilang begitu saja ketika ia melihat Eva yang tersenyum di hadapannya. Karena Eva selalu tahu cara untuk membuatnya merasa senang dan juga bahagia.William mencubit ujung hidung Eva. "Sekarang ini kamu sudah semakin pandai
Last Updated: 2026-05-25
Chapter: Bab 244"Ngomong-ngomong, tadi pagi aku dapat kabar dari Kenneth kalau rencana dari kakak ipar sudah berhasil dieksekusi. Kamu sudah tahu, belum?"William, yang sambil menyetir, menoleh sekilas ke arah Surya. "Tadi sempat dapat pesannya, tapi aku belum sempat baca keseluruhan. Apa katanya?""Semalam ada seorang petugas yang sedang menyiapkan makan malam untuk para tahanan. Tapi dia sempat memasukkan racun mematikan di makanan Ibu Ruth. Untungnya, Ibu Ruth cukup cerdas dan dia langsung menangkap bahwa ada sesuatu yang aneh dengan gerak-geriknya. Jadi, nggak dimakan, cuma ditarik aja ke dalam untuk memperlihatkan seolah-olah dia mau makan.""Setelah petugas itu pergi, ada petugas lain yang datang dan menukar makanan tersebut. Makanan yang diberikan racun langsung dibawa ke tempat investigasi untuk diperiksa dan ternyata benar kalau di makanan serta di minuman itu ada racunnya."William mengerutkan dahinya. "Dia beritahu semua itu melalui pesan? Niat sekali dia."
Last Updated: 2026-05-23
Chapter: Bab 243Petugas itu berdiri dengan lutut yang gemetaran. "Tu— tunggu sebentar, Pak. Saya bisa menjelaskan semuanya."Tiba-tiba muncul dua orang polisi dari belakang yang mencengkeram bahu dan tangannya dari kedua sisi, lalu menekannya ke lantai. Petugas tersebut tidak bisa bergerak karena seluruh tubuhnya sudah ditahan oleh mereka dengan baik.Ia tidak pernah menyangka bahwa rencana yang sudah ia lakukan secara diam-diam bisa ketahuan seperti ini. Apakah ini juga menjadi alasan mengapa Ibu Ruth masih hidup sampai detik ini?Seorang atasan—yang mengenakan seragam dan berjenggot—berjongkok di depannya. "Apakah kamu bertanya-tanya kenapa rencanamu meracuni seorang tahanan bernama Ruth bisa ketahuan oleh kami?""Karena kami sudah mengawasimu cukup lama. Kami juga merasakan ada sesuatu yang janggal dengan perilakumu belakangan ini. Karena itulah kami sengaja memberimu ruang untuk bertindak dan melihat apa saja yang akan kamu lakukan."Seorang
Last Updated: 2026-05-22