LOGINBeberapa hari sebelum pertemuan dengan investor di perusahaan Vander Corp., William berada di sebuah ruangan VIP di restoran yang terkenal akan kemewahannya. Ia sedang duduk di meja yang tidak terlalu besar yang terletak di dekat pintu. Ia sedang mengetik laporan penelitian di laptopnya. Pandangannya lurus ke arah layar laptop dan ia juga mengenakan sebuah kacamata yang dilengkapi dengan pelindung sinar UV.
Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. William melirik ke arahnya
Beberapa hari sebelum pertemuan dengan investor di perusahaan Vander Corp., William berada di sebuah ruangan VIP di restoran yang terkenal akan kemewahannya. Ia sedang duduk di meja yang tidak terlalu besar yang terletak di dekat pintu. Ia sedang mengetik laporan penelitian di laptopnya. Pandangannya lurus ke arah layar laptop dan ia juga mengenakan sebuah kacamata yang dilengkapi dengan pelindung sinar UV.Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. William melirik ke arahnya sekilas, lalu pandangannya beralih kembali ke arah layar laptopnya. Seseorang datang mendekat ke mejanya."Aku sudah datang, Kakak. Kau sudah lama menungguku?"William tidak langsung menjawab. Ia menekan tombol sleep pada laptopnya, kemudian menutupnya. "Nggak juga. Aku juga baru sampai di sini sekitar 10 menit yang lalu.""Baru sampai tapi sudah sibuk dengan penelitianmu, eh?"William melepaskan kacamatanya. "Kenapa masih berdiri? Kamu mau kita ngobrol sambil berdiri
Di depan ruang meeting, Michael merapikan jasnya. Senyuman tipis terlihat di wajahnya. Setelah sekian lama, akhirnya hari yang ia tunggu-tunggu telah tiba. Hari di mana semua rencananya akan berjalan dengan lancar dan hanya memerlukan satu langkah lagi."Kalau semua berjalan dengan lancar, akan kupastikan kamu juga akan mendapatkan bonus tambahan dariku. Jadi, kamu juga bekerjalah dengan baik," ucap Michael, sambil menoleh ke belakang dari balik bahu.Seorang asisten yang berdiri di belakang Michael hanya mengangguk dan tersenyum kecut. Entah apa yang ada di pikirannya, ia hanya menatap Michael dengan datar saja. Tidak ada ekspresi senang ataupun semangat karena bosnya akan memberinya bonus.Namun, Michael tidak memedulikan hal itu. Ia sudah terbiasa dengan sifat pendiam sang asisten. Selama asistennya sudah melakukan pekerjaan dengan sangat baik, baginya itu sudah cukup. Ia tidak peduli pada hal-hal yang ada di luar pekerjaannya."Ayo, kita masuk."
"Sial! Apa anak itu sama sekali belum melakukan pergerakan apa pun?"Michael melempar tablet miliknya ke atas meja kerjanya, merasa kesal karena ia masih belum menemukan tanda-tanda pergerakan dari William. Sudah beberapa hari ini ia terus mengawasi William secara diam-diam. Namun, hal-hal yang ia temukan hanyalah kepergiannya ke pasar, mal, maupun tempat-tempat umum lainnya.Michael menoleh ke arah lain. "Atau jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku sedang mengawasi gerak-geriknya?"Di detik berikutnya, Michael menggelengkan kepalanya. "Nggak. Itu nggak mungkin. Dia itu hanyalah anak yang jarang sekali bersosialisasi dengan orang lain.""Bisa dipastikan kalau dia nggak punya kenalan yang memiliki kemampuan intel yang hebat. Hanya seorang dosen biasa saja… pasti kenalannya juga nggak jauh-jauh dari seorang profesor, kan?"Michael bangkit berdiri dan hendak keluar dari ruang kantornya. Begitu ia hampir sampai di dekat pintu, pintu itu tiba-tib
Di tengah malam, William sedang tertidur di meja kerjanya. Ia terbangun karena mendengar suara petir yang menyambar dengan kencang. Ia mengerjapkan matanya, lalu melihat ke sekeliling. William mengernyitkan dahinya, lalu memegang kepalanya yang mulai berdenyut."Sepertinya… aku ketiduran dalam waktu yang cukup lama," gumamnya pelan.William menoleh ke arah meja kerjanya yang penuh dengan lembaran kertas penelitian ataupun jurnal. Laptopnya pun masih menyala dan menampilkan penulisan-penulisannya tentang penelitiannya yang hendak dilakukan di masa yang akan datang. Ia merapikan mejanya dan menekan tombol sleep mode pada laptopnya karena ia masih memerlukannya ketika hari sudah pagi nanti.Seusai membereskan meja, William masuk ke dalam kamar. Begitu pintu kamar terbuka, alangkah terkejutnya dirinya saat melihat Eva tidak ada di kasurnya, melainkan ada di sudut kamar—sebelah kasur— sambil memeluk bantal dengan erat. Napasnya terengah-engah. Mata
Di kediaman keluarga Brown, Chloe sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia sedang menunggu kabar dari sang ibu. Apakah ibunya berhasil membujuk ayahnya untuk mempertemukan mereka dengan seorang pewaris keluarga Vanderbilt?Chloe menggoyangkan kakinya. Ia sesekali juga melirik ke arah arlojinya yang terbalut di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul empat sore. Ia mendengus kecil."Sudah jam segini, kenapa Ibu masih belum pulang juga, sih?"Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu rumah terbuka. Chloe langsung menoleh ke belakang dari balik bahunya. Terlihat Amelia sedang menaruh sepatu hak tingginya di rak sepatu. Chloe, yang merasa senang akan kepulangan ibunya, langsung menghampirinya."Ibu! Akhirnya Ibu pulang juga. Bagaimana keadaannya di sana? Ayah mau membantu kita, kan?"Amelia melirik sekilas ke arah Chloe. Ekspresinya terlihat datar, tetapi terdapat kekesalan dalam sorot matanya. Ia menghembuskan napas panjang."Nanti saja ki
"Ayah, kenapa kamu nggak bisa memenuhi keinginan kita? Apa maksudmu sebenarnya?"Di ruang kantor, Mason sedang duduk di meja kerjanya sambil menatap layar komputernya dengan serius. Ia sama sekali tidak melirik ke arah Amelia."Untuk apa kamu ingin bertemu dengannya? Apa kamu nggak tahu kalau pewaris itu sudah menjadi orang besar yang sulit untuk didekati?"Amelia menumpukan kedua tangannya di meja kerja Mason. "Tentu saja, untuk menarik dia ke dalam keluarga kita. Selama keluarga Vanderbilt mau menjadi bagian dari keluarga besar kita, sudah pasti nggak akan ada orang lain yang berani mengganggu kita."Mason mendecak kesal. "Dengar ya, perusahaan kita saat ini juga sudah mendapatkan investasi besar dari keluarga Vanderbilt. Ini juga sudah termasuk keuntungan yang sangat besar bagi kita. Jadi, jangan sampai tindakanmu ini bisa mengakibatkan kita kehilangan kerja sama dengannya."Amelia menyilangkan kedua tangannya di depan. "Cuma investasi doang, ap
Setelah Eva mengemukakan perasaan kecewanya kepada Clara, Eva meninggalkan Clara sendirian dan masuk ke dalam ruang dosen. Sedangkan Clara, ia masih berdiam diri di tempat, merenungi semua perkataan Eva tadi. Di lubuk hatinya yang terdalam, muncul perasaan sedih dan juga perasaan bersalah. Mau ba
Mata Eva membelalak saat mendengar suara seseorang yang sangat familiar."Nenek?! Kok nenek bisa tahu nomor HP ku?"Terdengar suara ketawa khas nenek-nenek dari telepon seberang. 'Tentu saja tahu. Nenek yang minta nomormu dari cucu nenek yang keras kepala itu.'Eva menghembus
Di ruangan yang terpancar oleh sinar lampu putih, terdapat dua orang yang sedang berpelukan, saling mengeluarkan isi hatinya masing-masing. Di tengah sunyinya ruangan, mereka hanya merasakan eksistensi diri mereka sendiri saja, seolah-olah di dunia ini hanya ada mereka berdua yang tersisa.
"Dia masih bernapas. Cepat, bawa dia ke ruang UKS!"Terdengar suara langkah kaki yang bergerak cepat dan beberapa suara gaduh lainnya. Eva merasakan tubuhnya yang terangkat, tetapi ia tidak dapat menggerakkan satu jari pun. Hanya pikiran dan pendengarannya lah yang masih bekerja."P







